Part 4

1902 Words
BUCIN 2 : SAJADAH BERBISIK Penulis : Daoed Soelaeman Shobari Part 4 —————————————————————— Pagi hari menjelang keberangkatan Bram ke tempat kerja, lelaki itu celingukan mencari-cari sosok Fadlan yang belum kunjung terlihat batang hidungnya sejak kemarin sore. Bahkan sejak Subuh pun, kamarnya masih kosong. "Adikmu itu gak pulang, Dek?" tanya Bram pada Aimah yang sedang sibuk di dapur menyiapkan sarapan. Jawab perempuan itu, "Enggak, Mas. Sudah aku coba hubungi sejak Subuh tadi, tapi HP-nya gak aktif." "Ada pesan dari dia kenapa gak pulang malam tadi?" tanya Bram kembali seraya membantu istrinya menyiapkan bahan-bahan masakan. Aimah menggeleng, lantas menjawab disertai isak kecil, "Gak ada, Mas. Kecuali minta izin kemaren sore buat pulang malam itu." Bram segera mendekati perempuan tersebut, merangkulnya dari belakang, lantas berusaha menenangkan. "Tenang saja. Aku yakin, adikmu itu gak apa-apa kok, Dek. Mungkin dia memang lagi sibuk dan tugasnya belum selesai." "Aku pikir juga begitu, Mas," ucap Aimah kembali terisak dan mengelap lubang hidungnya dengan selembar tisu dapur yang tersedia di sana. "Nanti sepulang kerja, aku akan coba cari dia," ujar Bram seraya menciumi tengkuk istrinya. "Sekarang kamu tenang saja. Jangan nangis 'gitu, dong. Aku jadi ikut sedih, Dek." Tiba-tiba Aimah menoleh. Ujarnya kemudian, "Siapa yang nangis? Mas gak lihat, aku lagi ngiris bawang?" Bram mengintip talenan di depan istrinya dari samping kepala Aimah. "Dih, kirain lagi sedih mikirin adikmu? Tahunya … dasar!" "Hi-hi." Sembari komat-kamit sendiri, lelaki itu kembali ke tempatnya semula. Lalu melanjutkan pekerjaan tadi. "Jangan dijadiin kebiasaan lho, Dek, adikmu itu gak pulang tanpa ngasih kabar begitu," imbuh Bram mengingatkan. Balas Aimah, "Yaa … mungkin kelupaan, Mas. Lagian, biarin aja ngkali. Fadlan 'kan, udah dewasa ini. Aku yakin dia bisa jaga diri dan gak bakalan macem-macem." "Iya, sih," kata suaminya bersikukuh. "Tapi tetep saja itu gak baik. Apalagi dia masih jadi tanggung jawab kita. Apapun yang dia lakuin, kita harus tetep ngawasin Fadlan. Gak boleh lengah." Aimah tersenyum seraya menoleh pada suaminya. "Makasih ya, Sayang. Kamu begitu perhatian banget sama adikku." Timpal Bram usai membalas senyuman istrinya, "Sudah kubilang, Fadlan itu 'kan adikku juga, Dek. Dia sudah kuanggap sebagai adik kandungku sendiri sejak ikut tinggal bersama kita dulu." "Iya, aku tahu itu." "He-he, gak kerasa, ya? Rasanya baru kemaren dia duduk di bangku SMP," kata Bram tiba-tiba berhenti dari pekerjaannya, kemudian tersenyum-senyum sendiri seraya membayangkan. "Sekarang Fadlan sudah hampir lulus kuliah. Sementara kita berdua, justru makin tambah tua. Rasanya sebentar lagi, jadi kayak lagi nungguin punya menantu. He-he." Tidak ada balasan maupun respons dari sosok di samping laki-laki tersebut. Suasana di dapur mendadak sunyi. Terkecuali suara nyaring minyak goreng panas di dalam penggorengan di atas kompor. Bram menoleh ke samping karena seperti membaui asap gosong, memperhatikan antara sosok istrinya dan penggorengan tadi. "Ya, Allah!" seru Bram buru-buru mematikan kompor. "Kamu kenapa sih, Dek? Duh, kok malah jadi bengong begitu? Kenapa, Sayang?" Dia meraih kedua tangan istrinya dari atas talenan. Aimah hanya diam dengan tatapan kosong dan cemberut. "Adek Aimah istriku sayang …." Bukannya menjawab, perempuan tersebut malah melengos, kemudian meninggalkan Bram sendiri di dapur. 'Ya, Allah … salah omong apalagi aku, ya?" Bram segera menyusul. Ternyata Aimah masuk ke kamar dan duduk termenung di bangku di depan cermin. "Kamu itu kenapa, Dek? Maafin aku kalo ada yang salah," ujar laki-laki tersebut dari belakang. Jawab istrinya seraya memandangi diri sendiri melalui pantulan cermin, "Kamu memang bener, Mas. Aku semakin tua. Dua tahun lagi, umurku sudah empat puluh. Sebentar lagi aku akan mengalami masa menopause. Itu berarti aku memang benar-benar gak bisa ngasih keturunan buat kamu, Mas." "Huss!" seru Bram secepatnya. "Kamu ini ngomong apa sih, Dek? Kita masih bisa punya anak. Aku yakin itu. Insyaa Allah. Percayalah." Aimah menggeleng, lantas berkata, "Enggak, Mas. Sepuluh tahun kita menunggu. Selama itu pula usaha kita belum pernah berhasil. Aku berusaha bersabar dan meyakini, bahwa tidak ada yang bermasalah denganku. Tapi nyatanya, penantian kita sia-sia belaka. Aku harus menyadari kalo aku memang gak akan pernah bisa memberimu keturunan." Butiran bening mulai menggenangi pelupuk mata Aimah. Dia berusaha tersenyum dan tegar, tapi raut wajah cantiknya jelas-jelas menyiratkan isi hati yang sebenarnya. "Jangan bicara seperti itu, Sayang," ucap Bram menghibur. Dia memeluk istrinya dari belakang dengan erat. "Mungkin karena kita belum dipercaya buat menerima amanah dari Allah. Itu saja." "Mas …." "Sayang, dengerin aku," imbuh Bram seraya berpindah, memutar ke hadapan istrinya. "Kita sudah pernah konsultasi sama dokter kandungan. Kita sehat. Gak ada masalah apapun di antara kita berdua. Kamu ingat itu?" Aimah melirik, menatap suaminya, lantas mengangguk pelan. "Iya, Mas. Aku ingat itu," jawab perempuan tersebut dengan suara bergetar, "tapi kamu juga harus ingat kata dokter dulu, bahwa aku menderita endometriosis. Kemungkinan aku bisa hamil hanya setengahnya." "Iya, Dek. Aku juga masih ingat." Aimah tertunduk sedih. "Sedangkan kamu masih sangat sehat, Mas. Gak ada masalah apapun," imbuh perempuan itu kembali. "Dokter pernah menyarankan kita untuk mengikuti program bayi tabung, tapi biayanya mahal banget. Kita gak akan pernah sanggup, Mas." "Dek …." "Aku pernah berkeinginan untuk mengadopsi seorang anak bayi, tapi Mas Bram menolak dengan alasan …." Aimah menarik napas sejenak. " … cukuplah dengan mengasuh Fadlan sejak dia remaja pun, kita merasa seperti memiliki anak sendiri. Sekarang keadan semakin lain. Terutama aku. Aku merasa gak berguna bagimu, Mas. Seandainya saja dulu menolak perjodohan ini dan merelakan Mas Bram memilih perempuan yang—" "Dek, cukup. Jangan kamu terusin, Sayang," pinta Bram semakin tersayat mendengar ungkapan hati istrinya tersebut. "Aku mohon." Aimah menggeleng. "Enggak, Mas," balas perempuan berapi-api. "Mas Bram harus tahu apa yang selama ini aku tahan-tahan. Aku gak bisa selamanya berpura-pura kuat. Padahal sebenarnya aku hanya gak ingin kamu ikut ngerasain apa yang kurasa. Enggak, Mas. Aku gak ingin ngecewain kamu buat yang kedua kalinya." "Cukup, Dek. Hentikanlah." "Kamu berhak bahagia, Mas. Kamu harus punya keturunan dari darah dagingmu sendiri. Bukan hasil adopsi … atau juga … menganggap adikku sendiri seperti anakmu." "Ya, Allah … ya, Rabbi, Dek," ucap Bram cepat-cepat memeluk erat tubuh istrinya. Di sana pula tangis Aimah mulai pecah memilukan. "Kamu sudah terlalu banyak bicara. Kamu hanya sedang kecewa dan depresi. Kamu gak sadar apa yang omongin tadi. Aku yakin itu." Balas Aimah di balik dekapan suaminya, "Aku sadar kok, Mas. Aku tahu apa yang aku ucapin." "Jangan diterusin, Dek," timpal Bram kembali. "Sebaiknya kamu istirahat saja dulu, ya? Biar sisa kerjaan kita tadi, aku yang beresin. Oke, Sayang?" Perlahan pelukan mereka dilepaskan. Tangisan Aimah pun mulai mereda. Namun sebelum Bram beranjak meninggalkan kamar, perempuan itu kembali bertanya, "Apakah Mas Bram gak kepikiran buat menikah lagi, Mas?" "Astaghfirullah, Dek. Pertanyaan apalagi sih itu? Sudahlah, gak perlu dibahas lagi. Aku harus segera bersiap-siap berangkat—" "Menikahlah lagi, Mas." "Apa-apaan sih, ah?" "Mas!" "Enggak! Jangan bahas masalah ini lagi! Aku mohon, Dek," ujar Bram seraya meninggalkan Aimah seorang diri di kamar. Menyisakan isak tangis kecil dan hati yang teramat perih bagi perempuan tersebut. Membatin Aimah disertai derai air mata, 'Menikahlah lagi, Mas. Tapi sebelum itu, aku ingin kamu melepaskan aku terlebih dahulu. Biarkan aku yang mengalah dan menjauh dari kehidupanmu. Asalkan kamu bahagia ….' Pagi yang suram sejak sepuluh tahun perjalanan rumah tangga Bram dan Aimah. Ketidakhadiran seorang buah hati dalam pernikahan mereka, perlahan-lahan memupus harapan perempuan itu untuk bisa bertahan berada di sisi suaminya. Malu dan merasa tidak berguna mendampingi laki-laki itu sebagai istri yang tidak sempurna. Bahkan ketika Bram berangkat kerja pun, tidak ada gairah sama sekali mengantarnya hingga menghilang di balik pintu keluar. "Aku berangkat dulu ya, Dek," ucap Bram berpamitan. Tidak ada jawaban sama sekali dari sosok yang sedang menelungkup di atas tempat tidur itu. Lelaki itu tahu bahwa istrinya tidak sedang tidur. Dia tengah bersedih sambil menyembunyikan wajah di balik hamparan kasur. Walau begitu, kecup bibir Bram tetap singgah dengan lembut di kepala Aimah. Tanpa antaran maupun tatap mata berbinar seperti biasa, Bram bergegas menaiki sepeda motor tuanya. Hendak berangkat ke tempat kerja sebagaimana biasa. Namun baru beberapa putaran meninggalkan halaman rumah, laju kendaraan laki-laki itu terhenti tiba-tiba. Seseorang menghadang, persis di depan pintu gerbang pagar dengan sebuah Taft-nya. "Selamat pagi, Pak," sapa sosok tadi terdengar, begitu keluar dari kendaraan roda empatnya, dan melihat Bram di sana. Seorang perempuan muda berjalan menghampiri. "Selamat pagi," balas Bram termangu. "Cari siapa ya, Neng?" Perempuan itu tidak lantas menjawab, tapi memandangi Bram beberapa saat lamanya. "Neng? Cari siapa?" tanya Bram kembali, sekaligus menyadarkan sosok muda di depannya tersebut. "Ahh … maaf, Pak. Aduh …." ujar perempuan itu terlihat kikuk. "Euumm … maaf mau tanya, Pak." "Iya?" Bram memperhatikan, mendadak, ada rona merah di sekitar wajah tamunya tersebut. "Tanya apa, Neng?" Perempuan itu mengibaskan rambutnya sebentar, lantas lanjut berkata, "Saya … lagi