Bukan Hidup yang Kumau

1527 Words
Dareen masih menatap gadis di depannya. Entah apa yang dilakukan di sini. Mengapa sistem keamanan di rumahnya begitu jelek, sih? Begitu pikirnya. Pandangannya menyelidik dari atas ke bawah. Pakaian yang sederhana dengan riasan seadanya. Rambut sebahunya dikuncir dan menyisakan beberapa surai di telinga. Sandal jepit tersampir di kaki jenjangnya. Ditambah tas butut tanpa merk. “Siapa kamu? Bagaimana bisa masuk ke sini?” tanya Dareen dengan nada sedikit meninggi. “Aku?” Nada berdeham sebelum menjawab. “Aku Nada, Dareen. Masa nggak kenal sama aku?” “Nada?” Alis Dareen terangkat. Guratan di dahinya menandakan kalau ia sedang memikirkan semua kenalannya. Tentu takada satu pun dari kerabat dan teman-temanya yang bernama Nada. Hari itu, Nada hanya sekadar berkunjung karena menemani Arelia menemui Nathan, manajernya si kantor, untuk rapat darurat terkait proyek yang bermasalah. “Pak Ekooo! Pak Ekooo!” teriak Dareen memanggil satpam di rumahnya. Nada terus menatap lelaki yang dikiranya sang suami. Pandangannya menyelisik ke seluruh wajah. Akhirnya bisa didengarnya lagi suara suami tercinta. Betapa girang Nada dengan pertemuan ini. Arelia datang ketika mendengar teriakan Dareen bersama dengan Nathan. Gadis bermata bulat itu berteriak kaget kala sahabatnya bersitegang dengan CEO di kantornya. Berkali-kali dipukul pundaknya dan meringis tanda kesal dengan sikap Nada. “Aw. Arel sakit. Kamu kenapa, sih?” tukas Nada. “Kamu yang kenapa? Ada masalah apa kamu sama Dareen?” bisik Arelia membalas perkataan polos Nada. Arelia yang tidak enak dengan keadaan yang terjadi, akhirnya mengajak Nada untuk pulang. Gadis yang diajak malah terus tersenyum ke arah Dareen. Tentu saja ini mengundang tatapan aneh dari lelaki itu. Dareen yang malu dengan kejadian tadi mengusir semua orang yang berkerumun di kamarnya untuk melanjutkan aktivitas. Dalam kesendirian, lelaki itu terduduk dan berpikir. Tanpa ia sadari seorang nenek tua menyaksikan kejadian tadi sembari tersenyum. Ya, itu nenek tua di ladang bunga tadi. Semoga kalian bisa melewati ujian untuk saling mencitai selamanya, batin sang nenek dan pergi entah ke mana. *** Di perjalanan pulang, Arelia yang begitu gemas dengan Nada terus memukuli bahu gadis mungil itu ringan. Mulutnya terus mengucapkan kekesalan. Namun, gadis yang diomeli hanya terus tersenyum nakal. Entah apa yang ada di pikiran Nada. Netra Arelia terus menatap aneh. Kali ini seperti bukan sahabat tercintanya. Senyum itu yang sudah lama tidak tersungging dari bibirnya, kini terlukis jelas. Segala pikiran buruk yang ada dihilangkan dari benak. Mungkin sahabatnya itu hanya sedang senang melihat sesuatu. Namun, senyum tipis tergambar melihat keceriaan Nada. “Itu ada taksi di depan. Ayo naik, Arel,” tutur Nada dengan riang. “Ngaco kamu. Duit dari mana untuk naik taksi. Kita tunggu di halte depan situ, kita naik angkot.” Mata Nada mendelik dan mengerjap cepat. Mulutnya sedikit menganga seakan ingin mengeluarkan protes keras dengan ide Arelia. Namun, angkutan umum yang akan mereka tumpangi sudah sampai. Arelia menarik tangan Nada dan berlari untuk menghentikan angkutan umum bernomor 02. Gadis itu akhirnya pasrah dan mengikuti keinginan sang sahabat. Tentu, bukan ini yang diinginkannya. Namun, apa pun itu, asalkan Arelia senang, akan ia ikuti. Setelah turun dari angkutan umum, dirinya berjalan di depan. Dengan langkah ringan, ia masih mengingat jalan ke arah rumahnya yang tidak jauh dari rumah Arelia. Namun, ketika akan berbelok ke arah kanan, Arelia menarik bajunya dan berjalan ke arah sebaliknya. “Aku mau pulang dulu, Arel.” Nada protes dengan kelakuan Arelia. Dirinya ingin berendam dulu di bathup yang sudah diberi wewangian. Ah, benar-benar nyaman dan nikmat pastinya. Arelia diam dan menatap aneh. Napasnya diembuskan kasar. “Rumah kamu kan ke arah sini, Nada.” Ada rasa kesal dengan tingkah Nada kali ini. Entah apa yang terjadi dengan sahabatnya itu. Rumah yang sudah sering ditempatinya bahkan dilupakan. “Rumahku kan ke arah sini,” tutur Nada sambil menunjuk ke arah kanan. “Ya, udah ke arah sini dulu untuk hari ini, ya.” Arelia akhirnya menarik paksa Nada. Gadis yang ditarik masih terus tersenyum sembari bersenandung. Sesekali akan melihat takjub dengan keadaan sekarang. Aku ngga tahu ini di mana. Asalkan ada Dareen semua dunia terasa indah, batinnya. Akhirnya mereka tiba di sebuah rumah bertingkat. Arelia memimpin jalan dan menaiki tangga yang sudah terlihat berlumut di sisi kanan kirinya. Namun, bersih dan terawat. Setelah tiba, Arelia mempersilakan Nada untuk istirahat. Netra gadis itu membulat mendengar penuturan itu. Diedarkan pandangan mengelilingi. Ruangan di hadapannya seperti sebuah gudang yang berukuran kecil. Sekelilingnya luas tanpa ada apa pun, kecuali gantungan baju untuk menjemur dan dipan tepat di depannya. Tembok pembatas yang sudah terkelupas catnya. Ini benar-benar bukan tempat untuk istirahat. “Kamu jangan bercanda, dong. Aku istirahat di gudang?” tutur Nada. Arelia mengangguk, “Ini kan rumah kamu. Ayo cepat buka, aku juga mau rebahan.” Nada masih bergeming. Napasnya diembuskan berat. Sungguh takpernah terbayangkan bahwa mandi di bathup hanyalah khayalan. Arelia yang sudah tidak sabar dengan gadis di hadapannya, langsung merogoh dan mengambil kunci di kantong rok Nada. Kemudian membuka pintu dan menghamburkan diri di kasur kecil. Ruangan sepetak dengan satu kasur berukuran untuk dua orang. Ditambah lemari kecil di sudut kiri. Belum lagi pakaian yang tergantung berantakan memanjang di atas. Untungnya ruangan sekecil itu, masih bisa untuk menyimpan kulkas berukuran sedang. Nada terus menatap sekeliling. Kamar mandi, di mana kamar mandinya, mungkin saja ada bathup-nya. Setelah menelusuri semua sudut ruangan, nihil. Tak ada tanda-tanda ruangan lain di sini. Netra gadis itu terus mencari untuk menemukan satu-satunya hal yang paling diinginkannya saat ini. “Arel, di mana kamar mandinya?” Arelia menunjuk ke luar pintu. “Di luar, lah. Memang di mana lagi? Kamu pura-pura lupa, ya.” Nada berlari ke luar. Di samping gudang kecil itu ada sebuah tempat yang begitu berantakan. Wajan dan panci-panci tergantung indah dengan sebuah kompor gas di bawahnya. Setelah itu, di sudut terdapat ruangan berukuran kecil. Atapnya hanya dengan asbes tipis yang kalau hujan bisa membasahi semuanya. Tentu, hal ini membuat dirinya terkesiap. Hidup seperti apa yang sebenarnya dijalani Nada di kehidupan ini. Semua berantakan. Lingkungan kumuh yang baru saja dimasukinya sungguh membuat ia begidik. Takada rumah mewah dan kendaraan bagus terparkir. Mungkin juga takada hal nyaman lainnya yang menemani keseharian. Ini bukan kehidupan