"Yang Mulia ... Putra Mahkota datang berkunjung," suara Kasim Hong dari luar ruangan berhasil menarik perhatian sang Raja.
Baginda Raja kemudian menyahut, "biarkan dia masuk."
Pintu terbuka, Jin Young dengan wujud Putra Mahkota Yi Geum berjalan masuk. Berhenti di tengah ruangan, Jin Young duduk bersimpuh dan sejenak memberikan salam. Berusaha untuk menjadi Putra Mahkota yang sesungguhnya.
Baginda Raja yang tampak murung lantas menegur sang rubah yang telah mengambil alih kehidupan putranya. "Bagaimana perjalananmu? Kau kembali lebih cepat."
"Berkat Yang Mulia, hamba memiliki perjalanan yang baik."
"Begitu rupanya. Kau pasti sudah mendengar kabar tentang adikmu."
"Apakah yang sedang Yang Mulia bicarakan adalah Pangeran Yi Tan?"
Baginda Raja sempat heran mendengar pertanyaan Jin Young, namun pria itu tak terlalu menganggap bahwa hal itu perlu dipermasalahkan.
"Dia pergi dari istana karena marah. Setelah dia merasa lebih tenang, dia pasti akan kembali. Kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun, Putra Mahkota. Kau hanya perlu menenangkan fraksi barat. Mereka pasti akan menentang jika Pangeran Yi Tan yang naik takhta menggantikanmu."
"Aku menolak," ucap Jin Young, menunjukkan sikap tegas yang tak pernah ditunjukkan oleh Putra Mahkota Yi Geum selama ini.
Baginda Raja tentu saja terkejut dengan perkataan Jin Young. "Apa maksudmu dengan berbicara seperti itu, Putra Mahkota?"
"Hamba menolak untuk memberikan takhta ini kepada siapapun. Hamba menolak untuk menjadi Putra Mahkota yang dilengserkan, Yang Mulia."
Baginda Raja terperangah, menatap tak percaya. "P-Putra Mahkota ... apa yang baru saja kau bicarakan?"
Jin Young menatap tajam sang Raja dengan terang-terangan seakan ingin menunjukkan bahwa dialah yang paling berkuasa di sana.
"Kenapa aku harus meninggalkan takhta ini dan menyerahkannya kepada setengah bangsawan itu?"
Perubahan pada cara bicara Jin Young membuat Baginda Raja kesulitan untuk menentukan sikap. Tentu saja sang Raja merasa bingung dengan sikap sang Putra Mahkota yang benar-benar berbeda dari sebelumnya.
Jin Young kembali berbicara. "Bukankah ini akan menjadi penghinaan bagiku dan juga fraksi barat, Ayahanda?"
"Putra Mahkota ... apa yang sebenarnya terjadi padamu? Bukankah kita sudah sepakat untuk melakukannya?"
"Entah kesepakatan apa itu. Aku membatalkan semuanya. Aku ... tidak bersedia untuk dilengserkan."
Jin Young kemudian berdiri dan berniat untuk pergi begitu saja. Namun saat itu Baginda Raja langsung menggebrak meja. Setelah berhasil menguasai kebingungannya, sang Raja bersikap sedikit lebih tegas.
"Apa yang sebenarnya sedang kau pikirkan, Putra Mahkota? Kenapa kau tiba-tiba berubah pikiran?"
"Aku hanya merasa bahwa ini tidak adil untukku. Aku merasa bahwa Ayahanda berniat untuk mengusirku dari istana."
"Pikiran macam apa itu, Putra Mahkota? Kenapa kau tiba-tiba berbicara seperti ini? Kau ... kau tahu bahwa kau tidak akan bisa terus mempertahankan takhta."
"Kenapa tidak bisa? Berikan aku alasan yang masuk akal, Ayahanda."
Baginda Raja menatap tak percaya. Dan suara keduanya yang meninggi membuat Kasim Hong yang berdiri di luar ruangan tampak bertanya-tanya tentang apakah yang sedang terjadi di dalam. Pasalnya tak pernah terjadi keributan setiap kali Putra Mahkota Yi Geum datang berkunjung.
Baginda Raja kemudian berdiri dan berbicara dengan lebih tenang. "Kau ... tidak bisa memiliki keturunan."
Batin Jin Young tersentak, itukah alasan kenapa Putra Mahkota yang ia ambil kehidupannya itu hendak dilengserkan.
"Ini pasti terasa tidak adil bagimu. Tapi semua ini harus dilakukan untuk masa depan Joseon. Seorang Putra Mahkota yang tidak bisa memiliki keturunan tidak akan pernah bisa menjadi seorang Raja. Seorang pemimpin harus menunjukkan masa depan bagi negerinya. Dan kau tidak bisa melakukannya, Putra Mahkota."
Baginda Raja menghela napas sebelum kembali berbicara. "Sekarang katakan alasannya padaku. Kenapa kau bersikap seperti ini?"
Tak ingin memberikan jawaban, Jin Young justru mengatakan hal lain. "Bagaimana jika aku memiliki keturunan?"
"Apa yang kau bicarakan, Putra Mahkota?"
"Bagaimana jika aku bisa memberikan keturunan? Apakah Ayahanda akan berubah pikiran dan kembali memihakku?"
"Hentikan sampai di sini, Putra Mahkota. Kau hanya akan melukai dirimu sendiri."
Jin Young tersenyum miring, dan hal sederhana itu mampu menyentak batin sang Raja.
"Aku akan memberikannya pada Ayahanda," ucap Jin Young kemudian.
Baginda Raja menatap ragu. "Apa yang akan kau berikan, Putra Mahkota?"
"Pewaris takhta, aku akan memberikan seorang putra kepada Ayahanda. Aku akan memastikan hal itu."
Jin Young kemudian berbalik dan pergi dengan langkah lebar serta bahu yang tegap. Meninggalkan Baginda Raja yang terperangah.
"Putra Mahkota!" tegur Baginda Raja dengan suara yang lantang dan menghentikan langkah Jin Young di ambang pintu.
Jin Young hanya menoleh sekilas dan pergi tanpa mengucapkan apapun. Dan saat itu Baginda Raja langsung terduduk kembali. Batinnya terguncang setelah menghadapi siluman rubah yang menyamar sebagai putranya.
Kasim Hong pun menutup pintu dari dalam dan menghampiri Baginda Raja. Dengan perasaan khawatir Kasim Hong menegur. "Apa yang sudah terjadi, Yang Mulia?"
Baginda Raja menjawab dengan ragu. "Aku tidak tahu? Kenapa Putra Mahkota tiba-tiba bersikap seperti ini?" Baginda Raja lantas memandang Kasim Hong dan sedikit menuntut. "Apa sebenarnya yang terjadi pada Putra Mahkota? Aku benar-benar tidak mengerti ada apa dengannya."
Kasim Hong menyahut dengan ragu. "Hamba menyesal harus mengatakan ini kepada Yang Mulia."
"Katakan."
"Menurut Kasim Choi ... di malam sebelum kembali ke Hanyang, Putra Mahkota berpamitan akan berjalan-jalan sebentar dan menyuruh Kasim Choi untuk beristirahat lebih dulu. Menurut penjelasan Kasim Choi, saat itu Putra Mahkota masih terlihat seperti biasa."
"Lalu apa yang terjadi?"
"Pagi harinya Kasim Choi mendatangi kamar Putra Mahkota dan menemukan bercak darah yang cukup banyak di lantai, Yang Mulia."
Dahi Baginda Raja mengernyit. "Cepat katakan."
"Kasim Choi berpikir bahwa Putra Mahkota sedang terluka. Tapi Putra baik-baik saja dan mengatakan bahwa saat keluar semalam Putra Mahkota bertemu dengan bab-i hutan dan tidak sengaja membunuh bab-i hutan itu, Yang Mulia."
"Kalau begitu apa masalahnya?"
Kasim Hong berucap dengan lebih ragu. "Menurut Kasim Choi ... sejak saat itulah sikap Putra Mahkota berubah. Selain itu, Putra Mahkota juga kerap menanyakan hal-hal yang sudah Putra Mahkota ketahui sebelumnya. Hanya itu yang bisa hamba sampaikan, Yang Mulia."
Baginda Raja memalingkan wajahnya. Merasa sangat cemas dengan semua yang terjadi di sekitarnya. Belum selesai masalah pernikahan Yi Tan, sang Raja harus dihadapkan dengan siluman rubah yang tengah berusaha memanipulasi keadaan.
Sang Raja kemudian bergumam, "seorang putra? Apa yang sebenarnya sedang dia pikirkan?"
THE PRECIOUS KING AND THE NINE TAILED//
Satu minggu kemudian.
Fajar menyingsing, pagi itu Yi Tan mengganti pakaiannya dengan pakaian berburu dan mengejutkan Seon Dol yang kala itu tengah menyapu halaman.
"Pangeran, ke mana Pangeran akan pergi dengan pakaian seperti ini?"
"Tolong siapkan kudaku," ucap Yi Tan, terlihat mengabaikan teguran Seon Dol.
"Tapi, Pangeran ..."
"Bergegaslah."
Melihat sikap Yi Tan yang berbeda, Seon Dol segera berlari menuju halaman belakang dan kembali dengan membawa kuda sang Pangeran.
Yi Tan turun ke halaman sembari menyelipkan pedang di pinggangnya. Melihat bahwa Yi Tan juga membawa panah, Seon Dol sangat yakin bahwa sang Pangeran akan pergi berburu. Namun yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, apakah yang akan diburu oleh sang Pangeran.
Seon Dol menegur dengan ragu. "Pangeran ... sebenarnya Pangeran ingin pergi ke mana dengan pakaian seperti ini?"
"Meski kau mengetahuinya, berpura-pura lah tidak tahu jika ada orang yang menanyakan kepergianku."
Seon Dol terkejut. "Pangeran, jangan bilang jika Pangeran ingin ..."
Yi Tan sekilas memandang dan berpamitan. "Aku pergi sekarang, tetap rahasiakan hal ini."
Yi Tan menuntun kudanya keluar halaman rumahnya. Sementara Seon Dol yang tampak sangat khawatir lantas mengikuti sang Pangeran.
Seon Dol mencoba untuk membujuk. "Pangeran ... haruskah Pangeran melakukan hal ini? Apa yang Pangeran lakukan ini sangat berbahaya. Tidak bisakah Pangeran tidak pergi?"
Yi Tan kembali mengabaikan Seon Dol dan naik ke kuda.
"Pangeran ..." Seon Dol tiba-tiba merengek.
"Aku akan kembali, jadi jangan membuat keributan."
Setalah mengatakan kalimat singkat itu, Yi Tan segera menunggangi kudanya meninggalkan kediaman.
"Pangeran ... Aigoo! Kenapa dia tetap pergi?"
Kasim Jang datang dari halaman dengan cara berlari kecil. "Ada apa? Ada apa? Ke mana Pangeran ingin pergi pagi-pagi begini?"
Seon Dol memandang dengan wajah yang masih terlihat memelas. "Dia sudah pergi, untuk apa kau bertanya?"
Seon Dol lantas kembali ke halaman dengan langkah yang terlihat kesal. Sementara Kasim Jang terlihat bingung.
"Kenapa dia malah marah padaku?" Kasim Jang sejenak memperhatikan ujung jalan yang sudah kosong. "Apakah Pangeran ingin berburu? Kenapa memakai pakaian seperti itu?"
Kasim Jang kemudian kembali memasuki halaman. Sementara itu Yi Tan menunggangi kudanya untuk meninggalkan Hanyang. Dan ketika ia melewati gerbang masuk Hanyang, saat itu dia berpapasan dengan Shin Chang Kyun yang hendak memasuki wilayah Hanyang.
Yi Tan sendiri saat itu dalam perjalanan ke Baekdusan untuk menemukan Gumiho yang dirumorkan telah merenggut nyawa calon istrinya. Namun tanpa ia sadari bahwa Gumiho yang ia cari justru berada di Hanyang dan baru saja berpapasan dengannya. Membawa perasaan marah setelah kesedihan itu menghilang, Yi Tan bertekad untuk menangkap si siluman rubah ekor sembilan bagaimanapun caranya. Meski dia harus mengorbankan nyawanya sendiri.
THE PRECIOUS KING AND THE NINE TAILED//