Sepeninggal Bram, Alya bergegas masuk kembali ke dalam Taft-nya, kemudian memutuskan untuk mendatangi Fadlan di rumah Mirza. Tidak seberapa lama perjalanan, kurang lebih satu jam kemudian, gadis itu sudah tiba di tempat tujuan.
"Tumben elu ke sini, Al," seloroh Mirza menyambut. begitu Alya ditemuinya di depan rumah.
"Fadlan mana?" tanya gadis tersebut tidak ingin menanggapi ucapan Mirza tadi.
"Ada di kamar gua," jawab laki-laki muda berperawakan kerempeng itu. "Ada apa? Perlu?"
Alya mendelik. "Iyalah. Lu pikir gua sengaja ke sini mau ngapain?" ujarnya galak.
"He-he, sabar aja ngkali, Neng. Masih pagi, nih."
"Cepetan panggilin dong. Gua ada perlu, tau!"
"Iya, sabar. Tunggu bentaran kenapa, sih?" balas Mirza seraya mempersilakan tamunya duduk di kursi beranda rumah. "Soal bahan skripsi itu, 'kan?"
Alya tersenyum-senyum. Jawabnya, "He-he, lebih dari itu."
"Tenang aja. Semaleman udah gua cariin ama Fadlan. Entar, elu tinggal ngembangin aja dikit-dikit, Al."
"Syukurlah kalo 'gitu."
"Mau minum apa?" Mirza menawari sebelum masuk kembali ke rumah.
"Gak usah, deh. Gua cuma ada perlu aja ama si Fadlan."
"Ya, udah. Tunggu bentar, ya."
"Cepetan."
"Iya, Bawel."
Alya cekikikan sendiri.
Mirza segera memanggil Fadlan yang masih tergolek di atas tempat tidur, sambil memainkan ponsel. Dia menoleh begitu tuan rumah mendekat. "Siapa yang dateng?" tanya adik kandungnya Aimah tersebut.
"Pacar lu, Lan," jawab Mirza asal-asalan.
"Pacar?"
"Iya, pacar elu si Alya."
"Alya? Ngapain pagi-pagi dia ke sini?"
"Au, tuh. Dia nyariin elu tuh di luar."
"Nyariin gua? Mau ngapain? Kok, dia tahu gua ada di sini?"
"Meneketehe," seloroh kembali Mirza. "Cepetan temuin, gih. Galak bener sih, pacar elu itu. Pantesan aja jarang pacaran. Itu juga cuma elu yang mau sama dia, Lan."
"Sialan lu!" umpat Fadlan lantas segera bangkit dari kasur, hendak memburu Alya di depan rumah.
Gadis itu langsung tersenyum-senyum begitu Fadlan muncul dari balik pintu. "Hai, Lan," sapa Alya sembari melambaikan tangan.
"Hhmmm," deham laki-laki muda itu disertai alis terangkat tinggi. "Ada apa? Tumben. Soal bahan skripsi itu, ya? 'Kan, udah gua—"
"Hari ini elu gak ngampus, 'kan?" tanya Alya sembari memainkan kunci kontak mobilnya. Jawab Fadlan, "Hhmm, kayaknya enggak, deh. Bahan-bahannya belum siap. Lagian jadwal ketemuan ama dosen pembimbingnya juga masih lamaan."
"Oohhh, 'ngkali aja sekalian ke perpus atau 'gimana, kek," ujar gadis itu dengan bibir membulat. "Tadi gue sengaja dateng ke rumah elu."
"Serius? Gak nyasar, 'kan?" Fadlan terkejut. "Kenapa gak ngoling gua dulu, sih?"
Alya melotot galak. Semprotnya kemudian, "Henpon elu gak aktif!"
Laki-laki itu mentertawainya.
"O, iya, sorry … sorry, hi-hi," ujar Fadlan usai tawanya mereda. "Tapi elu gak nyasar, 'kan? Secara, rumah kakak gua emang masuk gang sempit. Ke dalem lagi."
Alya tersenyum-senyum. Tiba-tiba dia teringat pada kejadian tadi pagi. Terutama saat pertemuannya dengan sosok Bram. Jawab gadis itu beberapa saat berlalu, "Enggaklah. Gua tau kok, daerah itu. Eh, kakak elu yang cowok itu, 'kan?"
"Bukan. Itu Bang Bram. Kakak ipar gua," tutur Fadlan. "Elu ketemu dia di rumah?"
'Oohhh, namanya Bram ….' gumam Alya di dalam hati. 'Hhmmm, keren. Sesuai sama orangnya. He-he.'
"Enggak, sih. Gua cuman ketemu di luaran, terus sempet nanya-nanya 'bentar tentang elu. Katanya, elu ada di sini. Gak lama abis itu, Abang elu pergi, deh."
"O, 'gitu? He-he," kata Fadlan seraya menggaruki kepala. "Gua sendiri baru buka-buka hape barusan. Kak Aimah beberapa kali ngoling gua, tapi belum sempet dibales."
"Kak Aimah? Kakak elu?"
"Iya, kakak kandung gua. Suaminya Bang Bram."
"Oohhh." Bibir Alya kembali membulat. "Terus rencana elu pagi ini mau langsung pulang?"
Fadlan berpikir-pikir sejenak. Dia menoleh ke dalam rumah sejenak, lalu menjawab, "Iya. Gua mau pulang dulu, sekalian nemuin Kak Aimah. Soalnya semalem, gua minta izinnya cuma sampe jam sembilan. Gak nginep kayak 'gini."
Ujar Alya dengan cepat, "Ya, udah. Sekalian pulang, gua anter elu, deh."
"Gak usah, Lya. Gua pulang sendiri aja."
"Gua anter, Lan," kata gadis itu bersikukuh. "Sekalian juga kita nyari makanan. Kita sarapan bareng."
Fadlan tertegun. Tawaran menarik, pikirnya. Namun dia ingat, uang di kantong hanya cukup untuk ongkos naik angkutan umum. Bagaimana mungkin memenuhi ajakan Alya tadi dengan kondisi tersebut. "Tapi …." Ucapan laki-laki terhenti sambil merogoh saku celananya.
"Udahlah, gak usah dipikirin," ujar Alya begitu memperhatikan keragu-raguan lelaki yang baru beberapa bulan itu dia dekati. "Gua yang traktir, Lan. Hitung-hitung balas budi aja, karena elu udah mau bantuin ngerjain tugas-tugas kuliah gua selama ini. Ha-ha. 'Gimana?"
Jujur saja, ada rasa tidak enak di hati Fadlan menerima kebaikan semacam itu. Bukan kali pertama gadis tersebut mentraktirnya. Sejak mereka mulai akrab satu sama lain.
Kedekatan yang terjalin pun terjadi tidak secara disengaja. Alya dan Fadlan dipertemukan dalam sebuah situasi tidak menyenangkan.
Alya adalah sosok gadis yang terkenal angkuh dan enggan berbaur dengan teman-teman sekuliahnya, suatu hari ditemukan Fadlan di sebuah ruangan terpencil di belakang gedung kampus. Dia tengah menangis sendiri di sudut sebuah ruangan sambil memegangi gunting di tangan.
"Jangan deketin gua!" teriak Alya waktu itu begitu menyadari kedatangan Fadlan.
"Alya?" Laki-laki itu terkejut. "Kamu lagi ngapain di sini? Saya—"
"Gua bilang jangan deket-deket gua!" teriak kembali gadis itu seraya mengacung-acungkan gunting ke arah Fadlan. "Biarin gua mati sekarang juga! Gak ada artinya gua hidup!"
Fadlan bingung. Dia berhenti melangkah mengikuti permintaan Alya, tapi melihat bilah gunting tersebut, laki-laki itu ingin berusaha agar tidak sampai terjadi hal yang mengerikan pada teman sekelasnya itu.
"Tenanglah, Lya. Saya gak bermaksud ikut campur, tapi—"
"Diam!"
"O-oke, Lya. S-saya diam. Saya akan diam. T-tapi izin ikut duduk di sini, ya? Boleh, 'kan? D-di sini. Gak deket kamu, kok. Tuh, lihat. Aku di sini saja," kata Fadlan berhati-hati sembari mencari-cari tempat yang agak menjauh, tapi masih leluasa memperhatikan keberadaan gadis tersebut.
"Ngapain lu di sini? Kenapa gak pergi saja sana, hah?"
Perlahan-lahan Fadlan duduk menyandar pada dinding. Sesekali dia menoleh untuk memastikab kondisi Alya.
"I-iya, tenanglah dulu, Lya," ujar Fadlan lemah lembut. "Tadinya saya memang mau pulang, tapi di parkiran tadi ngelihat masih ada mobil kamu. Saya jadi mikir, sudah sesore ini kamu masih ada di kampus. Jadi …."
Kebetulan, seusai jam kelas habis sebelumnya, Fadlan mampir dulu ke perpustakaan kampus untuk meminjam beberapa buah buku. Kemudian dari sana, dia bermaksud ke kamar kecil. Melewati area parkiran dan melihat sebuah kendaraan masih terparkir di sana.
'Kalo gak salah, itu mobilnya si Alya,' gumam Fadlan menerka-nerka. 'Kenapa dia masih ada di kampus? Tumben.'
Bahkan sambil melangkah menuju ruang toilet, benak anak muda itu masih sibuk berpikir. 'Perasaan, tadi di perpus gak ngelihat dia. Terus, di mana si Alya? Ketemuan sama asdos? Ah, gak mungkin. Selama ini dia paling jarang berinteraksi dengan orang-orang kampus. Cewek aneh.'
Belum sempat menuntaskan hajat kecilnya, langkah Fadlan terhenti tiba-tiba. Di tengah kondisi gedung yang sudah mulai sepi, samar-samar dia mendengar ada suara tangisan seorang perempuan.
'Kuntilanak bukan, sih?' tanya Fadlan meremang ketakutan. 'Masa sih, sesore ini makhluk itu sudah mulai gentayangan? Rajin amat? Apa kecewa karena gak kebagian adsense? Hi-hi.'
Walaupun disertai rasa takut, tapi gelayut penasaran yang menghinggapinya justru lebih besar. Fadlan nekat mendatangi asal sumber suara tersebut secara perlahan-lahan. Sampai akhirnya menemukan sosok perempuan itu tidak jauh dari ruang toilet.
"Elu masih belum pergi juga dari sini?" tanya Alya dengan suara kencang.
Fadlan celingukan ke sana-sini. Jawabnya sambil menempelkan jari telunjuk di bibir, "Sssttt, jangan kenceng-kenceng, Lya. Entar kedengeran ama satpam, kirain kita lagi ngapain."
"Bodo amat!"
"Ya, udah terserah kamu aja, Lya. Kalo mau nangis, terusinlah. Saya nunggu di sini sampe hati kamu ngerasa lega," ucap Fadlan sembari memperhatikan gunting di tangan gadis itu. Lantas sedikit demi sedikit menggeser duduk mendekatinya.
"Mau ngapain lu deket-deket ama gua?" tanya kembali Alya dengan nada galak. "Gua gak kenal sama elu!"
Laki-laki muda itu tersenyum kecut. Balasnya kemudian, "Tapi saya kenal, nama kamu Alya, 'kan? Kita temen sekelas, lho."
"Dih, bodo amat!" gerutu Alya, lantas memalingkan muka.
"Ya, tadinya saya pikir juga kayak 'gitu, Lya. Buat apa saya ikut campur urusan orang lain. Tapi suara tangisan kamu itu yang bikin saya penasaran, terus nyamperin ke sini. Kirain ada penampakan hantu atau apalah yang—"
"Ih, elu!" seru Alya tiba-tiba sambil beringsut mendekat ke tempat dimana Fadlan duduk, usai melihat-lihat area ruangan yang sudah mulai meremang.
Anak muda itu tersenyum-senyum geli.
"Kamu gak bermaksud lama-lama 'kan, di sini, Lya?" tanya Fadlan begitu selesai melihat-lihat layar ponselnya. "Kakak saya udah miscall-in terus dari tadi. Ini aja belum sempat saya telpon balik. Kamu mau lihat?"
"Dih, sok akrab amat lu ama gua? Emangnya elu siapa gua?"
Pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara ringtone panggilan masuk dari handphone Fadlan. Seketika anak muda tersebut mengangkatnya. "Iya, Kak. Sebentar lagi aku pulang, kok. Ini lagi nemenin temen dulu yang lagi ngikutin acara uji nyali. Iya, uji nyali. Itu lho, semacam acara buat ngebuktiin keberadaan makhluk astral alias makhluk gaib 'gitu, Kak. Nanti aku kabarin lagi kalo udah beres. Apa? Kakak pengen lihat rekaman penampakannya? I-iya, kalo ada ya, Kak. Moga-moga aja kerekam deh, sosok kunti—"
Plak!
"Aduh!" Fadlan meringis kesakitan begitu mendapati serangan yang tidak dia duga. Sebuah sepatu melayang tepat mengenai lengan dan hampir saja menjatuhkan ponsel dalam genggaman. "E-enggak, Kak. Barusan ada yang nimpuk. Gak tahu siapa, coba," katanya kembali seraya melirik-lirik ke arah Alya yang semakin mendekat ketakutan. "Udahan dulu ya, Kak. Ini udah mulai serem, nih. Aku kabari lagi kalo udah beres acaranya. Daahhh!"
Fadlan menutup aplikasi pemutar mp3-nya di layar. Berpura-pura menutup percakapan dengan kakaknya, Aimah.
Plak!
Lemparan kedua kini menghantam kaki laki-laki tersebut. Lengkap sudah, sepasang sepatu kets milik sosok di sampingnya kini.
"Kamu ini kenapa sih, Lya? Kakak saya sampe nanya-nanya lho, tadi," seru Fadlan di antara gelitik tawanya yang ditahan.
"Au, ah!" timpal Alya yang kini bertelanjang kaki. "Kamu enak banget ya, masih punya keluarga yang memedulikan kamu. Orang tua kamu, kakak kamu, atau—"
"Kami udah lama gak punya orang tua," ucap Fadlan langsung direspons kaget oleh Alya. "Bapak dan Ibu udah lama meninggal dunia. Saya cuman punya seorang kakak kandung. Itu pun saudara satu-satunya, Lya. Kamu sendiri, 'gimana?"
Awalnya Alya tidak mau menjawab. Sedikit demi sedikit, kemudian gadis itu mulai bercerita. Itu memang yang diharapkan Fadlan sedari tadi. Setidaknya hingga dia tidak terlalu fokus pada gunting dalam genggamannya.
Alya bertutur bagaimana kehidupannya kini. Merasa dipaksa menjalani pendidikan tinggi yang tidak dia sukai.
" … bokap gua maksa gua supaya kuliah di sini. Tapi dari semula gua udah nolak. Gua gak punya pilihan dan akhirnya terpaksa ngejalanin sampe sekarang," tutur gadis tersebut disertai sedu sedannya. "Bokap gua gak mau kayak kakak gua dulu yang gagal nerusin keinginan bokap. Jadi perempuan karir dan megang usaha bokap."
Fadlan menarik napas panjang-panjang. Di saat dirinya berjuang keras untuk dapat melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi, nyatanya malah ada orang yang enggan menikmati dukungan orang tuanya untuk kuliah. Pantas saja, selama ini Alya terkesan ogah-ogahan. Rupanya itu yang menjadi alasan dia malas menjalani masa-masa perkuliahan.
"Mama kamu sendiri 'gimana, Lya? Apakah—"
"Nyokap gua udah lama mati," tukas Alya spontanitas. "Selama ini bokap lebih fokus ngurus gua dan kakak gua."
