Part 3

1564 Words
BUCIN 2 : SAJADAH BERBISIK Penulis : Daoed Soelaeman Shobari Part 3 —————————————————————— Wajah Aimah tampak murung. Entah apa yang terjadi. Mungkinkah mendengar obrolan Bram dan Welas tadi? "Mas Bram … Ibu …." kata Aimah lirih pada ibu mertua dan suaminya. "Ya, Allah … Dek, ada apa?" Buru-buru Bram menyambut. Mengambilkan bungkusan plastik di tangan istrinya dan segera mengajak masuk. "Kamu kenapa, Sayang?" Mata Aimah mulai berkaca-kaca. Lantas berucap usai didudukan di kursi. Dengan susah payah memutar roda kursinya, Welas ikut mendekat. "Ada apa, Nak?" tanya wanita tua itu seraya melirik Bram penuh arti. Bram segera mengambilkan air minum dan tidak berapa lama kembali lagi pada istrinya. "Minumlah dulu, Dek," pinta laki-laki tersebut lantas membantu Aimah menghabiskan isi gelas hingga habis. "Ceritalah. Ada apa?" tanya Bram kembali dengan hati was-was. Sejenak kedua ibu-anak itu saling melempar pandang. Sama-sama dilanda kekhawatiran jika Aimah mendengar obrolan mereka tadi. Setelah agak lama terdiam dan mengatur napas, akhirnya perempuan itu bertutur, "Aku kecopetan di pasar, Mas." "Astaghfirullahal'adziim!" seru Bram dan Welas berbarengan, sekaligus merasa lega. Apa yang mereka khawatirkan ternyata tidak terjadi. "Untung yang hilang cuma sisa belanja tadi, Mas-Bu," imbuh Aimah kembali sembari menatap Welas dan Bram secara bergantian. "Ya, sudahlah, Dek. Yang penting kamu selamat," timpal Bram merasa lebih lega. "Tapi …." "Apalagi, Nak?" Kali ini Welas yang gantian dibuat dak-dik-duk. Diliriknya Bram sambil menggerak-gerakkan alis turun-naik. Aimah menunjuk ke luar, kemudian berkata, "Tukang ojeknya masih nunggu di luar. Belum dibayar ongkosnya, Bu-Mas." "Allahuakbar!" Bram menepuk jidat sendiri. Tanpa dipinta, dia bergegas ke luar rumah dan menemui seorang laki-laki yang sedang termenung menunggui. "Berapa, Bang?" tanya Bram pada sosok tersebut. "Ceban, Pak," jawab tukang ojek. 'Mahal amat?' membatin Bram, tapi segera memberikan selembar uang senilai dua puluh ribu rupiah. "Terima kasih ya, Bang, sudah nganterin istri saya." "Sama-sama, Pak. Tadi di pasar, saya lihat istri Bapak kayak lagi kebingungan. Katanya sih, kecopetan. Makanya saya bantu nganter pulang. O, iya ... ini—" Tukang ojek bermaksud merogoh saku jaketnya. "Gak usah, Bang," kata Bram mencegah. "Istri saya gak apa-apa, kok. Yang terpenting dia selamat pulang kembali ke rumah." "Oohh, begitu?" Tukang ojek mengurungkan niatnya hendak mengambil uang kembalian. "Ya, sudah kalo begitu, Pak. Terima kasih. Saya permisi ngojek lagi, ya?" Balas Bram dengan hati agak mangkel. Lantas menggerutu di sepanjang langkah memasuki rumah. "Kenapa, Bram?" tanya Welas heran memperhatikan raut muka anaknya itu. Jawab Bram, "Itu, Ma, tukang ojeknya. Gak punya rasa empati amat atau gimana, ya? Orang lagi kesusahan malah dibikin kesempetan." "Memangnya kenapa sama tukang ojeknya, Mas?" Aimah yang sedang bersedih pun ikut dibuat penasaran. Dengan bibir mengeriting, laki-laki tersebut menjawab, "Itu … masa ongkos dari pasar nyampe sini minta dibayar dua puluh ribu? Mahal amat!" Aimah terkejut. "Lho, ongkos ojek dari sana ke sini itu cuma ceban, Mas. Kok, dua puluh ribu? Gimana, sih?" "Nah, itu dia! Eh, memangnya ceban berapa sih, Dek? Dua puluh ribu, 'kan?" Aimah melirik pada ibu mertuanya sesaat, lalu sembari menahan tawa dia menjawab, "Ceban itu artinya sepuluh ribu, Mas." Dia berdecak antara menahan rasa kesal dan geli. "Terus, Mas ngasihnya dua puluh