“Haaah ... akhirnya aku menandatanginya juga.”
Bell menatap map berisi sebuah kontrak perjanjian di atas meja. Matanya memindai kata demi kata yang tertulis di sana. Setelah mendengar pemaparan akan identitas mayat yang rupawan itu, dia dituntut untuk bertanggung jawab atas kesalahannya yang dia tidak tahu. Tanpa disengajanya, Bell telah membangunkan putra kepala sekolahnya yang ternyata adalah seorang vampir.
***
“Tidak ada pilihan lain, mulai sekarang kau harus menjadi Night Staff putraku. Ah, sebenarnya tidak dibenarkan mengambil NS dari tingkat dua. Tapi, bagaimana lagi. Kuharap kau bisa beradaptasi dengan cepat,” ujar Mr. Strengthen.
“Kalau saya menolaknya?” Bell berucap dengan penuh keberanian. Inilah dirinya yang biasa. Tidak ada uang tutup mulut, jadi setidaknya dia tidak akan menuruti ancaman kepala sekolahnya dengan mudah. Dan apa pula itu Night Staff?
“Aku rasa kau sudah tahu kalau menolak bukan ide yang baik. Aku sudah memberitahu tentang keistimewaan putraku, bukan? Apa aku perlu mengatakannya sekali lagi?”
Bell tersenyum kaku. Dia menelan ludahnya dengan susah payah. Di otaknya baru saja terlintas bayangan darahnya yang dihisap sampai kering oleh putra kepala sekolahnya. Itu lumayan mengerikan jika benar-benar terjadi.
“Bi-bisakah Anda jelaskan apa Night Staff itu?” tanya Bell setelah tidak memiliki bahan untuk melawan.
Kepala sekolah kembali tersenyum lalu berdehem. “Aku sedikit heran padamu sebenarnya, Nak. Padahal kau baru saja mengetahui kebenaran tentang siapa kepala sekolahmu, tapi kulihat tidak ada ketakutan berarti di matamu. Bukankah sewajarnya manusia akan langsung berteriak ketakutan, lari atau ya melakukan hal-hal tidak terduga karena takut.”
Bell merenungkan ucapan kepala sekolahnya yang bertaring itu. Yang dikatakannya masuk akal. Kenapa dia tidak menjerit ketakutan? Harusnya sekarang dia lari terbirit-b***t. Berteriak meminta tolong atau sejenisnya.
“Anda benar juga.” Bell akhirnya menyadari bahwa dirinya cukup aneh. Bukannya Bell tidak takut, hanya saja rasa takut itu bercampur dengan rasa kesal dan juga rasa penasaran. “Saya juga takut. Tapi yang lebih membuat saya takut adalah diusir dari sekolah ini dan tidak dapat melanjutkan sampai lulus. Masa depan yang sudah saya susun dengan rapi bisa berantakan dan cita-cita saya mengumpulkan banyak uang bisa gagal total. Hidup saya akan semakin sengsara dan itu benar-benar lebih mengerikan daripada bertemu seorang vampir.”
“Uang?” gumam Mr. Strengthen tidak percaya mendengar alasan Bell. Belum pernah dia bertemu manusia seperti gadis di depannya ini.
“Saya tidak akan menyebarkan kebenaran yang saya ketahui ini bila Anda mengkhawatirkannya,” putus Bell. Sekarang dia belum melihat keuntungan jika dia menyebarkan kebenaran yang disembunyikan kepala sekolahnya.
“Hahaha. Tentu kau tidak akan melakukannya. Sebenarnya sebelum dirimu, ada juga manusia yang tanpa sengaja mengetahui identitasku. Dan aku menyelesaikan mereka dengan baik. Terpaksa. Aku memiliki tujuan besar di dunia kalian, jadi aku tidak bisa membiarkan manusia mengganggunya.” Mr. Strengthen bercerita dengan sangat santai.
Bell mengangkat tangan kanannya ke samping kepala. “Sekarang saya mulai agak takut,” akunya.
“Jangan berbohong. Aku tahu kau tidak takut padaku. Ah, tentang Night Staff tadi, ini berhubungan dengan kelas malam.” Mr. Strengthen menangkap mimik terkejut di wajah Bell. “Seharusnya kau berada di tingkat tiga dulu untuk mengetahui ini, tapi sudah terlanjur begini. Ya, sudahlah. Mulai sekarang kau bisa pindah ke kelas malam dan tolong jaga putraku dengan baik.”
“Saya belum jelas,” ujar Bell.
“Ah, inilah yang tidak kusukai. Aku malas menjelaskannya. Yang pasti terima saja jadi NS putraku dan pindah ke kelas malam.”
“Saya tidak bisa pindah ke kelas malam,” ujar Bell teringat Habile. “Bukankah itu akan membuat murid lain curiga?”
“Itu gampang. Mr. Oarsmane akan memanipulasi ingatan mereka.”
“Bukankah seharusnya Anda juga memanipulasi ingatan saya juga?”
“Apa kau ingin? Sayangnya itu tidak bisa. Harus berapa kali aku mengatakannya padamu, kau sudah membangunkan putraku dan darahmu yang saat ini bisa menunjang kehidupannya.” Mr. Strengthen menghampiri kursinya dan langsung duduk. Dia menarik laci mejanya dan mengeluarkan map merah. “Kita tidak perlu membuat semuanya semakin rumit. Jadilah NS di kelas malam dan kau akan mendapatkan gaji sepuluh juta per bulannya. Bagaimana?”
Bell membelalakkan mata melihat map merah yang disodorkan di depannya. Matanya mendadak hijau mendengar gaji yang akan diterimanya. Akhirnya keluar juga yang ditunggu-tunggu olehnya. Uang, apalagi.
“Saya akan bekerja dengan baik,” ujar Bell mantap. Meski belum jelas apa yang harus dilakukannya sebagai NS, tapi jika ada uang semua dapat dikondisikan.
“Itu keputusan yang bagus. Kau akan memulai kelas malammu besok. Sekarang kau bisa menandatangi surat kontrak perjanjian ini dulu.”
“Tapi tolong biarkan saya tetap berada di kelas pagi,” ujar Bell.
“Hmm apa kau yakin?” Mr. Strengthen menatap Bell yang terlihat serius. “Ah, baiklah terserah padamu. Nanti saat kau tahu bagaimana kelas malam, kau pasti akan menyadarinya.”
Bell hanya mengangguk. Dia segera membuka map itu, membaca setiap poin yang tertulis di sana. Tidak ada yang mencurigakan atau merepotkan. Intinya dia bersedia menjadi Night Staff dan tidak boleh membocorkan rahasia ini dengan sengaja. Dengan meyakinkan dirinya, Bell menandatangi kontrak itu.
***
Bell menghela napas beberapa kali. Menutup map merah salinan kontraknya. Tadi dia begitu berani dan tak kenal takut di kantor kepala sekolah. Namun, saat sendirian di flatnya yang kecil, dia baru menyadari betapa berbaya tindakannya yang terkesan luar biasa nekat itu. Dia tergiur akan gaji yang ditawarkan padanya. Mau bagaimana lagi, nominalnya itu bahkan sama dengan sepuluh bulan kerja sambilan di minimarket setiap malamnya. Orang miskin tidak bisa pilih-pilih.
Tadi sepulang sekolah, Bell segera ke minimarket tempatnya bekerja sambilan. Dia meminta izin untuk berhenti bekerja. Bosnya yang baik itu mengizinkannya bahkan memberinya pesangon karena kerajinannya.
Bell segera menyimpan salinan kontrak itu di dalam lemari pakaiannya. Dia menghampiri ranjangnya lalu berbaring miring sembari memeluk guling besarnya. Berharap bahwa keputusan yang diambilnya adalah benar dan dia tidak akan menyesalinya. Rasa penasarannya akan kelas malam akan terjawab dan itu rasanya cukup. Dia mencoba mengabaikan fakta siapa kepala sekolahnya dan putranya itu.
Sekarang lebih baik aku tidur.
***
Sial. Bell mengumpat dalam hati karena semalam tidak bisa memejamkan mata sama sekali. Pikirannya dipenuhi dengan pembicaraannya dengan kepala sekolah. Akal sehatnya mulai kembali, menyadari bahwa dia telah mengetahui rahasia besar yang sangat berbahaya. Mulai sekarang dia harus menjaga mulutnya dengan baik atau nyawanya akan menjadi taruhan.
“Selamat pagi,” sapa Habile yang baru memasuki kelas.
Bell mengankat kepalanya dan tersenyum. “Pagi,” balasnya. Bell melakukan peregangan menekuk tubuhnya mencoba tidur di bangkunya dengan datang paling awal seperti biasanya.
“Bagaimana kemarin?” Habile menarik kursinya yang berada di sebelah bangku Bell.
“Tidak apa-apa. Kepala sekolah hanya memberikan beberapa penjelasan dan petuah,” jawab Bell apa adanya. Yang penting dia tidak mengatakan detailnya, kan?
“Hmm begitu,” gumam Habile. “Biasanya kau berdiri di lorong menatap Gedung Putih. Apa sekarang rasa penasaranmu sudah selesai?” goda Habile.
Bell tersenyum kikuk. Rasa penasarannya sudah terjawab. Tapi tidak mungkin Bell akan mengatakannya. “Ah, aku sedikit mengantuk, jadi langsung ke kelas untuk tidur sebentar. Tapi, tidak bisa.”
“Pasti karena kerja sambilanmu sampai larut malam lagi. Kau benar-benar pekerja keras. Aku bahkan tidak pernah merasakan bagaimana sulitnya mencari uang. Kamu hebat.”
“Be-begitulah.” Bell tersenyum kikuk. Ternyata menjaga mulut itu cukup memakan energi juga. Tiba-tiba saja mulutnya gatal ingin menceritakan semuanya. Dia penasaran bagaimana reaksi Habile jika mengetahui kalau kepala sekolah mereka bukanlah manusia.
Mereka terlibat perbincangan ringan seperti biasa hingga para murid mulai berdatangan dan memenuhi kelas. Lalu ketika dua pasangan legendaris datang, tanpa sengaja Bell bertemu pandang dengan mereka, Kazaks dan Scarlet.
“Apa maksudmu orang miskin?” Scarlet menunjuk Bell dengan raut kesal.
“Apa?” balas Bell sedikit terkejut karena tiba-tiba saja ditunjuk seperti maling yang ketahuan mencuri.
“Jangan mulai lagi Scarlet!” sergah Habile yang selalu ikut kesal saat gadis itu memulai mencari gara-gara dengan sahabatnya.
“Dia melotot padaku,” jawab Scarlet.
“Apa aku kurang kerjaan sampai harus melototimu.” Bell gusar. Dia ini tidak bisa tidur semalaman, matanya panas dan karena itu terlihat seperti melototi orang. Sekarang dia sedikit sensitif kalau harus meladeni Scarlet.
“Kau pasti menyimpan kemarahan karena aku mendorongmu kemarin, kan? Makanya kau melihatku seperti itu. Huh. Jangan harap aku akan meminta maaf padamu!” Scarlet dengan keangkuhannya melekat erat tidak bisa dipisahkan lagi.
Bell tertawa kecil. “Kau tidak perlu meminta maaf, Scarlet. Aku sudah memaafkanmu.” Tidak ada alasan Bell untuk marah pada Scarlet. Berkat gadis itu dia bisa menyibak rahasia besar sekolahnya. “Bukankah orang mengatakan memaafkan lebih dahulu itu jauh lebih mulia? Sebaliknya aku sangat berterima kasih padamu. Berkat dirimu aku bahkan bisa berjumpa dengan kepala sekolah kita yang ternyata sangat tampan dan baik hati. Kami bahkan berjabat tangan,” lanjut Bell sengaja. Sesekali memberi pelajaran pada Scarlet dia rasa tidak masalah.
Scarlet langsung bermuka masam. Dia iri dan bertambah kesal. Bell selalu mampu menangkis semua yang dilakukannya untuk mengganggu gadis itu. Kazaks menghela napas melihat perdebatan antara dua gadis itu. Dia memilih melangkah ke bangkunya.
“Kazaks!” jerit Scarlet karena ditinggal.
“Hentikan, Scarlet. Tidak perlu membuang-buang tenaga untuk meladeni gadis yang pekerjaannya hanya memandangi Gedung Putih dan berharap yang tidak mungkin dia dapatkan,” ujar Kazaks melirik tajam ke arah Bell. Sementara Scarlet tersenyum sumringah karena Kazaks terlihat membelanya.
“Dasar kau Kazaks!” Habile geram.
“Berharap itu bukan hal yang buruk kok. Kalau terkabulkan akan terasa menyenangkan. Orang kaya sepertimu tentu tidak perlu berharap karena apa yang kau inginkan sudah tersedia sebelum kau mengatakannya. Memangnya kau sendiri sudah tahu apa yang ada di Gedung Putih?” Bell merasa puas bisa mengatakan hal itu pada Kazaks, si pria kaya sombong.
Kazaks menatap Bell dengan wajah bertanya-tanya akan maksud ucapan gadis itu. Rahangnya mulai mengeras melihat senyum mengejek Bell.
“Kenapa kau tidak bertanya padaku? Aku sudah bertemu langsung dengan kepala sekolah. Apa menurutmu aku melewatkan kesempatan itu untuk mewujudkan harapanku yang tidak mungkin itu?”
Seisi kelas mulai bergumam seperti kumpulan lebah. Mereka memandang Bell yang baru saja mengutarakan kalimat penuh kontroversi. Mereka mulai menerka-nerka apakah Bell bicara yang sejujurnya atau hanya membual saja. Semua yang ada di sini mulai penasaran dan ingin memastikan kebenaran itu. Habile bahkan menatap sahabatnya itu dengan rasa penasaran yang lebih besar dari biasanya.
“Hahahaha.” Tiba-tiba saja Bell tertawa terbahak-bahak. “Ahaha. Kalian percaya padaku? Lihat wajah kalian yang penasaran itu. Lucu sekali,” ujar Bell.
Mereka mulai sadar bahwa Bell hanya mengerjai mereka dan dengan mudahnya mereka terpancing. Pandangan dan makian kesal langsung berhamburan ke arah Bell yang hanya bisa tertawa geli.
“Ya ampun ...” Bell sampai mengusap air matanya yang keluar karena tertawa berlebihan.
“Bell, kamu ini. Aku mengira kau sungguhan tadi,” ujar Habile cemberut.
“Aku hanya iseng saja. Maafkan aku,” ujar Bell lirih.
“Dasar kamu ini. Lihat sekarang semua anak melihatimu dengan kesal,” ujar Habile lirih.
“Tidak apa-apa. Sekarang aku jadi tahu kalau ternyata bukan aku saja yang penasaran akan sekolah kita yang dipenuhi misteri ini. Mereka seharusnya jujur pada diri sendiri.” Bell tersenyum.
Habile balas tersenyum. Gadis di bangku sebelahnya ini memang berbeda dengan gadis lainnya. Gadis itu terbuka apa adanya, konyol, pemberani dan pekerja keras. Habile tahu dia sudah berjumpa dengan gadis yang tepat untuk menjadi sahabatnya.
Bohong. Apanya yang iseng? Bell menyadari kesalahan fatal yang diperbuatnya saat di sekolah tadi. Dia keceplosan mengatakan semua hal itu karena terbawa emosi pada ucapan Kazaks. Dia hanya berharap bahwa setelah ini Kazaks tidak akan mencari gara-gara dengannya. Bell akan celaka kalau sampai rahasia itu terbongkar karena ulahnya.
***
Bell tidak tahu harus mengenakan pakaian apa ke kelas malam, jadi dia memakai seragam di kelas paginya. Kemeja putih dengan rok lipit biru kotak-kotaknya. Tak lupa dengan dasi kupu-kupu dan blazer hitamnya.
Ya, malam ini dia menjadi Night Staff dan akan mengetahui apa yang ada di dalam kelas malam yang selama ini membuatnya tidak bisa berhenti memandangi Gedung Putih. Senyumnya melebar dan kakinya melangkah dengan pasti menuju ke sekolahnya. Di malam hari.
“Semangat Bell! Kau yang berbuat kau yang bertanggung jawab.”
***