*** Kupikir Mbak Lia sudah pulang sendirian, tetapi syukurlah ia menunggu kami di mobil Mas Azam. Seperti biasa, Mbak Lia duduk di kursi depan, tepat di samping Mas Azam. Sementara aku akan duduk di bagian tengah, di belakang Mas Azam atau pun Mbak Lia. “Sayang sabuk pengamannya!” tegur Mas Azam pada Mbak Lia yang hanya diam saja. Bahkan ia lupa mengenakan sabuk pengamannya. Aku melirik Mbak Lia lewat kaca di atas kepalanya, tepatnya di tengah-tengah keduanya. Namun, Mbak Lia tampak tidak menghiraukanku. Dia memasangkan sabuk pengamannya tanpa mengatakan apa-apa. Bahkan tidak bicara pada Mas Azam juga. Diam-diam aku kembali menggigit bibir bagian dalam milikku. Perasaanku tidak nyaman melihat Mbak Lia lebih banyak diam seperti ini. Aku memang tidak suka dia memarahiku atau menyinisi

