BAB 5

2302 Words
"aku ga tau mesti gimana? Setiap aku melihat Ana, aku merasa bersalah. Perhatian dan perlakuan mu ke aku udah salah. Bagaimana klo dia tau? Dia pasti marah sama aku.... Aku seperti pengkhianat! Ular berkepala dua" ucap Isti dengan kesal, mereka saling menatap. "But I Love You, Love" Aji menatap mata Isti. Gadis ini pun menggelengkan kepalanya. Dia tak mudah percaya. "Kamu dulu yang mulai deketin Ana, dan sekarang kamu bilang mencintai aku? Kamu ngerasa nggak sich kalo kamu uda mempermainkan dia?" Isti mencecar pertanyaan. Isti juga kuatir dipermainkan seperti Ana. "Ssssstttt, please Love. Ini tentang kita. Nggak usah bahas dia...." Aji keberatan saat Isti berbicara tentang Ana. Jejaka ini mencium lembut punggung tangan Isti. Isti yang tadinya kesal dengan Aji, mendadak luruh karena sikap manis pria ini. "Tapi aku nggak enak sama dia Ji." "Aku tau aku salah....aku bakal ngomong ke dia. Aku jelasin ke dia" Aji berusaha meyakinkan Isti. "Dia pasti sedih.... " "Udah ya... nggak usah ngomongin yang lain. Yang penting hubungan kita. Kita jadian kan?" "Bisa nggak kita jalani aja dulu apa adanya?" "Kenapa?" "Kita selesaikan skripsi kita dulu." "Tapi kamu mau terima aku kan? kita akan nikah kan?" desak Aji. Wajahnya terlihat serius. Genggamannya makin erat. Isti terkekeh saat mendengar kata nikah. "Ji, kita selesaikan dulu skripsinya. Wisuda, cari kerja. Kumpulin duit yang banyak.... " "Ok! Aku pasti bisa kumpulin duit buat nikahin kamu." ucap Aji dengan penuh percaya diri. Tapi berbeda dengan Isti, dia tidak yakin apa yang di ucapkan jejaka ini. "Aku ngantuk. Aku tidur ya.... " pamit Isti. "Kamu mau tidur dimana?" tanya Aji dan melepaskan genggaman. "Di sofa ini aja." "Ok! Aku tidur di depan TV ya." Tak lama mereka tertidur. Namun tak lebih dari 3 jam, Aji terbangun. Dia menghampiri Isti yang matanya terpejam. Aji memperhatikan wajah Isti yang tidak putih atau glowing. Bahkan gadis ini memiliki bekas jerawat di wajahnya. Perlahan Aji mencium kening Isti. Dan kelakuannya diketahui oleh Bunda yang berdiri di dekat jendela. "Assalamu'alaikum!" teriak Bunda. Aji membalas salam Bunda. Dia terkejut dan buru-buru Aji menjauhi sofa yang ditiduri Isti. Lalu dia duduk di seberang nya sambil berpura-pura membaca majalah. Isti mengerjapkan mata ketika mendengar suara teriakan salam. "Ajiiiii!" Bunda meneriakkan namanya sambil berjalan memasuki rumah. "Hm..... " hanya itu jawaban Aji. "Oh....ada Isti..." Bunda Aji berjalan menuju ke arah Isti yang sudah duduk. Isti pun menyambut dan mencium punggung tangan bunda dan papa Aji. "Kamu itu kalo orang tua ngomong mesti bales cuma 'hm' aja...mana ada cewek yang mau kalo seperti itu? Anakmu ajarin donk Pa...sudah mau lulus belum ada cewek yang dikenalin ke Bunda" cerocos bunda Aji sambil duduk di sebelah Isti. Papanya hanya duduk dan tersenyum mendengar ocehan istrinya. "Tante ga tanya...Aji suka ama cewek atau cowok? Eh, tapi Aji uda punya cewek kok Tan, inisialnya A_NA" Goda Isti dan melirik Aji. "Aduuuuhhh Istiiiii, kamu itu ya..kalo ngomong lucu. Masak Aji suka cowok?! Tapi Tante suka ama cewek yang rame...dari pada garing. Eh iya! Ana ini sapa ya? kok Tante belum pernah dengar namanya" sahut bunda Aji. "Kamu ga pulang? Uda hampir jam 6" ucap Aji dengan nada datar. "Tante..aku diusir ama anaknya..." rengek Isti. "Nggak ngusir Love, tapi kasian Iwan" sahut Aji, dia nggak mau pembahasan tentang Ana makin melebar. "Padahal kamu kalo ke rumah sampe malam. Aku nggak pernah ngusir." ucap Isti sewot. "Pulang Love.... " ucap Aji dengan tatapan tajam. Bunda dan papa Aji hanya bisa tertawa melihat 2 anak yang saling adu mulut. "Besok-besok Isti main lagi ya Tan. Uda di usir nih" jawab Isti sambil melirik Aji lalu menjulurkan lidahnya. "Iya dech...Tante tunggu" bunda Aji mengantar Aji dan Isti sambil tersenyum. Setelah Aji dan Isti meninggalkan rumah Aji, wanita paruh baya itu pun menelepon mama. ma Isti : Hallo...iya Jeng bun Aji : rasanya kita benar mau besanan ma Isti : beneran Jeng? Duh...aku seneng banget... emang tau dari mana Jeng? Aji mau ama cewek galak itu? bun Aji : Ha ha ha...Uda sabar aja Jeng...tunggu aja pengakuan dari mereka...kita tetap diam aja... haduh..aku seneng banget Jeng...Isti bisa jadi mantuku...moga Isti bisa menaklukkan Aji yang kadang aneh sifatnya... Tak lama mereka memutuskan komunikasi. Sepanjang jalan, Isti memeluk erat tubuh pria itu. "Uda nyampek.. mampir dulu?" Tanya Isti. Aji menggelengkan kepalanya. "Kalo ga mau masuk...buruan pulang dech...ati ati ya" imbuh Isti. "Kamu masuk duluan...baru aku pulang.." sahut Aji. Isti pun memasuki pagar dan melambaikan tangan ke Aji. Tiba dikamar dia menghempaskan tubuhnya di ranjang. Gadis ini tersenyum bahagia saat Aji menatap nya dengan hangat dan mengusap tangannya dengan lembut. *************** Beberapa bulan kemudian. Mereka berkumpul bersama di gedung serba guna, hari ini adalah hari yang ditunggu, wisuda. "Akhirnya kita bisa wisuda bareng" ucap Wati. "Cieee...yang mau nikah" goda Isti. "Iya Is....Uda ga tahan" Wati malah balik menggoda. "Hmmmmm... ngece kan?..iya iya aku jomblo" ujar Isti sewot. "Kalo jodoh ga bakal kemana kok...Tuh! Tiru Ana..." ujar Wati sambil menunjuk ke Ana yang sedang duduk disebelah Aji. Ana tampak senang berada di dekat Aji. Hingga saat ini Aji belum bicara kepada Ana tentang perasaan nya yang pernah salah. Karena kesibukannya menyelesaikan skripsi. Sedangkan Ana sudah terbiasa dengan Aji. Isti pun juga tidak protes kepada Aji. Karena di dalam hatinya, perasaan Aji bisa berubah. "Sementara doaku saat ini adalah segera berpisah dari kalian...karena aku yakin setan jomblo ada di antara kalian" ucap Isti serius sambil menunjuk ke beberapa temannya yang jomblo. Mereka pun menyoraki dan meledek Isti. 'ga kebalik? kan dia juga jomblo' 'kampret' 'sok cakep' 'gila' dan masih banyak umpatan lainnya untuk Isti, sedangkan Isti hanya tertawa ngakak. "Yuk masuk! Uda jam nya nich..." Ajak Sammy. Mereka pun masuk bersama ke gedung serba guna. Satu per satu nama mereka dipanggil sebagai syarat pengukuhan. Usai acara wisuda, wajah ceria terpancar dari mereka. Tapi berbeda dengan Isti, dia hanya tersenyum yang tak bisa diartikan. "Kenapa?" Tanya Rio. Dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan. "Ga papa...ntar malam nongkrong di cafe yuk!" ajak Isti. Mereka pun mengiyakan, dan ini adalah momen kebahagiaan mereka. Dan seperti biasanya, Rio menjemput Isti. Cafe tampak rame, hingga mereka duduk berhimpitan. Isti pun tampak bingung mencari celah untuk duduk. "Duduk!" Aji berdiri dan memberikan kursinya ke Isti, dia berdiri disamping gadis itu.Tak lama ada kursi dibelakangnya, hingga kini Isti dan Aji duduk bersebelahan. "Aku kangen. Beberapa bulan kemarin kita nggak ada waktu untuk berdua" bisik Aji. Isti tak menanggapi, dia hanya tersenyum. "Temans.... dengar bentar!" ucap Isti agak berteriak dan berdiri. Para temannya pun terdiam. "Akhirnya kita wisuda bareng. Aku harap jalinan persahabatan ini ga sampai disini. Dan di moment ini aku ijin pamit, aku diterima kerja di kota lain, lusa aku sudah harus training" ucap Isti sambil menatap wajah temannya satu per satu. Mereka terkejut dan tak lama bertepuk tangan karena senang mendengar kabar baik ini. Namun tidak dengan Aji, raut wajahnya yang datar menatap ke arah Isti, ada kemarahan dan kekecewaan didalamnya. Lalu gadis itu menuju panggung kecil, request lagu 'Sampai Jumpa by Endank Soekamti'. Pengisi acara yang disediakan oleh cafe itu pun menuruti permintaanya. Dengan music yang lebih melow, mereka saling mengeratkan tangan, tak sadar air mata Isti menetes, membasahi pipinya, begitu juga Wati. Isti berjalan memeluk temannya satu per satu. Tiba di teman yang paling terdekatnya. "Kamu baik-baik ya. Kabari aku terus, semoga pernikahannya lancar, maaf...rasanya aku ga bisa datang" ucap Isti kepada Wati, Wati hanya menganggukkan kepalanya, air mata Wati terus berderai. Isti terkekeh saat memeluk Sammy," Jangan mainin cewek mulu, cari yang serius!" "gonna miss you .. " tak sadar Sammy mencium pipi Isti. Isti pun mengerutkan dahinya, seolah keberatan dan berkata 'apa yang kamu lakukan'. "kamu sudah seperti adikku....terima kasih uda temani aku". kata Sammy mengungkapkan agar Isti tak salah paham. Sammy pun mencium pipi Isti lagi, dan Isti tidak menolak. Dia berpindah ke pelukan pria yang sejak beberapa tahun menjaga dirinya dan adiknya. "My big bro...." tangis Isti makin pecah saat Isti memeluk Rio. Rio membalas pelukan Isti dengan memeluk lebih erat dan mengusap punggung Isti, "kamu sama siapa? Kalo datang bulan, siapa yang gosok punggungmu, aku ngomong apa sama Umi dan Aba? Mereka pasti ngomel". Isti makin tergugu saat Rio mengucapkan Umi dan Abanya, karena mereka yang menjadi orang tua kedua untuk Isti. "Rioooo..." Isti merengek manja seakan berucap 'tolong kuatkan aku menjalani ini'. "Iya...iya.. aku selalu ada untukmu, aku pasti kangen rengekan manjamu" Rio seakan tahu isi batin Isti. Hingga saat Isti memeluk Aji, "maaf" hanya ucapan itu yang terlontar dari mulutnya. "why? kamu benci aku?" Bisik Aji. Isti menggelengkan kepala dalam tangisannya, Aji bisa merasakannya. "then don't leave me, Love.....you hurt me..." dari sekian teman, Aji lah yang paling lama memeluknya, hingga Isti memaksa melepaskan tubuhnya. "laper..." ucap Isti polos yang malah mengundang tawa temannya. "kamu sich! Pake acara nangis segala...menguras emosi" sahut Wati sambil mengusap pipinya. Mereka pun melanjutkan menikmati hidangan, dan bercanda lagi. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, mereka saling berpamitan. "Rio... Isti pulang sama aku!" Ujar Aji dengan nada datar. "Kenapa?" tanya Rio curiga "ga pa pa..pengen aja, kan ntar lagi dia uda keluar kota" "kalian ada hubungan apa sich?" "maksudnya?" "kamu sama Isti ..jujur aja lah, aku kenal Isti" "ya samalah kayak kamu..teman" 'TEMAN? teman model apa yang sampe cium keningnya' batin Aji merasa bersalah karena berbohong. "Ok lah! Ati ati. Awas, jaga Isti!" ujar Rio berpamitan. Aji mengangguk. Isti pun menurut saat Aji memintanya naik di motornya.Gadis itu sudah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan yang akan dilontarkan Aji. Aji melajukan motornya dengan kencang, dia ingin segera tiba di rumah Isti. Tiba dirumah Isti, mereka diam tanpa bicara. Hati mereka sama-sama kalut. Aji berusaha meredam marah atas keputusan Isti keluar kota, sedangkan Isti berusaha mengungkapkan semua isi hatinya. "Iwan kemana?" tanya Aji memecah keheningan. "Nginep kerumah temannya" sahut Isti pendek. "kenapa?" tanya Aji lagi. "kenapa apanya?" Isti tanya balik. "kenapa mendadak? kenapa nggak kasih tau aku? kenapa harus keluar kota?" "sebenarnya nggak mendadak, aku uda melamar sebelum yudisium pakai transkrip sementara. untuk apa kasih tau kamu? ini jalan hidupku, usai wisuda tujuannya cari apa? cari uang kan? dan perusahaan ini cukup besar, untuk sementara penempatan ke Banjarmasin, nanti bisa rolling" "kamu anggap aku apa?" "selama ini kita gimana? ga ada apa-apa kan?" "aku mencintaimu, aku tau kamu juga mencintai aku..aku tau itu" "aku memang mencintai kamu...tapi kita ga bisa bareng Ji. Ada dia yang lebih mencintaimu." "kenapa kamu selalu memikirkan orang lain? bahagiakan dirimu sendiri..bahagiakan kita" "kamu jangan gila ya...dulu kamu yang ngejar Ana, sekarang Ana sudah kasih respon kamu malah gini, jangan main-main dengan perasaan." Isti mengingatkan lagi. "tapi aku ga bisa memberikan cintaku ke Ana" "kenapa kamu dulu pdkt ama dia?" "aku ga tau .....dan aku juga ga tau sejak kapan aku menginginkanmu..." "kamu hanya menginginkan aku...bukan mencintai aku..."Isti tersenyum sinis "Aku benar-benar mencintaimu Love...walaupun beberapa bulan ini kita sibuk dan jarang ketemu, tapi perasaan aku nggak berubah " Isti menggelengkan kepala. "Buka hatimu untuk Ana, kasih dia kesempatan" ucap Isti kekeh. "gimana aku bisa membuka, jika ada kamu yang selalu dihatiku" " NAH ITU! Makanya aku memilih pergi darimu...pergi dari hatimu...setidaknya aku sudah berusaha mengorbankan untuk orang orang yang menyayangi aku..." "kamu ga mencintaiku Love?" Aji menatap Isti mencari kebenaran. "aku capek Ji...aku capek dengan kondisi seperti ini ..aku sesak melihatmu dengan Ana, tapi merebutmu dari Ana sungguh ga mungkin...tolong pahami perasaanku Ji...mungkin pergi dari sini adalah jalan yang tebaik untuk