Chapter 11 : Skandal Pernikahan Si Gumiho

1706 Words
Hari itu pagi-pagi sekali Chang Kyun telah meninggalkan Baekdusan, dan tentu saja tanpa sepengetahuannya Roh Gunung dan juga Eun Kwang. Namun pagi itu juga si rubah tua membuat keributan. Memanggil-manggil Roh Gunung dengan panik. "Roh Gunung, Roh Gunung ... Tuan ... gawat, ini benar-benar gawat." Young Jae muncul dari balik Pohon Penyangga Surga. Dan saat itu Eun Kwang segera menghampiri sang Roh Gunung. "Ini benar-benar gawat," ujar Eun Kwang setelah sampai di hadapan Young Jae. Young Jae menyahut dengan santai. "Ada masalah apa?" "Ada mayat, aku menemukan mayat di sini." Sebelah alis Young Jae terangkat. "Di sini? Di Baekdusan?" Eun Kwang mengangguk dengan yakin. "Aku melihat mayat seorang bangsawan wanita." "Siapa yang berani mengotori tempatku?" ucap Young Jae bernada kesal. Keduanya kemudian pergi bersama-sama. Eun Kwang membawa sang Roh Gunung ke tempat di mana ia menemukan mayat yang ia maksud. "Itu dia. Di sebelah sana, Tuan." Eun Kwang berlari mendahului Young Jae. Keduanya melihat jasad seorang wanita muda berada di dekat tebing. Untuk sesaat Young Jae khawatir bahwa Chang Kyun lah yang telah membunuh manusia itu, terlebih dia tidak melihat keberadaan sang Gumiho pagi itu. "Seo Eun Kwang," tegur Young Jae bernada serius. "Ya, Tuan?" "Bukan kau, kan pelakunya?" "Heh?" Eun Kwang tertegun dan langsung menyangkal. "Tidak! Kenapa Tuan berpikir seperti itu? Aku tidak melakukan apapun pada manusia ini. Dia sudah seperti ini saat aku menemukannya." "Di mana Chang Kyun sekarang?" Eun Kwang menggeleng dengan ragu dan bertanya dengan hati-hati. "Jangan bilang jika Tuan mencurigai Tuan Muda." "Coba kau periksa apakah hatinya masih utuh." "Aku?" Eun Kwang sedikit keberatan. "Haruskah aku? Kau menyuruh Roh Gunung melakukan kontak fisik dengan manusia?" "Baiklah ... akan aku lakukan." Dengan berat hati Eun Kwang memeriksa kondisi jasad itu. Dengan hati-hati Eun Kwang membalik tubuh wanita muda malang itu dan langsung terkejut ketika ia menemukan bekas darah yang berada di dad-a sebelah kanan wanita itu. "Tidak mungkin ... Tuan ..." Eun Kwang segera memandang Young Jae dengan tatapan khawatir. "Tidak ada?" "Aku tidak tahu. Pakaiannya hanya berlubang sedikit, tapi bukan bekas cakaran kami." Young Jae kemudian mendekat untuk memastikan sendiri. Eun Kwang pun segera berdiri. "Wanita muda yang malang. Dia pasti belum menikah," ucap Eun Kwang dengan perasaan iba. "Kau tidak bisa mencium bau kawananmu?" Eun Kwang segera menggeleng. "Tidak ada. Tidak ada bau lain selain bau manusia." "Kau melihat Jeoseung Saja berada di sekitar sini." Eun Kwang menjawab setelah mempertimbangkan. "Sepertinya tidak ada, Tuan. Aku belum bertemu dengan Tuan Jeoseung Saja di Baeduksan." "Benar ... jika Jeoseung Saja tidak ada di sini, berarti manusia ini tidak mati di sini." "Maksud Tuan, seseorang membunuhnya dan membuangnya di sini?" "Bisa saja itu disengaja," ucap Young Jae penuh pertimbangan. "Maksud Tuan bagaimana?" "Rumor bahwa seekor Gumiho tinggal di Baeduksan. Kau pernah mengatakan hal itu padaku." "Benar, Tuan. Tapi apa hubungannya?" "Seseorang mungkin saja sedang mengincar Chang Kyun." "Heh?" Eun Kwang segera berucap tak terima. "Jadi orang itu sengaja membuang mayat nona ini di sini dan mengatakan bahwa Tuan Muda yang membunuh nona ini? Benar-benar manusia licik! Ini tidak bisa dibiarkan, Tuan. Kita harus segera memindahkan jasad nona ini." Young Jae memandang Eun Kwang. Setelah sempat terlihat serius, si Roh Gunung kembali bersikap santai. "Jangan terlalu ikut campur dengan urusan manusia." "Tapi jika dibiarkan, Tuan Muda berada dalam bahaya." "Tidak ada satu orang pun yang berani mengusik tempat ini. Pergilah ke kota." Eun Kwang tak habis pikir. "Kenapa Tuan malah menyuruhku pergi ke kota?" "Dapatkan informasi tentang nona ini. Dan juga ... kenapa para manusia itu membuang jasad nona ini di sini." "Tapi ..." "Pergilah sekarang." Eun Kwang menghela napas. Dengan berat hati rubah tua itu lantas menuruti perintah sang Roh Gunung. Sementara itu pandangan Young Jae kembali terjatuh pada jasad gadis malang itu. Young Jae kemudian berjalan mendekati jasad itu dan menjatuhkan satu lututnya. Memperhatikan wajah pucat yang tampak kesakitan meskipun tak ada jiwa yang lagi menaungi. "Kau pasti mengalami kesulitan sebelum pergi. Jangan menangis, kau akan mendapatkan tempat yang lebih layak setelah ini." Young Jae mengangkat telapak tangan kirinya ke udara. Dan saat itu juga satu kelopak dari bunga Pohon Penyangga Surga terlepas. Melayang di udara dan jatuh tepat pada telapak tangan Young Jae. Young Jae mengambil kelopak bunga itu yang kemudian ia letakkan pada punggung tangan jasad gadis itu. Dalam hitungan detik, kelopak bunga menghilang, seperti menyusup ke lapisan kulit punggung tangan jasad gadis itu. "Berbahagialah." Roh Gunung lantas menghilang, meninggalkan jasad gadis muda itu yang tidak lain adalah Kim Si Hyeon—putri dari bangsawan Kim yang tengah dalam perjalanan ke istana untuk bertemu dengan calon suaminya. Namun entah apa yang terjadi sehingga ia harus berakhir di Baekdusan dalam keadaan tak bernyawa. THE PRECIOUS KING AND THE NINE TAILED// Hanyang. Kembali ke Ibu Kota. Kala itu tercipta sebuah kerumunan di salah satu sudut kota dan kebanyakan di antara mereka adalah para pemuda. Mereka berkerumun di depan papan pengumuman untuk mencari tahu apakah nama mereka termasuk ke dalam daftar peserta ujian yang lolos dalam ujian masuk Sungkyunkwan sebelumnya atau tidak. "Apa-apaan ini? Aku sudah mencoba dua tahun berturut-turut, tapi kenapa masih seperti ini?!" sebuah protes terdengar. Bukan hanya itu, beberapa pemuda yang berhasil lulus ujian masuk Sungkyunkwan bersorak gembira. Namun yang tidak lulus meluapkan emosinya sembari pergi. "Aku ingin tahu siapa yang mendapatkan nilai terbaik tahun ini," ucap salah seorang pemuda yang langsung memeriksa daftar nama. Dan seketika pemuda itu terkejut. "Heol! Apa ini? Siapa yang mendapatkan nilai sempurna?" "Kau bilang apa?" pemuda lain menyahut. Para pemuda itu kembali berkerumun dan salah satu dari mereka berucap lantang. "Apa-apaan ini? Bagaimana mungkin dia menjawab semua soal dengan benar? Apakah dia bukan manusia?" "Siapa namanya?" "Shin Chang Kyun." "Shin Chang Kyun? Di mana orangnya? Ya! Yang bernama Shin Chang Kyun, keluarlah jika kau ada di sini." Tak ada yang keluar dan mengaku sebagai Shin Chang Kyun meski para pemuda itu membuat keributan. Hingga pada akhirnya satu persatu dari mereka pergi sembari menggosipkan peringkat pertama dalam ujian masuk Sungkyunkwan tahun itu. Dan tentunya mendapatkan nilai sempurna dalam ujian masuk bukanlah hal yang biasa. Itulah sebabnya para pemuda itu merasa tak terima. Dan setelah para pemuda itu pergi, Chang Kyun datang. Berdiri di depan papan pengumaman dan menemukan namanya berada di urutan pertama dengan nilai tertinggi. Dan itu berarti, mulai besok dia resmi menjadi Pelajar Konfusius Sungkyunkwan. Namun meski begitu, kabar baik itu tak mampu menciptakan segaris senyum pun di wajah sang Gumiho. Chang Kyun kemudian meninggalkan tempat itu. Sepertinya dia harus melakukan persiapan untuk memasuki Sungkyunkwan besok. Dan sepertinya dia tidak akan kembali ke Baekdusan untuk malam ini. Berjalan di area pasar, Chang Kyun sekedar melihat-lihat apa saja yang ia lewati. Namun saat itu keributan di ujung jalan berhasil menarik perhatian sang Gumiho. "Beri jalan!" teriak seorang prajurit berkuda dan langsung membuat semua orang menyingkir dari jalan. Chang Kyun menghentikan langkahnya dan memperhatikan si prajurit yang hendak berpapasan dengannya. Namun saat itu seseorang tiba-tiba menarik lengan Chang Kyun agar pemuda itu lebih menepi. Chang Kyun segera memandang seseorang yang baru saja menarik tangannya dan menemukan si Jeoseung Saja. "Kau bisa saja terluka jika berdiri di situ," tegur si Jeoseung Saja. Chang Kyun sejenak memandang sekitar untuk memastikan apakah para manusia di sana bisa memandang si Dewa Kematian sebelum ia menyahuti si Dewa Kematian. Karena akan merugikan baginya jika para manusia melihatnya berbicara sendirian. Seakan mengerti kekhawatiran Chang Kyun, si Jeoseung Saja menegur. "Mereka bisa melihatku." Chang Kyun kemudian bersedia menyahuti si Jeoseung Saja. "Kenapa Hyeongnim ada di sini? Apakah ada yang akan mati?" Kalimat bersahabat yang menunjukkan bahwa keduanya sudah mengenal dengan cukup dekat. "Aku hanya berjalan-jalan sebentar setelah bertugas." "Siapa yang baru saja mati?" "Kau lihat prajurit yang tadi?" Chang Kyun mengangguk. "Dia membawa berita itu." "Seseorang dari istana?" Si Jeoseung Saja tiba-tiba tersenyum lebar. "Jangan terlalu banyak bertanya padaku. Aku akan mendapatkan masalah jika membocorkan informasi kepada manusia." "Aku bukan manusia." "Heh?" Si Jeoseung Saja tertegun. Dia baru sadar bahwa yang berada di hadapannya saat ini bukanlah manusia. Pria itu kembali tersenyum lebar. "Kau sangat mirip dengan mereka sehingga aku sulit untuk membedakannya." Keduanya kemudian melanjutkan pembicaraan sembari berjalan. Dan si Jeoseung Saja lah yang berbicara lebih dulu. "Tapi ... aku merasa penasaran." "Tentang apa?" "Aku sering melihatmu berada di Hanyang. Apa yang sebenarnya sedang kau lakukan di sini?" "Aku akan bersekolah." Dahi si Jeoseung Saja mengernyit. "Sekolah? Maksudmu Sungkyunkwan?" Chang Kyun mengangguk dan membuat si Jeoseung Saja menatap tak percaya. "Kau benar-benar ingin masuk Sungkyunkwan? Kau akan belajar Konfusius?" "Aku baru saja lulus ujian. Besok aku akan pergi ke Sungkyunkwan." Si Jeoseung Saja tersenyum tak percaya. "Biar aku tebak, pasti Roh Gunung tidak tahu tentang hal ini." "Meski Hyeongnim bertemu dengan Roh Gunung, Hyeongnim jangan memberitahunya. Dia selalu melarangku pergi ke Hanyang." "Kau tahu kenapa Roh Gunung melarangmu pergi ke Hanyang?" Langkah Chang Kyun berhenti, begitupun dengan langkah si Jeoseung Saja. Chang Kyun kemudian menghadap ke arah si Jeoseung Saja. "Apakah Roh Gunung mengatakan sesuatu pada Hyeongnim?" "Dia melakukannya untuk melindungimu." "Aku?" Si Jeoseung Saja sejenak menepuk bahu Chang Kyun. "Dia akan merasa sangat sedih jika kau terluka. Itulah sebabnya Roh Gunung tidak mengizinkanmu pergi terlalu jauh." Si Jeoseung Saja kembali menarik tangannya. "Sebelum dia murka, akan lebih baik jika kau mengatakan dengan jujur padanya. Kalau begitu ... aku harus bertugas. Senang melihatmu di sini, Rubah kecil." Si Jeoseung Saja kemudian langsung menghilang dari pandangan semua orang. Sementara Chang Kyun terpaku pada ucapan si Jeoseung Saja sebelum pria itu pergi. Kenapa Roh Gunung khawatir jika dia akan terluka, itulah yang membuat Chang Kyun berpikir. Chang Kyun kemudian berkata, "aku berusia tujuh ratus tahun sekarang. Aku bukan rubah kecil lagi." Bola mata Chang Kyun bergerak ke atas ketika dia merasakan ada yang bergerak-gerak di atas kepalanya. Apa lagi jika bukan telinga rubahnya yang tiba-tiba menyembul dari kepala, namun kali ini hanya satu. Dan untungnya saat itu Chang Kyun tengah menggunakan gat. Namun akan menjadi masalah jika manusia di sana tahu bahwa dia hanya memiliki satu telinga. Chang Kyun tiba-tiba menggeleng dan telinga manusianya yang sempat menghilang lantas kembali. Setelah itu sang rubah kembali melanjutkan perjalanan. Sementara itu si Jeoseung Saja yang berdiri di atas atap bangunan tersenyum ketika melihat tingkah sang Gumiho. "Sudah tujuh ratus tahun, tapi kenapa dia belum bisa mengendalikan telinganya." Si Jeoseung Saja tersenyum lebar sebelum benar-benar menghilang dari tempat itu. THE PRECIOUS KING AND THE NINE TAILED
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD