*** Ibu mertua kami sudah pulang. Ia memberiku pesan untuk selalu kuat dan sabar dalam menghadapi apapun, termasuk sikap Mas Azam yang mungkin saja suatu hari akan berubah lagi. Aku tidak mengerti maksud Ibu, tapi aku menanggapinya dengan anggukan kepala. Setelah itu, rumah kembali terasa mencekam bagiku. Sejak tadi Mbak Lia menatapku dengan tatapan tajamnya. Mas Azam pun kebagian tatapan tajam dari Mbak Lia. Wajar saja, Mbak Lia pasti kecewa karena Mas Azam telah berbohong padanya soal Ibu mertua yang tidak tahu apa-apa mengenai pernikahan ini. Mbak Lia beranjak dari duduknya tanpa mengatakan apa-apa. Ia masuk ke dalam kamarnya. “Mas kayaknya Mas sama Mbak Lia perlu bicara deh,” ucapku saat Mas Azam merenung. “Iya Nir, tapi tunggu sebentar. Mas lagi menenangkan diri sendiri sebelum

