Gemerlap Semangat

1058 Words
“Arel, kasih aku uang. Aku mau perbaiki rumah supaya keliatan cantik,” ucap Nada di malam itu. Arelia membulatkan kedua kelopak matanya. Bibirnya tidak mampu terkatup. Semilir angin menambahkan kesan horor atas perkataan tadi. Perubahan yang terjadi pada diri sahabatnya ini benar-benar drastis. Seakan mereka adalah dua orang yang berbeda. Namun, semua itu tidak mampu menguasai pikirannya karena rasa bahagia bahwa Nada yang dulu akan kembali. “Oke, berapa yang kamu butuhin?” Nada berdeham dan berpikir sebelum berkata, “Mungkin 3 juta cukup,” ucapnya sambil mengacungkan tiga jarinya. Arelia kembali melongo. Dana sebesar itu bahkan hampir setengah dari gajinya saat ini. “Kalau gitu dua,” ralat Nada dan mengurangi acungan jarinya. “Satu, deh.” Kali ini sedikit cemberut karena dana yang diberikan sedikit, sedangkan hal yang ingin dibelinya begitu banyak. “Nanti aku omongin dulu ke Ayah, ya. Kamu mau ikut ke rumahku di bawah buat ngomong.” Kali ini gantian Nada yang melongo. Jadi, rumahmu tepat di bawah? Rumah yang terlihat luas dan kaya itu? Sedangkan aku hanya diberikan ruangan bekas gudang yang kecil dan sempit?Benar-benar bukan sahabat yang baik. “Rumahmu di bawah sini, Arel?” Gadis yang ditanya hanya menganggukkan kepala. Hal itu membuat Nada semakin mengerucutkan bibirnya. Hari itu, kensenjangan di antara mereka berdua terlihat begitu jelas, tetapi persahabatan mereka tidak pernah putus. Nada begitu bersyukur bahwa Arelia tidak pernah meninggalkannya di saat tersulit. “Jelas-jelas tuan rumah, tapi berlagak kayak gelandangan,” cibir Nada. “Aku cuma nggak mau kamu kesepian di sini,” balasnya. Mereka tertawa bersama dengan kelakuan masing-masing. Tentunya hubungan mereka begitu murni sampai-sampai kesenjangan yang ada bukanlah masalah bagi keduanya. Arel, saat nanti kembali ke dunia nyataku, akan kupeluk erat kamu dan tak akan melepaskan genggamanmu. “Ibuuu, Nada mau numpang makan, nih,” teriak Arelia setelah mereka menapaki kaki di kediaman keluarganya. Ibu Arelia yang mendengar teriakan anak gadisnya menyambut senang dengan kedatangan Nada. Pasalnya, baru kali ini gadis itu mulai keluar dari tempat persembunyiannya yang begitu kecil. Ayah yang juga mendengar hal itu langsung berlari ke pintu. Keluarga mereka menyambut baik kedatangan Nada dan mempersilakan dirinya untuk duduk di ruang tamu. Segala makanan ringan tersuguhkan. Belum lagi beragam minuman tersedia. Kedatangan Nada bagai suatu hal langka yang perlu dirayakan. “Jadi, ada sesuatu apa yang mau dibicarkan? Arel bilang ada sesuatu yang mau diobroin,” tanya Ibu sembari membawakan buah-buahan. “Nadaaa butuh uang buat mempercantik rumah atap, Bu,” teriak Arelia dari dalam kamar. “Dasar, Arel. Sini kamu kalau mau ngomong, jangan teriak-teriak gitu. Anak gadis, kok senang banget teriak-teriak,” balas Ibu. Nada tertawa kecil melihat interaksi keduanya. Terasa begitu hangat dan membuat rindu dengan kedua orang tuanya semakin menggebu. Ibu yang melihat hal itu, sedikit terkejut. Senyuman yang sudah lama hilang kembali hadir. Sontak Ayah yang melihat kejadian itu dari dapur mendekat. “Jadi berapa yang kamu butuhin, biar Paman aja yang perbaiki,” tutur Ayah Arelia. Nada menceritakan gagasannya. Niatnya akan menambahkan kanopi untuk jalan menuju ke kamar mandi. Tentunya memperbaiki atap kamar mandi juga hal yang utama. Belum lagi dirinya harus mengecat dinding pembatas yang sudah banyak terkelupas catnya. Selain itu juga akan membereskan dan membersihkan bagian ujung untuk ditanami bunga-bunga. “Jadi, total seluruhnya setidaknya sampai tiga juta bahkan lebih,” tutur Nada. Di luar dugaan Ayah Arelia tersenyum dan mengiyakan gagasan gadis yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri itu. Keesokan harinya, mereka menjalankan rencana yang sudah dirancang semalaman. Nada yang begitu senang, membantu sebisa mungkin. Mulai dari ngecat dinding sampai membersihkan lumut yang sudah mulai mengkhawatirkan. Bahkan tidak tanggung-tanggung, ia juga akan membantu untuk membawa beberapa ember berisi semen untuk memperbaiki sisi pinggir. Hari itu, Nada merasa hidup kembali. Kenangan akan Dareen terus membersamainya dan membuat semangat gadis itu bangkit. *** “Baru kali ini tempat ini terlihat seperti rumah tinggal,” tutur Arelia ketika semua renovasi telah selesai. Lampu hias menyinari kedua gadis yang saat ini sedang terbaring di dipan. Embusan angin sesekali memainkan surai mereka. Cahaya bulan yang berpendar menambah kesan romantis malam itu. Aroma wewangian dari bunga-bunga di ujung tembok menyeruak. Menambah kenyamanan. Bukan hanya Arelia yang merasa takjub dengan perubahan itu. Nada, si gadis ceroboh itu pun merasakan sesuatu yang berbeda. Ada rasa bangga di dalamnya. Andai saja Nada di dunia ini tidak terpuruk, apakah hidupnya bisa lebih indah dan cantik? Nada mengembuskan napas perlahan kemudian duduk. “Pasti lengkap kalau Dareen ada di sini,” gumamnya. “Apa kamu segitu sukanya sama Dareen?” tanya Arelia yang mendengar suara pelan Nada. “Iya, dong. Dia kan suami aku,” kata Nada pelan. Arelia yang mendengar khayalan Nada hanya bisa tertawa kecil. Sungguh, sahabatnya ini kalau sudah mengkhayal taktahu tempat. Bisa-bisanya seorang Dareen Felix dibilang suaminya. “Arel, di kantormu apa ada kerjaan untuk aku?” tanya Nada kemudian. “Biar aku pikir dulu ....” Dirinya mendelikkan mata ke atas, mencoba berpikir posisi yang cocok untuk gadis bersurai hitam itu. “Beberapa hari lagi, bakal ada lowongan di bidang akuntan, sih. Kalau kamu pingin coba aja daftar, tapi itu kan bukan kualifikasimu,” jelas Arelia. Nada membentuk seyum di bibir manisnya. Sebuah ide muncul dalam benaknya. Kali ini dirinya harus bisa mendapatkan pekerjaan itu supaya Dareen bisa kembali mencintainya. Tangannya dikepalkan tanda bahwa ia akan mengumpulkan semangat. Setelah semua semangatnya muncul, ia bangkit berdiri dan mempersiapkan semua berkas yang diperlukan. Arelia berdiri di pintu dan menyembulkan kepalanya ke dalam. Melihat semangat Nada, tentunya membuatnya tersenyum. “Selesaiin semuanya, ya. Aku tinggal, mau tidur dulu, babay,” tutur Arelia dan menutup pintu kemudian berjalan ke bawah. Nada yang ditinggal terus sibuk dengan aktivitasnya. Setiap waktu yang dihabiskannya di sini begitu berharga. Dirinya taktahu kapan akan kembali ke kehidupan nyata. Maka sebisa mungkin kesempatan ini harus dilakukan untuk membuat Dareen jatuh cinta lagi dengannya. “Dareen, kali ini di mana pun dan di dunia apa pun, aku akan membuatmu jatuh cinta dan menikahiku.” Gadis itu lagi-lagi tersenyum membayangkan segala skenario dari yang biasa sampai yang nakal. Dari jauh seseorang berbalut jaket dan menutup kepalanya dengan hodie, berdiri dalam kegelapan, menatap tajam ke arah rumah Nada. Tangannya mengepal sebuah foto yang menunjukkan Nada berdiri di ladang bunga dengan tersenyum. Bayangan dalam foto itu menampakkan bayangan dua orang yang berdiri. “Apa pun yang terjadi, harus aku yang kamu suka,” tuturnya. Kemudian berbalik pergi setelah melihat lampu rumah Nada yang gelap.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD