“Apa harus?” Nabila masih memikirkan hal itu, obrolan rahasia kedua orang tuanya. “Tapi, pak Rendi itu atasanku sama mas Hanif. Aneh-aneh aja kamu ini, Na!” imbuhnya meratapi.
Cuti yang sudah diambil beberapa waktu lalu, terpaksa Nabila batalkan. Setelah merasa cukup berdiam diri, hari itu Nabila kembali bekerja meskipun mentalnya masih rawan terguncang saat ada yang menanyakan tentang pernikahannya bersama Hanif itu.
“Undangan siapa?” Nabila mengerutkan kening tipis, di mejanya sudah ada undangan pernikahan.
“Hanif sama Daisy,” jawab salah seorang timnya. “Kalian bener bubaran, Na? Bukannya, kalian yang mau nikah, kok Daisy?”
Nabila hanya mengedikkan kedua bahunya, lalu membuang undangan itu ke tong sampah, hal yang sama Nabila lakukan pada bekas undangan miliknya yang belum sempat dibagikan.
“Bisa-bisanya, mereka nikah ditanggal itu!” batin Nabila kesal, tangannya mengepal kuat, hampir saja Nabila lepas kendali, beruntung teleponnya berdering dan memaksa Nabila beranjak.
Panggilan penting dari kepala divisi pagi itu, mau tak mau Nabila mengesampingkan semua urusan pribadinya dan fokus bekerja. Akan tetapi, kenyataan memang lebih sering menyakiti daripada harapan. Siang itu, kantor meminta Nabila datang ke pusat untuk mengikuti pertemuan bulanan mewakili divisi mereka, ajang bergantian dan kebetulan waktunya sangat pas dengan Nabila yang tak jadi cuti persiapan menjelang pernikahan.
Bagaimana kalau bertemu Hanif? Itu saja yang Nabila pikirkan hingga makan siang terlewatkan begitu saja.
“Na, kamu di sini?” Hanif melihat Nabila yang baru saja masuk, lelaki itu tampak serba salah.
Nabila hanya menatap sebentar, lalu berjalan menuju kursinya, bagi Nabila sudah tidak ada Hanif di sana, tidak peduli lelaki itu mau berbuat apa pun. Namun, sialnya Hanif justru mendekat dan pindah duduk ke samping Nabila.
“Aku senang kamu udah balik kerja, Na. Aku beneran khawatir, kepikiran kamu gimana kalau sampe sakit. Na, sumpah nggak nyangka kalau bakal ketemu kamu lag—”
“Bisa diam?” sergah Nabila tampak malas, walaupun dulu bertemu lelaki itu sangat Nabila tunggu.
“Maaf, Na, maaf!”
Nabila menghela nafasnya cukup berat, ruangan itu semakin penuh dan mendesaknya mau tak mau duduk di samping Hanif. Tak sedikit mata menelisik keberadaan keduanya, apalagi memang hubungan mereka diketahui banyak orang karena kerap bersama di berbagai acara kantor. Tetapi, Nabila memasang wajah tidak peduli, bahkan tidak tersenyum sama sekali sampai Rendi memasuki ruangan.
Mereka sempat bertatapan, Nabila memutus lebih dulu, mengingat bukan saatnya menyambungkan urusan pribadi di sana meskipun kedua orang tua mereka saling kenal.
“Bisa saya mulai rapatnya?” tanya Rendi melihat ke seluruh peserta.
“Bisa, Pak.”
Rendi mengangguk, ia pun memulai pertemuan itu dengan pembahasan yang cukup panjang. Dua kali Nabila bersuara di sana, menyambung perdebatan kecil untuk memperoleh kesepakatan. Wanita itu lega karena mampu mengesampingkan urusan pribadi sehingga kegiatan hari itu lancar.
Namun, saat hendak berkemas dan pulang, Hanif dengan sengaja menunggu sampai Nabila ke luar, lalu menghalangi jalannya.
“Dengerin aku sekali aja, Na!” pinta Hanif, ia berjalan mundur karena Nabila tak mau berhenti. “Na, tolong!”
“Mas Hanif!”
Sial!
Nabila sekilas memejamkan mata, itu yang tidak dia suka, kedatangan si biang masalah, Daisy. Sebisa mungkin di kantor itu Nabila menahan diri agar nama baik mereka terjaga, tetapi Daisy mampu merusak semuanya.
“Daisy?” Hanif kaget.
“Ngapain kamu mohon-mohon ke dia, hem?” tanya wanita itu. “Apa jangan-jangan cewek jilbaban munafik ini yang sengaja ngejar kamu, terus dateng ke kantor pusat cuman buat maksa kamu nikahin dia?”
“Daisy, jangan ngomong sembarangan!” titah Hanif bingung mau berlari ke siapa, Nabila atau Daisy.
“Sembarangan gimana, hah? Udah jelas dia sok mahal aja, padahal sama aja jual murah!” kata Daisy kasar. “Kamu mau rebut calon suami aku, kan? Kamu nggak inget kalau ada calon anaknya di perutku, Nabila? Tega kamu?”
Nabila melihat sekitar, demi apa pun wanita itu masih memikirkan nama baik mereka semua di masa mendatang. Hanif memang salah dan dibenci, tetapi kalau sampai nama Hanif buruk, lalu lelaki itu dipecat bisa rusak masa depannya, Nabila tak sampai hati, apalagi memikirkan nyawa kecil yang ada di perut Daisy. Maka, dia diam saja.
“Kenapa diem? Bener tebakan aku?”
Bersamaan dengan itu, Rendi sedang berjalan ke luar bersama sekretarisnya, mereka berhenti karena mendengar teriakan Daisy memaki Nabila.
“DASAR NGGAK PUNYA HATI! MUKA-MUKA PELAKOR! NGGAK TAU DIRI! MUNAFIK!” ucap Daisy semakin membuat Nabila terpojok dan Hanif malu.
“Ada apa ini?” Rendi melebarkan langkahnya, citra perusahaan itu lebih penting dan harus ia jaga. “Kenapa, Nif?”
Hanif gelagapan, mau setinggi apa jabatannya, dia tetap pegawai yang harus tunduk dan patuh pada atasannya.
“Ini, pegawai Bapak yang—”
“Mas Rendi, pulang bareng, boleh?” sambar Nabila ke sisi Rendi, wanita itu mengerlingkan matanya memberi isyarat agar Rendi mau menolong.
“Mas?” ucap Daisy dan Hanif bersamaan. “Kamu panggil Pak Rendi dengan sebutan ‘Mas’?” itu, Hanif yang bertanya.
Nabila mengangguk. “Kenapa? Nggak boleh? Pak Rendi itu calon suamiku!”
***
“Maaf,” ucap Nabila lirih, setelah Hanif membawa Daisy pergi, lalu terpaksa Nabila menumpang pada Rendi sore itu. “Saya terpaksa mengatakan itu, sekali lagi saya minta maaf, Pak!”
Rendi masih betah diam, tetapi penuh akan syarat. Lelaki berjas gelap itu mengotak-atik ponselnya tanpa melihat ke arah Nabila sama sekali, sedangkan Nabila salah tingkah saking malunya pada sekretaris bosnya itu yang mengantar pulang.
“Pak, saya turun di halte itu aja, nanti bisa naik bis—”
“Saya antarkan ke rumah,” potong Rendi masih menatap layar pipihnya.
“Jangan, Pak! Tidak perlu!” tolaknya.
“Kenapa?” Rendi masih di posisi yang sama.
“Abah sama umik bisa kepikiran yang enggak-enggak,” jawab Nabila yang langsung membuat Rendi paham arahnya ke mana, kemarin orang tuanya juga membahas soal perjodohan dengan Nabila, tetapi lelaki itu belum menjawab.
“Jawab saja kalau kamu tidak mau dan saya juga sama, itu sudah cukup, bukan?” Rendi mengangkat kepalanya dan menoleh. “Atau kamu memang berharap menikah dengan saya seperti katamu tadi?”
“ENG-ENGGAK!” Nabila kontan membekap mulutnya. “Maaf, Pak!”
Rendi menggelengkan kepalanya, berdecak lirih menilai wanita di sampingnya itu, sama sekali bukan tipenya, tertarik saja tidak pada Nabila yang tertutup dan terkesan seperti ibu-ibu.
“Maaf, Pak Rendi,” ucap Nabila lagi.
“Hem.” Rendi bergumam, lalu meminta berhenti di depan halte. “Silakan turun!”
“Iya?” Nabila mengerjap bingung. “Bapak nurunin saya di sini?”
“Iya, saya terganggu sama kamu, apalagi suara kamu itu!” Rendi menggosok telinganya. “Sudah, turun sana! Dan satu lagi, saya tidak berharap juga, mengerti?”
Nabila mencebik, sedikit menghentak sebelah kakinya sebelum benar-benar turun, sudah dibuat emosi oleh Daisy, sekarang Rendi melakukan hal yang sama.
“Amit-amit jadi jodohnya dia! Ketus, jahat, galak!” ucap Nabila sambil mengelus dadanya, beruntung tak lama dari itu bus datang dan ia bisa pulang cepat.
Sisa malam itu, Nabila habiskan dengan banyak diam, kepalanya masih sangat berisik sekaligus tidak mau memancing orang tuanya membahas pernikahan.
Namun, keesokan harinya, Nabila kembali dihadapkan dengan perlawanan Daisy yang mungkin tak akan ada habisnya, di kantor cabang pun wanita itu membuat gaduh dengan merendahkannya.
“Kenapa? Kamu mau nampar aku, Na, iya?” Daisy melirik tangan Nabila yang menggantung, lalu berdecih.
“Kamu itu harusnya malu!” ucap Nabila kesal.
“Malu? Malu itu kalau ngaku calon istrinya bos, padahal cuman akting doang! Itu yang malu!”
“Aku nggak akting!” ucap Nabila bersungut-sunggut.
“Oh ya? Mana buktinya?” Daisy tertawa.
“Ad-ada! Aku kirim undangannya pas kalian nikah!” Nabila mengusap dadanya yang bergemuruh.
Sekarang, undangan apa?