ribu? Memangnya gak dikembaliin, 'gitu?" Bram menggeleng polos, tapi terpikir tadi tukang ojeknya memang seperti akan mengambil uang kembalian. Dia kira akan mengganti uang yang dicopet tadi. Makanya buru-buru ditolak. "Sudahlah, biarin saja. Hitung-hitung beramal," kata Bram tiba-tiba merasa malu dan bersalah sendiri. Lantas segera masuk ke dalam kamar tidur. Aimah mengikutinya setelah minta izin terlebih dahulu pada Welas untuk meninggalkan wanita tua itu sebentar. "Aimah ke kamar dulu ya, Bu. Sebentar saja," ujar perempuan yang terpaut tiga tahun lebih tua usianya dari Bram itu. "Si Bram ada-ada saja deh, ah!" gumam Welas diiringi gelengannya. "Mas," panggil Aimah begitu berada di dalam kamar bersama suaminya. Bram menoleh sejenak, lalu berkata, "Sudahlah, Dek, gak usah dibahas. Ikhlasin saja uangnya. Cuma sepuluh ribu ini, kok." Aimah mendelik. "Dih, bukan itu masalahnya, Mas," timpalnya sambil manyun. "Terus?" Bram duduk di pinggiran tempat tidur, masih dengan hati yang kesal. "Ini terkait uang yang dicopet itu, Mas," jawab Aimah seraya ikut duduk di samping suaminya. "Ikhlasin saja juga deh, Dek," ujar Bram mangkel. "Lagian cuma sisa kembalian uang belanja, 'kan? Gak apa-apalah. Hitung-hitung sedekah di luar rencana." "Iya kalo duitnya sedikit. Masalahnya …." Suara Aimah tiba-tiba bergetar. "Uang buat beli obat Ibu … ikut dicopet juga, Mas." "Hah?! Kok, bisa sih, Dek?" Bram langsung kaget. Perempuan itu menunduk sedih. "Soalnya … 'kan ditaruh di dompet yang sama, Mas." "Ya, Allah … Dek," seru Bram seakan tidak percaya. "Terus, gak jadi beli obat buat Mama, dong?" Aimah menggeleng pilu. Sedih dan merasa bersalah. "Maafin aku, Mas," ucapnya lirih. "Ini memang salahku. Aku ceroboh. Gak hati-hati." "Astaghfirullahal'adziim," desah Bram yang tadi kesal jadi semakin mangkel. Namun apa mau dikata, semua sudah terlanjur terjadi. Tidak mungkin dia mengomeli istrinya. Apalagi sebentar kemudian, terdengar isak kecil di samping laki-laki tersebut. "Ya, Allah … Dek, jangan nangis dong, Sayang. Gak apa-apa. Aku gak bakal marahin kamu, kok." Bram segera merangkul Aimah dengan sepenuh kasih. "Tapi gara-gara aku, hari ini Ibu jadi gak minum obat, Mas," balas Aimah di antara sedu sedannya. "Sudahlah, Dek. Gak usah nangis, ya? Aku akan cari pinjaman lagi buat beli obat Mama. Tenang saja." "Mau pinjem uang lagi?" tanya Aimah seraya menarik diri dari rangkulan suaminya. "Iya, Dek," jawab Bram. "Kamu 'kan tahu sendiri, kalo gajianku masih lama. Sekarang saja masih tanggal tiga belas." "Pinjem dari siapa? Tante Dienda janda kaya raya yang rumahnya beberapa blok dari sini itu lagi? Jangan deh, Mas! Jangan!" "Lho, memangnya kenapa? Dia salah satu dari tetangga kita yang baik, kok." "Pokoknya jangan, Mas," ujar Aimah bersikukuh. "Dia itu genit. Apalagi kalo ketemu sama Mas Bram. Aku gak suka!" "Ya, sudah. Kalo begitu … aku mau hubungi Pak Vin saja deh, ya?" "Pak Pin? Pinjol maksudnya, Mas? Jangaaannn!" "Kok, jadi vinjol? Maksudku itu … Pak Vinod. Bendahara kantor aku yang mukanya mirip aktor Bollywood bernama Kapoor Bharush, Dek." "Syukurlah. Pokoknya terserah Mas Bram saja. Yang penting jangan dari Tante Dienda dan pinjol itu." "Vinjol apaan, sih?" "Itu lho, Mas, yang suka ngasih pinjeman lewat internet, terus kalo telat sehari saja suka ngegibahin nasabahnya ke nomor-nomor kontak yang disimpan di hape kita." Bram menepuk keningnya. Plak! "Ooohh, pinjaman online. Vinjol ... aku pikir apa? Haduh, Deekkk! Ya, enggaklah. Lagian kalo pinjem di tempat begituan, ada bunganya. Gede lagi. Riba, Dek." "Pinjem sama Tante Dienda juga ada bunganya, Mas." "Enggak, ah!" "Adaaa!" "Mana ada? Dari sejak zaman aku kuliah, Mama sering pinjem uang sama Tante Dienda. Gak pernah tuh pake bunga, Dek." "Sekarang ada, Mas." "Kok, Adek tahu?" "Ya, tahulah," jawab Aimah sembari cemberut. "Kemaren-kemaren waktu kita pinjem uang sama Tante Dienda buat bayar sekolah Fadlan, dia ngasih uangnya sama Mas Bram dengan wajah berbunga-bunga, Mas." Cckkk! Bram mendelik. 'Haduh, itu sih bukan bunga riba, Dek. Tapi berbungah ria (gembira ria). Gimana, sih?' membatin laki-laki yang memang memiliki wajah tampan dan perawakan 'seterek' (proporsional dan berotot) itu, agak kesal. Namun dia memahami sekali jika Aimah sebenarnya sedang dilanda cemburu. Jangankan terhadap Tante Dienda yang kaya raya dan sering menyukai laki-laki muda sepantaran Bram, pada tetangga depann rumah pun dia sering dibuat kepanasan. Cuma gara-gara suaminya sering menjemur handuk bekas mandi di halaman rumah dengan kondisi tubuh hanya mengenakan celana pendek ketat alias 'nyetrit'. "Ya, sudah. Kalo Adek gak suka aku pinjem uang sama Tante Dienda dan VINJOL, aku kasbonnya sama Pak Kapoor Bharush saja. Oke, Dek?" Aimah memeluk suaminya dengan hati BERBUNGA-BUNGA tanpa RIBA. "Makasih ya, Mas," ucap perempuan itu kemudian. "Maafin aku kalo selama ini hanya bisa menjadi beban Mas Bram." "Beban? Kok, beban sih, Dek? Itu 'kan memang sudah kewajibanku sebagai suamimu." Balas Aimah kembali, "Maksudku, Mas Bram juga mau ngebiayain sekolahnya Fadlan." "Oohhh, itu? Gak apa-apalah, Dek. Kasihan 'kan kalo sampe adikmu itu gak ngelanjutin sekolah. Lagian … adikmu itu 'kan adikku juga. Mumpung kita masih belum punya momongan, uangnya kita alokasikan buat ngebiayain Fadlan sekolah." Tiba-tiba Aimah melepaskan rangkulannya. "Kenapa, Dek? Aku salah ngomong, ya?" tanya Bram heran. Aimah menggeleng. "Terus, kenapa mukamu dilipat begitu?" Jawab perempuan itu lirih, "Sudah tiga tahun kita menikah, Mas. Tapi sampai sekarang kita masih belum dikasih momongan juga ya, sama Allah." "Hus, jangan ngomong begitu, Dek. Mungkin memang belum waktunya saja." "Tapi, Mas …." "Apalagi?" Aimah menoleh ke arah pintu kamar. Suaranya agak mengecil sekarang waktu menjawab, "Kayaknya Ibu sudah lama berharap, kita bisa segera ngasih beliau cucu, Mas." Bram mendengkus. 'Jangan-jangan, dia sempet mendengar obrolanku sama Mama tadi, nih?' pikir laki-laki tersebut mulai dilanda kekhawatiran kembali. "Sudahlah, gak usah dipikirin. Sebaiknya kita perbanyak saja doa sama Allah, dan juga USAHA," ujar Bram sembari mendorong tubuh istrinya ke atas tempat tidur. "Idih, Mas," seru Aimah berusaha pura-pura menolak, tapi sebenarnya ingin juga. "Jangan sekarang, dong. Aku mau masak dulu." "Sebentar saja, Dek, kita cuma pengen berusaha ngasih cucu buat Mama," balas Bram mulai melepaskan pakaiannya sendiri. "Sebentar apaan? Mas Bram mah usahanya sering lama sampe satu jam'an, ih!" "Biarin, deh. Yang penting kita sering-sering USAHA. Mumpung aku lagi libur kerja. Hi-hi." "Dih, Mas Bram! Blep! Blep!" "Aw! Jangan digigit dong, Dek!" "Gagag, Ngah!" jawab Aimah yang artinya kira-kira begini : 'Kagak, Mas!' Beberapa menit kemudian, dari dalam kamar itu terdengar kalimat tertentu dari sepasang suami-istri tersebut, "Bismillah … semoga kali ini berhasil". "Aamiin yaa rabbal'aalamiin, Suamiku!" BERSAMBUNG Sukabumi, 22 November 2021
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD