BAB 14

822 Words
“Kamu serius mau cerai dari aku?” tanya Daniel ke Alessia ketika mereka bertemu di ruangan dimana putra mereka dirawat. Sudah 7 hari putra mereka didalam sana. Dokter mengatakan putra mereka mengalami kemajuan yang baik. “Bukannya kamu yang mau cerai dari aku?” tanya Alessia tanpa minat dengan menatap putranya. Alessia mengusap airmatanya. Setiap memasuki ruangan putranya airmatanya selalu mengalir deras. “Nggak jadi.” jawab Daniel. “Aku nggak mau cerai sama kamu.” “Sayangnya aku yang mau cerai dari kamu!” “Sa, pernikahan kita baru 5 bulan. Kamu juga baru ngelahirin anak kita-” “Terus? Apa bedanya sama kamu yang ngerencanain semua itu padahal kamu tau pernikahan kita usianya baru 5 bulan dan aku baru ngelahirin anak kita?” cecar Alessia dengan napas naik turun menahan emosi. Gara-gara Daniel, anaknya harus mendekam di ruangan NICU tidak tau sampai kapan. Alessia tidak bisa memafkannya. “Aku tau aku salah. Aku minta maaf. Karena itu, kita bangun rumah tangga kita lagi. Kita mulai dari awal. Setidaknya, kalau kamu nggak suka, pikirin Keenan. Keenan butuh kamu sama aku. Aku janji aku bakalan berubah.” Alessia menatap Daniel kini. Keenan? Siapa Keenan? Daniel seolah tau pertanyaan yang ingin ditanyakan Alessia lalu menjawabnya. “Nama putra kita. Keenan. Bagus nggak? Kamu suka nggak?” Alessia tersenyum. Karena terlalu sering menangis ia sampai lupa memberi nama anaknya. “Keenan.” panggilnya lembut. “Aku janji bakalan berubah.” kata Daniel lagi. Alessia mengabaikannya. Ia tidak ingin memperdulikan ucapan Daniel. Mau berubah atau tidak itu sudah bukan dari urusannya lagi. Alessia hanya ingin Keenan bisa cepat sembuh dan bisa dibawa pulang. Tapi, Daniel tidak menyerah. Ia berubah bersikap baik agar Alessia mau memaafkannya. Bahkan Daniel secara terang-terangan menelpon Alma didepan Alessia dan mengatakan bahwa sampai kapanpun ia tidak akan pernah menikahi Alma. Alessia sedikit tersentuh. Dan pada akhirnya ia mau sedikit menerima Daniel. Alessia membicarakan hal tersebut dengan papanya. Papanya terlihat sangat tidak senang dengan keputusan Alessia. Hal ini dikarenakan Arva sangat membenci menantunya itu. Arva bahkan mengancam, jika Alessia tidak mau mendengarkannya kali ini, ia akan mengabaikan Alessia untuk selamanya. Alessia tidak peduli. Ia yakin, Daniel bisa berubah. Lagipula ia ingin memberikan keluarga yang lengkap dan berharga untuk Keenan. Alessia akan melakukan apapun untuk kebahagiaan Keenan meski Papanya harus mengabaikannya. Tapi sayang, semua itu tidak sesuai dengan keinginan Alessia maupun Daniel. Ketika keadaan Putra mereka tiba-tiba memburuk, Daniel maupun Alessia sama sekali tidak memiliki uang untuk membayar biaya rumah sakit untuk Keenan lebih lanjut. Alessia akhirnya harus menelpon papanya untuk meminjam uang. Papanya menyetujuinya dengan syarat Alessia harus meninggalkan Daniel maupun Keenan. Arva akan membayar seluruh biaya untuk Keenan asal Alessia mau meninggalkan laki-laki semacam Daniel dan Keenan, menurutnya Alessia tidak memperlukan Keenan. Alessia menyetujuinya asal papanya mau membiayai pengobatan Keenan. “Kamu dapat uang darimana buat bayar rumah sakit?” tanya Daniel. “Papa.” jawab Alessia. “Papa mau ngasih? Syukur. Aku harus ngucapin terimakasih ke Papa kamu.” kata Daniel. Alessia tersenyum lalu menggeleng. “Nggak perlu.” Daniel cukup bingung tapi pada akhirnya ia menuruti permintaan Alessia. Daniel menggenggam tangan Alessia seolah menenangkan bahwa putra mereka akan baik-baik saja. Alessia hanya berusaha tersenyum dan menganguk. Ia berdoa untuk kesembuhan putranya. Daniel tidak tau, hari itu adalah hari terakhirnya melihat Alessia. Daniel tidak menemukan Alessia dimanapun keesokan harinya. Daniel panik dan mencari Alessia seperti orang gila. Ia bahkan melaporkan hilangnya Alessia Ke Polisi. Tapi setelah tiga hari, surat cerai datang padanya. Daniel bingung dan tidak mengerti. Tapi, hanya ada satu cara ia menemukan Alessia. Pergi ke Malang, dimana rumah Alessia berada. Daniel menitipkan Keenan ke Gina agar menjaganya di rumah sakit ketika ia pergi menemui Alessia. Sayangnya, ketika sampai disana hanya kenyataan pahit yang diterima Daniel. Alessia dengan wajah dinginnya mengatakan bahwa ia akan meninggalkan Daniel dan Keenan lalu pergi ke Amerika. Daniel memohon dan mengiba ke Alessia agar memikirkannya. Tapi Alessia tetap bersikeukuh dengan keputusannya. Ia akan melupakan Daniel maupun Keenan dan memulai hidup baru. Ia sadar setelah keadaan Keenan yang memburuk. Alessia tidak bisa hidup tanpa uang papanya. Daniel yang mendengarnya sangat sakit hati. Daniel mengancam akan melarang Alessia untuk menemui Keenan selamanya. Tapi dengan dinginnya Alessia menjawab tidak peduli. Karena sedari kemarin, Daniel maupun Keenan sudah tidak ada dihidupnya. Daniel pulang kembali ke Jakarta. Sampai disana, ia langsung menuju ke rumah sakit tempat dimana putranya dirawat. Daniel berusaha menyembunyikan kesedihannya dengan berusaha tersenyum. Adiknya bertanya tentang Alessia. Tapi Daniel mengabaikannya. Setelah adiknya pergi, Daniel menangis dengan menatap putranya yang terbaring tidur. Kabar perceraian Alessia dan Daniel membuat keluarga besar Daniel terkejut. Mereka semua menyalahkan Daniel yang sebelumnya berselingkuh dengan Alma dan tidak memperlakukan Alessia dengan baik. Tapi sebaliknya bagi Gina. Gina tidak tau permasalahan apa yang menimpa kakaknya dengan Alessia. Ia rasa hubungan mereka sebelumnya baik-baik saja. Tapi untuk pertama kalinya ia melihat Daniel menangis. Sepertinya, Daniel sangat menyesali perbuatannya. Lebih baik ia membujuk Alessia agar mau kembali dengan kakaknya. Daniel pasti sangat menyesal sekarang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD