Hari baru di mulai Runa sampai di Kota Y untuk pertama kalinya. Melihat gedung-gedung pencakar langit yang membuatnya sedikit melongo dan kagum, berjalan di pinggiran kota yang ramai orang berjalan dan berlalu lalang, disertai riuh mobil-mobil mewah yang melintas di depan matanya. Layar besar dengan wajah-wajah bintang terpampang dimana-mana. Runa melihat semua orang menggunakan handphone bahkan membawa laptop dan juga tap besar, dia sangat heran dengan hal itu. Runa berjalan menyusuri tempat demi tempat menggunakan peta Kota. Akhirnya dia sampai di sebuah universitas teladan di kota itu untuk pendaftaran ulang kuliah karena dia mahasiswa yang kuliah dengan beasiswa.
Runa selesai mendaftarkan diri di universitas itu dan meminta rekomendasi untuk tempat tinggal mahasiswi yang murah dan nyaman. Namun yang di berikan justru tempat penginapan yang cukup mahal dan uang di dalam sakunya tidak cukup.
Akhirnya Runa terlunta-lunta di jalanan tanpa tahu arah untuk pergi.
" Aku harus mencari dimana lagi tempat tinggal yang murah? Mengapa di sini semuanya mahal?" gumam Runa dalam hati.
Besok adalah hari pertama kuliah tapi hari sudah sore Runa belum juga menemukan tempat tinggal. Dia ketiduran di taman kota sampai ada seorang Wanita muda membangunkanya.
"Hei, bangun! hari sudah hampir gelap." Wanita itu menggoyangkan tubuh Runa.
Runa membuka matanya perlahan dan menyekanya. Dia melihat wanita di hadapannya yang terlihat begitu cantik."Wanita ini sangat cantik."batin Runa sambil berdiri membawa ranselnya.
Runa menggerakkan kedua tangannya dan menyampaikan bahasa isyarat. Wanita itu tidak mengerti.
"Kamu bisu?Maaf aku tidak mengerti bahasa isyarat," kata wanita itu.
Runa hanya menganggukkan kepala, dia sedikit kecewa karena tidak semua orang bisa bahasa isyarat.
"Kamu bisa menulisnya disini!" Wanita itu menyodorkan Handphonenya.
Runa terus menggelengkan kepala.
"Ayo tulis disini!" Wanita itu terus memaksa dan Runa masih terus menggelengkan kepalanya
hingga akhirnya Runa mengeluarkan notes kecil dan pena untuk menulis dan berbicara dengan wanita itu.
*Kamu Cantik. Bolehkah aku meminta bantuanmu?
"Terimakasih, sepertinya cara ini lebih baik. Boleh, Silahkan!" Jawab wanita itu.
*Namaku Runa aku mahasiswi baru di universitas J tapi aku belum dapat tempat tinggal. Disini tempat tinggal sangat mahal, uangku tidak cukup, apa kamu tahu tempat tinggal yang murah di sekitar sini?
Runa berharap akan mendapatkan jawaban yang membuat hatinya tenang.
"Maafkan aku, aku tidak tahu tempat tinggal yang murah disini," jawab wanita itu.
Mendadak wajah Runa berubah kecewa, dia kembali bingung membuat wanita itu mencari akal.
"Begini saja, kamu tinggal di apartemenku untuk sementara waktu. Karena uangmu belum cukup, kamu bisa membayar penginapannya dengan cara bersih-bersih. Yang penting kamu bisa membersihkan Ruangan setiap hari, karena aku orang yang sangat benci bersih-bersih jadi ku mohon lakukanlah untukku! Jelas wanita itu.
Runa kembali bersemangat, dia tersenyum sangat manis dan menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, masuk ke mobilku! kita akan ke apartement," ucap wanita itu sambil berbalik menuju ke mobil.
Runa mengikutinya dan masuk ke mobil."Sepertinya gadis ini sangat baik," gumam wanita itu dalam hati.
Sampai di sebuah apartement yang tingginya sampai seratus dua belas lantai.
"Oh, ya, Namaku Meryana kamu bisa memanggilku Mery. Aku juga mahasiswi semester tujuh di universitas J, bisa di bilang aku adalah seniormu. kamu bisa merapikan rumahku mulai hari ini dan kamu bebas memilih kamar karena ada tiga kamar di apartemenku, satu kamar milikku dan dua kamar lainnya tidak ada yang menempati mungkin sekarang berdebu, Mary membuka pintu apartemennya.
Runa menganggukkan kepala.
"Sekarang aku akan tidur. Silahkan bersih-bersih!" Mary secepat kilat berjalan ke kamar dan menutup pintunya.
Runa heran melihat tempat itu, pakaian bertebaran dimana-mana, minuman berakohol berserakan. Kulit buah dan kacang hampir menyeluruh di setiap sudut ruangan. Dapurnya penuh dengan bercak minyak dan lantai yang cukup licin dengan noda yang susah hilang.
"Sepertinya benar yang dikatakannya, jika dia membenci bersih-bersih. Tempat ini sungguh seperti tempat sampah, sangat bau dan benar-benar tidak nyaman. tapi sudahlah sementara aku bisa mendapatkan tempat tinggal, sepertinya besok aku harus mencari pekerjaan sampingan agar aku bisa bertahan hidup di kota ini. Aku berharap ada tempat yang bisa memperkerjakan aku walaupun aku bisu. Baiklah kita mulai! gumam Runa dalam hati.
Runa mengikat rambutnya seperti ekor kuda dan melipat keatas lengan bajunya. Mencari plastik besar untuk mengumpulkan sampah di rumah itu. Perlahan meja mulai bersih, sudut ruang tamu mulai bersih, ruangan tv mulai bersih dan dapur yang kotor itu juga mulai bersih, terakhir adalah kamar yang akan menjadi tempat tinggalnya itu. Runa membawa semua barang-barangnya dan mengganti sprei dengan yang tersedia di almari. Sambil menunggu cucian baju Mary kering dia merebahkan badannya ke kasur yang begitu empuk dan bisa menggantikan segenap lelah yang menderunya saat ini.
"Badanku pegal sekali," keluh Runa dalam hati.
Beberapa menit kemudian cucian baju sudah kering, Runa memindahkan semuanya ke ruang setrika. Setelah selesai semua dia merebahkan tubuhnya dan mulai tertidur.
Keesokan Harinya.
Hari itu Runa sudah terbangun di pagi hari dan sudah mandi jadi, badannya terlihat lebih segar, perutnya terasa lapar tapi setelah ke dapur tidak menemukan bahan makanan di kulkas dan di almari, tanpa berfikir panjang Runa memutuskan untuk keluar sebentar membeli bahan makanan. Tak lupa sebelum pergi meninggalkan memo di meja Ruang tv agar Mary tidak khawatir.
*Kak Mery, aku ke swalayan sebentar untuk membeli bahan makanan, Runa.
Runa masih menggunakan peta untuk mencari letak swalayan. Sebelum sampai ke swalayan itu, Runa menemukan sebuah lowongan pekerjaan partime yang tertempel di sebuah dinding di ujung jalan.
*DIBUTUHKAN PEKERJA PARTIME UNTUK PERTUNJUKAN AQUARIUM DAN AKROBATIK.
PERSYARATAN :
-BISA BERENANG
-BISA MENYELAM
-PUNYA KEAHLIAN DI DUNIA AIR
-SEHAT JASMANI DAN ROHANI
-WANITA ( MAHASISWI DI PERBOLEHKAN)
-USIA DIATAS 17 TAHUN
JIKA LOWONGAN INI SESUAI, KIRIMKAN SURAT LAMARAN KERJA, FOTOCOPY IDENTITAS DIRI DAN FOTO 4 X 6 KE JALAN HRM dekat Kota R
Kebetulan sekali Runa ahli dalam bidang itu karena dia adalah gadis laut. Jika hanya berenang dan menari di dalam air itu adalah hal mudah baginya. Dia menulis Lowongan kerja itu di dalam notes kecilnya.
Runa kembali melanjutkan perjalanan ke swalayan terdekat, ini adalah pertama kalinya Runa pergi ke swalayan, sebelum itu dia selalu membaca petunjuk cara membeli di swalayan, setelah mengerti barulah dia masuk ke swalayan itu dan mulai berbelanja. Hari ini dia mengambil beberapa sayuran segar dan sedikit ikan kemudian perlengkapan bumbu dan minuman kaleng, setelah mendapatkan semuanya, dia pergi ke kasir dan membayar belanjaannya.
Runa meletakkan tas belanjanya diatas meja kasir dan petugas kasir itu mulai menghitung semuanya, beberapa menit kemudian pembayaran selesai.
Runa pun kembali ke apartement
***
Mary sudah bangun dari tidurnya dan melihat seluruh ruangan sudah bersih.
"Gadis ini benar-benar pandai membersihkan rumah," batin Mary yang langsung duduk di ruang tv.
Mary melihat sebuah kertas dan membaca isinya.
"Dasar Gadis ini! ternyata dia cukup memiliki sopan santun." ucap Mary melangkah lagi ke kamarnya untuk mandi.
Beberapa menit kemudian Runa sampai di apartement. Kakinya langsung menuju ke dapur karena perutnya sudah sangat lapar.Bau menyengat masakan menusuk hidung mary yang keluar dari kamarnya setelah mandi.
"Hmm ... baunya enak sekali," Mary menuju ke dapur melihat Runa memasak.
"Wah kamu masak ikan, ternyata kamu pandai juga memasak ya," Puji Mary yang akhirnya bersiap duduk di meja makan.
Beberapa menit kemudian nasi dan lauk sudah siap. Mereka berdua melahap makanan diatas meja, Runa menulis sesuatu di atas notesnya lagi.
*Kak Mery, setelah ini aku berangkat ke kampus ya, kak, karena hari ini. Ospek,
tulis Runa sambil menyelesaikan sarapan paginya.
"Baiklah, aku akan menunggumu di sini, oh ya nanti malam aku akan mengajakmu ke pesta ulang tahun teman kelasku. Aku harap kamu tidak pulang terlambat karena aku membutuhkan teman untuk menemaniku kesana!" penjelasan Mary sambil sedikit megunyah ikan di mulutnya.
Runa menulisnya lagi di notesnya"Baiklah kak,"kata Runa sambil tersenyum
Setelah Runa selesai mencuci piring, Runa bersiap untuk berangkat ke kampus, sangat bersemangat hari ini karena ini adalah hari pertama masa orientasi jadi Runa mencoba berdandan secantik mungkin dan serapi mungkin. Runa walaupun gadis desa tapi parasnya bahkan tinggi badannya tidak bisa di bandingkan dengan wanita manapun. Dia memiliki kulit yang eksotis tubuh yang ramping tapi sangat kencang karena dia adalah Gadis Laut sekaligus seorang gadis yang pandai berselancar.
Setelah berpamitan dengan Mary, Runa berangkat ke kampus dengan berjalan kaki. karena apartement itu tidak terlalu jauh dari kampus. Semua mahasiswa dan mahasiswi di kumpulkan dalam sebuah aula besar sebelum, mereka di ajak ke lapangan untuk ospek. Para Dosen sudah menyampaikan beberapa pidatonya serta sambutanya, ketika ketuk palu berkumandang mereka semua memulai masa ospek ini.
Mereka semua ke lapangan, dibagi beberapa kelompok yang di campur antara pria dan wanita. Satu kelompok terdiri dari lima orang wanita dan lima orang pria, ketika mereka berkompetisi untuk baris-berbaris inilah yang menjadi bumerang bagi Runa disaat gilirannya berteriak untuk menyebutkan nama atau berhitung, Runa tidak bisa melakukannya dari situlah semua mahasiswa dan mahasiswi tahu Runa adalah Gadis bisu.
"Percuma punya paras cantik, energik tapi sebenarnya dia bisu bahkan tidak bisa bicara apapun," kata salah seorang mahasiwa baru yang bernama Loyola tertawa meremehkan Runa.
"Benar katamu, gadis seperti dia ternyata bukan tandingan kita. Aku terkejut saat dia terpilih masuk di kelompok ini semua mata pria melirik ke arahnya, aku yakin sekarang dia tidak akan disukai oleh banyak mahasiswa disini. Aku lega," Jelas Rubi seorang mahasiswi yang terkenal tajir dan sangat centil itu.
"Benar katamu, gadis bisu tak selevel dengan kita, bisa apa dia ?" Kata Jenita seorang mahasiswi yang lainnya.
Mendengar cibiran itu bukan membuat Runa semakin drop tapi malah membuatnya semakin bersemangat untuk kuliah, mungkin di kota ini atau di kampus ini dia bisa segera bertemu jodoh yang akhirnya membuatnya bisa bicara lagi. Walaupun dia bersemangat pada kenyataannya dia dikeluarkan dari kelompok dan terpaksa menulis surat pernyataan bahwa dia tidak bisa mengikuti kegiatan yang berhubungan dengan suara. Runa sedikit sedih dengan hal itu tapi mau bagaimana lagi?Dosen pun memaklumi keadaan itu tapi mereka tahu, walaupun Runa bisu, dia tetap mahasiswi berbeasiswa unggulan.
Tibalah saatnya memilih kelas untuk kegiatan ektrakurikuler. Runa berjalan ke setiap stand yang di tawarkan oleh kakak senior, dia berjalan dari stand satu ke stand yang lain. Ada kelas memasak, kelas basket, kelas berenang dan berselancar, kelas binaragawan, kelas sastra, kelas broadcashting, kelas jurnalis dan lain-lain. Sudah pasti yang di pilih adalah kelas berenang dan berselancar karena itu adalah keahliannya selama ini. Sayangnya, mahasiswi lain salah paham lagi dengan Runa. Mereka mengira, Runa masuk ke kelas itu karena mengincar kakak tingkat yang sangat populer di kampus, karena dia sudah menjadi atlit selancar profesional yang mengajar dan berlatih di kelas itu. Runa bingung dengan tatapan para wanita-wanita itu terhadap dirinya, seperti ingin memakan dagingnya dan meremukkan tulangnya saat itu juga. Padahal, dia sendiri tidak mengerti siapa pria populer itu.
Kakak tingkat itu bernama Larbi, dia memang ganteng dan cukup terkenal tapi sifat yang sebenarnya adalah pemarah, sombong, kasar, tidak berperasaan dan dia benci dengan kotor.
Tiba-tiba gadis-gadis itu mengelilingi Runa dan mendekatinya dengan tatapan sinis, membuat bulu kuduk Runa bergidik.
"Sebenarnya apa yang akan mereka lakukan padaku? kenapa mereka main keroyokan, aku hanya ingin mengumpulkan formulir ini di kelas berenang dan berselancar, kan?" gumam Runa yang sama sekali tidak tahu alasan mereka yang sebenarnya.
Mereka terus mendekat, membuat Runa terus mundur dan tidak sengaja menabrak meja yang berisi kue tart besar dari kelas bakery. Kue tart itu ambruk, langsung mengenai wajah seorang pria yang sedang lewat. Alhasil, pria itu merasakan kesialannya di hari ini, mengusap wajahnya dan membersihkan bajunya dari kue tart yang manis itu, tidak terduga Pria itu adalah Larbi. Semua mata sudah melihat Larbi tapi Runa masih bingung karena mereka semua ketakutan melihat Larbi.
"Sekarang habislah kamu Runa, Larbi akan sangat marah dengan kejadian ini,"kata salah seorang mahasiswi mencibir Runa lagi.
Larbi menatap mata Runa dengan begitu tajam, tangannya mengusap rambut dan wajahnya yang lengket akibat kue tart.
"Perasaanku tidak enak, Kenapa pria ini menatapku sangat galak? Kan hanya kue yang menimpa wajahnya, bukan batu kali yang besar?" gumam Runa dalam hati.
"Hei siapa namamu?" Ketusnya suara itu membuat telinga Runa sedikit merinding.
Runa hanya memandang wajahnya saja masih terlihat biasa.
"Apa kamu tidak punya mulut?" Nada Larbi semakin tinggi.
Runa sedikit mundur karena sangat terkejut.
"Kenapa kamu ini membuatku kesal sih? Cepat minta maaf! Aku heran, ada yang berani mengotori tubuhku di depan umum," Larbi terlihat sangat marah.
Semua mahasiswi dan mahasiswa bungkam suara soal kebisuan Runa. Mereka cukup melihat dari jauh saja dari pada kena marah seorang pria seperti Larbi.
"Pria ini galak sekali, mulutnya seperti harimau kelaparan,"komentar Runa dalam hati. Larbi sedikit heran dengan wanita itu,"kenapa tidak juga bicara?"batin Larbi.
Runa menarik baju Larbi untuk meraih wajahnya agar sejajar dengan wajah Runa karena Larbi cukup tinggi dari Runa. Tangan Runa menahan tarikannya agar wajah itu tetap ada di hadapannya kemudian mengeluarkan tisu dari dalam tas kecilnya dan mengusap wajah Larbi. Orang disekitar semakin heran.
"Gadis itu cari mati!" banyak orang bergumam seperti itu.
Runa masih fokus dengan yang dilakukannya. Tiba-tiba Larbi menghentikan laju tangan Runa yang sedang membersihkan dan membuang tisu itu begitu saja.
"Aku jijik dengan tisu itu, kamu tahu gadis rendahan seperti kamu tidak pantas menyentuh wajahku. Kamu benar-benar sangat menjengkelkan, Kenapa tidak menjawab pertanyaanku?" jelas Larbi semakin emosi.
"Bagaimana bisa aku jawab pertanyaanmu, jika aku bisu? Pria ini sungguh bodoh," Runa sedikit kesal mengerutu dalam hati.
Runa membalik badan, untuk meninggalkan Larbi, "Aku malas untuk berurusan dengan pria kurang ajar seperti dia!"gumam Runa masih kesal.
"Kamu ini menantangku, ya!" Larbi tiba-tiba menarik kerah Runa seperti seekor kucing lalu membawanya ke sebuah kelas.
Setelah sampai di kelas itu Larbi melemparnya ke lantai, banyak wanita seangkatan dengan Runa melihat kejadian ini, hanya tertawa tidak berani mendekat.
Runa merasakan sakit di sikunya dan kakinya, Runa akhirnya kesal juga.
"Hiss pria ini, berani-beraninya melemparku!" umpatnya dalam hati, dengan sangat marah Runa menarik kerahnya lalu membantingnya ke lantai.
Larbi terkejut karena ini pertama kalinya Larbi di lawan Oleh seorang gadis. Runa terbiasa hidup sendiri dan dia harus menjaga dirinya sendiri sehingga karate akhirnya dia kuasai.
"Aww!! kamu melukai tanganku, untung saja tidak patah," telinga Larbi tiba-tiba berdengung dan membuatnya sedikit pusing.
"Orang ini memang harus di kasih pelajaran, pria tidak sopan, berani-beraninya menyiksa wanita," umpat Runa dalam hati.
Larbi mulai bingung tiba-tiba dia mendengar suara gadis itu tapi mulutnya tidak bergerak sama sekali, "apa aku sudah gila? aku mendengar suara hatinya? "pikir Larbi sambil menggoyang-nggoyangkan telinganya.
"Jangan berharap aku mau menolongmu!cih, Pria sombong," gerutu Runa yang emosinya belum mereda, dia meninggalkan Larbi begitu saja.
"Gadis itu!" batin Larbi masih marah.
tiba-tiba sahabatnya datang, mereka adalah Leon dan Adi," Kamu kenapa tersungkur begitu, wajahmu sudah seperti kue tart berbentuk orang?" tanya Adi penasaran.
"Ada ya, yang berani menyerangmu tuan Larbi?" Leon sedikit tertawa tapi menolong Larbi yang masih ada di Lantai.
"Diam Kalian!Gadis bodoh itu kurang ajar sekali, rasanya ingin sekali aku menghajarnya!" Larbi mulai risih melihat keadaan tubuhnya.
"Yang membuatmu begini, seorang gadis?yang benar saja?" Leon heran.
"Ahh, aku semakin emosi, dia terus diam tidak menjawabku sejak tadi, aku mau ke kelas berenang, aku mau mandi!" Larbi berlalu begitu saja.
"Sebenarnya, siapa gadis yang bisa menghukum Larbi jadi seperti itu?" Tanya Adi.
"Kita harus cari tahu, ini momen langka melihatnya kesal tapi kalah,"Leon penasaran sekaligus menertawakan Larbi.
***
Ospek hari itu sudah selesai Runa memutuskan ke perpustakaan dulu sebelum pulang karena, dia ingin membuat surat lamaran untuk lowongan kerja yang di lihatnya waktu itu. Sementara itu, dia tidak bisa mengetik atau menggunakan komputer, Runa mulai meminjam buku-buku teknologi untuk mempelajari cara penggunaan komputer dan handphone kemudian menulis surat lamaran itu dengan tangan.
Hari ini sudah pukul dua siang masih ada waktu untuk mengirimkan Surat lamaran itu sebelum pulang ke apartement. Runa segera pergi dari kampus.
Dia begitu lega setelah berhasil memasukkan lamaran itu, tinggal menunggu telpon dari perusahaan dan dia bisa bekerja. Waktu sudah pukul setengah empat sore, sepertinya sudah waktunya Runa pulang ke apartement.
***
Larbi benar-benar emosi setelah mandi, hanya saja, dia mulai penasaran dengan gadis itu.
"Aku merasa aneh, kenapa aku mendengar suaranya tadi tapi kenapa aku tidak melihat mulutnya bergerak?" Larbi masih berfikir sambil mengusap kepalanya dengan handuk.
"Aku punya informasi tentang gadis itu!" Leon tiba-tiba datang dan membuat Larbi menoleh.
"Aku tidak ingin tahu, dia hanya mahasiswi baru kan? Aku juga tidak akan bertemu dengannya lagi, jijik aku melihatnya, terlihat tidak berkelas." Larbi menyisir rambutnya di kaca sambil memakai jas almamater kampus.
Leon mengernyitkan dahi mencoba merayu Larbi."Yakin nggak mau tahu? Kamu nggak penasaran kenapa dia tidak menjawabmu?" Leon memiliki trik agar Larbi mau mendengarkannya.
"Ya sudah, aku mendengarkan! Kamu memang pintar membuatku menurut," Larbi mulai serius.
"Gitu dong, traktir aku makan ya?" Leon melancarkan aksinya.
"Sudah ku duga kamu pasti ada maunya. Baiklah aku traktir, Cepat cerita!" Larbi mengernyitkan dahi menghadapi sahabatnya itu.
"Dia gadis bisu, dia berasal dari Desa Nelayan. Sekarang ini, gadis itu banyak di asingkan orang karena dia cantik tapi tidak bisa bicara." Jelas Leon.
"Gadis itu bisu?Aku jadi merasa bodoh menyuruhnya bicara. Tapi ..." Larbi tiba-tiba bengong.
"Jika dia bisu, apakah itu suara hatinya? Aku sudah gila. Leon berkata dalam hati saja aku tidak mendengar apa-apa?Aku penasaran dengan gadis itu," Larbi mulai bingung.
"Heh, Bi! kamu kesambet lo, tiba-tiba bengong." Leon menyadarkan lamunan Larbi.
Larbi tersadar mulai mengalihkan pembicaraan.
"Ah, kamu tidak ingin pulang? Hari ini acara pesta Ultah si Tari kan? Kamu di undang nggak?" Larbi mencoba mengalihkan topik.
"Iya, aku dan Adi di undang." jawab Leon masih melihatnya heran.
"Oke, sampai ketemu nanti malam. Aku pulang duluan!" Larbi berlalu begitu saja.
"Anak ini aneh," gumam Leon yang juga mengikutinya pulang.
***
Setelah sampai di depan pintu apartement dan membuka kuncinya, Runa masuk ke apartemen itu. Tiba-tiba Mary berlari dan menggandeng tangan Runa lalu beranjak pergi.
Runa tidak berkutik ketika tangannya ditarik kuat oleh Mery. "Kak Mery mau membawaku kemana?" batin Runa yang langsung disuruh duduk di bangku depan mobil Mery.
"Kita pergi ke salon!Sudah tidak ada waktu lagi, kita harus berdandan cantik, pujaan hatiku akan datang. Ketiga pria populer itu akan hadir disana dan mereka itu ganteng-ganteng, nanti akan ada pesta dansa dan kita bebas memilih pasangan, aku berharap bisa berdansa dengan Leon salah satu dari ketiga pria populer itu. Baiklah, sebelum kita ke salon, kita akan membeli baju pesta! Mary menambah kecepatan menuju ke sebuah butik.
Runa menulis di notes*Aku tidak ada uang kak Mery
"Aku yang akan membelikannya untukmu dan kamu juga harus ke salon dan berdandan karena aku yang mengajakmu ke pesta itu. Tenang saja!" jawab Kak Mary
Runa hanya bisa menganggukkan kepala.Mereka berdua sampai di sebuah butik, Runa duduk di depan ruang ganti untuk melihat Mary mencoba banyak sekali gaun.
"Bagaimana dengan ini?"
Runa menggelengkan kepala. Mary berganti gaun lagi.
" Yang ini?"
Runa menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana yang ini?"
Akhirnya Runa mengacungkan jempolnya.
Gaun yang terpilih adalah gaun berwarna biru pendek, tidak berlengan tapi bercahaya seperti bintang. Gaun itu terlihat cocok di pakai Mary. Sekarang giliran Runa, Runa mencoba gaun-gaun yang di pilihkan Mary dan baru dua kali mencoba gaun, Mary mengacungkan jempolnya. Mereka juga mengambil dua high heels dengan warna serasi dengan gaun mereka.
Mereka berdua berangkat ke Salon dan berdandan sebelum pukul setengah tujuh karena acara akan di mulai setengah delapan. setidaknya, satu jam cukup untuk perjalanan.