kita" imbuh Isti dengan suara melemah. "Bukan merebut, aku sama Ana ga ada hubungan apa-apa, bagaimana jika kamu pergi, aku dan Ana pun juga ga bisa menjalin hubungan?" "kita lihat nanti ya...kalo kita jodoh..kita pasti ketemu lagi kok..ok?" Isti meremas tangan Aji. "keras kepala! pergilah untuk kembali padaku" Aji menarik tangan Isti dan memeluknya. "Wait...aku ambil ponsel dulu" ucap Aji dan melepaskan pelukan. Aji membuka tas yang ada disampingnya. Aji mengambil gambar dirinya dan Isti, dalam foto itu tampak bibir Aji dan hidungnya menempel di pipi Isti, sedangkan Isti tersenyum wajahnya menghadap kamera terlihat bahagia. "Aku kirim ke emailmu... jangan dihapus!" pinta Aji dan meletakkan ponselnya kembali. Aji memulai dengan memberi kecupan di kening Isti. Gadis ini membeku ketika mendapat kecupan. Aji memegang dagu Isti lalu mengecup lembut bibir gadis mungil itu.Kecupan di bibir yang tadi lembut, sekarang sudah menjadi menuntut membalas, memainkan lidah. Aji menekan tengkuk Isti serasa ingin menerkam seluruh bibir dan mulut gadisnya. Isti terbuai dengan semua apa yang dilakukan Aji. Tak hanya itu, gadis ini juga senang dan menikmati. 'Kenapa ini terjadi saat kita akan berpisah?' batin Isti. "Jangan lupakan moment indah kita...aku yakin kamu akan kembali padaku" Aji mencium puncak kepala Isti, usai melumat bibir Isti. "doa ya...." Isti tak sanggup menahan tangisnya. Dia memang mencintai Aji, tapi dia ragu apakah Aji benar-benar mencintai nya. Isti takut membuka hatinya. "Jangan nangis please...aku makin ga tega Love...." pinta Aji. "it's Ok..i'm strong girl.." Isti memaksa senyumnya. "aku tahu...tidurlah..aku jaga disini" "uda pamit bunda?" "gampang" Isti merebahkan tubuhnya disamping Aji. Tak langsung tidur, mereka masih bercanda ringan. Kadang Aji mencuri ciuman di pipi gadis ini, sehingga membuat Isti merona. Setelah lelah bercengkerama, mereka tertidur. Beberapa menit kemudian Iwan datang. Melihat kakaknya dan seorang pria tertidur bersebelahan. Pemandangan yang biasa, kadang Rio juga tidur bersebelahan dengan Isti. Fajar menyingsing. Isti terbangun lebih dulu, dia bangkit dari tidurnya.Dia masih melihat pria itu tidur disampingnya. "Maafkan aku sayang" bisik Isti sambil mencium pipi Aji. "Aji .. bangun" Isti mengguncang pelan tubuh Aji. "Hmmmmm" respon Aji. "Sayang...bangun..." ucap Isti lirih, Aji langsung terbangun. "Ucapkan lagi" pinta Aji sambil membuka matanya. "Yang mana? Bangun?" Tanya Isti sambil menahan senyum. Pipinya memanas. "Bukan... sebelum itu..ucapkan lagi atau aku mencumbui mu! Aku ga peduli ada Iwan" Aji menatap sendu wajah gadisnya. "Sayang?" "Ucapkan lagi.." "Sayang....bangun..." ucap Isti lirih sambil malu-malu. "Kenapa baru sekarang? Saat kita mau jauhan..." "Udah lah... sekarang bangun dan pulang..aku mengusir mu" tutur Isti. "Ok...do not forget...you're always be mine..and i always be yours" Aji mencium bibir Isti sekilas. Lalu dia meninggalkan rumah Isti dengan berat. 'Tuhan...aku mohon .. jodohkan aku dengannya' ucap Aji disepanjang jalan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD