“Mungkinkah aku sedang bermimpi?”
Bell mengedip-ngedipkan matanya. Tangannya refleks terangkat menyentuh pipinya sendiri lalu dicubitnya. Dia berteriak karena terasa sakit. Itu artinya dia tidak sedang bermimpi.
Bell membalikkan tubuhnya menghadap ranjang. Tanpa pikir panjang Bell menyibak tirai itu dan naik ke atas ranjang. Banyak kelopak bunga mawar berhamburan di atas ranjang bahkan di atas pria itu. Itulah asal bau harum yang tercium oleh Bell tadi. Tapi, gadis itu tak terlalu menghiarukannya. Sekarang dia harus membangunkan pria itu.
“Maaf saya menganggu Anda,” ujarnya nekat. “Tolong bantu saya keluar dari sini wahai Tuan Tampan!” Bell sampai bersujud di samping pria tampan yang terbaring itu.
Hening.
Bell mengangkat kepalanya. Matanya memicing melihat tidak ada reaksi dari pria di hadapannya ini. Dengan nekat dia mendekatkan jarinya ke arah lubang hidung pria itu. Dia tidak merasakan adanya embusan napas. Lalu dengan berani Bell memegang tangan pria itu.
Dingin.
“Ma-mayat?” Matanya melebar. Bulu kuduknya langung berdiri semua. Jantungnya berdebar dengan sangat kencang. Bell beringsut mundur. Namun, dia lupa kalau berada di tepian ranjang.
GUBRAK.
“Aw! Aw! Aw!” pekiknya kesakitan. Bell terjengkang ke belakang. Dia terguling ke samping ranjang dengan posisi terlentang. Punggungnya terasa nyeri meski jarak ranjang ke lantai tidak terlalu tinggi.
Mengabaikan rasa nyerinya, Bell kembali merangkak naik ke tepi ranjang. Dia mengintip dengan takut bercampur penasaran. Ada mayat tampan di depannya. Sebuah pimikiran terlintas di kepala mungilnya. Mungkin inilah yang disembunyikan sekolahnya. Tentang desas-desus praktik ilmu sihir yang didengarnya. Kalau memang benar iya, bukankah ini keberuntungan untuknya?
Bell terkekeh kecil sembari membayangkan dirinya mengungkap rahasia sekolahnya. Matanya memandangi mayat itu dari ujung kepala sampai kaki lalu kembali pada wajahnya yang tampan.
Pria yang tampan. Sayangnya sudah tidak bernapas.
Tiba-tiba saja muncul burung kecil yang menyelinap masuk. Burung kecil itu memiliki paruh yang panjang dan matanya memandang tajam ke arah Bell. Burung itu terbang mengelilinginya membuat tubuhnya berputar mengikuti gerakan burung itu. Bell ingat betul tidak ada burung di ruangan ini, lalu dari mana burung ini muncul?
“Kyaaa!” teriak Bell karena tiba-tiba saja burung kecil itu menyerangnya. “Tunggu burung! Jangan! Hentikan!” Bell berusaha melindungi dirinya. Dia mengibas-ngibaskan tangannya berusaha mengusir burung itu yang terlihat mengincar wajahnya.
Burung kecil itu bergerak dengan lincah. Bell lengah. Burung itu berhasil mematuk keningnya.
“Aw! Sakit!” rintih Bell. “Dasar burung nakal!” Bell mengabaikan keningnya dan bertumpu lutut hendak menangkap burung berparuh panjang itu. Namun, Bell kehilangan keseimbangan karena mengikuti gerakan dari burung itu yang terlihat sengaja mempermainkannya. Tubuhnya oleng ke depan, dia terjatuh, tepat ke atas tubuh pria itu. Kepalanya beradu dengan d**a atas tubuh pria itu.
Terkejut. Bell segera menarik dirinya. Matanya terbelalak melihat bibir pria itu berdarah. Bell menjerit dalam batin. Namun, rasa basah yang perih di keningnya menyadarkannya kalau keningnya yang dipatuk burung tadi mengeluarkan darah.
“Ya ampun apa yang sudah kulakukan?!” Bell panik. Disekanya keningnya yang berdarah. Matanya kembali melihat ke arah bibir pria itu. “Aku harus membersihkannya. Bahaya sekali.” Bell hendak mengusap bibir pria itu, namun dia menghentikannya ketika terdengar suara samar-samar memanggil namanya.
Arabell Purplish.
Terdengar seperti suara seorang pria. Bell mengedarkan pandang. Tidak ada seorangpun. Masih seperti sebelumnya. Bahkan burung berparuh panjang yang tadi mencelakainya tidak terlihat.
“Siapa itu?” tanyanya dengan berani.
Mau ke mana?
Terdengar suara yang sama. Keanehan ini memang menakutkan, tapi Bell mulai terbiasa hanya dalam beberapa menit. Apalagi yang bisa membuatnya takut? Sudah terlanjur basah menyelam saja sekalian.
