"Tetapi laki-laki itu ... Mintanya kita yang keluar uang. Ia tak mau sama sekali mengeluarkan biaya. Bahkan lebih parahnya dia yang minta di jatah tiap bulan." Fardan menjelaskan. "Apa? Ibu ..." Iryani kali ini memegangi d**a sebelah kirinya. Kali ini sakit beneran, bukan bohongan seperti saat meminta Fardan menikahi Lira. "I-ibu kenapa?" tanya Fardan panik. Iryani terduduk. Ia mengatur nafasnya yang tersengal. Sepertinya ia sudah khawatir terkena serangan jantung. "Kalau begini caranya, lebih baik Farah Ibu kirim ke rumah Indi di kampung. Biar dia lahiran di sana tanpa suami. Agar aman dan kita bisa beralasan jika di tanya orang. Ngga mungkin kita terus mengukur waktu. Bahkan sekolah saja sudah tahu!" Iryani berkata dengan terengah. Fardan terdiam. Dia juga sudah pusing untuk masalah

