Pagi sekali Isti ke rumah Rio.
"Pasti ini salah Rio kan? Kamu pasti bikin ulah, makanya dia ga kerasan." Ucap Umi dengan menatap kesal ke putra tunggalnya.
"Bukan Umi, ini Isti sendiri. Isti kerja disana. Rio juga baru tahu kemarin." Isti menenangkan Umi.
"Kenapa kok jauh sekali sich? Apa karena Umi yang akhir-akhir ini keluar kota? Jadi kamu ga ada teman?"
"Bukan Umi." ucap Isti tersenyum.
"Atau dia pacaran terus? Sampek kamu ga dipedulikan lagi?"
Umi mengingatkan bagaimana saat itu Rio baru pertama kali memiliki kekasih, sehingga waktunya dihabiskan berdua.
Saat itu, Rio dan Nisa baru aja menjalani hubungan sebagai kekasih. Rio sudah tak peduli lagi dengan Iwan dan Isti yang selalu menemani selama ini. Isti sempat marah dan cemburu, dan beberapa Minggu tak berkunjung ke rumah seperti biasanya. Alhasil Uminya tahu dengan sendirinya, dan menghukum anaknya.
"Kalo kamu ga bisa melindungi mereka, ga usah pacaran!" Ucap Umi saat itu. Isti hanya takut kehilangan sosok Rio sebagai kakaknya, yang sering mengantar dan menjemput kemana Isti mau.
Akhirnya Isti dan Rio memilih hari khusus untuk mereka, seminggu sekali, menghabiskan waktu bersama.
Namun tak berselang lama, Isti sadar bahwa dia hanya mengalami brother-sister complex. Dia membebaskan Rio, tak membuat hari khusus lagi.
Setelah mendapat wejangan dan omelan panjang lebar, Isti pamit dan minta restu ke Umi dan Abah. Sambil sesenggukan Umi masih memeluk Isti.
"Rio... kamu harus cepat nikah"
"Umi!" Pekik Rio
"Umi ga mau belanja ke mall sendiri, selama belum nikah, kamu yang temani Umi ke mall."
"Umi apaan ya? Itu penyiksaan!" Rio mengomel.
"Terserah! Cariin mantu atau kamu ke mall sama Umi!" Perintah Umi sambil terus mengelus rambut Isti yang masih dipeluknya.
Isti terus terkekeh dalam pelukan Umi yang kalo ngomong seenaknya.
Memang selama ini, Isti yang menemani Umi ke mall.
Tentu gadis itu sangat senang jika di ajak ke Mall, karena dia pulang tanpa tangan kosong, selalu ada saja yang dibeli oleh Umi untuknya.
**********
'Selamat tinggal Surabaya...aku akan merindukanmu' batin Isti yang pesawatnya sudah lepas landas.
Dia meninggalkan kota kelahirannya untuk melupakan cintanya. Dia takut harapannya tak sesuai dengan kenyataan.
1 jam kemudian.
Sambil menunggu jemputan, Isti menyalakan ponselnya.
To Aji :Aku sudah di Banjarmasin, aku selalu berdoa semoga kita selalu bahagia.Jangan menghubungi aku, aku yang akan menghubungi kamu.
Tak lama Isti mematikan ponselnya dan mengotak atik.
Dia menghubungi seseorang.
ma Isti : Hallo...
Isti : ma...ini nomor baru Isti, jangan telpon ke nomor yang lama ya...
ma Isti : kenapa ganti?
Isti : supaya Isti konsen kerja ma...jangan kasih tau nomor ini ke teman-teman, cukup mama Iwan papa dan keluarga yang tahu nomor ini...tolong ya ma...
ma Isti : iya... pokoknya kamu ati ati ya nak...
Isti : iya ma...
Hubungan telepon terputus.
Tak lama ada seseorang membawa papan bertuliskan namanya, Isti menghampiri dan ternyata memang benar dari perusahaan tempat dia bekerja.
Mobil pun melaju ke tempat Isti bekerja.
Aji baru menyadari ada pesan masuk dari gadis pujaannya. Dia mencoba menghubungi, namun gagal, mesin penjawab bersuara bahwa nomor tidak aktif.
'Kok nggak bisa di telpon?! apa maumu sayang? Kamu selalu milikku' batin Aji.
Disisi lain Isti memasuki tempat kerjanya.Dia bekerja di salah satu distributor consumer good, divisi perawatan kulit dan rambut, bagian Marketing And Sales Support.
Setelah dari ruang lobby, Isti diantar seorang security ke ruangan yang cukup besar, banyak sekat kubikel dan terdapat 2 orang lelaki dan perempuan saling komunikasi.
Hingga security mengantar tepat ke depan mereka.
"Pagi pak, ini Bu Isti .. silahkan" security meninggalkan mereka bertiga.
"Selamat datang Isti, semoga kita dapat bekerjasama dengan baik, bagaimana perjalanannya?" Pak William selaku pemimpin yang menaungi divisinya memberi salam selamat datang dan menyalami.
"Pagi Pak William... perjalanan lancar, semoga tenaga saya berguna bagi divisi ini" Isti menyambut uluran tangannya.
"Silahkan training dengan Bu Lina, dia sudah ga sabar hengkang dari sini... mungkin sudah bosan mendengar omelanku" canda William yang didengar oleh Lina.
"Saya resign menemani suami saya keluar pulau pak, saya takut suami saya ditemani yang lain" sahut Lina.
"Hai...aku Lina...aku ga sabar menularkan ilmuku" Lina menyambut Isti.
"Hai... semoga mbak Lina ga marah kalo sering saya repoti... maklum baru pertama kerja, pasti keliatan dungu" ujar Isti merendah.
William dan Lina tertawa mendengar ucapan Isti.
"Kamu itu lucu... rasanya team kita akan lebih rame" ucap William.
"Baiklah...saya pamit, silahkan lanjut dengan Lina ya" William berpamitan meninggalkan mereka berdua.
Lina dan Isti terlihat serius, Isti memperhatikan dan mempelajari seluruh yang dilakukan Lina.
Waktunya tak banyak, karena dalam 1 bulan kedepan Lina akan meninggalkan perusahaan.
Lepas jam kerja, Isti membawa segala hal yang bisa dipelajari saat di mess pegawai.Tiap malam dia menghubungi mamanya atau sebaliknya.
Sudah 3 bulan Isti bekerja di perusahaan itu.
Sebagai divisi yang berhubungan dengan perawatan, dia pun dituntut untuk menjadi 'cantik'.
Mau ga mau Isti sudah akrab yang namanya salon perawatan rambut dan kulit.Dan secara penampilan Isti sudah ada perubahan.
Jika bosan di mess, Isti sering mendatangi counter produknya yang ada di mall, dan menemani BA (beauty advisor), kadang bertemu dengan MD (merchandise display).
Walau mereka jarang bertemu dikantor, mereka pun terlihat akrab.
"Mbak Isti kayaknya ga seperti orang kantoran, kalo ngomong suka asal. Sedangkan orang kantoran kalo ngomong kan di jaga" ujar seorang BA.
"Kan sekarang diluar kantor...kalo dikantor ngomong seenaknya, detik kemudian aku dipecat" canda Isti yang di ikuti gelak tawa para BA yang sedang giliran jaga.
"Mbak jadi BA aja"
"Astaga... BA produk todler? Menghina secara ga langsung nich...kan aku bogel... langsung ditolak chyyyynnn" ucap Isti dengan nada manjanya.
Mereka pun kembali tertawa.
Isti kembali ke mess, dan lagi-lagi pintu tetangganya tidak ada yang terbuka. Dia pun duduk sendiri diruang tamu, berharap ada teman yang menghampiri.
Tapi tampaknya mereka cukup lelah untuk bersosialisasi, atau mungkin ada yang kerja lembur.
Jadi sesama penghuni walaupun satu perusahaan serasa tak kenal satu dengan yang lain. Hanya itu yang membuat Isti ga betah. Dia merindukan kumpul dan nongkrong bareng.
'masih jam 8 malam...aku ngapain ya' batin Isti.
Isti pun mengambil laptopnya, membuka sosial media yang sudah lama tak dikunjungi.Dia melihat foto teman-temannya, tampak mereka masih sering berkumpul.
Hanya Isti dan Wati yang tak nampak difoto itu.'Ana masih setia mendampingimu, wajahmu tak berubah, selalu datar' Isti memandang beberapa foto.
Isti melihat banyak DM dari mereka.Yang intinya menanyakan kabar, alamat, kenapa nomor ga aktif.
Begitu juga DM dari Aji, banyak pesan darinya,terutama saat pertama kali hilang kontak. Dan tak kenal lelah, tiap hari pria itu mengirim pesan walau pesannya tak terbalas, Isti pun tak berniat membalas mereka.
Dia merindukan sosok pria itu, merindukan sentuhannya, pelukan hangatnya.Akhirnya Isti memejamkan matanya, dan membawa rindunya dalam mimpi.
Esok pagi
Isti sudah bisa menghandle pekerjaannya, saat awal tidak ada hari libur untuknya.
'hmmm...Sabtu yang kelam...tetap aja seperti ini... Jomblo akut moga ga sampai berlumut' batin Isti.
Dia merasakan perutnya yang bersuara, pertanda minta di isi.
Dia pun berjalan beberapa blok, akhirnya dia menemukan supermarket. Belanja untuk keperluan seminggu. Usai belanja, dia mampir ke depot untuk mengisi perutnya yang sudah meronta.
Duduk sejenak didepot sambil menyaksikan orang yang berlalu lalang di trotoar.
Isti melanjutkan perjalanan menuju mess nya lagi. Tepat didepan pintu utama, dia melihat seorang pria yang tak dikenal, bersandar ditembok membelakangi Isti.
Perawakan yang atletis dan berambut cepak wetlook memberi kesan segar. Wajah tampan, bersih dan aroma maskulin menambah poin plus membuat Isti melongo.
"Hai" ucap pria itu yang membuat Isti kembali ke alam sadarnya.
"Maaf....ada yang bisa saya bantu?" Tanya Isti perlahan.
"Isti?" Tanya pria itu.
"I-iya..saya...ada apa ya?" Tanya Isti bingung karena dia tak mengenal pria itu, namun pria tahu namanya
"Ini ...tadi jatuh waktu di kasir" ucap pria itu memberikan sebuah ponsel.
"Oh....maaf ... terimakasih banyak ... bagaimana anda tahu alamat ini?" Tanya Isti lagi.
"Johan... panggil aku Johan" pria itu mengulurkan tangannya.
"Isti...kamu sudah tahu namaku" gadis itu menyambut tangan Johan.