"Terus, kakak kamu sekarang di mana?" tanya Fadlan akhirnya lega, karena gunting dalam genggaman gadis itu dia campakkan begitu saja.
Alya menggeleng pelan dengan tatapan hampa. Tampaknya dia enggan menjawab.
"Maaf kalo saya terlalu banyak nanya, Lya. Maksud saya bukan buat—"
"Gua paham kok, maksud elu, Lan," tukas Alya. "Elu cuman kasihan ngelihat gua, 'kan?"
Jawab Fadlan, "Oh, bukan begitu, Lya. Kalo saja tadi saya gak nemuin kamu di sini, mungkin saja kita gak bakalan ngobrol kayak 'gini." Laki-laki itu menoleh, menatap sosok cantik di sampingnya. " … atau karena itu, kamu selama ini jarang mau berinteraksi dengan temen-temen sekelas?"
Gadis itu mengangguk. Kemudian menjawab, "Gua kuliah juga karena ngikutin keinginan bokap. Soalnya kalo enggak, semua kebutuhan gua bakal di-stop. Termasuk … kebutuhan keuangan gua."
Fadlan mendengkus. Benar, pikirnya, dunia ini serba terbalik. Mati-matian Aimah dan Bramanditya membiayai pendidikan Fadlan sejak SMP dulu hingga sekarang, hanya ingin melihat dia sukses dan menjadi orang berguna. Bahkan mereka rela untuk tidak mengikuti program bayi tabung, hanya karena ingin fokus mengurus dirinya.
" … tapi sebentar lagi pendidikan kita selesai lho, Lya," ujar Fadlan sambil memungut gunting di dekat kaki Alya. "Sayang sekali kalo sampe kamu nyerah begitu saja. Seenggaknya bisa lebih bersabar lagi kayak yang sudah-sudah. Tiga setengah tahun kamu bertahan, kenapa sekarang justru kamu gak bisa?"
"Gua udah gak tahan lagi, Lan!" seru Alya. "Apalagi ngadepin tugas-tugas yang gak gua sukain itu! Otak gua gak di sana! Gua pengen ngejalanin apa yang gua pengenin!"
Fadlan mengambilkan sepasang sepatu yang tadi digunakan Alya untuk melemparinya, lantas diberikan pada sosok di samping tersebut. "Saya bantu apapun yang kamu pinta. 'Gimana?"
"Maksud lu?"
"Kita tuntasin kuliah bersama-sama," jawab laki-laki muda itu kembali. "Yang penting, kamu tetep kuliah dan memenuhi keinginan papamu itu. Habis itu, terserah. Kamu bebas ngejalanin apapun yang kamu mau. Cuman beberapa bulan lagi, lho."
Obrolan mereka terhenti begitu muncul sesosok berseragam putih-biru menghampiri.
"Lagi pada ngapain, Mas-Mbak, di sini?" tanya sosok tersebut mengejutkan.
Fadlan dan Alya bergegas meninggalkan tempat, setelah menjelaskan keberadaan mereka berdua. Pulang ke rumahnya masing-masing di tengah kondisi alam yang sudah mulai gelap gulita. Sejak itu pula hubungan keduanya kian akrab. Hanya berteman. Tidak lain.
"Hei! Malah bengong! Jadi pulang gak?" tanya Alya mengejutkan.
"Astaghfirullah, Lya. Ngagetin gua aja lu," timpal Fadlan seraya mengelus d**a. Gadis itu cekikikan. "Bentar, gua mau pamit dulu ama si Mirza."
"Ya, udah. Cepetan."
"Iya."
Alya tersenyum-senyum sendiri sepeninggal Fadlan. Gumamnya kemudian, "Hhmmm, jadi tambah semangat gua buat sering-sering dateng ke rumah si Fadlan. Hi-hi. Apalagi kalo bukan kepengen ketemu lagi sama … Pak … eh, bukan, tapi … Om Bram. Ya, Om Bram. Uuhhh, keren banget tuh cowok.'
BERSAMBUNG
Sukabumi, 29 November 2021