“Apa?” Bell merasa suara itu meresponnya meski tidak menjawab pertanyaannya.
Mau ke mana? Suara itu bertanya lagi.
Bell diam sejenak. Berpikir apakah ini penyelamatan atau bukan. Tapi, tidak ada salahnya mencoba.
“Kembali. Aku ingin kembali!” jawab Bell dengan sepenuh hati. Mengungkap misteri sekolahnya memang menggirukan, tapi tidak dengan terperangkap di tempat aneh seperti ini. Dia harus keluar dari sini. Kembali. Bell memantapkan hatinya.
Suara itu sudah tidak terdengar lagi berganti dengan sekitar Bell yang perlahan gelap dan terasa dingin. Bell mencoba menggerakkan tangannya dan dia seperti merasakan air. Rasanya sama seperti tadi saat dirinya masuk ke dalam dinding kaca. Sihir. Ini pasti sihir. Sekolahnya memiliki sihir. Bell tersenyum dalam kegelapan.
“Bell.”
Terdengar suara yang tidak asing. Bell mengerjapkan matanya. Sekitarnya mulai terang. Dan dia bisa melihat dengan jelas.
“Bell!”
Bell tersentak karena tepukan di bahunya. Matanya menangkap bayangan wajahnya dan seseorang di dalam cermin. Habile. Dia langsung memutar tubuhnya.
“Benarkah kau Bell?” Habile memandang Bell dengan wajah ragu-ragu. Tadi setelah sahabatnya itu menghilang dengan sangat tidak mungkin, masuk ke dalam dinding kaca yang terlihat seperti permukaan air, sekolah mengumumkan jika dinding itu merupakan teknologi baru sekolah yang masih dalam tahap uji coba. Habile merasa itu sangat aneh. Dia sangat khawatir pada Bell. Pikirannya tidak tenang. Lalu dia ke toilet, bukan karena dirinya ingin menuntaskan panggilan alam. Tiba-tiba saja dia ingin. Dan di sinilah dia menemukan sahabatnya. Berdiri terpaku di depan cermin kamar kecil.
“Bell?”
Bell tersenyum. “Iya ini aku,” jawabnya kemudian.
Habile menghela napas. “Syukurlah. Aku benar-benar khawatir padamu. Aku takut sekali saat melihatmu terhisap dinding tadi.” Habile langsung memeluk Bell. Matanya berkaca-kaca.
Bell balas memeluknya. Dia bisa merasakan kalau sahabatnya ini benar-benar mengkhawatirkannya. Mungkin hanya Habile saja yang khawatir. Tapi itu sudah lebih dari cukup.
Tak lama kemudian mereka keluar dari toilet. Habile menanyakan beberapa hal yang sulit untuk dijawab olehnya. Sementara ini dia merasa lebih baik untuk tidak menceritakan apa yang dilihatnya tadi.
Begitu memasuki kelasnya yang sedang diistirahatkan dari kegiatan belajar mengajar, semua murid memandangnya dengan wajah-wajah takut melihat Bell kembali dengan santainya. Apalagi dia ditemukan di dalam toilet putri. Sungguh peristiwa aneh dan mistis yang baru terjadi di sekolah mereka.
“Apa yang terjadi? Bagaimana bisa kau muncul di toilet?” tanya Kazaks terdengar penasaran. Dia termasuk murid yang pintar, entah pelajaran, olah raga maupun tentang penalaran. Dia tidak mudah begitu saja percaya akan penjelasan tentang teknologi baru Boiler. Semua juga sudah mendengar desas-desus samar tentang praktik sihir di sekolah ini.
“Kazaks kenapa denganmu? Bukankah sekolah sudah mengumumkan kalau dinding air itu teknologi baru Boiler? Yang penting kan gadis miskin ini sudah kembali,” sahut Scarlet yang selalu membuntuti Kazaks. Seperti ikan Remora dan ikan Hiu.
“Jangan lupa kau yang menyebabkan semua ini, Scarlet!” sergah Habile dengan pandangan kesal.
“Uuuh.” Scarlet langsung diam. Sebenarnya dia ketakutan tadi karena Bell menghilang dengan anehnya. Takut kalau dia disalahkan.
“Ah, sudah-sudah. Yang penting aku sudah kembali. Sebenarnya aku tidak tahu apa yang terjadi. Tiba-tiba aku sudah ada di dalam toilet putri,” ujar Bell menengahi. Meski Scarlet mengesalkan, tapi melihat raut wajah gadis angkuh itu mengkerut takut membuatnya tidak tega. Mungkin nanti dia malah harus berterima kasih pada gadis itu. Setidaknya dia menjadi tahu rahasia sekolahnya. Tapi nanti, sekarang biarkan gadis itu sedikit merasa bersalah padanya.
“Ah, itu anaknya, Mr. Oarsmane.” Terdengar suara Miss Valey memasuki kelas.
Para gadis langsung bergumam seperti kumpulan lebah melihat seorang pria yang memasuki kelas bersama dengan Miss Valey, guru bahasa mereka. Bahkan Habile dan Bell ikut terpesona pada pria itu.
“Arabell Purplish.” Mr. Oarsmane, wakil kepala sekolah yang jarang-jarang bisa dilihat ini muncul di kelas Bell dengan segala keindahan dirinya.
“Sa-saya, Mr. Oarsmane.” Bell sampai gagap. Mayat yang dilihatnya tadi saja cukup mengejutkannya, sekarang ada Mr. Oarsmane yang tidak kalah tampan tengah bicara padanya. Jangan lupa bahwa yang satu ini hidup.
“Apa kau baik-baik saja?” Bell mengangguk. “Baguslah. Pihak sekolah benar-benar meminta maaf atas kejadian yang menimpamu. Sekolah sedang melakukan penelitian akan teknologi baru. Jadi, harap dimaklumi. Jika kau merasa ada sesuatu yang tidak beres setelah ini, kau bisa langsung mengatakan pada Miss Valey.” Mr. Oarsmane menjelaskan dengan senyuman ramahnya.
“Ba-baik, Mr. Oarsmane,” jawab Bell masih terpesona
“Baiklah, Miss Valey. Saya rasa sudah cukup. Anda bisa melanjutkan kegiatan belajar,” ujar Mr. Oarsmane.
“Baik, saya mengerti.” Miss Valey mengangguk ramah.
Mr. Oarsmane keluar dari kelas Bell. Melihat para gadis yang masih saja terpesona membuat jengkel para murid laki-laki, tapi mereka hanya dapat memandang saja. Miss Valey segera mengkoordinasikan kelas untuk kembali belajar. Bell sendiri mengikuti pelajaran karena dirinya memang tidak merasakan suatu hal yang aneh. Ah, mungkin punggungnya masih sedikit nyeri karena terjengkang, tapi itu bukan masalah.
***
Mr. Oarsmane kembali ke kantor kepala sekolah di Gedung Hitam, di mana tingkat tiga berada. Di kursi besar kepala sekolah, Mr. Strengthen sudah menanti informasi dari wakilnya tersebut.
“Bagaimana gadis itu?” tanya Mr. Strengthen.
“Arabell Purplish baik-baik saja. Beruntung gadis itu merespon panggilan Anda. Sepertinya dia bukan gadis biasa,” jawab Mr. Oarsmane.
Mr. Strengthen menganggukkan kepalanya. “Sepertinya memang bukan gadis biasa. Tapi, aku tidak tahu di mana dia tadi. Aku masih bisa memanggilnya berarti dia berada di lingkungan Boiler. Bahaya sekali. Bagaimana mungkin dinding air bisa terbuka sendiri?” ujar Mr. Strengthen khawatir.
“Menurut saya dinding air terbuka tanpa sengaja. Sepertinya meskipun gadis itu manusia biasa, jika mengucap kuncinya maka dinding air akan merespon. Tapi, tetap saja terasa janggal karena bisa sampai muncul di tingkat dua.”
“Ah, benar juga. Apa kunci yang kubuat terlalu mudah ya?” Mr. Strengthen memandang ke arah Gedung Putih.
“Apa kita perlu melakukan penghapusan?” tanya Mr. Oarsmane terlihat siap.
“Kurasa tidak perlu. Belum. Kita belum tahu dia di mana tadi-“ Mr. Strengthen teringat hal penting. “Jangan-jangan tempat itu?”
“Tempat itu?” Mr. Oarsmane membeo.
“Ruangan anak itu.” Mr. Strengthen menatap tajam ke arah Gedung Putih.
Mr. Strengthen bangkit dari kursinya. Dia melangkah ke arah dinding kaca yang mengarah ke Gedung Putih. Disentuhkannya telapak tangannya ke arah dinding kaca. Perlahan kaca itu bergetar lalu melunak berubah menjadi permukaan air. Mereka berdua masuk ke dalam dinding air itu seperti berjalan biasa. Tubuh mereka terserap. Dan begitu dua orang itu sudah masuk ke dalam, dinding air itu kembali mengeras menjadi kaca lagi.
Sekejab mereka berdua telah berada di sebuah ruangan tak berpintu yang terdapat ranjang berkanopi di tengahnya. Mereka berdua terkejut melihat ke arah ranjang itu.
“Kenapa memandangiku dengan wajah anehmu?”
Di sana, di tepi ranjang berkanopi itu duduk seorang laki-laki berwajah pucat. Matanya terlihat merah dan dari celah bibirnya yang merah mengintip taring runcing yang siap untuk menyerang.
***