Part 1
BUCIN 2 :
SAJADAH BERBISIK
Penulis : Daoed Soelaeman Shobari
Part 1
——————————————————————
"Assalaamu'alaikum warahmatullah … assalaamu'alaikum warahmatullah."
Usai melaksanakan ibadah salat Isya, Bramanditya lanjut melafalkan beberapa bait doa pendek, diamini oleh Aimah di belakangnya. Kemudian menyelipkan permohonan lain kepada sang Khalik dalam bahasa Indonesia.
"Ya, Allah Yang Mahamemberi, ampunilah dosa-dosa kami. Berilah kekuatan iman dalam setiap langkah hidup kami. Tempatkan kami di antara hamba-Mu yang tidak pernah berhenti bersyukur dan penuh kesabaran di saat menghadapi berbagai ujian. Serta yang terakhir, perkenankanlah kami untuk segera mendapatkan keturunan yang shaleh-shalehah. Aamiin."
"Aamiin yaa rabbal'aalamiin," ucap Aimah takzim diiringi usapan kedua telapak tangan di wajahnya. Kemudian mendekati Bramanditya untuk bersalaman. Laki-laki itu membalik badan, menyambut sodoran tangan istrinya dan saling menciumi satu sama lain.
"Maafin aku ya, Dek, kalo selama ini banyak berbuat khilaf sama kamu," ujar Bramanditya atau kerap dipanggil Bram itu usai mencium punggung tangan dan kening istrinya.
Aimah mengangguk pelan, lalu balas berucap, "Aku juga ya, Mas. Maafin aku karena belum bisa memberikan apa yang Mas impikan selama ini."
Bram mengulas senyumnya seraya menatap penuh kasih wajah perempuan yang telah dia nikahi, selama sepuluh tahun tersebut. Kata lelaki itu kemudian, "Insyaa Allah, Dek, suatu saat kelak, Allah pasti akan mengabulkan keinginan kita. Asalkan terus berusaha dan dibarengi dengan doa. Insyaa Allah wa aamiin yaa rabbal'aalamiin."
"Aamiin, Mas," ucap Aimah lirih. Wajahnya tertunduk lesu. Doa Bram yang terakhir tadi, sudah sering mereka ucapkan sejak sembilan tahun lalu. Bukan hanya ditiap usai menunaikan ritual ibadah fardu, akan tetapi dihampir setiap kesempatan yang ada. Termasuk ketika hendak melakukan pemenuhan hak dan kewajiban nafkah lahir batin. 'Bismillah … semoga kali ini berhasil', kalimat itu seakan sudah menjadi slogan yang wajib diucapkan sebelum memulai aktivitas khusus suami-istri mereka berdua.
"Terima kasih ya, Mas," imbuh Aimah kembali sebelum Bram beranjak dari sajadahnya. "Mas Bram sudah mau menyempatkan waktu buat sholat berjamaah denganku di rumah."
Laki-laki berusia 35 tahun itu tersenyum sembari mengusap lembut pipi istrinya. Balas Bram kemudian, "Memang sudah semestinya begitu, Dek. Walaupun laki-laki itu disarankan sholat di mesjid, tapi sesekali harus juga menyempatkan diri buat sholat berjamaah di rumah dengan keluarganya. Terutama kamu, Dek, istriku tersayang yang cantik jelita."
Mendadak wajah Aimah terasa memanas. Rona merah seketika menjalar memenuhi kulit pipinya yang putih.
"Ah, Mas ini bisa saja," desah perempuan itu diiringi senyuman simpul. "Mas Bram juga. Sudah ganteng, baik hati pula."
"Itu karena aku dianugerahi istri shalihah dan pintar, yaitu kamu. Makanya, sudah seharusnya aku bersyukur serta mewujudkannya dengan memperlakukan kamu dengan baik, juga penuh tanggung jawab. Iya, 'kan?" balas Bram mulai menebar rayuan khasnya.
Aimah tertawa kecil. Memperlihatkan barisan giginya yang rapi dan putih, menambah kecantikan perempuan itu dengan balutan mukena berenda motif bunga-bunga.
"Syukurlah kalo Mas sudah paham tentang itu."
"Itu karena aku banyak belajar, Sayang."
Tanya Aimah pura-pura tidak tahu, "Belajar apa?"
"Belajar menjadi suami yang layak dirindukan kepulangannya oleh istriku," jawab Bram cepat dan langsung dihadiahi cubitan kecil Aimah di lengannya.
"Ih, sakit, Dek," kata Bram, meringis sambil mengusap-usap bekas cubitan istrinya baru saja.
"Rasain," ledek Aimah manja, tapi menggemaskan.
"Tinggal satu lagi yang belum terlaksana," imbuh lelaki itu setelah beberapa saat sibuk meredakan rasa perih di lengannya.
Kening Aimah berkerut. Mulai menerka-nerka lanjutan dari ucapan terakhir suaminya itu. Apalagi kalau bukan topik kegemaran kaum lelaki pada umumnya, yakni poligami.
"Apaan? Hayooo …."
Sorot mata laki-laki itu tiba-tiba berubah redup. Menatap sendu Aimah, lantas berkata, " … menjadi seorang ayah."
Napas Aimah mendadak seperti menyesak mendengar ucapan Bram ini. Walaupun itu dinilai sebagai bentuk dari sebuah kejujuran, tapi terus terang saja, terasa bagai hantaman kencang menerpa seisi dadanya. Aimah merasa bahwa dialah salah satu penyebab impian laki-laki tersebut belum kunjung tergapai. Kehamilan yang diharapkan sekian lama, masih enggan menyempurnakannya sebagai sosok manusia berjenis perempuan.
"Dek," panggil Bram mengejutkan. Disahuti Aimah dengan dehamannya. Tanya laki-laki itu segera, "Kamu kenapa? Kok, malah ngelamun?"
Aimah menggeleng pelan.
"Maafin kata-kataku barusan, Dek. Aku gak bermaksud—"
"Gak apa-apa, Mas," tukas Aimah dengan cepat. "Aku paham, kok. He-he," imbuhnya kembali diiringi senyum getir.
Bram menarik napas dalam-dalam. Ada rasa sesal atas ucapannya terakhir tadi. Semestinya kalimat seperti itu jangan sampai terucap begitu saja. Jangankan dia, sudah tentu Aimah pun sama-sama berharap untuk bisa segera menjadi sosok seorang ibu.
Suasana yang semula ceria, mendadak berubah kelabu. Bram menelan ludahnya sendiri. Terasa pahit mengalir melewati lorong kerongkongan yang tiba-tiba mengering kerontang.
"Fadlan belum pulang juga ya, Dek? Kemana anak itu?" Bram mencoba mencairkan suasana. Mengalihkan obrolan dengan mempertanyakan adik kandung Aimah tersebut.
Jawab Aimah sambil membuka balutan mukenanya, "Tadi dia nelepon, minta izin buat pulang agak malam."
"Izin apa, Dek?" tanya kembali Bram sedikit lega melihat raut wajah istrinya itu kini, tidak semuram tadi. Setidaknya jurus pengalihan percakapan itu telah berhasil.
"Dia ke rumah temennya, nyari bahan-bahan buat nyelesain skripsinya, Mas."
"Oohhh."
"Paling jam sembilan nanti pulangnya," imbuh Aimah sembari melirik ke arah jam dinding di ruangan tersebut.
"Oohhh." Bibir Bram kembali membulat untuk yang kedua kalinya. "Tapi kamu bekelin kunci rumah, 'kan? Takutnya nanti ngeganggu kita lagi …."
"Ya, iyalah, Mas," timpal Aimah dibarengi lirikan bermakna tertentu dan senyuman simpul penuh arti.
'Alhamdulillah,' membatin Bram melihat bias semringah istrinya. 'Gak jadi ngambek dia. He-he.'
"Eh, tapi … temennya Fadlan itu cowok 'kan, Dek?" Bertanya lagi Bram sebelum memutuskan bangkit dari hamparan sajadahnya.
"Kalo cewek memangnya kenapa, Mas?" Aimah menggoda.
Bram cemberut, lantas menjawab, "Ya, gak bolehlah, Dek. Masa berdua-duaan sama yang bukan mahromnya? Haram. Sesama mahrom saja tetep gak boleh berlama-lama berduaan di ruang tertutup, kok."
Aimah tertawa kecil.
"Tenang saja, Mas," ujar perempuan cantik itu kemudian. "Adikku itu ke rumah temennya yang cowok. Namanya Mirza."
"Mira? Nama cowok, kok, Mira? Aneh banget!" gerutu Bram keheranan.
"Mirza, Mas. Bukan Mira. Dih!"
"Oohhh. Kirain Mira. Ha-ha."
"Dih!"
Bram bangkit dari duduknya, menarik sajadah, melipat rapi, lalu menyimpan kembali ke dalam rak khusus di ruangan itu. Sekalian bersama sajadah dan mukena bekas salat Aimah. Salah satu kebiasaan lelaki tersebut dalam memperlakukan istrinya. Hal sekecil apapun, Bram selalu menyempatkan diri untuk membantu pekerjaan rumahan. Dia tidak ingin semuanya harus selalu mengandalkan Aimah.
"Aku itu nikahin kamu buat dijadiin istri, Dek. Bukan buat mencari asisten pribadi," tutur Bram dulu waktu awal-awal mereka berumah tangga.
"Lagian aneh aja, Mas," ujar Aimah keheranan mendapati sikap suaminya tersebut. "Kebanyakan laki-laki pada umumnya, mereka gak mau tahu tentang kerjaan di rumah. Segala sesuatu, selalu saja ngandelin istri-istrinya."
Bram tersenyum kecut.
"Itu 'kan suami mereka, Dek. Bukan aku, lho," balas laki-laki tersebut tidak mau kalah. "Jadi … kamu gak mau, nih, aku bantuin ngerjain kerjaan rumah?"
"Dih, ya jelas mau dong, Mas," seru Aimah manja.
"Kirain malah gak seneng aku ikutan turun ke dapur?"
"Idih, Mas Bram."
"Ha-ha."
"Malah ketawa lagi, ih!" Aimah mendaratkan cubitan pertamanya di lengan Bram. Seketika laki-laki itu mengaduh kesakitan, kemudian membalasnya dengan usapan lembut telunjuknya pada ujung hidung perempuan tersebut.
"Denger ya, Sayang," kata Bram berlanjut. "Urusan pekerjaan rumah itu, sebenernya tugas laki-laki. Seorang suami, kayak aku. Mulai dari memberikan pakaian, tempat tinggal, hingga urusan isi perut. Perihal sandang pun bukan berupa bahan siap olah atau masak, melainkan sudah tinggal nyuapin ke mulut. Kalo memang istri bersedia sampai ikut turun ke dapur, itu bonus buat suami. Sekaligus ladang pahala bagi istri. Asalkan dilakukan dengan hati ikhlas, dan diniatkan untuk beribadah."
"Terus apalagi, Pak Ustadz?" Aimah mencandai suaminya.
"Kalo memang suami punya waktu dan kesempatan, gak ada salahnya 'kan mengerjakan kewajibannya sendiri di rumah? Lebih indah lagi bila dilakukan bersama-sama. Disamping bisa mempercepat pengerjaan, menghemat waktu, juga bisa dijadikan budaya kebersamaan. Kompak. Sisa waktu yang didapatkan pun akan jauh lebih banyak. Buat apa? Yaaa … buat kita berdua pacaran. Ha-ha."
"Kok, pacaran?"
"Iyalah, Dek. Pacaran syar'i, gak pake ta'arufan-ta'arufan lagi. Bebas tapi sopan dan Insyaa Allah higienis dari segala bentuk bakteri-bakteri dosa. Yang ada malah dapet gizi pahala. Hi-hi," kata Bram sembari menuntaskan kegiatan mencuci piringnya di westafel. Aimah ikut tertawa-tawa.
"Kamu kok pinter sih, Mas?" tanya Aimah sambil mengelap permukaan kompor dari titik-titik bekas cipratan minyak goreng setelah masak sebelumnya.
"Sebelum menikah, aku banyak belajar, Dek. Belajar ilmu rumah tangga, sekaligus belajar mempertahankan cintaku padamu. Hi-hi."
"Ih, gombal!"
"Aw!" Untuk kali kedua, Bram mengaduh kesakitan usai mendapatkan serangan kecil jemari Aimah yang mengilap licin.
"Rasain!"
"Sakit, Sayang."
"Lagian kamu ngegombal terus. Ih, sebel … sebel … sebeeelll!"
Gerutu Aimah tiba-tiba terhenti. Berganti dengan cekikik kecil sambil menggelinjang kegelian di serang peluk Bram dari belakang. Dia sulit mengelak dan melepaskan diri karena terkunci rapat dalam dekapan kuat kedua lengan kekar suaminya.
"Dek?"
Aimah tersenyum geli.
"Sayang?"
"Hhmm? Apa, Mas?" tanya Aimah segera tersadar dari lamunannya.
"Kamu kok senyum-senyum sendiri, sih?" tanya Bram memperhatikan wajah istrinya. "Ayo, tidur sekarang."
Aimah melirik sejenak jam di dinding. Sudah menunjukkan pukul delapan lewat. Kurang dari sejam lagi, Fadlan akan segera pulang. Artinya ada banyak waktu bersama Bram untuk memenuhi kode ajakan tidur dari suaminya tadi.
Tidak terasa, lebih dari satu jam mereka berdua berada di ruangan tersebut sejak menunaikan ibadah salat Isya berjamaah tadi.
Tanpa harus berbasa-basi apalagi berani menampik, Aimah segera bangkit, berdiri, dan melangkah mengikuti Bram menuju kamar peraduan. Tidak berapa lama setelah itu, samar-samar terdengar suara Bram bergema di dalam sana dengan sebait kalimat khas, "Bismillah … semoga kali ini berhasil".
"Aamiin yaa rabbal'aalamiin, Suamiku!"
BERSAMBUNG
Sukabumi, 20 November 2021