yang kumau. Arelia datang dan memeluk sahabatnya. Ia tahu betapa sedih kehidupan Nada. Namun, satu hal yang pasti, gadis bermata diamond itu adalah seorang yang kuat. Dituntunnya tubuh Nada ke dipan. “Kamu kenapa Nada?” tanya Arelia sendu, “ada sesuatu yang membuat kamu sedih, ya.” “Arel, apa hidupku selalu seperti ini?” Netra Arelia berkaca-kaca. Ia taktahu harus menghibur dengan apa. Sungguh, hidup Nada kacau setelah kepergian kedua orang tuanya. Kini, hanya senyum cerah yang dinanti dari gadis di hadapannya. “Kamu nggak begitu dulu. Sejak kedua orang tuamu meninggal, kamu seolah kehilangan semuanya. Senyummu ...,” tutur Arelia menyunggingkan senyum di bibir Nada. “Semangat dan hidupmu,” lanjutnya. Bibir Nada bergetar. Matanya kini sudah melelehkan butiran air untuk membasahi pipi. Embusan napasnya seakan memberat. Tangannya bergetar tak karuan. Segala pikiran berkecamuk. Persetan dengan Dareen, kalau kedua orang tuanya malah yang pergi. “Kenapa mereka meninggal?” tanya Nada. Arelia terheran mendengar pertanyaan itu, tetapi tetap ia jawab, “Semua bukan salah kamu. Mereka meninggal karena ingin kamu bahagia.” Kali ini Nada meraung-raung memanggil kedua orang tuanya. Walau taktahu yang sebenarnya terjadi, ia tahu semua itu karena untuk membuat Nada di dunia ini hidup. Pada kenyataannya, malah hal itu yang membuat kehidupan gadis itu berantakan. Mengapa hidupnya sama dengan yang terjadi di sana? Sama-sama kehilangan orang yang disayang. Dihapus air mata Nada dan direngkuh tubuh gadis itu ke dalam pelukan. Arelia tahu betul luka dan rasa sesal yang dibawa Nada selama ini. Hanya, ia takmau Nada terus hidup dalam rasa bersalah. Setelah lama tangisan itu berhenti. Mereka sama-sama terdiam. “Nada, kamu suka Dareen? Sejak keluar dari sana, kamu seakan kembali menjadi diri kamu yang dulu.” Nada kini tersenyum dan mengangguk. Segurat merah merona mewarnai pipi tembamnya. Matanya cerah saat nama itu disebut. Entah ini nyata atau mimpi yang ia mau adalah menjalani hidupnya yang berbanding terbalik ini dengan riang. “Apa karena itu kamu nggak nolak untuk ikut aku ke rumah Dareen?” goda Arelia. Walau gadis itu taktahu bagaimana awalnya ia bisa berkunjung ke sana. Namun, ia tetap menganggukan kepala. Mungkin lain kali saja untuk memberi tahu Arelia bahwa dirinya bukan berasal dari dunia ini. “Eh, eh. Memangnya Dareen itu siapa? Kok kita berkunjung ke rumahnya dia?” tanya nada penasaran. “Dia CEO-ku, loh. Tadi aku udah minta untuk duduk yang tenang, ternyata kamu malah kelayaban buat nyari Dareen,” jawab Arelia dengan cemberut. “Gimana kalau nanti aku dipecat? Kamu harus tanggung jawab,” lanjutnya sambil mengacungkan telunjuk ke arah Nada. “Tenang, tenang. Biar aku yang kerja nanti dan kutanggung semua beban hidupmu itu,” ucap Nada polos. Arelia mengempaskan tubuhnya di dipan. “Pekerjaan aja nggak punya, gimana mau nanggung beban hidupku?” Netra Nada membulat. “Aku pengangguran? Kenapa kamu nggak nyariin kerjaan buat Nada, sih. Katanya sahabatnya,” tukas Nada sembari cemberut. “Ih, aneh kamu tuh. Padahal udah berkali-kali aku tawarin.” Nada tersenyum kecut. Bisa-bisanya di dua kehidupan dirinya terpuruk. Apakah kalau aku terus bersedih dengan kepergian Dareen, hal ini juga yang kudapatkan? Entalah, yang penting ia harus bangkit.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD