bc

Be a Night Staff

book_age12+
449
FOLLOW
2.6K
READ
beast
drama
comedy
sweet
humorous
mystery
highschool
another world
first love
spiritual
like
intro-logo
Blurb

Bersekolah di Deux Boiler High School-sekolah ternama di kotanya yang hanya berisi anak-anak konglomerat-adalah sebuah keberuntungan bagi Arabell Purplish. Namun, setelah tanpa sengaja mengetahui rahasia besar yang melingkupi sekolahnya, Arabell seakan mengalami kesialan beruntun. Mau tak mau ia harus menjadi Night Staff dan bekerja di Kelas Malam yang tak dihuni manusia!

---------------------------------------

Selamat membaca ^^

chap-preview
Free preview
Chapter 1
“Lebih baik dinginkan kepalamu sana!” Scarlet tiba-tiba mendorong tubuh Bell ke belakang. Ke arah dinding kaca di lorong tempat mereka tengah berada. “Eh?” Bell cukup terkejut. Tubuhnya terhuyung ke belakang. “Bell!” Habile mengulurkan tangannya. Bell merasa dirinya tidak terlalu jauh dari dinding kaca, tapi tubuhnya tidak segera merasakan kaca. Dia kesusahan menggapai tangan Habile. Kemudian punggungnya terasa bersentuhan dengan air. “Habile!” seru Bell lalu tubuhnya terhisap masuk ke dalam dinding kaca. Semua murid yang masih berada di lorong membelalakkan mata mereka melihat teman sekelas mereka, Arabell Purplish masuk ke dalam kaca yang terlihat seperti genangan air. *** Beberapa waktu sebelumnya. Suara obrolan para gadis memenuhi lorong Lab Bahasa tingkat dua di Deux Boiler High School. Ada yang berbicara mengenai artis yang mereka suka, ada yang membicarakan tentang kekasih mereka dan ada pula yang tengah memandang keluar gedung dengan wajah penasaran. Gadis itu sudah menatap lama ke arah salah satu gedung kelas khusus di sekolahnya yang super mewah ini. Arabell Purplish, itulah dia. Siswi kelas dua Deux Boiler High School yang masuk ke sekolah ini karena keberuntungan. Bell teringat ketika dirinya baru saja lulus dari sekolah menengah, dia diusir oleh bibinya. Bell sangat ingat bagaimana sejak kecil bibinya itu sangat tidak suka padanya. Sebaik apapun sikap Bell, tidak sanggup meluluhkan hati bibinya. Hingga pada puncaknya, saat lulus sekolah menengah, Bell terpaksa tinggal di sebuah flat kecil yang disewakan oleh pamannya yang baik hati. Bell merasa inilah yang terbaik, apalagi dia tidak ingin melihat pamannya terus bertengkar dengan bibinya hanya karena membelanya. Tidak memiliki orang tua membuatnya harus hidup seperti ini. Tidak ingin menyusahkan pamannya dengan biaya hidup, Bell mulai bekerja sambilan di mini market dekat flatnya. Mengira bahwa dirinya tidak akan bisa melanjutkan sekolah. Namun dengan baik hatinya, sang paman memintanya untuk melanjutkan ke sekolah elite satu-satunya di Machaira. Pamannya yang baru saja mendapat pekerjaan mengajar di sekolah elite itu mendapat hak istimewa untuk menyekolahkan keluarganya secara cuma-cuma. Tentu saja Bell menerimanya dengan sangat senang. Dia memiliki cita-cita yang tinggi untuk menghasilkan banyak uang dan tentu saja untuk itu dia harus bersekolah dulu. Awal masuk ke sekolah elite Deux Boiler High School yang berisikan anak-anak dari keluarga konglomerat, Bell sempat merasa rendah diri. Secara akademik dirinya memang tidak tergolong murid pintar, tapi dia seorang pekerja keras. Sayangnya kebanyakan murid yang ditemuinya memandang segalanya dari seberapa besar materi keluarga mereka. Beruntung salah seorang gadis cantik yang baik hati mengajaknya bicara dan kemudian mereka berteman. Tidak mempedulikan status sosial mereka yang jauh berbeda. Seiring waktu berjalan, Bell menjadi gadis yang cukup percaya diri. Dia berambisi untuk lulus dari sekolah ini dan mencapai masa depan cerah di mana dia bisa mengumpulkan pundi-pundi uang. Dia tidak akan diam saja saat dihina oleh beberapa anak yang iritasi pada lebel orang miskinnya. Setidaknya dia tidak ambil pusing dan membiarkan perbuatan mereka. Terkadang sesekali Bell akan menimpalinya. Itu cukup membuat harinya berjalan dengan baik, apalagi dia memiliki sahabat yang mau menerima dirinya apa adanya. Deux Boiler High School benar-benar sekolah yang mewah. Sekolah ini menerapkan Kelas Pagi dan Kelas Malam. Dua kelas ini memiliki gedung yang berbeda, bahkan setiap tingkat di Kelas Pagi memiliki gedung masing-masing. Sepertinya dirinya yang sekarang menempati Gedung Merah, khusus untuk Kelas Pagi tingkat dua. Dulunya dia berada di Gedung Hijau saat berada di Kelas Pagi tingkat satu. Dan nantinya dia akan pindah ke Gedung Hitam saat naik ke tingkat tiga. Menurut Bell selain mewah, Deux Boiler High School juga merupakan sekolah yang misterius. Beredar rumor jika pendiri sekaligus kepala sekolah Deux Boiler High School ini sudah berumur lebih dari seratus tahun yang juga keturunan penyihir. Tidak hanya itu saja. Keberadaan Kelas Malam dan para muridnya tidak banyak diketahui. Kelas Pagi tidak pernah berjumpa dengan Kelas Malam. Tentu saja hal itu membuat banyak teman sekelas Bell penasaran, begitu juga dengan Bell. Dia bahkan memendam rasa penasarannya saat masuk ke sekolah ini ketika mendapati sistem Kelas Pagi dan Kelas Malam. Dia membayangkan jika Kelas Malam dihuni oleh orang-orang dari kalangan yang tidak terjangkau olehnya. Dia berpikir mungkin saja di Kelas Malam berisikan sekelompok penyihir. “Bell!” tepukan di bahu Bell membuat gadis bersurai hitam lurus itu menoleh dengan sedikit terkejut. Didapatinya sahabat baiknya, Habile, berkacak pinggang dengan menggeleng-gelengkan kepalanya. “Sampai kapan kau mau memandangi Gedung Putih?” tanya Habile. Bell terkekeh sembari kembali menatap ke arah Gedung Putih yang berada di samping Gedung Hitam untuk tingkat tiga. “Aku tidak bisa menghentikan rasa penasaranku. Apa kau tidak penasaran?” tanya Bell balik. Habile berdiri di sebelah Bell ikut melihat ke arah Gedung Putih. “Aku juga penasaran, tapi tidak semaniak dirimu.” “Hei, aku tidak maniak!” elak Bell. “Apa namanya kalau bukan maniak? Setiap ada kesempatan kau pasti akan berlama-lama memandang ke arah gedung Kelas Malam. Jika kau begitu penasaran, kenapa tidak bertanya pada pamanmu? Beliau guru di sini, pasti tahu kan penghuni Kelas Malam. Kau akan tahu dan rasa penasaranmu selesai.” Habile mengutaran sebuah solusi cerdas. “Aku tidak mau mengganggu pamanku untuk hal-hal sepele seperti ini. Bisa bersekolah di sini saja aku sudah sangat bersyukur. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri tidak akan menyusahkannya lagi,” ujar Bell. “Hummm, bagaimana kalau kau lihat ke sana langsung?” usul Habile terdengar sangat enteng. “Andai saja aku bisa ke sana,” ujar Bell berharap sepenuh hatinya. Mungkin sebentar lagi dia bisa gila karena terlalu penasaran. Dia sendiri tidak mengerti kenapa begitu tertarik pada Gedung Putih, seakan ada sesuatu yang menariknya untuk itu. “Jangan bermimpi!” tukas seorang murid dari belakang mereka. Bell dan Habile memutar tubuh mereka dan mendapati Kazaks, ketua kelas mereka dan juga laki-laki sombong yang biasanya mengutarakan ucapan kejam pada Bell setiap ada kesempatan. Yang sayangnya adalah teman sekolah menengah Habile. “Dasar anak ini menganggu saja,” tukas Habile. “Memangnya kenapa kalau aku ingin ke sana? Aku rasa itu tidak akan mengganggumu, kan?” balas Bell. Hal seperti ini sudah menjadi makanan sehari-harinya di sekolah. “Melihat gadis miskin sepertimu terlalu berkhayal konyol membuatku muak,” balas Kazaks melempar pandangan tajam ke arah Bell yang juga tak mau kalah menatapnya tajam. “Kalau begitu kau tak perlu melihatnya.” Bell menimpali. Saat berurusan dengan laki-laki satu ini dia selalu merasa lebih kesal daripada ejekan para gadis. Bisa dibilang Kazaks satu-satunya laki-laki yang terang-terangan menunjukkan rasa tidak suka atas kehadirannya di sekolah ini. “Sayangnya aku memiliki mata!” tandas Kazaks. Melihat tanda-tanda dua orang ini akan kembali beradu mulut, Habile segera menangahi mereka. “Hentikan. Jangan membuang energimu untuk meladeni Kazaks. Sebaiknya kita segera pergi ke kantin. Aku lapar sekali,” ujar Habile. “Oh, ide bagus.” Bell tersenyum pada Habile. “Kau berani berlagak karena ada Habile. Dasar tidak tahu malu.” Suara seorang gadis menginterupsi percakapan mereka. Scarlet, teman sekelas Bell yang setiap waktu mencaci dan menghinanya. Bell berpikir bahwa Scarlet adalah pasangan yang cocok dengan Kazaks. “Ayo kita pergi saja, Bell.” Habile hendak meraih tangan Bell, tapi ... “Lebih baik dinginkan kepalamu sana!” Scarlet tiba-tiba mendorong tubuh Bell ke belakang. Ke arah dinding kaca di lorong tempat mereka tengah berada. *** Kejadian itu begitu cepat dan disaksikan oleh banyak pasang mata yang kini terkejut, takut dan mulai bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. “Apa itu tadi?” Kazaks mengeryitkan keningnya. “Bell!” Habile meraba-raba dinding yang kembali menjadi kaca. “Kyaaaa!!! Kacanya berubah jadi air!” Anak-anak mulai berteriak. “Hantu!!!” imbuh yang lain mulai berlarian menjauhi dinding kaca. Habile menghampiri Scarlet. Dia memandang tajam ke arah gadis yang ikut terkejut karena peristiwa aneh yang baru saja terjadi di hadapan mereka. “Ini semua salahmu Scarlet! Apa yang kau lakukan pada Bell?” teriak Habile kesal. Matanya melebar. “A-aku tidak tahu. Aku hanya ingin memberinya pelajaran. Si-siapa yang tahu kalau kaca di sekolah kita bisa berubah menjadi air.” Scarlet membela diri. “I-ini pasti ulah hantu sekolah!” simpul Scarlet. Wajahnya memucat ketakutan karena ditatap tajam oleh Habile. “Tidak ada hantu sekolah!” sergah Kazaks. “Ada apa ini? Jangan berlari-lari di koridor.” Terdengar suara seorang guru. Habile segera menghampiri gurunya. Disusul dengan Kazaks. Mereka menceritakan apa yang baru saja terjadi pada Bell. Salah seorang guru yang kebetulan ada di sana juga nampak terkejut. Namun, dengan tetap memperlihatkan wajah tenang, dia mengatakan pada mereka untuk segera kembali ke kelas. Dia juga mengatakan akan segera melaporkannya pada pihak sekolah. Dengan tidak puas Habile kembali kelas, sementara Kazaks menatap penuh tanya pada dinding kaca yang baru saja menghisap manusia. Kazaks menjadi teringat desas-desus aneh mengenai sekolahnya ini. *** Laporan akan kejadian aneh di Gedung Merah telah sampai juga ke telinga kepala sekolah Deux Boiler High School. “Dinding air baru saja terbuka, Mr. Strengthen,” lapor wakil kepala sekolah, Mr. Oarsmane. “Apa?” Sang kepala sekolah terkejut. “Seorang murid bernama Arabell Purplish tingkat dua baru saja terhisap masuk di koridor Lab Bahasa,” lanjut Mr. Oarsmane. “Bagaimana bisa ini terjadi?” Mr. Strengthen langsung menoleh ke arah Gedung Putih. Tangannya mengerat pada pegangan kursi besarnya. “Umumkan pada semua murid Deux Boiler bahwa dinding air itu teknologi baru Boiler yang masih dalam tahap uji coba. Katakan bahwa teman mereka aman dan akan segera kembali.” “Baik, Mr. Strengthen,” ujar Mr. Oarsmane lalu segera keluar dari kantor kepala sekolah. *** Bell merasa linglung. Dia baru saja masuk ke dinding kaca dan tiba-tiba sekarang dia berada di sebuah ruangan yang entah di mana. Matanya menatap tidak percaya pada Gedung Merah dan Hijau berada di luar tempatnya sekarang. Mungkinkah aku berada di Gedung Putih? Keringat dingin mengucur keluar karenanya. Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Kalau memang benar dia tengah berada di Gedung Putih, bagaimana bisa? Bell ... kamu di mana? “Habile?” Bell meraba jendela kaca di depannya. Suara Habile terdengar seperti berada tak jauh darinya. Melihat Gedung Merah berada di seberang membuat Bell sontak terkejut. Ternyata sekolahnya memang benar-benar berhantu seperti gosip yang dia dengar. Dan siapa yang tahu kalau dia akan dibawa hantu kemari untuk dimakan hidup-hidup. Membayangkannya saja membuat Bell ingin menangis sejadi-jadinya. Tapi menyadari menangis bukan gayanya, dia menahan diri. Suara-suara lain masih terdengar. Bell berusaha menguasai dirinya sendiri. Mencoba berpikir positif. Dia mengedarkan pandang. Matanya menangkap sebuah fakta mengerikan yang membuatnya mulai merasakan ketakutan menghampirinya. Dia terlihat seperti dalam sebuah kamar tidur besar yang mewah, namun tidak terdapat sebuah pintu di sini. Hanya ada sebuah ranjang besar berkanopi yang diselubungi tirai putih yang menjuntai hingga ke lantai. Samar-samar Bell seperti melihat sesuatu di dalamnya. Tidak ada pilihan lain. Tidak ada pintu di sini dan tidak mungkin pula dia akan keluar dengan memecahkan kaca. Tanpa dia mau, kakinya bergerak mendekati ranjang besar berkanopi dan terlihat mewah itu. Semakin dekat, Bell dapat menicum aroma wangi yang menguar dari ranjang itu. Bell sudah berdiri di samping ranjang. Matanya menyipit mencoba melihat siapa yang tengah berbaring di dalamnya. Rasa penasarannya sekarang mengalahkan rasa takut yang tadi dirasakannya. Tiba-tiba dia teringat dongeng putri tidur yang dikurung dalam menara tinggi. Mungkinkah dia sedang bermimpi sekarang? Entah mimpi atau apa, Bell tidak bisa menahan diri lagi. Tangannya yang  penasaran menyibak tirai putih selembut sutra itu. Dia langsung menutupnya lagi. Sekali lagi dia mengintip dan buru-buru menutupnya kembali. Bell berdiri membelakangi ranjang dengan mata melirik ke dalam ranjang itu. Keningnya berkerut dan dia membungkam mulutnya sendiri. Jantungnya berdegup kencang. Tubuh terlentang di penuhi kelopak bunga mawar. Rambut cokelat yang berkilauan dan wajah pucat dengan mata terpejam. Siapa dia? ***    

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Naughty December 21+

read
509.0K
bc

Bad Prince

read
518.9K
bc

Growing Pains || Indonesia

read
36.1K
bc

HYPER!

read
631.2K
bc

Mrs. Fashionable vs Mr. Farmer

read
441.6K
bc

Om Bule Suamiku

read
8.9M
bc

ISTRI SATU JUTA DOLAR

read
438.3K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook