*** Ibu mertua dan Mbak Lia saling berbagi tatap. Mereka seolah sedang sama-sama menunjukkan ketidaksukaan masing-masing. Namun, bedanya adalah Mbak Lia menunjukkan kebenciannya dengan cara yang lembut, sedangkan mertua kami itu menunjukkan kebenciannya secara terang-terangan. Keadaan ini benar-benar membuatku canggung, tapi aku sendiri tidak tahu harus melakukan apa. Hingga akhirnya Mas Azam kembali membuka suara. “Ibu, udah ya. Katanya ke sini mau jengukin Nira yang lagi hamil,” ucapnya. Ibunya pun memutuskan tatapan itu. Matanya kembali mengarah padaku. Senyumnya pun sudah kembali memenuhi wajah cantiknya yang tampak sangat awet muda. Aku pun ikut menarik sudut bibirku meskipun di dalam hatiku tersimpan perasaan tidak enak untuk Mbak Lia. “Iya, Ibu ke sini bukan untuk bersahut ka

