*** Mataku dan mata Mas Azam saling menatap. Tidak ada yang bicara usai detik penuh debar memenuhiku sepanjang ia mengecup hidungku beberapa saat lalu. Posisi Mas Azam masih sama, masih berada tepat di atasku. Maksudku adalah kepalanya, wajahnya masih terpampang jelas di depan mataku. “Mas … ” Bukan aku merasa tidak nyaman, tapi aku merasa posisi ini berpotensi untuk membuat jantungku semakin berdebar tidak menentu. Aku takut Mas Azam mendengar detaknya. Aku akan sangat malu bila dia sampai tahu. “Bisa bangun? Perut Nira rasanya agak aneh,” Aku harap Mas Azam tidak sadar bahwa itu hanya alasan. Dengan cepat Mas Azam berdiri dari menunduknya dan berganti memandangi perutku yang masih datar. Lalu tangannya mendadak sudah berada di sana, mengelus lembut perutku yang sebenarnya baik-bai

