*** Segala cacian Mbak Lia layangkan padaku. Seolah belum cukup, istri pertama dari suamiku itu kembali memaki. "Dasar nggak tahu diri kamu, Nira!" bentaknya. Biar kuceritakan, sebelum matahari benar-benar mengejek kami yang kesiangan, Mas Azam pamit meninggalkan kamarku. Ia kembali pada Mbak Lia. Tentu aku tak bisa melarang. Kuiringi kepergian Mas Azam dengan senyuman setelah aku mengenakan jilbabku. Setengah jam setelah Mas Azam keluar dari kamar, aku sudah siap dengan pakaian baru. Mandiku pun telah selesai kulakukan. Baru saja ingin keluar untuk masak sarapan pagi, Mbak Lia masuk bersama kekesalannya. Lalu terjadilah hal seperti ini. Aku hanya bisa menangis pilu. Sungguh bukan niatku membuat Mas Azam tidur di kamarku hingga pagi. Hanya saja, baik aku ataupun Mas Azam sama-sama

