Seorang pria yang hingga pukul 10 kini masih bergelung di dalam selimut terpaksa membuka kedua matanya saat mendengar ponselnya yang tak kunjung berhenti berbunyi. Siapa orang yang berani mengusik waktu tidurnya? Ia bahkan baru bisa memejamkan mata pukul 1 dini hari, karena mimpi buruk yang kembali menghantuinya.
“Apa kamu mau dipecat, hah?” omel Wisnu dengan mata yang masih terpejam. Tak ada sahutan dari seberang sana untuk beberapa saat, hingga suara dehaman keras membuat kedua matanya sontak terbuka dengan lebar.
“Apa kamu masih terbiasa tidur hingga siang seperti ini dan mengabaikan kewajiban kamu?”
“Apapun kebiasaan saya, itu bukan urusan Anda,” sahut Wira sinis. “Lagi pula sejak kapan Anda mulai peduli dengan hidup saya? Tidak perlu repot-repot, lakukan saja seperti biasanya dan tidak perlu membuat ada rasa tidak nyaman.”
“Papa bawakan seseorang untuk membantu tugasmu di kantor. Ini adalah keempat kalinya dan akan menjadi yang terakhir untuk kamu, Wira. Jika kamu masih bersikap keras kepala dan tega sama Papa, maka hancurkanlah hotel itu seperti yang kamu inginkan.”
Rahang Wira sontak mengeras. Begitu panggilan telepon sudah terputus ia langsung melempar ponsel tersebut ke sembarang arah.
“Ahh, bisa gila gue lama-lama di sini!” erangnya dengan kedua tangan terkepal erat. “Kenapa juga dia masih sok peduli setelah buang gue ke tempat ini? Padahal dia yang jahat dan kejam, tapi di sini seolah-olah gue yang salah.”
Wira tersenyum miris meratapi hidupnya yang berantakan 2 tahun ini. Dengan wajah kesal ia langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ya, setidaknya ia masih harus pergi ke kantor untuk membuat tempat itu menjadi lebih tidak berguna hingga akhirnya harus dibubarkan.
Setelah mandi dan bersiap dengan pakaian kerjanya, Wira langsung keluar kamar dan turun ke lobi menggunakan lift.
“Saya tunggu 3 menit di lobi. Jangan sampai terlambat,” ujarnya dengan langsung mematikan ponsel sepihak.
Bibirnya tersenyum puas begitu melihat sopir pribadinya sekaligus orang terdekatnya tiba di depan lobi tepat 3 menit. Mungkin karena sebelumnya Wira habis memarahinya habis-habisan sehingga sopir pribadinya di TM Hotel Malang yang ia panggil dengan sebutan Pak Am muncul dengan begitu cepatnya.
“Apa harus kita bertengkar dulu seperti kemarin, baru Bapak nurut dengan saya?”
Pak Am melirik mata tajam Wira yang menatapnya dari spion tengah. “Saya tidak bisa menahan diri kalau memang tiba-tiba dalam kondisi terdesak ingin ke toilet, Mas.”
“Bapak sudah kerja dengan saya berapa tahun? Apa saya harus selalu kasih kabar ke Bapak, saya mau berangkat jam berapa?”
“Tidak, Mas. Tidak perlu. Saya yang akan membiasakan diri sesuai kebutuhan Mas Wira.”
“Benar. Dan tidak perlu membantah setiap kata-kata saya.”
***
“Apa mereka semua udah gila?” gerutu Nadin saat ia baru saja keluar dari toilet yang ada di lobi. Kondisi toilet yang membuatnya serasa ingin berteriak. Air yang macet, tidak ada tisu, dan kondisi toilet yang entah kapan terakhir kali dibersihkan. Bahkan sudah ada 2 jam ia menunggu di lobi, ia baru melihat ada satu orang OB yang terlihat membawa perlengkapan kebersihan.
“Mereka pikir mereka semua digaji pakai daun? Pakai duit, woy! Dan bukannya pada kerja, tapi malah males-malesan begini?”
Nadin meniup poninya sekaligus membuang semua kesal yang sangat ingin ia luapkan saat ini. “Teganya Pak Wisnu, apa dia mau bikin karir gue hancur di sini? Hotel ini bahkan butuh perombakan SDM. Gimana bisa mereka mempertaruhkan nyawa kantor ini ketika karyawannya aja bahkan nggak bisa kerja dengan baik?”
“Kamu pasti orang kiriman pusat?”
Nadin terdiam beberapa saat begitu mendengar suara bariton menyapa pendengarannya. Seingatnya ia berdiri sendiri di tepi koridor sambil memperhatikan kondisi lantai 4.
“Kamu bukan orang pertama yang dibuang ke tempat ini, jadi tidak usah merasa beban dan pergi saja dari sini.”
Nadin langsung memutar tubuhnya. Pupil matanya bergerak melebar begitu melihat seorang pria yang berdiri tegap di hadapannya. Pria dengan sorot matanya yang tajam dan mengintimidasi. Garis rahangnya yang keras dan jelas. Bentuk wajah serta tatapan yang terlihat tidak asing baginya.
“Loh, kamu ….” Nadin terasa mengingat wajah seseorang, namun ia tidak ingat. Ia merasa pernah bertemu dengan pria itu, tapi ingatannya sama sekali tidak membantu. Padahal pria di hadapannya adalah pria kasar yang sama dengan yang beberapa hari lalu ia temui di bandara.
“Saya tidak butuh orang baru di sini. Jadi kamu bisa pergi atau kembali saja ke kantor pusat.”
“Apa?”
“Kamu bisa menolak perintah Pak Wisnu, bukan? Kenapa juga kamu mengiyakan perintah konyol seperti itu?”
“Apa? Perintah konyol?”
“Perintah konyol yang disetujui oleh orang bodoh sepertimu.”
“Apa kamu bilang?!” sungut Nadin yang mendadak kesal. “Memangnya kamu siapa seenaknya menyuruh orang pergi dari sini?” lanjutnya sambil menaikkan dagunya.
Pria yang sejak tadi berdiri diam di belakang Wira akhirnya berdiri di antara Wira dan Nadin.
“Perkenalkan, saya Rizal. Jika Anda butuh sesuatu karena masih baru di sini, silakan kontak saya,” ujar Rizal sambil menyerahkan kartu namanya pada wanita itu.
“Maaf, tapi saya punya urusannya dengan orang ini,” kata Nadin dengan menunjuk ke arah Wira.
“Termasuk urusan dengan Pak Wira, Anda bisa diskusikan dengan saya,” balas Rizal tenang.
Mulut Nadin sukses menganga dengan kedua matanya yang membulat. “Si .. siapa tadi namanya?”
“Saya Rizal,” ulangnya.
“Bukan kamu, tapi―” Nadin menjeda kalimatnya saat matanya kembali bertemu dengan kedua mata milik Wira. Benarkah pria itu adalah Wira? Benarkah? Benarkah akhirnya ia menemukan seseorang yang selama ini ia cari?
“Pergi dari sini kalau tidak mau jadi orang buangan,” ujar Wira yang kemudian langsung berbalik pergi.
“Namaku Nadin,” pungkas Nadin yang membuat langkah kaki Wira mendadak berhenti.
Wira diam selama beberapa detik, sebelum kembali berbalik dan menatap Nadin dengan mata menyipit. “Lalu apa hubungannya dengan saya?”
Alis Nadin langsung menyatu karena bingung dengan ekspresi dan respon dari Wira. Apakah lelaki itu sudah melupakannya?
“Saya tidak peduli siapapun namamu. Pergi saja dari sini dan jangan pernah kembali lagi,” ujar Wira dingin yang membuat bibir Nadin menganga.
***
“Orang gila! Bos gila! Bisa-bisanya dia bilang gue orang bodoh karena datang ke hotel dia? Harusnya dia terima kasih sama Pak Wisnu, karena berkat Pak Wisnu, dia jadi punya orang yang bantu dia. Bukan malah ngata-ngatain gue sama Pak Wisnu dong! Emang dia kira TM Hotel di Malang itu punya nenek moyangnya! Dia juga kerja cuy, dibayar! Tau diri dikit dong harusnya!”
Nadin langsung menarik napas panjang setelah meluapkan segala emosinya yang menumpuk hari ini jadi satu buntalan amarah. Seharusnya ini menjadi hari pertamanya bekerja dan hari pertama beradaptasi di tempat baru, tapi Wira menghancurkan semuanya dengan menyuruhnya pergi.
“Na, lo mau buat telinga gue jadi tuli permanen ya? Suara lo kenceng banget, gila!” kesal Vera dari seberang telepon sana.
“Salahin cowok ngeselin yang namanya Wira itu!”
“Siapa lo bilang? Wira?” ulang Vera.
Nadin lantas menghela napas panjang. “Dia bukan Wira yang selama ini gue cari, Ver. Wira yang gue kenal dengan Wira yang ini adalah 2 orang yang berbeda, mau diliat dari atas langit maupun bawah bumi.”
“Lo yakin, Na?”
“Gue yakin 1000%. Walaupun Wira yang gue kenal masih kecil, gue yakin dia nggak akan tumbuh jadi orang sekejam Wira yang baru tadi gue temuin. Dia bukanlah Wira yang selama ini selalu gue cari dan gue tunggu setiap hari! Dia cuma orang gila yang bisa-bisanya ditunjuk jadi GM di TM Hotel Malang!”
“Na, sabar! Lo itu kan baru sehari di Malang, lo harus kuat. Jangan sampai buat hidup lo juga malang di sana.”
“Vera!”
Nadin menggeram pelan begitu mendengar suara Vera yang tertawa kencang di seberang sana. Dasar sahabat setan. Orang sedang kesusahan, dia malah tertawa di atas penderitaan orang lain.
“Tapi ya, Malang itu cukup luas, loh. Dan manusia yang namanya Wira itu bukan cuma dia seorang. Gue yakin kok, lo akan menemukan Wira yang lo cari selama ini.”
“Gue cuma berharap kalau dia masih hidup, dia hidup dengan bahagia, dan kalau emang dia udah mati, gue berharap dia juga mati dengan bahagia dan hidup di surga sekarang.”
“I hope so,” balas Vera yang membuat Nadin akhirnya bisa bernapas lega sedikit.
Memang yang Nadin butuhkan hanyalah pengakuan yang sama, bahwa jika Wira―teman kecilnya masih hidup, ia berharap lelaki itu hidup dengan bahagia. Dan jika lelaki itu memang sudah mati, ia berharap lelaki itu telah menghabiskan hidupnya dengan penuh perasaan bahagia.
***
“Bapak yakin mau ngelakuin ini?”
Rizal langsung merapatkan bibirnya begitu mendapatkan tatapan tajam dari Wira.
Wira menjatuhkan bokongnya ke atas kasur. Ia melepas kacamatanya dan menyilangkan kedua tangan di depan d**a. Baru juga sampai di apartemen, tapi Rizal langsung membuat mood-nya memburuk.
“Saya tidak pernah ragu atas keputusan saya. Harus berapa kali saya katakan, saya tidak suka ada perempuan yang berada di dekat saya! Apa kamu juga lupa itu, hah?! Aku paling benci berada dekat dengan perempuan manapun. Jadi lebih baik jangan membuang emosiku, untuk mengurus anak satu itu!”
Rizal masih memasang wajah datarnya. Sama sekali tak merasa tertekan dengan lontaran emosi yang Wira lemparkan padanya. “Mungkin untuk yang kali ini Bapak perlu membaca portofolio Mba Nadin. Dia adalah orang kepercayaan Pak Wisnu di kantor pusat. Menurut kabar yang saya dapat juga Mba Nadin sangat mengerti dan memahami core bisnis hotel ini. Dia pasti bisa menjadi asisten manajer yang baik untuk Bapak.”
“Saya tidak peduli apapun itu tentang dia. Yang saya inginkan adalah dia segera angkat kaki dari sini dan membuat amarah orang tua itu mendidih.”
Rizal menelan salivanya gugup. Bagaimana bisa atasannya itu membuat sebutan untuk presiden direktur seperti itu?
“Pak Wisnu menaruh harapan lebih pada Bapak untuk hotel ini.”
Rahang Wira mengeras mendengar ujaran Rizal. Ia tidak suka mendengar kalimat itu. “Dan kamu pasti tau jika saya tidak tertarik akan semua ini.”
“Tertarik atau tidak, Bapak bertanggungjawab atas semua ini. Bukan hanya nasib karyawan di hotel ini yang berada di tangan Bapak, namun nama baik hotel ini juga. Jika hotel kita dicap buruk oleh orang-orang, maka itu bisa berimbas dengan saham TM Group.”
“Saya selalu memberi kesempatan bagi orang yang ingin angkat kaki dari sini. Itu akan memudahkan pekerjaan saya agar tidak perlu memecat orang. Kamu juga kalau mau resign, silakan. Saya tidak pernah menghalangi kamu.”
“Pak!” seru Rizal tak sabar. Entah bagaimana caranya lagi ia bisa membujuk cara berpikir Wira. Selama ini yang Wira lakukan hanyalah membuang-buang kesempatan yang sejujurnya sangat bisa digunakan untuk mengembangkan TM Hotel Malang. Sayang, lelaki itu sama sekali tak menunjukkan ketertarikan. Semakin hari yang ada hanya semakin acuh tak acuh.
“Buatkan saya kopi. Saya pusing denger omelan kamu.”
Rizal menghela napas panjang yang begitu kentara di hadapan Wira.
“Bukankah seharusnya saya yang menghela napas panjang?” tanyanya sinis. Rizal langsung keluar dari ruangan Wira dan meninggalkan portofolio milik Nadin di atas meja.
“Jangan lupa pulang nanti sekalian bawa baju kotor saya ke tempat loundry!” seru Wira agar Rizal bisa mendengarnya.
Melihat map putih yang tadi sengaja diletakkan Rizal membuat Wira melirikkan matanya. Ia tertawa sinis walaupun belum membuka dan membacanya. Seakan sudah bisa menebak seperti apa isinya.
“Papa bawakan seseorang untuk membantu tugasmu di kantor. Ini adalah keempat kalinya dan akan menjadi yang terakhir untuk kamu, Wira. Jika kamu masih bersikap keras kepala dan tega sama Papa, maka hancurkanlah kantor itu seperti yang kamu inginkan.”
Wira meringis mengingat komentar itu. Matanya mengerjap dan tak sengaja melihat koper besar berwarna hitam yang ada di sudut ruangan.
“Mungkin untuk yang kali ini Bapak perlu membaca portofolio Mba Nadin secara keseluruhan.”
“Dia bahkan tidak bisa mengingat orang yang ia temui beberapa hari lalu dan melupakan kopernya yang hilang. Bagaimana bisa orang seperti itu bisa diandalkan?”
“Dia adalah orang kepercayaan Pak Wisnu di kantor pusat.”
Helaan napas yang panjang seakan menggambarkan betapa pusingnya kepala Wira saat kepalanya bergiliran mengingat ucapan sang papa dan juga asisten terdekatnya.
Sudut mata Wira melirik berkas milik Nadin yang tadi sengaja ditinggalkan oleh Rizal. Ia membukanya perlahan dan baru sampai membaca nama wanita itu, ia langsung menutupnya. Diremasnya kertas berkas itu dengan tangan kanannya.
‘Apapun yang terjadi, gue harus buat dia pergi dengan sendirinya. Lakukan seperti biasanya, tidak perlu pakai hati.’ Wira menganggukkan kepalanya. Keputusan itu seharusnya sudah bisa berjalan seperti biasa, tak perlu banyak dipikirkan.
***