"Ready for today?" Johan menjemput Isti, hari ini adalah hari pertama mereka ke kantor menjadi sepasang kekasih.
"Jangan perlakukan aku berlebihan, aku malu" pinta Isti dengan nada lirih.
"Contohnya?" tanya Johan.
"Kalo di kantor nggak usah gandengan."
"Kenapa honey? i want to show that you are mine" bela Johan.
"Iya. Tapi aku ngerasa nggak enak, Johan. Apalagi aku karyawan baru. Yang demen sama kamu itu banyak."
"Justru kamu bangga donk! Kamu bisa dapetin aku..." ucap Johan dengan senyum menggoda.
"Terserah lah" Isti pasrah.
Mereka berangkat menuju tempat mereka bekerja.
Tiba di parkir mobil.
"Kiss me first" pinta Johan saat melihat Isti akan membuka pintu. Isti menghela nafas.
"Kita dihalaman parkir Johan" ucap Isti seolah keberatan atas permintaan Johan.
"Kamu lakukan disini, atau aku akan menciumu di lobby?" Paksa Johan.
Isti menggelengkan kepalanya, dan tersenyum.
"Dasar tukang pemaksaan" Isti berkata lirih namun terdengar Johan, pria itu pun tersenyum. Isti mengarahkan badannya ke arah Johan, dan mencium sekilas bibir kekasihnya.
Johan menahan lengan Isti.
"Akan aku tunjukkan cara mencium yang benar" Johan mengarahkan wajahnya ke arah Isti, dia mencium lembut bibir Isti.
Ciuman menjadi makin panas, mereka saling membalas dan lidah mereka saling bertemu. Isti menarik wajahnya.
"Sudah...ntar telat, dan stock lipstik ku mulai menipis, aku tidak mau berwajah pucat" gadis itu mengambil tissue yang tersedia di mobil dan menghapus jejak lipstik yang tertinggal di bibir prianya.
"Aku akan membeli beberapa buah lipstick untuk mu honey" ucap Johan merasakan tangan gadisnya membersihkan bibirnya.
Lalu mereka turun dari mobil, berjalan bergandengan menuju lobby. Seperti pegawai lainnya, mereka antri untuk check lock. Sambil berdiri, Johan membisikkan kata cinta ke telinga Isti, mereka terlihat mesra. Hal ini membuat iri beberapa pegawai.
Mereka berpisah saat di lift, karena divisi mereka berbeda lantai. Saat pulang, mereka bertemu didepan mesin checker, saling menatap mesra. Johan melingkarkan tangannya dipinggang Isti saat berjalan menuju mobilnya. Beberapa kali Isti melarang agar tak melakukan kontak fisik saat di kantor, tapi pria ini mengabaikan.
Tiba di mess Isti, mereka turun.
Isti memasuki rumahnya, "Kamu mampir?" tanya gadis ini.
"Ga usah...ntar kemalaman" ucap Johan.
"Okay ati ati" sahut Isti sambil melepaskan sepatu.
"Ciuman perpisahan honey" pinta Johan.
Isti tertunduk malu mendengar permintaan kekasihnya. Gadis itu berjalan ke arah Johan .Dia menatap pria tajam seakan menantang.
Johan pun tanpa sungkan melancarkan aksinya. Pria itu memanggut lembut bibir Isti. Usai permintaan dikabulkan, dia berpamitan. Rasanya Isti sudah terbiasa dengan lumatan kekasihnya.
Saat malam hari, Johan menelepon Isti, seperti kebanyakan pasangan yang lain, seolah ingin selalu komunikasi. Setelah sekian lama hatinya terisi dengan sosok Aji, akhirnya Isti perlahan membuka hatinya untuk pria itu.
3 bulan kemudian.
Jalinan kisah kasih mereka terlihat mulus. Bahkan tidak ada pertengkaran. Hari-hari Isti begitu bahagia dengan kehadiran Joham.
Saat ini mereka berjalan bergandengan di sisi sungai, melihat transaksi pasar apung,, Banyak perahu memadati sungai itu.Isti berdiri di antara 2 lengan kokoh kekasihnya yang berdiri dibelakangnya.
"Honey...aku ingin kamu menjadi istriku, ibu dari anak-anakku, maukah kamu menerima cintaku? Menemani aku dalam suka dan duka?" Johan berkata tepat di telinga Isti.
Isti tersenyum mendengar ucapan Johan. Dia membalikkan tubuhnya, kini 2 wajah itu sangat dekat, hidung mereka bisa merasakan nafas lawannya.
"Apa kamu yakin dengan yang kamu ucapkan?"tanya Isti balik.
"Iya honey"
"Apa nggak terlalu cepat? Kita baru bersama beberapa bulan, Johan..." Isti kembali menegaskan.
"Aku sudah yakin. Memangnya kamu mau kita pacaran berapa lama lagi?"
Isti menerbitkan senyuman. Siapa yang bisa menolak pria setampan Johan? Pria yang menjadi idola di perusahaannya.
"Iya Johan...aku bersedia menjadi istrimu" ucap Isti sambil menatap tajam mata Johan, tidak ada keraguan di mata mereka.
"Thanks honey" Johan pun melumat bibir kekasihnya, Isti membalas kecupannya.
2 Minggu berikutnya. Mereka berkunjung dimana tempat orang tua Isti bertugas, ke Jakarta.
Untuk pertama kalinya Johan bertemu dengan orang tua Isti, dan di saat yang sama, Johan minta ijin mempersunting Isti menjadi pasangan hidupnya.
Orang tua Isti sangat senang atas keputusan Isti, walaupun dalam hati mama Isti tersimpan kekecewaan, keinginannya berdampingan dengan Aji tak tersampaikan.
Usai menemui orang tuanya, Isti mengantar Johan ke hotel yang tak jauh dari rumah dinas orang tuanya.
"Honey....aku tak sabar memberikan kabar ini ke orang tuaku" ucap Johan sambil memeluk Isti dari belakang.
"Besok kita kembali, bagaimana jika kita langsung ke rumah orang tuamu?" Isti memberi saran
."Baiklah sayang" bisik Johan ditelinga Isti, lalu dia mengecup leher kekasihnya.
"Johan...." Isti menggeliat karena merasa geli.
Sambil terus mengecup leher Isti, tangan Johan mulai merambat ke atas, berusaha menyentuh bagian yang lain.
"Jangan Johan!" Isti menahan tangan Johan, entah mengapa rasanya Isti belum rela tubuhnya dinikmati pria ini.
Isti pun berbalik, dan menatap Johan.
"Aku hanya ingin memastikan, benda yang selalu menggodaku bukan implant, aku hanya menyentuh dari luar honey" Johan mulai merayu kekasihnya.
Isti tersenyum mendengar alasan konyol prianya.
"Modus!Jika aku mengijinkan, apakah kamu akan meminta untuk melihat keaslian bagian sensitif ku?" Tanya Isti mengeluarkan kata vulgar yang semakin memicu gairah Johan.
"Kamu sengaja menggodaku dengan kata vulgar mu hah?" Tanpa persetujuan Isti, Johan menggelitik tubuh kekasihnya
"Johan! Geli!" Isti menjerit kecil, Johan pun langsung membungkam mulut Isti dengan bibirnya.Johan terus melumat bibir Isti sambil tangannya tak berhenti bekerja.
Tak mau kalah, Isti pun menyentuh bagian belakang Johan seraya memberi perintah agar tubuh mereka lebih dekat lagi.
Beberapa saat pergulatan mereka, Isti menarik wajahnya dan memundurkan tubuhnya, ia mengehentikan kegiatannya.
"Sudah terbukti kan?" Tanya Isti sambil merapikan busana serta bra nya yang sudah terkoyak akibat ulah kekasihnya.Johan hanya tersenyum melihat Isti yang menyempurnakan busananya.
"Iya.. aku percaya honey...apa kamu perlu bantuan membetulkan pakaianmu?" Goda Johan.
"Sudah lah...aku pulang..dan tidak ada Sweet Kiss bye...tadi sudah lebih dari cukup, besok kita flight pagi" ucap Isti sambil merapikan rambutnya dan mengambil tasnya.
Johan terkekeh mendengar ocehan kekasihnya. Isti pun meninggalkan hotel itu dan pulang ke rumah orang tuanya.
Esok paginya mereka sudah melakukan penerbangan kembali ke Banjarmasin.
Tiba di kota itu, mereka segera meluncur ke rumah Johan.
Johan sudah mengutarakan isi hatinya ke orang tuanya, mereka pun sangat senang dengan kabar baik ini. Dan keluarga Johan akan melamar Isti secara resmi.
2 Minggu berikutnya. Orang tua Isti berkunjung ke Banjarmasin untuk melihat kondisi anaknya, ini adalah kunjungan pertama mereka. Supaya menyingkat waktu, keluarga Johan merencanakan untuk melamar Isti.
2 keluarga saling menyiapkan seluruh kebutuhan untuk acara lamaran sekaligus tunangan. Hingga tiba pada hari yang di tunggu oleh 2 insan ini. 2 keluarga bertemu, keluarga Johan mengungkapkan tujuan kunjungan untuk melamar Isti.
Keluarga Isti menerima niat baik ini, dan bersedia melanjutkan ke hubungan yang lebih serius. Dari pertemuan itu mencapai kesepakatan bahwa pernikahan akan dihelat 6 bulan lagi.
Tampak binar kebahagiaan terpancar dari sepasang kekasih yang menjadi inti pembicaraan.Usai pembicaraan dan bercengkrama, keluarga Johan berpamitan. Dan esok harinya orang tua Isti harus meninggalkan kota itu, dan kembali ke kota asal.
1 bulan setelah acara pertunangan.
"Honey...hari ini ulang tahun Fandi, dia mengundang kita, kamu mau datang kan?" Tanya Johan sambil mengemudi.
"Dimana? " Tanya Isti
"Cafe tengah kota, besok kan kita libur .."
"Sebenarnya aku mau cari-cari catering atau WO untuk kita. Kita nikah 5 bulan lagi, Johan..." Isti memperingatkan calon kekasihnya yang terkesan cuek.
"Ayolah honey. Cuma bentar aja kok....." Johan merengek.
"Baiklah..." Balas Isti yang terliht pasrah.
Jam 8 malam Johan menjemput Isti. Mereka menuju ke cafe yang dimaksud, Johan memperkenalkan Isti sebagai tunangan ke hadapan teman-temannya.Ada beberapa lelaki dan perempuan dalam pertemuan itu.
"Ini minuman mu honey" Johan menyodorkan segelas air ke Isti.
Tanpa ragu, Isti pun meneguk air yang diberikan Johan.
Beberapa menit kemudian.
"Jo... antar aku pulang ya... kepalaku rasanya aneh" bisik Isti ke Johan yang ada di sampingnya.
"Sebentar lagi ya honey" ucap Johan dengan senyum tipis dan penuh makna.
"Jo..kamu yakin ngelakuin sekarang? Kenapa ga nunggu nikah yang beberapa bulan lagi?" Bisik seorang temannya.
"Aku ga sabar menikmati tubuhnya, rasanya munafik kalo dia masih perawan. Apalagi dia dari kota besar, pasti dia pernah ngelakuin" jawab Johan. Pria ini meyakini bahwa Isti tidak perawan lagi.
Hingga akhirnya Isti sudah tak sanggup mengangkat kepalanya lagi.Tubuhnya serasa lemas, untuk membuka matanya pun tak sanggup.
Isti menyandarkan kepalanya ke lengan Johan yang ada di sampingnya.Johan tersenyum ke arah teman-temannya.
"It's time for s*x. Ayo! Bantu aku!" Johan melemparkan gantungan kunci ke salah seorang temannya dengan senyum kemenangan.
"Kenapa ga kasih obat perangs*ng aja?" tanya temannya yang mengikuti dari belakang Johan.
"Aku takut dia berontak, terus lari. Kalo ini kan benar-benar uda ga sadar, dan aku yang pegang kendali" sahut Johan sambil memapah tubuh Isti yang kesadarannya sudah tidak sempurna.
Tak sabar pria itu menggendong Isti ke mobil yang sudah terbuka, tidak ada penolakan dari wanita lemah ini, hanya suara racauan yang tak jelas.
"Gila kamu Jo....kamu menikmati dia saat dia ga sadar, ga ada feel nya bro" ucap temannya.
"Itu urusanku" ujar Johan yang meletakkan Isti di tempat duduk samping pengemudi.
Johan menuju rumahnya. Sesekali ia menoleh kepada Isti yang sudah terlelap.
Dia tersenyum penuh kelicikan.