Pesta ulang tahun telah di gelar di salah satu hotel bintang lima, Tari adalah gadis kaya raya yang sangat populer dikalangan mahasiswa. Wajahnya cantik, tubuhnya tinggi dan memiliki profesi sebagai model iklan. Orang tuanya adalah pengusaha property terbesar se-asia. Hari itu dia menggelar ulang tahun super mewah, dan ada beberapa artis papan atas dan juga model hadir disana.
Satu jam kemudian Runa dan Mary sampai di lokasi pesta, karpet merah di depan sudah menjuntai membuat Runa terkagum-kagum seperti menghadapi pesta di negeri dongeng. Runa masih belajar menggunakan high heels walaupun akhirnya dia mulai terbiasa, saat sudah sampai di dalam, Mary menyapa teman-temanya dan meninggalkan Runa sendiri di sebuah meja makanan yang besar. Beberapa menit kemudian tiga pria yang di ceritakan Mary datang, semua wanita yang ada di pesta itu berbondong-bondong untuk mengerumuni mereka semua termasuk juga Mary, Runa sama sekali tidak tertarik dan hanya mengambil segelas orange jus dan mencicipi beberapa makanan di tanganya.
"Kue-kue ini sangat enak, baru kali ini aku merasakan kue selezat ini."gimana Rina yang wajahnya tersenyum mengunyah beberapa kue di mulutnya.
Larbi tidak begitu suka dengan keramaian dan kerumunan para gadis, dia melihat ke sekeliling dan menemukan Runa disana, "Gadis itu datang juga ke tempat ini?" komentar Larby dalam hati sambil keluar dari banyak kerumunan itu untuk mendekati Runa.
Runa masih sibuk mencicipi banyak makanan, saat Larbi mencolek pundaknya, Runa berbalik. Larby terpesona sebentar setelah melihat Runa yang berdandan sangat cantik itu.
"Pria ini lagi, aku malas berdebat." pikir Runa sambil berbalik ingin meninggalkan Larbi, tapi tangan Larbi menahannya.
"Tidak, tunggu!"
Runa kembali berbalik dan menatap Larbi, "Sebenarnya apa maunya?"tanya Runa dalam hati. Mereka saling menatap cukup lama, Runa melepaskan tangan yang di genggam Larbi.
"Kenapa aku tidak mendengar suara hatinya lagi?Apa ini berarti aku hanya sekedar berhalusinasi? Atau ... " pikir Larbi, Kerumunan itu tiba-tiba berbalik arah untuk menatap ke arah panggung, tidak sengaja mendorong Larbi yang akhirnya menabrak Runa di hadapannya dan mereka berdua terjatuh dalam posisi Runa dibawah dan Larbi diatas mereka berciuman.
Mata mereka terbelalak, lampu tiba-tiba mati dan petir menyambar dengan suara gemuruh. Kemudian, hujan turun.
"Itu ciuman pertamaku, kenapa pria ini yang mengambilnya?" pikir Runa masih terpaku tanpa bergerak.
Larbi kembali mendengar suara Runa, "Aku mendengar suara hatinya, ini ciuman pertamanya?jantungku kenapa?ini juga ciuman pertamaku." Larbi bergumam cukup heran, Runa mendengar suara hati Larbi juga,
"Tidak mungkin, apa aku mendengar suara hatinya? Ini juga ciuman pertamanya?"
Tiba-tiba telinga mereka berdenging dan begitu sakit, mereka melepaskan ciumannya dan berguling ke arah berlawanan.
"Apa yang terjadi dengan telingaku?"keluh Runa dalam hati, memegangi kedua telinganya yang terus berdenging.
"Apa yang terjadi? telingaku sakit sekali." Larbi memegangi telinganya. Mereka berdua pingsan.
Lampu tiba-tiba menyala, semua orang di pesta itu terkejut melihat Larbi dan Runa berbaring sejajar dan tidak sadarkan diri, telinga mereka sama-sama mengeluarkan darah. Membuat banyak orang panik, Adi dan Leon segera memanggil ambuland.
Mereka berdua di bawa ke rumah sakit dan di obati di IGD yang sama, setelah pendarahan telinga berhenti mereka di rawat di ruangan yang berbeda.
Disisi lain nenek Runa melihat tanda langit sama seperti saat Runa melanggar untuk masuk ke hutan terlarang.
"Sepertinya mereka sudah bertemu, Terimakasih Tuhan, sebentar lagi cucuku akan bisa berbicara."
***
Keesokan harinya, Mery membawa sup dan bubur untuk Runa, dia terus mondar-mandir karena Runa belum juga sadar. Beberapa menit kemudian Runa membuka matanya, dia masih merasakan sakit di telinganya. Mary terlihat bahagia melihat Runa sadar.
"Kamu membuatku sangat takut, sebenarnya apa yang terjadi, kenapa kalian berdua pingsan? Kalian sama-sama mengeluarkan darah dari telinga sebenarnya ada apa?" Mary terlihat sangat penasaran, mary memberikan notes dan pena.
Runa sedikit mengingat kejadian itu, dia juga tidak mengerti dengan kondisi ini. Tapi, dia menyadari ada yang aneh saat itu, Runa menyenderkan tubuhnya untuk duduk.
*Kak aku tidak apa-apa, aku juga tidak tahu mengapa aku tiba-tiba pingsan?Telingaku sangat sakit waktu itu dan aku tidak tahu lagi apa yang terjadi setelahnya.
tulis Runa di notesnya.
"Kamu benar-benar membuatku takut. By the way apa kamu sudah kenal sebelumnya dengan Larby? Aku mendengar dari Adi dan Leon kalau kalian sudah pernah bertemu sebelumnya," Mary semakin penasaran.
Runa menganggukkan kepala, lalu menulis lagi.
*Larbi adalah orang yang kutemui saat ospek kak, waktu itu aku tidak sengaja menabrak kue dan mengenai Larby, dia terlihat sangat marah sampai detik ini terus memaksaku berbicara, mungkin dia tidak tahu jika aku bisu, mungkin juga, itu alasanya semalam mengajakku berbicara.
"Oh jadi begitu, aneh! Dia belum pernah mendekati wanita sebelumnya. Penggemarnya mungkin banyak, tapi tidak ada yang berani melewati batas karena sifat temperamennya yang tinggi, dia juga sangat benci dengan kotor, mulutnya sangat tajam dan susah bersikap manis, dia tidak pernah mendekati wanita sebelumnya. Dia memang terlahir dengan bakat dan wajah yang ganteng, tapi sayang, dia susah di tembus. Aku berharap kamu bisa berhati-hati jika dekat dengan dia, aku takut kamu akan disakiti, jelas Mary
Runa hanya menganggukkan kepala
"Baiklah, tidak usah di bahas lagi! Sekarang aku akan menyuapi kamu bubur dan sup, aku membuatnya khusus untukmu, setelah itu, kata dokter jika kamu sudah lebih baik, hari ini kamu sudah boleh pulang," Mary menyiapkan sepiring bubur dengan sup lalu menyuapi Runa sampai habis.
Di ruang rawat lain, Larbi sudah sadar menatap ke arah Jendela dan terus membayangkan ketika berciuman dengan Runa, "Bibirnya sangat lembut, kenapa telingaku berdarah?semakin banyak kejadian aneh ketika aku bertemu dengan gadis itu." larbi bicara sendiri dalam hati.
Leon dan Adi mendekat perlahan ketika melihat sahabatnya itu bengong. Mereka mengagetkan Larbi.
"Hei, pagi-pagi udah bengong aja, kamu mikirin gadis itu ya? Gadis itu sudah sadar, dia baik-baik saja. Sepertinya Tuan Larbi mulai terpesona dengan seorang gadis," Leon menggoda Larbi dengan candaan seperti biasa.
"Jangan menyebut gadis itu lagi!setiap bertemu dengannya, aku selalu Sial! Kemarin kena kue tart, sekarang telingaku berdarah dan menginap di rumah sakit," Larbi kembali jutek lagi.
Adi menggelengkan kepala sambil membuka kotak bekal untuk sarapan pagi.
"Jika kamu selalu marah-marah, tidak akan ada gadis yang mendekatimu atau mau jadi pacarmu, kamu mau, seumur hidup jadi pria bujang tanpa siapapun?" Adi menyiapkan sup untuk Larbi dan memberikannya.
"Benar kata Adi, kamu menjomblo dari pertama masuk kuliah sampai detik ini, jangan-jangan sedari SMA kamu tidak punya pacar? Ingat!tinggal tiga semester lagi kamu lulus, kamu akan sibuk dengan dunia pekerjaan setelah itu. Kalau sudah bekerja, kamu tidak akan mendapatkan kisah romantis seperti saat kuliah," Leon memberikan nasihat kepada Larbi.
"Mulutmu seperti kakek tua, sudah diam, jangan cerewet! aku mulai bosan dengan rumah sakit. Aku sudah baik-baik saja, aku ingin segera pulang!" Larbi menghabiskan supnya dan kembali berbaring.
Leon menggelengkan kepala, "kapan sahabatku ini mendapatkan wanita yang bisa membuatnya sedikit lembut?" pikir Leon bingung dengan sahabatnya itu.
"Baiklah, aku akan berkonsultasi dengan dokter setelah itu, aku akan membereskan administrasinya. Adi, bereskan semua barang-barang Larbi!" Leon bergegas pergi dari ruang itu
"Baik, akan aku kerjakan!" Adi langsung menurut.
"Mungkin, yang dikatakan Leon benar, tapi aku benci bersikap manis dan dikerumuni banyak gadis, jika aku menjadi pria baik, akan banyak orang mendekat dan membuatku kotor. Aku benci hal itu! Gadis itu berbeda, kenapa rasanya ada yang membuatku tertarik padanya," gumam Larbi masih bingung dengan perasaannya sendiri.
Sore itu Larbi dan Runa pulang bersamaan, di sebuah loby mereka berdua bertemu. Runa memalingkan wajahnya dan menggandeng tangan Mery. Mery yang menatap Leon susah untuk di ajak berjalan.
"Runa, kamu boleh pulang duluan! Aku ingin mendekat ke pangeranku." tanpa berfikir panjang Mary langsung berpindah meraih tangan Leon.
Leon menampilkan wajah Risih, tapi tidak mampu menolak, Runa kebingungan, dia membawa tasnya dan beranjak pergi untuk meninggalkan rumah sakit tapi, Larby menahannya pergi dengan menggenggam tangannya.
"Apa-apaan pria ini?"tanya Runa dalam hati sambil berbalik dan menatap Larbi. Larbi mendengar suara hatinya dengan jelas.
"Jangan pernah lari dari tanggung jawab! Setiap ada kamu, aku selalu sial!"Larbi mengajak Runa berdialog dalam hati dengan perasaan kesal.
Runa melepaskan tangan Larbi, terlihat sangat marah. "Tunggu! Apa yang ku dengar barusan? Jangan Lari dari tanggung jawab?" Pikir Runa menatap Larbi dengan begitu intens,
"Iya, kamu tidak boleh lari dari tanggung jawab? Apa kamu terkejut?" Larbi menatap Runa dengan begitu tegas menegaskan bahwa dia bisa mendengar suara hatinya.
"Dia bisa mendengar suara hatiku? Dan aku juga? Apa ini ada hubungannya dengan--," Runa menggerutu sangat heran.
Larbi menatapnya masih dengan tatapan serius, "Dengan apa?" sambung Larbi dalam hatinya, Runa menatapnya sekali lagi dan mendengus kesal, "Bukan urusanmu!" ketus suara hati Runa kemudian berbalik ingin meninggalkan Larbi, Larbi kembali mencengkeram lengannya.
"Lepaskan aku!" teriak Runa dalam hati sembari meronta,
"Kamu pikir, aku mau berbicara denganmu? Hanya aku yang bisa mendengar suaramu?Aku butuh alasan yang jelas, kenapa ini terjadi padaku? Aku mendengar suara hatimu sebelum telinga kita berdarah," Suara teriakan dalam hati Larbi membuat Runa terkejut mendengar hal itu, "Tidak mungkin,"
Mata Larbi semakin kesal, "Bicaralah! Jangan hanya diam, aku benci gadis murahan sepertimu, jijik rasanya harus berkomunikasi dengan gadis sepertimu, tapi aku harus meluruskan masalah ini!" Larbi masih berkomunikasi dengan hati dan terus mereka Runa meminta penjelasan.
Runa sangat kesal mendengar penghinaannya, "Dasar Pria mulut pedas!Jika kamu benci, jangan pernah mengingat dan mendengarkan suara hatiku lagi, lupakan semuanya! Anggap kita tidak pernah bertemu, aku juga tidak sudi melihat wajahmu. Alasannya, aku juga tidak tahu, jangan pernah mencuri dengar apa yang aku katakan! Aku juga membencimu, suara hati Runa juga mulai bersikap kejam,
"Kam-kamu?" suara hati Larby terlihat sangat marah, Runa kembali pergi meninggalkan Larbi, tapi Larbi masih menahan tangannya sampai akhirnya,
"PLAK!"
"Jangan menahanku sekali lagi! aku muak melihatmu! Penghinaanmu sudah cukup!" gertakan dalam hati Runa sambil menatap Larbi dengan tatapan berkaca-kaca. Tamparan itu sangat keras, Adi, Leon, dan Mary sangat terkejut melihat kejadian itu. Ini adalah pertama kalinya seorang Larbi di tampar wanita, bahkan ditinggal pergi dengan sangat marah.
Larbi terdiam sejenak, kakinya tidak bisa beranjak dari tempatnya, bahkan tatapannya tidak pergi dari gadis itu. "Dia tidak takut padaku, gadis itu satu-satunya yang berani melawanku, dia sama sekali berbeda dengan gadis yang lain. Apakah ini takdir aku bertemu denganya?" gumam Larbi yang masih terus bertanya dalam hatinya dalam sunyi.
Leon dan Adi mendekati Larbi, menepuk punggungnya.
"Ayo, kita masuk ke mobil!" Leon mengajak Larbi pergi.
Mery berlari mengejar Runa,
"Runa, Tunggu!"
Di dalam mobil, Larbi terus diam, pikirannya selalu menuju ke arah gadis itu. "Aku penasaran, pasti ada alasan kenapa aku bisa mendengar suara hatinya? aku sangat yakin, tidak ada orang yang mendengarnya." pikir Larbi masih terus terbayang gadis itu.
"Kamu bisa ceritakan sekarang kepada kami! apa yang terjadi? Seorang wanita bisu tidak berdebat denganmu, tapi bisa menamparmu, aku lihat kamu tidak berbicara apapun kepadanya?" Leon penasaran.
"Kalian mungkin menganggapku gila, aku bisa mendengar suara hatinya dan aku bisa berkomunikasi tanpa kita bicara." Larbi menjelaskan masih melihat keluar jendela.
Leon dan Adi tertawa lepas mendengarnya.
"Kamu bisa juga bercanda? Mungkin memang kamu sudah tergila-gila dengan wanita itu," Adi menertawakan Larbi dengan begitu geli.
"Larbi, dia tidak jelek, dia sangat manis, postur tubuhnya juga tinggi. Kulitnya memang tidak putih tapi dia terlihat eksotis. Dia itu wanita cantik Larbi, Jika aku jadi kamu, walaupun dia bisu, aku mau menjadikan dia pacarku," Leon mulai menggoda Larbi
"Kalian ini begitu cerewet! Jika kamu mau ambil saja! Sudah kuduga, kalian tidak percaya. Tapi aku tidak pernah bercanda dengan kata-kataku, aku juga tidak tahu kenapa aku bisa mendengar suaranya?" Larbi mulai berbicara dengan serius.
"Kali ini dia terlihat serius, apa yang dikatakannya itu benar?" gumam Leon mulai ingin membuktikan kebenaran cerita Larbi kali ini.
"Jika itu benar, aku akan menyelidikinya sendiri, " Leon menambah kecepatan mobilnya.
Runa dan Mery masuk ke mobil, Runa menangis di mobil mendengar hinaan Larbi, bagaimanapun dia tetap seorang gadis yang punya perasaan.
"Apa kamu baik-baik saja?" Mery jadi sedikit khawatir.
Runa menganggukkan kepala
"Kamu gadis yang hebat, seorang Larbi bisa kamu tampar, aku lihat kalian tidak berbicara apapun, Aku hanya melihat kalian saling menahan. Tapi mengapa kalian berdua terlihat sangat kesal? Tatapan mata kalian seoalah bisa bicara," Mery terlihat sangat butuh penjelasan Runa.
Runa mengambil pena dan kertas lalu menulis sesuatu,
*Aku akan menjelaskannya di apartemen kak
"Sepertinya, aku harus belajar bahasa isyarat, agar aku bisa mengerti tanpa harus kamu menulisnya, apa kamu bisa mengajarkan padaku?" Mary bertanya masih sambil menyetir.
Runa mengusap air matanya dan menganggukkan kepala sekali lagi.
Mary menambah kecepatan untuk kembali ke apartemen.
Beberapa menit kemudian, setelah Mary memarkir mobil di garasi bawah, mereka naik ke apartemen mereka. Membuka pintu dan meletakkan beberapa barang sejenak, lalu mereka terduduk di sofa ruang tengah.
Runa mengambil notesnya dan mulai menceritakan kejadian hari ini,
"Apa bisa begitu?Masihh tidak masuk akal di kepalaku," Mary sedikit tidak percaya.
Runa menulis lagi,
*Aku juga nggak tahu apa alasannya, tapi ada sedikit cerita yang harus kaka tahu. Apakah kaka bisa menjaga rahasia ini?
"Apakah ini harus di rahasiakan?" Mery sedikit bernegosiasi.
Runa kembali menulis,
*Sebenarnya, terbongkar juga tidak apa, tapi aku takut kakak akan dianggap gila dan banyak orang menjauh dan tidak percaya.
"Ah jadi begitu, baiklah, sekarang ceritakan!"
Beberapa menit Runa menjelaskan kejadiannya, saat Runa masih di desa Nelayan, perlahan Mery mulai mengerti dan memahami situasi yang di hadapi Runa saat ini.
"Aku cukup terkejut dengan ceritamu, aku baru tahu ada kepercayaan seperti itu, berarti ada kemungkinan kamu bisa bicara?apa jangan-jangan Larbi adalah--"
Runa menutup mulut Mary, dia menulis lagi,
*Jangan mengatakan apapun lagi kak, aku tidak ingin berjodoh dengan pria itu, walaupun dalam hati aku takut, jika dia benar-benar adalah Jodohku.
Wajah Runa sedikit sedih, Mery merangkul Runa dan menepuk pundahnya perlahan.
"Entah, ini firasatku atau bukan, tapi menurut analisaku, hanya kamu yang bisa menahklukan hatinya. Buktinya kamu satu-satunya wanita yang berani menamparnya dan berhadapan dengannya. Tidak ada pertemuan yang kebetulan, jika itu takdir, mungkin dia bisa berubah menjadi orang baik ketika jatuh cinta." Mery menatap mata Runa.
Runa masih belum menanggapi,
"Baiklah, hari ini, ajarkan aku bahasa isyarat! Mulai sekarang, aku akan menganggapmu sebagai saudariku jadi kita harus akrab, aku juga terlahir kesepian, orang tuaku sudah meninggal dan aku hanya hidup dengan kakakku yang berkuliah di luar negeri, suatu hari aku bisa mengenalkanmu dengannya. Sekarang aku jadi ada teman, kamu tetap harus membersihkan rumah ini."
Tiba-tiba ada orang membunyikan bel
"Thing,Thong"
Runa berlari membuka pintu dan mendapati tukang pos memberikan surat kepadanya. Ketika di baca pengirimnya, Runa kembali ke sofa dan membaca isinya.
*Kamu lolos tahap satu, besok di persilahkan untuk datang wawancara dan tes berenang. Jam 10 sampai jam 11 pagi. Silahkan datang ke kolam renang pusat kota!
Runa menunjukkan surat itu kepada Mery, betapa bahagianya Runa hari itu.
"Kamu melamar pekerjaan? Ini kan perusahaan sebuah atraksi renang di aquarium dan Laut, apa kamu bisa berenang?" Mary masih tidak percaya.
Runa menulis lagi.
*Kak, apakah kamu bisa mengantarku besok pagi? Suatu hari kaka akan melihat, aku seperti apa.
Runa hanya berkata seperti itu dan dia melompat kegirangan.
Mery menggelengkan kepalanya,
"Baiklah, besok aku antar, sebelum kita belajar bahasa isyarat, aku ingin memberikan sesuatu," Mary pergi ke kamarnya dan mengambil sebuah kardus kecil.
Setelah kembali Ke Sofa lagi, Mery memberikan kepada Runa.
"Ini handphone yang beberapa bulan lalu aku beli, tapi tidak cocok aku pakai dari pada aku buang, aku berikan saja padamu."
Runa kembali menulis lagi,
*Kak, aku tidak bisa memakainya. Apakah ada petunjuk yang bisa aku pelajari?
"Petunjuknya ada di dalam kardus, ada sebuah buku kecil kamu bisa mempelajari cara penghunaannya," Mery menyerahkan Handphone itu.
"Baiklah, sekarang ajarkan aku bahasa isyarat! Baru setelah itu kamu bisa pelajari handphonenya," jelas Mary sudah siap diatas sofa.
Mereka berdua belajar bahasa isyarat dengan penuh semangat, tidak disangka hari sudah sore dan mereka berdua menyenderkan tubuhnya di sofa.
"Baiklah, aku sudah menghafalkan semuanya. Coba kamu praktekkan padaku!" Mery ingin memulai percakapan dengan bahasa isyarat.
"Kak, aku lapar, aku akan memasak sesuatu untuk kita!" Runa mulai menggunakan bahasa isyaratnya.
"Yes, aku mengerti. Ayo cepat buatkan! Aku juga lapar," Mery terlihat sangat bersemangat dan antusias setelah berhasil menghafal bahasa isyarat.
Runa tersenyum, dia memasak tiga hidangan lezat, seperti daging panggang, sayuran bening dan tumis.
Setelah satu jam berlalu hidangan siap, mereka makan dengan lahap, menikmati makanan itu sampai kenyang dan puas. Tidak terasa hari sudah semakin gelap, Mary dan Runa masuk ke kamar mereka masing-masing untuk segera beristirahat.
Di dalam kamarnya, Runa mempelajari handphone itu, membolak-balik halaman buku petunjuk dan mempraktikkan satu persatu, awalnya selalu salah pencet dan membuat handphone tiba-tiba mati, akhirnya Runa bisa memahami dengan cepat cara kerja handphone. "Tombol hijau untuk menerima telpon, tombol kuning mematikan telpon, handphone android memang cukup canggih karena hanya disentuh bisa bergerak dan bekerja, tombol surat ini untuk mengirim pesan, gambar telepon untuk memeriksa panggilan. Bisa mencari informasi menggunakan internet melalui browser, mencari alamat menggunakan map, mengirim pesan suara melalui tombol ini, bisa mengirim Foto dan dokumen dengan menekan tombol sisipkan file, oke! Sekarang aku sudah paham, besok aku akan meminta nomor kak Mary dan aku bisa menulis apapun di notepad ini. Jika aku sudah bisa menggunakan handphone besok aku harus bisa menggunakan komputer! Runa mempelajari handphone itu sampai tengah malam, ketika sudah lelah dia merebahkan tubuhnya dan mulai tertidur di ranjangnya yang cukup besar.
Disisi lain tengah malam ini, Larbi masih sulit tidur setelah Runa menamparnya pagi ini. Entah apa yang dia pikirkan tapi, itu sangat mengganggunya, berguling kesana-kemari dan terus berfikir sebenarnya wanita ini siapa? Bisa dengan berani menampar dirinya, matanya melihat kelangit-langit, "Aku tidak mengerti, kenapa aku terus memikirkannya, dia terus berada di dalam otakku. Tidak! Ciuman itu? Kenapa aku tidak bisa melupakannya? Larbi, dia gadis yang sangat menyebalkan! Kamu harus membencinya!Harus!" gerutu Larbi menutup wajahnya dengan bantal dan mulai tertidur.
Keesokan harinya, Runa mendapatkan jadwal kampus sekitar jam dua siang untuk masuk ke club berenang dan berselancar. Hari ini, sepertinya Runa akan berkutat dengan air dari pagi sampai sore, itulah yang sangat dia sukai.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh, Mary dan Runa bersiap untuk berangkat tes berenang di lowongan kerja yang di lamar Runa. Mery terlihat sangat penasaran dengan Runa, "apakah dia benar-benar bisa berenang?" gumam Mery penasaran.
Sampai di lokasi, Runa berganti pakaian renang yang sudah disiapkan oleh tim, pakaian itu tidak biasa karena di desain seperti pakaian pertunjukkan, dalam tes itu di hadiri dua puluh lima peserta yang akan terjun bersamaan dan tampil dalam aquarium yang berbeda, setiap aquarium akan di pakai tiga sampai lima orang peserta.
Mery kagum melihat banyak penari akrobatik bawah air menampilkan pesona dan keahliannya di dalam air. Nilai yang diambil berdasarkan jumlah penonton atau pengunjung yang menonton dan memberikan like di kotak suara, ketika Mary sampai di aquarium Runa, matanya hampir lupa berkedip, banyak orang berkerumun dan melihat penampilanya, dia bercengkrama dengan sangat baik dengan banyak ikan, bahkan mampu menari dengan mereka di bawah air. Semua orang bertepuk tangan dan merasa terhibur.
"Runa, terlihat sangat cantik, pesonanya di dalam air membuat banyak orang tidak bisa berhenti tersenyum. Aku mengerti, walaupun dia bisu, dia punya talenta lain yang sangat luar biasa di luar ekspektasiku, dia juga seorang gadis yang hebat." kata Mery dalam hati sambil ikut bertepuk tangan dan terlihat sangat terharu melihat penampilan Runa.