Dua Puluh Enam

2088 Words

*** Aku tidak berpikir Mas Azam akan menolak ajakanku, tapi ternyata dia melakukannya. Mas Azam menggelengkan kepala usai sedikit menarik sudut bibirnya hingga membentuk senyum tipis yang mempesona. “Mas tidur di sana aja, Nir,” katanya. Aku sedikit kecewa, tapi akhirnya mengangguk juga. Kupejamkan mata karena rasa Maluku bertambah. Bagaimana mungkin aku mengajak Mas Azam tidur pada satu tempat denganku seperti tadi? Padahal aku tahu Mas Azam mungkin saja tidak mau. “Nira!” Aku kembali membuka mata saat mendengar panggilan itu. Kupikir Mas Azam sudah tidur dan masalah tadi sudah berakhir. Namun ternyata suamiku bersama Mbak Lia itu bangun dari tidurnya, lalu duduk di sofa. “Jangan salah paham,” katanya. Awalnya aku mengerutkan dahi, tapi setelah dia melanjutkan ucapannya, aku pun me

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD