Awal atau Akhir

1516 Words
Nada tak menyangka pernikahan yang tak dingginkannya kini menjadi sesuatu yang paling diinginkan saat ini. Malam itu, semua cerita tentang awal pertemuan mereka terkuak. Bagaimana seorang Dareen terpana dengan keindahan gadis pengagum bunga itu. Ya, pertemuan mereka adalah di ladang bunga di atas bukit, tempat biasa Nada memetik bunga untuk dijualnya. Hanya saja, gadis itu takingat sama sekali. Sungguh, ini sangat menarik menurutnya karena ternyata pertemuan itu yang membawa mereka kepada pernikahan. Kalau bertanya siapa yang mulai jatuh cinta? Tentu saja Dareen. Lelaki itu, rela memborong semua bunga di tokonya demi bisa melihat wajah teduh sang terkasih. Nada tentu takpernah tahu bahkan hapal semua pelanggannya. Lucu, bukan? “Lagi mikir apa?” Dareen duduk di pinggir kasur dan menatap istrinya yang melamun. “Lagi mikir sesuatu,” jawabnya dengan senyum menggoda. “Sesuatu apa? Bukan lagi mikirin seseorang kan?” “Iya, dong. Mikirin seseorang, dong,” tutur Nada sembari tersenyum jahil. Dareen sedikit cemberut mendengar jawaban singkat wanita di sampingnya. “Seseorangnya ya kamu, memang siapa lagi.” Nada tertawa kecil melihat tingkah lucu sang suami.     Lelaki itu hanya tersenyum kecut dengan kelakuan aneh sang istri. Tangannya mencubit pelan pipi chuby Nada, sedangkan yang dicubit masih terus tertawa. “Saya hari ini ada sedikit kerjaan, jadi kamu malam ini tidur sendiri, ya. Saya di ruang baca.” Kali ini giliran Nada yang mengerucutkan bibirnya. Dareen yang melihat tanggapan Nada, mengecup bibir manis itu. Kemudian pergi dan meninggalkan istrinya dalam kesendirian. Rasa kesepian menghinggapi Nada. Setelah berpikir panjang kegiatan yang akan dilakukan untuk menunggu Dareen. Akhirnya, Nada memutuskan menelepon Arelia. Namun, sayangnya teleponnya berulang kali tak diangkat. Dilempar pelan ponselnya dan napas pelan terembuskan. Hal ini benar-benar membuatnya taktahu mesti melakukan apa. Akhirnya dilangkahkan kakinya menuju ruang keluarga. Mungkin menonton bisa sedikit menghilangkan kebosanan yang saat ini melanda, begitu pikirnya. Belum sempat sampai di ruang keluarga, dirinya terheran dengan pintu ruang baca yang sedikit terbuka. Dilangkahkan kakinya untuk sekadar menutup agar aktivitas menontonya tak mengganggu sang suami. Namun, sebuah pemandangan yang tidak diduga terpampang jelas tepat di depan matanya. Erina, pembantu muda di rumah itu, sedang terduduk di pangkuan Dareen. Tangannya mengelus lembut pipi lelaki itu. Pakaian yang dikenakannya begitu terbuka dan memperlihatkan bagian tubuhnya. Nada sadar bahwa itu adalah lingeri miliknya yang hilang. Nada membanting pintu ruang baca dan berlari ke luar. Entah ke mana kakinya akan membawanya lari, yang wanita itu tahu, saat ini ia hanya ingin pergi jauh. Dareen yang sadar dengan keberadaan Nada langsung bangkit dan mengejar. Hujan seakan tahu kapan harus keluar. Langit bergemuruh dan dengan derasnya menumpahkan air. Wanita itu terus dan terus berlari menembus ribuan butir air langit. “Nada!” teriak Dareen yang sudah basah oleh air hujan. Jarak mereka kini tak begitu jauh. Namun, nahas sebuah mobil melaju kencang ke arah Nada. Lelaki itu mempercepat laju larinya dan membanting tubuh Nada ke samping. Alhasil, tubuhnya melayang dikarenakan benturan yang begitu dahsyat. Mata lelaki itu melihat nanar wanita yang sangat dicintainya. Darah segar yang mengalir di sekujur tubuhnya tak dihiraukan. Bahkan hawa dingin aspal tak mampu untuk membuatnya berpaling menatap Nada. Tubuh lelaki itu kaku dan tak bisa untuk sekadar menggerakan jari. Bulir air mata jatuh membasahi wajah. Kemudian gelap baginya. *** Nada membuka matanya. Melihat sekeliling. Sebuah ruangan kecil dengan dinding berwarna putih. Bau alkohol dan obat-obatan menyeruak di seisi ruang. Hal yang didengarnya hanya suara jarum jam yang berdetak. Terlihat jelas jarum jam menunjukan pukul 03.15. Wanita itu terus bertanya dalam hati tanpa jawab. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa dirinya tertidur di kasur? Tubuhnya sungguh begitu perih dan sakit bahkan untuk bergerak saja sudah tidak sanggup. Matanya mencari sosok yang terakhir diingatnya. Ya, Dareen. “Sudah bangun.” Sebuah suara terdengar beriringan dengan derit pintu. “Mah, kenapa Nada ada di sini? Di mana Dareen, Mah?” tanyanya pelan. Mamah yang dimintai jawaban hanya terdiam. Kemudian tersenyum sendu. Netranya yang teduh menatap Nada. “Nanti kita melihat Dareen, ya. Sekarang kamu harus sembuh dulu,” jawab Mamah. “Dareen ... baik-baik aja kan?” tanyanya lagi. Kali ini Mamah sudah tidak mampu untuk membendung air mata. Ditangkupkan wajahnya dengan kedua telapak tangan. Suara sesenggukan keluar mengisi seisi ruangan. “Mah, ada apa? Dareen ... Dareen ... baik-baik aja kan?” Kali ini pertanyaan itu diikuti dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya. Segala pikiran negatif bertamu dalam pikiran Nada. Sungguh, dirinya tidak ingin mendengar kabar buruk. Semua ini terjadi karenanya, tentu kalau ia tak lari saat itu, semua hal baik yang mungkin terjadi. “Dareen sudah meninggal. Dareen sudah meninggal, Nada,” tutur Mamah kemudian. Seakan dunianya runtuh. Tubuh Nada menggigil. Ia meraung memanggil nama kekasihnya. Berteriak, tetapi tak mampu bergerak. “Semua salah Nada, Mah. Semua salah Nada,” teriaknya. Mamah memeluk tubuh Nada yang terbaring. Menangkupkan wajah Nada ke dalam dekapan. *** Hari ini, tepat tiga hari setelah kepergian Dareen. Lelaki yang sudah mengisi hari-harinya dengan tawa, kini sudah pergi dan tidak dapat lagi ditemui. Nada masih setia menunggu di rumah mereka. Mengenang setiap jengkal jejak Dareen yang tertinggal. Walau pernikahan mereka baru berumur lima hari, tetapi sosoknya seakan tidak mudah untuk hilang dari ingatan. Nada duduk di meja kerja Dareen. Menatap layar laptop yang baru saja dihidupkan. Sebuah video mengalihkan pandangannya. Terpampang jelas karena belum sempat ditutup oleh yang punya. Lelaki itu berbicara menghadap kamera. Hal ini seakan ia berbicara langsung dengan Nada. Wanita itu menatap nanar dan menangis saat sebuah kalimat terucap. “Di mana pun dan dalam kehidupan apa pun, aku akan berkali-kali jatuh cinta dan memilihmu. Kemudian menikah denganmu. Buatku, hanya kamu yang bisa mengisi kekosongan dalam diri ini. Terima kasih sudah mau menerima lelaki seperti aku. Selamat ulang tahun dan teruslah bahagia.” Pertahanannya jebol saat mendengar kalimat yang Dareen ucapkan. Wanita itu, dalam kesendiriannya, menangis dan memanggil nama sang suami berulang kali. Ternyata yang dilihatnya saat itu adalah kesalahpahaman. Bukan Dareen yang menggoda Erina, melainkan wanita hina itu yang menggoda suaminya. Sunguh, kenapa pikirannya begitu sempit saat itu? Kenapa ia tak mau untuk sekadar mendengarkan penjelasan Dareen? Kini tangisnya semakin kencang. *** “Nada, ayo kita keluar. Jangan ngurung diri terus di kamar,” ucap Arelia di Minggu sore. Wanita yang dipanggil hanya bergeming. Tidak menghiraukan perkataan sang sahabat. Dirinya memilih terus mengurung diri dan menyalahkan semua keadaan. Sampai akhirnya teriakan Arelia membuatnya tersadar. “Mau sampai kapan nyalahin diri sendiri? Kamu pikir Dareen nyelamatin kamu cuma buat bikin kamu jadi kayak gini. Sadar, Nada. Dareen pasti ingin kamu bahagia.” Perkataan itu diikuti dengan air mata Arelia yang mengalir membasahi wajahnya. Nada terkesiap. Ia ingat pesan terakhir Dareen yang belum sempat dikirimkan kepadanya. Dareen ingin wanita itu bahagia dan terus semangat apa pun yang terjadi. Diambilnya sweater merah jambu di pinggir kasur dan bersiap untuk keluar. Ia ingin sedikit saja melepas sesak yang sudah bersarang berhari-hari di dadanya. Dilangkahkan kakinya untuk mengendarai sepeda. Ya, sepeda kesayangannya. Dikayuh terus dan terus sampai berada di sebuah ladang bunga yang luas. Ia ingin sekali teriak tanpa ada yang mendengar. Di sinilah tempat favoritnya. Nada berteriak mengeluarkan semua rasa yang terpendam. Tanpa ia tahu, seorang nenek tua mendengar teriakannya. “Ada apa seorang gadis cantik berteriak di tempat ini?” sapa sang nenek kepada Nada. Dirinya tersentak dengan keberadaan sang nenek. “Maaf, Nek,” ujar Nada sambil membungkuk. “Tak apa, Cu. Pasti ada begitu banyak kesedihan di hidupmu, ya.” Nada hanya mengangguk. Matanya berkaca-kaca. Bibirnya bergetar. Nenek itu mengajaknya duduk di bawah pohon ara. “Kamu percayakah kalau mungkin aja, di dunia yang berbeda kalian ditakdirkan kembali bersama dan bahagia untuk waktu yang lama,” tuturnya menatap rimbunan pepohonan. Nada menatap nenek itu dan tersenyum tipis. “Nenek punya sebuah cermin buat kamu. Saat merasa sedih dan ingin melarikan diri, tatap wajahmu kemudian lukislah sebuah senyuman. Kamu adalah wanita yang cantik.” Nenek itu kemudian pergi dan meninggalkan cermin tua yang tampak begitu usang. Nada terdiam takpeduli dan masih ingin terus berlama-lama di sana. Ya, tempat ini adalah tempat di mana Dareen jatuh cinta dengannya. Cahaya senja yang memantul mengenai matanya. Hal itu membuat rasa kantuk muncul. Berkali-kali dirinya menguap. Sampai akhirnya tertidur. Tanpa ia sadari, nenek tadi tersenyum misterius. *** Cahaya senja yang begitu hangat menerpa wajah Nada. Angin berembus masuk melalui gorden. Memainkan surai wanita itu dan sedikit menghalangi pandangannnya. Perlahan disingkirkannya untuk memperjelas keadaan. Netra wanita itu membesar kala dilihatnya sosok yang begitu ia rindukan tepat di hadapannya, lebih tepatnya dirinya menindih tubuh lelaki yang sedang tertidur di sofa. Dilihatnya lebih dekat untuk memastikan sosok itu benar adalah kekasihnya. Ia masih ingat mata itu, alis tebalnya, hidup setengah mancung, dan bibir merahnya. Ya, ini adalah Dareen. Lelaki itu membuka mata karena merasakan beban yang begitu berat. Pandangan mereka bertemu. Sesaat terdiam dan kemudian lelaki itu berteriak. “Siapa kamu? Apa yang kamu lakuin di sini?” tuturnya. Nada bangkit dan tertunduk. Apakah ini mimpi? Mengapa seakan nyata? Dicubit tangannya untuk memastikan dan kemudian ia berteriak. Ini bukan mimpi. Ini nyata. “Dareen Felix,” tutur Nada. Lelaki itu hanya menatap aneh ke wanita di hadapannya. Pandangan itu bukanlah Dareen. Tatapannya begitu dingin, sedangkan Dareen begitu hangat. Apa yang terjadi? Apa ini Dareen, suami yang dirindukannya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD