Terik matahari memanggang tepat di atas kepala. Membakar panas wujud-wujud kehidupan yang bertenger angkuh di atas permukaan bumi. Mendesah dalam kesah, berharap rintik langit segera membuncah memberi kesegaran.
Tengah hari, di saat para pemilik pori berlarian menghindar di bawah naung bayang-bayang, Bram justru diam terpaku di depan sebuah pusara. Duduk di atas rerumputan sembari merapal beberapa kalimat suci yang ditujukan bagi penghuni di dalam makam sana. Sesekali dia menyeka lelehan bening dari pelupuk mata, bercampur peluh asin yang membanjiri kulit wajah.
"Aamiin yaa rabbal'aalamiin," ucap laki-laki tersebut lirih, menutup rangkaian ritualnya sambil mengusap muka. "Alhamdulillah, Ma. Hari ini Bram bisa kembali menepati janji buat ziarah setiap akhir pekan ke makam Mama. Semoga Mama tenang selalu ya di sana. Insyaa Allah, suatu saat kelak kita akan kembali berkumpul bersama seperti dulu. Ada Mama, Papa, dan juga Bram sendiri di janah. Aamiin."
Tangan kekar laki-laki itu mencabuti rumput-rumput liar di atas permukaan kuburan, kemudian lanjut bertutur dengan suara pilu, "Maafin Bram ya, Ma. Sampe saat ini, Bram belum juga bisa memenuhi keinginan Mama yang terdahulu." Bram menelan ludah sejenak sekadar membasahi tenggorokannya yang mendadak kering dan sakit. "Memberi Mama seorang cucu atau juga meneruskan keturunan keluarga dari Mama dan Papa."
Sejujurnya Bram mengakui bahwa kesabarannya selama ini mulai tergoyahkan. Sekian tahun menanti-nanti kehadiran buah hati, tapi belum kunjung menepi. Bukan berarti menyesali pernikahannya dengan jodoh pilihan Welas, sang Ibu, jika mengingat masa-masa bersama dengan Della dulu, ada penyesalan teramat dalam bagi Bram. Seandainya saja waktu bisa diputar ulang, mungkin kisah ini tidak harus perih terjadi.
"Mamaku termasuk tipe ibu yang sangat menjunjung tinggi norma-norma agama, Del," ujar Bram kala itu. "Beliau gak akan pernah ngizinin aku dekat-dekat dengan perempuan yang bukan mahromku."
"Karena itu alasannya sampe saat ini kamu belum berani ngajak aku nemuin mamamu, Bram?" tanya Della menelisik.
Laki-laki itu mengangguk pelan. Pandangannya hampa, menatap jauh ke depan.
"Lagipula aku belum punya penghasilan sendiri, Del."
"Terus, tentang tawaranku beberapa bulan lalu, bagaimana, Bram?" Kembali gadis itu bertanya.
Bram menoleh, lantas berimbuh, "Melamar pekerjaan di kantor kerja papamu?"
"Ya," jawab Della cepat.
Bram menarik napas panjang. Dia menggeleng beberapa kali. Ujarnya pelan, "Aku sudah terlalu banyak berhutang budi sama kamu, Del. Aku takut gak akan pernah bisa membalasnya. Itu yang selalu membebani pikiranku selama ini. Aku merasa, sudah saatnya kini mencoba berdikari. Berdiri di atas kedua kakiku sendiri. Demi kita. Aku dan kamu, Sayang."
"Kamu terlalu mendramatisir, Bram," keluh Della disertai raut wajah muram. "Aku benci topik seperti ini."
"Del …."
Harus diakui, di tengah kondisi keuangan keluarga Bram yang morat-marit semenjak ditinggal kepala keluarga, Welaslah yang selalu berusaha menopang semua kebutuhan hidup dan pendidikan Bram. Membuka usaha dagang kecil-kecilan di depan rumah, serta rela menjadi buruh kasar di lingkungan tempat mereka menetap. Menjadi tukang cuci pakaian, menyeterika, atau bahkan sesekali menjual tenaga sebagai asisten rumah tangga. Hasilnya memang tidak seberapa dan terkadang tidak mencukupi untuk menutup kebutuhan hidup.
Suatu saat, Welas pun jatuh sakit-sakitan. Penyakit jantung serta darah tinggi yang diderita sejak lama, menuntut wanita tua itu untuk tidak terlalu banyak beraktivitas. Bram bingung. Masa-masa pendidikan kuliahnya sendiri sudah diambang pintu. Haruskah berhenti atau menyerah begitu saja di akhir jalan?
"Jangan, Bram," ujar Della di tengah kecamuk risau yang melanda langkah hidup laki-laki tersebut suatu hari, "kamu harus tetap menyelesaikan kuliahmu sampe tuntas."
Bram hampir frustasi kala itu.
Imbuh Della kemudian, "Kamu masih ingat tawaranku tempo hari, Bram?"
"Soal apa?" tanya Bram berusaha mengingat-ingat. Gadis itu tersenyum, lantas menjawab, "Aku bantu biaya kuliahmu. Yang terpenting, pendidikan kamu tetap jalan."
"Jangan, Del," balas Bram menolak. "Aku sama sekali gak ngarep soal itu sama kamu."
"Gak apa-apa, Bram," kata Della bersikeras. "Kebetulan aku punya sedikit tabungan. Rasanya itu cukup buat menutupi kebutuhan biaya kuliahmu sampe kelar nanti."
"Jangan, Del. Itu 'kan uangmu." Bram masih berusaha menolak. "Aku gak mau—"
"Pokoknya harus diterima, atau …." Gadis itu tersenyum manis. "Persahabatan kita harus berakhir?"
Ancaman itu bukan sekadar gertak sambal. Della benar-benar menepati ucapannya. Tiba-tiba saja dia menjauh. Selalu menghindar jika bertemu dengan Bram. Sampai kemudian ….
"Oke, aku terima tawaranmu," ujar Bram suatu ketika. Sengaja mencegat Della sesaat setelah habis jam kelas. Gadis itu seketika melempar senyumnya usai beberapa pekan menampakkan wajah tidak bersahabat. "Tapi dengan catatan, aku akan mengembalikan semua uang kamu setelah aku kerja nanti. 'Gimana?"
"Nah, 'gitu dong, Bram," balas Della semringah. "Kalo saja dari kemaren-kemaren kamu gak keras kepala kayak 'gini, aku gak usah capek-capek berpura-pura musuhin kamu."
"Apa? Kamu pura-pura?" Bram geram.
"Tapi nyatanya berhasil, 'kan? Ha-ha."
"Jahat banget kamu, Del."
Bram dan Della kembali berteman akrab. Hari-hari selanjutnya senantiasa dihabiskan bersama di waktu-waktu kuliah mereka. Hubungan dekat tanpa ada satu pun yang mengucap kata 'cinta'. Akan tetapi bias-bias perasaan itu sepertinya terselip dari aura hati kedua insan tersebut. Sampai kemudian, gadis itulah yang pertama kali berungkap. "Sudah lama aku menaruh hati sama kamu, Bram."
Laki-laki itu tidak lantas membalas. Dia terdiam dengan jutaan rasa yang selama ini disembunyikan.
"Kenapa, Bram? Gak pantes ya kalo cewek yang ngungkapin perasaannya lebih dulu?" tanya Della merasa sedikit bimbang jika kejujurannya tadi akan bertepuk sebelah tangan. "Terus terang, aku agak kesal sama kamu. Gak peka banget sih, jadi cowok. Selama ini aku selalu memberimu tanda-tanda, tapi sedikit pun kamu gak pernah menanggapi. Atau jangan-jangan kamu gak nor—"
"Aku tahu, Del. Aku paham banget," tukas Bram memotong ucapan gadis tersebut. "Aku menangkap sinyalmu itu, kok."
"Terus?" tanya kembali Della mulai ketar-ketir.
Laki-laki itu mengulas senyum tipis.
"Aku hanya gak ingin persahabatan kita selama ini, bakal terganggu hanya karena masalah di sini …." ucap Bram sembari menunjuk d**a sendiri. Timpal Della tidak mau kalah, "Apa bedanya? Justru aku gak ingin perasaan ini terus disembunyikan, seolah-olah menzalimi diri sendiri."
"Tentu beda, Del," sanggah Bram. "Hubungan persahabatan itu jauh lebih kekal dan indah. Satu sama lain berusaha untuk enggak saling memaksa menjadikan seseorang sesuai keinginan kita."
"Teori dari mana itu? Ngaco kamu, Bram."
"Itu menurut pendapatku."
"Ngawur," gerutu Della kecewa. "Jadi kamu gak punya perasaan yang sama kayak aku? Oh, Bram. Aku—"
Tukas Bram, "Aku sangat mengagumi kamu, Del."
"Cuma itu?" Della mulai merasa patah hati.
" … sekaligus menyayangi kamu."
"Maksudmu?" Gadis itu mendadak deg-degan. Tadinya ingin mendesak, tapi kedip mata kanan Bram itu sudah mewakili atas jawabannya.
Ting!
"Ah, Bram!" Tidak sadar, Della merangsek hendak memeluk sahabatnya itu. Namun buru-buru Bram menahan sambil berseru, "Jangan, Del. Kita bukan mahrom!"
"Sebentar saja, Bram," ujar gadis itu bersikukuh. Seakan ingin memastikan bahwa jawaban Bram sesungguhnya adalah sesuai dengan harapan dia selama ini. Maklumlah, soal kepastian, perempuan tidak akan pernah merasa cukup hanya dengan sekali jawaban.
"Aku bilang juga jangan, Del. Kita masih belum halal," timpal Bram bersikukuh.
Entahlah, apa alasan seorang Bram enggan mengakui perasaannya sendiri secara gamblang. Masih terdengar ambigu dan multitafsir. Namun Della tidak mau ambil pusing. Kecintaannya yang teramat besar pada Bram, benar-benar telah membutakan hati, bahwa laki-laki tersebut ternyata ….
★ ✩ ★ ✩ ★ ✩ ★
"Saya terima nikahnya Aimah binti Markoni dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai!" ucap Bram lugas sambil menjabat erat tangan Fadlan.
"Sah?" tanya Naib pada saksi-saksi.
"Saahhh!"
"Alhamdulillah. Barakallah …."
Serentak semua yang hadir di dalam ruangan itu mengangkat tangan sebatas d**a, mengamini untaian kalimat-kalimat suci yang dilafalkan oleh Naib.
Usai melaksanakan ijab kabul, diam-diam Fadlan memberikan sebuah kado berbentuk persegi empat pada Bram, terbungkus rapi menggunakan kertas bercorak unik.
"Dari siapa, Lan?" tanya Bram sambil melirik pada Welas yang duduk tidak seberapa jauh darinya. Jawab adik kandung laki-laki Aimah tersebut, "Dari cewek, Bang."
"Cewek? Siapa?" tanya kembali Bram was-was, khawatir diketahui oleh Aimah yang sedang berada di dalam kamar pengantin. Jawab Fadlan dengan suara pelan, "Gak tahu, Bang. Tadi ketemu di luar. Katanya disuruh dikasihin sama Abang, terus dia langsung pergi."
'Della?' Bram bertanya sendiri. 'Tapi bagaimana mungkin dia datang ke sini.'
"Apa itu, Bram?" Tiba-tiba Welas sudah berada di dekat mereka. Fadlan langsung beringsut menghindar begitu melihat raut wajah wanita itu memperlihatkan ketidaksukaannya. "Kado? Dari siapa?"
Bram mendadak tergagap-gagap. "Bukan dari siapa-siapa, Ma. Cuman titipan dari temen," jawab laki-laki itu salah tingkah. Bukan apa-apa. Disamping khawatir diketahui Aimah, beberapa pasang mata tamu undangan sempat melihat-lihat ke arahnya.
"Beneran dari temen kamu?" Sorot mata Welas tajam menatap anaknya, seperti tengah menyelidik. " … atau dari temen perempuan kamu, Bram?"
"Maksud Mama?" Detak jantung Bram kian bertalu-talu.
Welas tidak segera menjawab. Dia menarik tangan anaknya masuk ke dalam kamar lain. Di sana barulah wanita tua itu menjawab, "Mama tahu siapa pengirim kado itu."
"Memangnya siapa, Ma? He-he. Bram bilang 'kan cuman dari—"
"Namanya Della, 'kan?" Mata tua itu kian angker terlihat oleh Bram. Tanya laki-laki itu terkejut, "Bagaimana Mama tahu tentang Della, Ma? Ya, Allah!"
Welas duduk di tepian tempat tidur. Dengan wajah muram, dia mulai bertutur, "Beberapa hari yang lalu, perempuan itu datang ke sini, waktu kamu dan Aimah pergi ke KUA mengurus persyaratan administrasi pernikahan kalian." Sejenak hening dengan perasaan masing-masing. "Dia menceritakan semuanya. Termasuk hubungan kalian berdua selama ini, Bram."
"Ya, Allah! Kenapa Mama baru cerita sekarang?" tanya Bram seraya ikut duduk di samping ibunya.
"Apa itu penting, Bram?"
Bram mendengkus.
"Ya, seenggaknya—"
Tukas Welas, "Dalam kepala Mama cuman tentang Aimah, Bram. Kamu harus tahu itu. Gak penting siapapun perempuan yang pernah kamu kenal sebelumnya, sekarang tanggung jawab kamu adalah Aimah."
"Iya, Ma, Bram tahu. Tapi Della itu—"
Lagi-lagi ibunya tidak memberikan kesempatan Bram untuk menjelaskan. Dia langsung mematahkan ucapan anaknya seraya bersiap-siap keluar kamar. "Bram, rasanya Mama gak perlu ngulang-ngulang lagi alasan Mama menginginkan kamu memperistri Aimah. Cukup sekali Mama jelaskan. Hanya saja yang harus sering kamu ingat juga; ingat … Mama dan Aimah sama-sama perempuan. Apapun yang kamu lakukan terhadap istrimu itu, akan sama pula dengan apa yang Mama rasakan. Kamu paham 'kan, Bram?"
Bram mengangguk. Tertunduk lesu sambil memperhatikan kado di tangannya. Kode keras dari seorang ibu jika sudah berucap demikian. Anak laki-laki itu tidak diberikan pilihan lain, terkecuali manut dan diam tidak berbantah-bantah.
"Mengenai perempuan bernama Della itu …." ucap Welas sebelum meninggalkan kamar, "Mama yakin, dia gak akan pernah kembali menemuimu, Bram."
Bram memejamkan mata. Perih sekali rasanya. Namun jika harus memilih, tentu ibunya yang akan selalu dia taati.
Sepeninggal Welas, perlahan-lahan Bram membuka kotak kado yang dipastikan berasal dari Della. Dia sama sekali tidak menyangka jika gadis itu pernah menyambangi rumah dan bertemu ibunya, serta malah menyempatkan diri untuk datang pada acara ijab kabul pernikahan Bram dengan Aimah.
Sepucuk surat dengan kertas putih dan tulisan tangan Della, teronggok layu di dalam kotak kado.
'Selamat ya, Bram. Akhirnya kamu menemukan jodohmu. Aku turut berdoa dan merasa bahagia sekali tentang itu. Tenang saja, Bram, aku tidak akan pernah menyalahkan keputusanmu itu. Aku paham sekali akan posisimu. Terima kasih atas waktu kebersamaan kita selama ini. Saat-saat yang telah dilalui bersama, akan menjadi momen terindah sepanjang hidupku. Aku pamit pergi ya, Bram. Semoga kamu bahagia. Della.'
Ada sebuah kartu ATM terselip di antara lembaran kertas. Lengkap dengan catatan nomor yang sudah Bram ketahui sebelumnya. 'Masih tersisa saldo tabunganku di sini, Bram. Sengaja aku sisihkan sejak aku mulai banyak berharap sama kamu lalu. Tapi rasanya sekarang aku tidak lagi membutuhkannya. Pakailah untuk keperluan rumah tanggamu nanti, Bram.'
"Della …." desis Bram tiba-tiba dengan segenap rasa sakit yang kian menikam d**a. "Astaghfirullahal'adziim. Aku telah menzalimi sahabatku itu."
Sahabat?
Ya, tidak lebih. Bram masih menganggap Della sebagai seorang sahabat hingga detik-detik perpisahan mereka beberapa waktu sebelumnya. Sungguh, hati kecil laki-laki itu tidak bisa dibohongi jika selama ini sikap dia terhadap gadis tersebut hanyalah rangkaian dari drama-drama munafik belaka. Bram tidak sanggup jika sampai mengecewakan Della dengan untaian kalimat penolakan demi penolakan. Dia begitu tulus mencintai. Terlalu besar. Bahkan tidak tahu seberapa berat gadis itu berharap padanya.
Itulah makanya Bram selalu berusaha mengelak dan mencegah Della bertemu ibunya. Termasuk mengenali silsilah keluarga gadis itu pun, Bram tidak peduli. Sementara Aimah sendiri, tidak begitu yakin perempuan pilihan Welas itu memiliki perasaan yang sama padanya. Mungkinkah sebuah kepasrahan sebagaimana yang Bram lakukan demi impian sang Ibu? Atau malah sama-sama tidak memiliki pilihan lain karena situasi?
"Maafin atas kemunafikan Bram selama ini, Ma," ucap laki-laki tersebut seraya bersimpuh, memeluk perih gundukan tanah kering pusara ibunya. "Mungkinkah karena kesalahan yang dulu Bram lakuin, sekarang Bram menerima karmanya, Ma?"
Tangis pilu Bram pun pecah. Mengharu biru di antara desir angin yang menawarkan bara panas dari atas langit sana.
"Maafin aku, Della!" jerit Bram di tengah area pemakaman. "Maafin aku …."
BERSAMBUNG
Sukabumi, 1 Desember 2021