BUCIN 2 :
SAJADAH BERBISIK
Penulis : Daoed Soelaeman Shobari
Part 2
——————————————————————
Sepuluh tahun yang lalu, tepatnya ketika usia Bramanditya menginjak angka dua puluh lima. Welas, ibunya Bram, meminta anak laki-lakinya itu untuk memperistri Aimah.
"Dia itu perempuan baik-baik, Bram," ucap Welas dengan suara serak dan napas tersengal-sengal di atas pembaringan. "Ibunya adalah teman dekat Mama dari sejak kecil dulu. Bapaknya sudah lama meninggal, disusul ibu Aimah beberapa bulan yang lalu." Bram mendengarkan ibunya dengan saksama, seraya memegangi jemari wanita yang sangat dia kasihi tersebut. "Saat ini mereka tinggal bersama adik laki-lakinya, Fadlan, di kampung. Berdua."
Bram sudah menduga arah pembicaraan apa yang akan dikemukakan oleh ibunya itu. Sebagai anak laki-laki semata wayang, dia tidak ingin menyela maupun mengecewakan apapun yang Welas inginkan.
"Mama pikir, sekarang kamu sudah dewasa, Bram," imbuh ibunya Bram usai menarik napas panjang dan semakin mengukuhkan dugaan laki-laki itu tadi. "Kamu sudah punya kerjaan tetap, dan umur kamu pun rasanya sudah cukup untuk berumah tangga."
Benar saja, pikir Bram, maksud ibunya itu pasti ingin agar dia segera menikah. Sudah dipastikan, calon istri yang diinginkannya pun ….
"Mama ingin kamu menikahi Aimah, Bram," ucap Welas kemudian. Bram tidak kaget. "Kamu mau 'kan, memenuhi permintaan Mama?"
"Ma … Bram …."
Tukas Welas segera, "Kenapa, Bram? Kamu sudah pilihan sendiri?"
Bram bingung untuk menjawab. Sejujurnya, baru beberapa bulan ini dia menjalin hubungan khusus dengan seorang perempuan. Lagipula ….
"Bukan begitu, Ma," jawab laki-laki tersebut pelan. Tanya Welas dengan sorot mata kuyu, "Apalagi yang kamu tunggu, Bram? Sebelum Mama menyusul Papamu—"
"Jangan bicara begitu, Ma," seru Bram seraya meraih lengan Welas dan menciuminya berkali-kali. "Sejak Papa tiada, Bram cuma punya Mama. Bram ingin selalu bersama Mama dan ngelihat Bram bahagia. Melihat menantu Mama, juga cucu Mama nanti."
Welas tersenyum lirih.
"Itu artinya kamu mau 'kan, menikahi Aimah?" tanya Wanita itu kembali. Bram masih belum bisa menjawab. "Mama bahagia banget kalo kamu berjodoh dengan anak temen Mama itu, Bram."
Bram bingung. Jika sampai menolak, berarti akan mengecewakan sang ibu. Apalagi melihat kondisi Welas yang sering sakit-sakitan, sejak ditinggal pergi suaminya beberapa tahun silam atau tepatnya ketika anak laki-laki tersebut masih bersekolah di tingkat SLTP. Namun dengan segala upaya, Bram bisa melanjutkan jenjang pendidikannya hingga lulus bangku kuliah.
"Maafin aku, Del," ujar Bram suatu ketika pada Della, perempuan yang baru beberapa bulan menjalin hubungan dengannya. "Aku benar-benar gak punya pilihan lain, selain harus memenuhi permintaan Mamaku. Aku khawatir, ini merupakan keinginan Mama untuk yang terakhir kalinya."
Della tertunduk sedih. Raut muka gadis itu mendadak murung.
"Gak adakah pilihan lain, Bram?" tanya Della dengan suara gemetar. "Aku sangat mencintaimu lho, Bram. Bahkan—"
"Aku tahu itu, Del," tukas Bram, "aku ngerti bagaimana pengorbananmu saat harus memilih aku dulu. Kamu telah mengecewakan dua hati laki-laki sekaligus. Papamu dan juga lelaki yang telah dipersiapkan untuk menjadi jodohmu itu. Tapi posisiku sekarang sangat sulit untuk memilih. Kecuali …."
"Menerima perjodohanmu itu?" Suara Della meninggi. Bram mengangguk pelan. "Egois sekali kamu, Bram!" seru gadis itu kembali. "Pernahkah kamu berpikir bagaimana posisi aku dulu, hhm? Berat banget, Bram! Aku harus berhadapan dengan dua laki-laki yang kamu maksud tadi! Terutama Papaku! Karena aku percaya, pilihanku itu tepat dan aku sangat mempercayai kamu! Ingat itu, Bram!"
"Aku paham banget itu, Del," timpal Bram bimbang. "Maafin aku … maafin aku, Del."
"Pengecut sekali kamu berlindung di balik kata maafmu itu, Bram," ucap Della disertai senyum kecut. "Aku pikir pengorbananku dulu gak akan sia-sia. Aku sangat yakin sekali, laki-laki yang kupercayai ini adalah sosok lelaki yang tangguh. Nyatanya—"
"Aku sangat mencintaimu, Del," tukas Bram seraya menggenggam jemari kekasihnya itu.
"Omong kosong!" balas Della kesal, lantas menepis tangan Bram.
"Serius, Del. Jujur, aku masih mencintai kamu. Tapi … keadaan berkata lain. Aku benar-benar gak kuasa untuk—"
"Pengecut!"
"Del …."
Della menatap Bram dengan tajam. Bibirnya bergetar menahan amarah, tapi bias indah mata gadis itu masih menyisakan, bagaimana isi hati dia yang sebenarnya. Kemudian berucap, "Kalaupun kamu mempunyai dua pilihan, kenapa harus memilih satu, Bram?"
Laki-laki itu tertegun. Kini, balas dia memperhatikan bola mata kekasihnya tersebut. "Maksudmu …."
Della menarik napas panjang, sekadar meringankan sesak yang sejak tadi menghimpit dadanya.
"Aku gak ingin kecewa, juga mengecewakan keinginan Mamamu itu, Bram. Aku berusaha paham apa yang Mamamu harapkan, walaupun nyatanya aku sendiri menolak impian Papaku itu tentangku," kata gadis itu akhirnya. "Bram … aku gak peduli akan berada di posisi apa bagimu dan calon istrimu itu nanti. Tapi sejujurnya, aku gak ingin kehilanganmu, Bram. Aku sangat mencintai kamu."
"Del …."
Della sudah memberi keringanan pada permasalahan yang sedang mereka hadapi. Untuk kali kedua, gadis itu rela berkorban demi laki-laki yang sangat dia cintai. Melanjutkan hubungan tanpa harus ada satu pun pihak yang dikecewakan. Namun itu belum menjadi akhir dari kisah cinta sepasang insan tersebut.
"Tidak, Mas," kata Aimah ketika Bram pertama kali mengungkapkan permasalahannya, usai beberapa kali bertemu dan mengenali calon istri yang diinginkan ibunya itu. "Aku tidak ingin menjadi duri dalam daging di antara kalian berdua. Kalau Mas Bram memang menghendaki perempuan itu, sebaiknya Mas Bram tidak usah mengharapkan aku selama-lamanya."
"Tapi, Dek …."
"Aku akan bicara baik-baik dengan Mamamu nanti, Mas," tukas Aimah kembali. "Mudah-mudahan saja beliau mau mengerti nanti ya, Mas."
"Enggak, Dek," pinta Bram ketakutan. "Aku mohon, jangan bilang apapun sama Mama terkait permasalahan kita ini."
"Kenapa, Mas?" tanya perempuan itu heran. " … atau mau Mas Bram sendiri yang berterus terang? Menolak perjodohan kita ini dan Mas Bram lebih memilih—"
"Enggak," tukas Bram. "Aku gak akan pernah ngelakuin itu sama Mama."
"Kenapa? Mau atau tidak, Mamamu mesti tahu duduk permasalahan ini, Mas," kata Aimah mendesak. "Terus terang saja, aku tidak ingin ada dua perempuan atau lebih di antara satu laki-laki. Mas Bram harus paham itu."
Bram mengangguk-angguk lirih.
"Ya, aku paham banget tentang itu, Dek," balas laki-laki itu kembali. Dalam benaknya berpikir, Aimah benar-benar jauh berbeda dengan Della. Sosok perempuan di depannya tersebut, lebih keras dan berprinsip.
"Lalu?"
Bram menoleh sesaat pada sosok seorang laki-laki remaja yang duduk tidak seberapa jauh dari tempat mereka berdua bicara, lantas berusaha menjawab dengan hati berat. "Mamaku … punya penyakit jantung dan darah tinggi, Dek. Kondisi beliau sekarang sering sakit-sakitan. Aku sangat takut sekali jika hal ini sampai diketahui Mama, kesehatan beliau bakal lebih buruk."
Mata Aimah berkaca-kaca. Tiba-tiba saja, dia pun teringat pada sosok kedua orang tuanya yang telah tiada. Kecintaan Bram akan ibunya, tentu sama besar dengan rasa rindu yang dia miliki saat itu pada mendiang bapak serta ibu gadis tersebut. Dia berusaha memahami masalah yang sedang Bram hadapi, akan tetapi hati walau bagaimanapun juga, —jujur— perempuan manapun mungkin tidak akan rela jika harus berbagi kasih dengan sesamanya. Terkecuali apa yang sudah ditawarkan oleh kekasih Bram yang lain, yakni Della. Di sisi lain, hati Aimah tidak bisa dipungkiri bahwa diam-diam dia pun mulai menyukai sosok laki-laki yang dikirim oleh Welas tersebut.
"Jadi, Mas Bram paham 'kan, apa yang harus Mas lakukan?" tanya Aimah seperti meminta ketegasan laki-laki tersebut. "Tapi aku tidak memaksa kalau memang Mas lebih memilih perempuan itu ketimbang aku, Mas. Moga-moga saja Mamamu mau mengerti."
"Dek Aimah …."
"Aku paham kok, perasaan Mas dan Mama Mas Bram," ucap Aimah seraya melirik ke arah adik lelakinya dari kejauhan. "Tapi Mas juga harus mengerti perasaan perempuan. Khususnya aku. Lagipula, aku dan Fadlan, Insyaa Allah akan baik-baik saja. Kami sangat berterima kasih atas perhatian Mamamu itu."
"Dasar pengecut!" umpat Della ketika Bram menyampaikan apa yang telah dia tentukan. "Kamu gak punya perasaan sama sekali, Bram!"
"Del, maafin aku," ucap Bram lirih.
"Aku benci kamu, Bram!" kata Della sambil bergegas meninggalkan kekasihnya tersebut sambil menangis pilu.
"Del! Tunggu dulu!" panggil Bram, tapi tidak diindahkan gadis itu. "Ya, Allah, kenapa harus begini kejadiannya?"
Sebulan setelah itu, Bram akhirnya resmi memperistri Aimah. Acara pernikahan mereka diselenggarakan dengan sangat sederhana, serta disaksikan oleh Welas penuh sukacita.
"Mama sangat bahagia sekali melihat kamu sekarang sudah berumah tangga, Bram," kata Welas suatu ketika. Tepatnya ketika usia pernikahan Bram dan Welas menginjak usia tahun ketiga. "Mama yakin, ibunya Aimah juga akan merasa senang di alam sana, karena anak kami akhirnya berjodoh."
"Insyaa Allah, Ma," timpal Bram turut bahagia melihat ibunya semringah. Hanya beberapa saat hingga percakapan mereka berdua pun beralih ke topik yang sering dipertanyakan Welas. Imbuh wanita tua tersebut, "Hanya saja, kebahagiaan Mama ini rasanya belum lengkap, Bram."
Bram sudah bisa menduga, obrolan apa yang akan diungkapkan oleh ibunya itu.
Kata Welas kembali, "Aimah belum hamil juga ya, Bram?"
Laki-laki itu menelan ludahnya yang mendadak terasa pahit pahang. Jawab Bram lirih, "Mungkin belum saatnya saja, Ma. Insyaa Allah, kami sedang berusaha, kok."
Welas termenung, berusaha untuk berpikir.
"Ini sudah tiga tahun lho, kalian berumah tangga," ujar wanita tua tersebut. "Apa kalian pernah berobat atau konsultasi dengan dokter, misalnya?"
Bram menggeleng.
Tanya Welas kembali, "Lho, kamu ini bagaimana sih, Bram? Anak temen Mama seusia kamu ini, sudah pada punya momongan. Temen-temen Mama sudah punya cucu. Lha, Mama sendiri?"
"Doain saja, Ma. Mudah-mudahan saja Aimah bisa cepet-cepet hamil."
"Ingat lho, Bram," imbuh Welas, "kamu itu anak satu-satunya Mama. Kamu harus punya anak, biar kita bisa meneruskan keturunan."
"Iya, Ma. Bram juga paham, kok," balas Bram sambil melihat-lihat pintu ruang depan. Khawatir tiba-tiba Aimah muncul di sana dan mendengarkan percakapan mereka.
"Makanya kamu harus tanya-tanya dokter sana, Bram," ujar Welas bersikeras. "Takutnya ada apa-apa di antara kalian, atau malah Aimah yang ber—"
"Ssttt, Mama jangan bicara seperti itu, Ma," tukas Bram buru-buru memotong ucapan ibunya. "Nanti kalo kedengeran Aimah dan Fadlan, bagaimana?"
Welas mendengkus.
"Terus Mama harus diam saja, begitu?"
"Bukan begitu maksud Bram, Ma. Tapi hal sensitif seperti ini 'kan, gak usah dibahas di rumah."
"Gak apa-apalah, Bram. Mama cuman khawatir saja memperhatikan kalian berdua, kok … kayaknya santai-santai saja selama ini? Sudah tiga tahun lho, Bram. Tiga tahun. Kalian konsultasi gih, sana sama dokter kandungan!"
"I-iya, Ma," balas Bram ingin segera menyudahi percakapan mereka tersebut. "Secepatnya Bram akan memeriksakan diri."
"Aimah juga dong, Bram. Masa kamu sendiri, sih?"
"I-iyalah, Ma, sama Aimah juga maksud Bram."
Anak laki-laki semata wayang itu bingung, bukan karena tidak mau berikhtiar berobat ke sana-sini. Penghasilannya sebagai seorang pekerja biasa, selama ini habis digunakan untuk berobat Welas. Sisanya tentu saja buat keperluan rumah tangga Bram dan Aimah sendiri, serta biaya pendidikan Fadlan.
"Dek …." Bram kaget, tiba-tiba Aimah muncul di ambang pintu. Berdiri mematung memperhatikan ibu dan anak itu.
"Nak Aimah?" Welas ikut tergagap di atas kursi rodanya.
"K-kamu udah lama datang, D-dek?" tanya Bram melihat-lihat Aimah menjinjing plastik besar sepulang dari pasar. "K-kamu …."
Wajah perempuan itu tampak murung. Entah apa yang terjadi. Mungkinkah mendengar obrolan Bram dan Welas tadi?
"Ya, Allah … Dek, ada apa?" Buru-buru laki-laki itu menyambut istrinya.
Mata Aimah mulai berkaca-kaca.
BERSAMBUNG
Sukabumi, 22 November 2021