*** Aku tidak tahu sudah tertidur berapa lama, tetapi ketika terbangun, diriku melihat Mas Azam sudah duduk di kursi tunggu tepat di sampingku. Memamerkan senyumnya yang semakin membuatku jatuh cinta. “Sudah bangun?” tanyanya penuh kelembutan. Membuat seluruh nadiku bergetar karena suaranya. Aku mengangguk singkat, mencoba untuk bangun dari tidurku. Dengan cepat Mas Azam membantu meski aku tidak kesulitan sama sekali. “Mas sejak kapan ada di sini?” tanyaku. Mas Azam masih bertahan dengan senyum manisnya. Aku suka sekali melihat senyum itu masih di sana, seolah memberi kekuatan bagiku untuk ikut tersenyum bersamanya. “Satu jam yang lalu Mas sudah ada di sini,” jawabnya. “Apa? Ya Allah, maaf ya Mas. Kenapa nggak bangunin Nira aja?” Kali ini Mas Azam menggelengkan kepalanya. “Kenap