nyari … rumahnya … Fadlan. A-apa benar di sini, P-pak?" Bram tersenyum. Jawabnya, "Betul. Fadlan tinggal di sini. Ini rumahnya. Neng ini … temen kuliahnya Fadlan?" "I-iya, Pak. S-saya … temen sekelasnya … Fadlan. Duh!" Untuk kedua kali, perempuan itu menyibak gerai rambutnya yang menutupi wajah. Masih sangat muda, sebaya dengan Fadlan, terlebih memiliki pesona wajah yang begitu cantik, pikir Bram di saat menjawab pertanyaan perempuan tersebut. "Oh, begitu …." ujar Bram sambil manggut-manggut. "Tapi kebetulan, Fadlannya lagi gak ada di rumah tuh, Neng." "Ke mana, Pak?" "Semalem tadi gak pulang," jawab Bram seraya mengingat-ingat percakapannya dengan Aimah tadi malam. "Kalo gak salah, nginep di rumah temennya." "Siapa, Pak?" tanya perempuan muda belia itu bertubi-tubi. "Eemmm, Mirza kalo gak salah namanya." "Mirza?" "Iya, Mirza. Neng kenal juga temennya Fadlan yang namanya Mirza itu?" Balik bertanya Bram sekadar memancing informasi. Sosok cantik itu mengangguk, lantas menjawab, "Tentu saja kenal, Pak. Dia temen sekelas saya dan Fadlan juga." "Aahh, syukurlah. Berarti anak itu benar menginap di sana,' membatin Bram. "Ngomong-ngomong, nama Neng ini siapa, ya? Nanti kalo Fadlan pulang, bisa saya sampein," kata Bram lagi-lagi memancing identitas tamu cantiknya tersebut. Perempuan itu tersenyum simpul. Dia mengulurkan tangan hendak mengajak bersalaman sebagaimana layaknya seseorang yang lebih muda terhadap pihak yang dituakan. "O, iya, maaf," katanya baru tersadar. "Saya Alya, Pak." Bram menerima ajakan salaman perempuan bernama Alya tadi, cukup dengan merapatkan kedua telapak tangan di depan d**a. "Oh, Alya. Eh, tapinya … maaf … kita bukan mahrom ya, Neng." Alya langsung menarik kembali uluran tangannya dengan wajah bersemu merah. Malu. Tadinya dia berniat hendak cium tangan. "O, iya. Maaf, Pak." Sebenarnya Bram ingin segera mengakhiri perbincangan itu, karena dirasa waktu sudah semakin mendesak untuk segera berangkat kerja. Namun perempuan muda atau gadis itu masih juga berdiri menghalangi. "Coba saja cari di rumahnya Mirza tadi, Neng. Siapa tahu Fadlan masih ada di sana," kata Bram seraya melihat-lihat jam tangannya. "Kebetulan saya lagi terburu-buru, nih, mau kerja. He-he." "O, iya. Silakan, Pak. Silakan." "He-he. Maaf ya, Neng. Saya tinggal dulu." "I-iya, gak apa-apa, Pak," balas Alya seraya menyingkir memberi jalan. "Mari, Neng. Assalaamu'alaikum," kata Bram sembari menjalankan motornya. "Iya, Pak. Mari," sahut Alya diiringi anggukannya. Dia tidak segera pergi dari sana. Justru memperhatikan Bram hingga menjauh dan hilang dari pandangannya. Sebelum memasuki kendaraan pun, gadis itu melihat-lihat rumah Bram dari luar beberapa saat. Kemudian tersenyum-senyum sendiri sambil memutar-mutar kunci mobil di jarinya. 'Gila! Si Fadlan gak bilang-bilang kalo punya kakak ipar sekeren itu!' gumam Alya sibuk dengan isi kepalanya sendiri. 'Kok, gua jadi deg-degan terus ya, sejak ngelihat dia? Wuih, sumpah! Keren banget tuh bapak-bapak! Eh, tapi belum begitu tua, sih. Cocoknya gua panggil dia Om, tadi. Hi-hi hi-hi!' Kembali gadis itu tersenyum-senyum dengan bias mata berbinar-binar. BERSAMBUNG Sukabumi, 23 November 2021
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD