Senyum ini tak bisa berhenti ketika bersamamu.
Hembusan angin menerpa wajah gadis yang tengah serius membaca buku yang dipegangnya. Kopi dan cemilanpun menjadi teman gadis itu. Matanya tetap fokus membaca kalimat demi kalimat yang ada di buku itu sampai tidak menyadari seseorang sudah ikut duduk disampingnya. Ia terlalu masuk ke dalam cerita. Hingga sebuah suara membuat perhatiannya teralihkan.
"Ehem"
Deheman itu membuat gadis itu terpaksa mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang menganggunya. Dan saat dia mengetahui siapa, diapun kembali menatap buku yang dipangkuannya tanpa berniat berbicara dengan orang itu.
"Cie yang cuekin gue cie," Alan menoel-noel dagu Melody mencoba menggoda gadis itu. Tapi sayangnya gagal, Melody hanya menampik tangannya lalu melanjutkan acara bacanya itu.
Alan memikirkan cara untuk mengalihkan perhatian itu, setelah dia menemukannya senyum terukir dibibirnya dan tanpa menunggu lagi tangannya terulur kearah gadis itu dan
"Alan geli ih berhenti Lan berhenti," mohon Melody tubuhnya terguncang karena rasa geli yang ia rasakan. Tapi bukannya berhenti, Alan terus melancarkan serangannya hingga air mata keluar dari ujung matanya.
"Maaf Lan Maaf, gue nggak bakal cuekin lo lagi," ujar Melody
Setelah kalimat itu keluar dari mulut Melody, Alan menghentikan gelitikannya dan tersenyum penuh kemenangan.
Melody mengatur nafasnya yang tersengal-sengal akibat cowok menyebalkan itu. Ini terakhir kalinya dia mencuekin Alan.
"Nah gitu dong dari tadi gue kan nggak perlu ngelakuin itu ke lo" Alan tersenyum senang, menarik bangku menghadap Melody dan menjatuhkan tubuhnya disana, membuat Melody lagi-lagi harus bisa mengontrol detak jantungnya.
"Lo mau ngapain sih kesini ngangu aja, balik kerumah lo sana hus hus" usir Melody sok ketus, berbeda dalam hatinya yang sangat senang melihat sosok Alan didepannya ini.
Alan menaikan alis mendengar itu, tapi tiba-tiba sebuah senyuman terbentuk pada bibirnya "alah bilang aja lo seneng gue disini, bilang deh bilang"
Melody yang mendengar itu memperagakan orang muntah seakan eneg mendengar ucapan Alan "idih PD bener, lebih baik gue ngarepin idola gue dateng kesini daripada lo, bosen gue liatnya."
"bosen apa bosen?" Alan menaik teurunkan alisnya menandakan dia sedang menggoda Melody.
"Ih apaan sih. Cepetan deh mau ngapain" Melody menatap Alan tak sabaran, dari tadi ditanya malah nggak dijawab-jawab membuat gadis itu kesel sendiri. Diraihnya kopi yang belum sempat diminum, tiba-tiba
"Jalan yuk"
Byur minuman yang baru hendak dia telan kembali ke permukaan parahnya lagi mengenai tepat pada muka Alan membuat cowok itu mendelik kesal.
"Mel, lo apa-apain si jorok banget jadi cewek" omel Alan sambil mengelap mukanya yang terkena semprotan oleh Melody.
Melody mengelap mulutnya yang basah karena semburan airnya " Lo sih ngapain tiba-tiba ngomong gitu, jadi jangan salahin gue dong" Melody melipat tangannya didepan d**a melihat kearah Alan.
"Alah lebay banget lu biasanya juga nggak kenapa-kenapa. Cepetan siap-siap deh, gue tunggu dibawah" Alan mulai beranjak dari sana memanjat dinding dan mulai melompati pohon yang menjadi pembatas diantara rumahnya dan rumah Melody.
Melody yang melihat itu geleng-geleng kepalan jangan-jangan Alan beneran titisan kera batinnya. Lalu beranjak memasuki kamarnya dan mulai bersiap-siap
***
"Loh dek kamu mau kemana?" tanya Bundanya saat melihat anak gadisnya itu berpakaian rapi
"Eh ini bun, diajakin jalan sama Alan" Bunda Melody mengangguk dan tersenyum penuh arti ketika mendengar ucapan dari anaknya.
"Kenapa bun, kok senyum-senyum" Melody memandang bundanya bingung, memang ada yang salah dengan omongannya? Perasaan nggak deh.
"Ngga apa-apa, ya udah hati-hati ya salamin bunda sama Alan"
"Iya bun, kalau begitu Melody pamit ya" ucapya tak lupa mencium tangan bundanya sebelum melangkahkan kakinya keluar rumah.
Langkah Melody tiba-tiba berhenti, tubuhnya terpaku melihat Alan yang berada di atas motor kesayangannya. Penampilan Alan hai ini membuat Melody tak bisa mengalihkan pandangan dari cowok itu. Baju biru garis-garis sangat pas melekat ditubuh Alan, rambut yang terlihat sedikit berantakan menjadikan sosok itu menjadi lebih keren. Tanpa sadar Melody meneguk salivanya gugup.
"Heh, ngapain bengong sih"
Ucapan itu membuat Melody tersadar dari lamuananya, dan dengan cepat menghampiri cowok itu.
"Kita mau kemana ini?" tanyanya mencoba mengalihkan perasaan malu karena ketahuan memeperhatikan cowok itu. Selain itu, dia juga penasaran kemana Alan akan membawanya karena nggak biasanya cowok itu main rahasia-rahasiaan.
"Rahasia. Nih pake" Alan menyerahkan helm kearah Melody dan diterima lembut oleh gadis itu meski mukanya sedikit cemberut. " udah nggak usah cemberut gitu, lo pasti seneng gue jamin"
"Ya tapi bilang dulu kek kemana. Penasaran nih" desak Melody
"Ck bawel banget sih tinggal ikut doang. Bisa naik nggak?" Alan yang melihat Melody belum naik keatas motornya. Dan betapa gemasnya dia saat melihat Melody menggeleng pelan.
"Yaelah bilang kek dari tadi, pegang tangan gue nih" Alan mengulurkan tangannya. Dia sedikit jengkel dengan gadis didepannya kalau nggak bisa naik ya bilang kenapa nggak ngomong sih batinnya
Melody meraih tangan Alan dan menjadikan sebagai tumpuan, dalam batinya dia benar-benar menyumpahi motor Alan yang membuat dia sangat sulit untuk menaikinya.
"Udah kan? Pegangangan, gue pingin ngebut" alan menetup helmnya dan mulai menyalakan motornya.
"Modus banget sih" cibir Melody tapi tidak bisa menyembukin senyum tipis diwajahnya. Hanya seperti ini membuat dia senang sangat senang.
"Ck lo lama amat sih" Alan kembali menoleh kebelakang dan menarik tangan Melody melingkari pinggangnya. "Nah gini kan dari tadi"
Setelah memastikan bahwa gadis dibelakangnya benar sudah aman, ditutupnya kaca helm dan melajukan motornya menembus jalan raya.
***
Melody memperhatikan jalanan yang di lewati mereka. Keningnya mengkerut,sepertinya dia mengenal tempat yang akan mereka tuju. Dan benar saja saat dia melihat ada pondok disana, dia yakin Alan membawanya kesana, senyum lebar tiba-tiba terlukis di bibir Melody.
Alan mematikan motornya dibawah pohon rindang, dibukanya helm dan dibalikannya tubuh kehadapan gadis dibelakangnya.
"Gimana udah nggak penasaran lagi kan?" Tanyanya dengan alis yang terangkat.
Melody mengangguk dan turun dari motor Alan semangat. Sudah berapa lama dia tak pernah ketempat ini. Suasananya masih sama tenang, dan nyaman. Pohon-pohon pinus yang mengeliligi tempat itu menjadikan suasana lebih damai. Tanpa sadar mata gadis itu tertetup menikmati suasana ditempat itu sampai suara Alan kembali terdengar membuatnya membuka mata kembali.
Alan tersenyum ketika melihat ekspresi bahagia di wajah melody, digenggamnya tangan gadis itu lalu melangkah memasuki tempat itu, tempat yang penuh kenangan disana. Alan menoleh ke Melody saat gadis itu ingin menarik tangannya dari genggaman Alan "Ntar lo ilang" jawab Alan santai yang membuat Melody mengembungkan pipinya sebal.
Mereka berdua melewati jalan setapak yang ada ditengah-tengah pohon pinus itu. Tangan mereka saling bergandengan. Senyum terlihat di wajah keduanya, mereka sangat menyukai kebersamaan mereka, terutama Melody. Entah karena suasa atau apa, perasaan pada Alan semakin besar.
"Inget nggak dulu kita sering kesini?" Alan memandang gadis disebelahnya yang tengah menikmati pemadangan disana. Alan tersenyum saat gadis itu tak berhenti-hentinya tersenyum
"Iya inget banget, gue nggak nyangka kalau lo bakal ngajak gue kesini Lan." Melody menoleh kearah Alan " Tumben banget"
"Nggak apa-apa" Alan mengacak rambut Melody lembut " Gue cuman kangen tempat ini aja"
Melody mengangguk mengerti, dia juga sangat merindukan tempat ini. Tempat mereka sering menghabiskan waktu bersama. Dulu dia dan Alan sering kesini, sampai mereka berdua dimarah orang tua mereka karena telat pulang. Meski begitu, dia dan Alan selalu pergi diam-diam, menghabiskan seharian disini.
"Lo inget nggak, lo sering banget mewek disini karena alasan nggak jelas" ucap Alan dengan senyum mengejek diwajahnya.
Melody mengembungkan pipinya "Apaan nggak jelas, itu kan gara-gara elo yang suka godain gue"
Alan tertawa " Ah masak sih, perasaan lo aja kali. Gue mah nggak pernah godain elo. Atau lo pingin gue godain ya" lanjutnya dengan alis yang dia turun naikan menggoda gadis itu
"Alan lo ya emang nyebelin sumpah" Melody membuang muka kearah lain, tak ingin melihat cowok itu. Alan yang melihat terkekeh dan mengacak-ngacak rambut Melody yang langsung ditepis oleh Melody
"Ngambekan banget sih" ujarnya masih dengan kekehan kecil dibibirnya "Udah dong ngambeknya"
Alan menarik lengan Melody hingga tubuh gadis itu menghadap kearahnya "Lo jelek kalau ngambek tau nggak"
"Bodo"
Alan yang gemas mencubit pipi gadis itu hingga merah dan membuat sang punya pipi menatapnya penuh kesal. Dia memperhatikan gadis yang tengah mengelus-ngelus pipinya karena ulahnya. Tanpa sadar dia menarik tubuh gadis itu kearahnya, membuat gadis itu menegang sejenak tentu saja tanpa diketahui Alan.
"Udah ah gue ngajak lo kesini bukan buat lo ngambek, tapi buat mengenang kebersamaan kita." Ujarnya pelan yang masih bisa didengar oleh Melody
Pelan tapi pasti Melody melepaskan diri dari pelukan Alan. Dia kaget saat Alan tiba-tiba menariknya kepelukannya dan itu membuat jantungnya seakan hendak keluar dari tubuhnya.
"Bahasa lo Lan, lebay amat. Galau ya" ledek Melody yang langsung mendapat sentilan didahinya.
"Bisa nggak sih nggak usah pake nyentil segala" runtuk Melody
"Haha iya-iya lo mah ambekan. Eh keren tuh"
Melody mengikuti tatapan Alan dan mengangguk perlahan. Matanya mengerjap pelan, masih menunjukan keterpanaannya. Bukannya dia tak pernah melihat sunset, tapi kejadian dimana perubahan warna dilangit itu yang awalnya biru menjadi jingga selalu bisa membuat dia terhipnotis.
Alan menoleh kearah Melody dan tersenyum kecil ketika melihat gadis itu masih menunjukkan reaksi yang sama ketika Alan membawanya ketempat pertama kalinya. Masih jelas di kepala Alan, Melody saat itu merengek ingin mengikuti dia kesini dan baru berhenti saat dirinya menyanggupi permintaan gadis itu.
Merasa diperhatikan Melody menoleh kesamping "Lo ngapain ngeliatin gue kayak gitu Lan" tanyanya heran.
"Gue inget dulu lo ngerengek buat kesini." Ucap Alan dengan senyum geli yang terlihat jelas diwajahnya yang langsng dihentikannya saat melihat Melody mulai mengerucutkan bibirnya. "Kan itu dulu Mel dulu" lanjutnya lalu mengalihkan pandangannya kedepan menikmati suasana perubahan warna itu
"Kalau sekarang?"
Alan melirik sekilas sebelum menjawabnya "Sama aja" yang langsung mendapatkan cubitan diperutnya oleh Melody.
"Ampun Mel Ampun" Alan memelas ke Melody tapi sayang nggak diacuhkan oleh gadis itu membuat Alan mengambil tangan gadis itu dan menariknya hingga jatuh ketubuhnya lagi.
"Ih lepasin Lan, nggak usah meluk-meluk" Melody meronta dalam pelukan Alan minta dilepaskan. Bukan karena dia tak senang dipeluk oleh Alan tapi jantungnya tak akan bisa bertahan lama jika terus pada posisi ini, terlebih lagi aroma tubuh Alan yang membuat dia semakin candu.
Bukannya melepaskan seperti ucapan gadis itu, Alan semakin mengeratkan pelukannya "Bentar aja Mel, bentar aja" ucapnya lirih menopangkan dagunya dipipi Melody membuat gadis itu pasrah dan menghentikan usaha yang sia-sia.
"Gue seneng kita masih kayak gini, dan gue janji kita bakal selalu seperti ini." Ucapnya lirih yang masih bisa didengar oleh Melody.
Melody mengadahkan kepalanya menatap Alan heran dengan kata-kata cowok itu. Alan yang merasa ditatap menundukan kepalanya membuat pandangan mereka bertemu.
"Lo sama gue akan selalu bersama-sama"
"Janji?"
Alan mengangguk pasti dan mengulurkan kelingkingnya "Janji. Redmise?" tawarnya dengan pandangan yang masih setia menatap gadis itu.
"Redmise," Melody tersenyum senang, senyumnya semakin mengembang ketika Alan mengacak rambutnya lembut dan mengeratkan pelukannya menikmati kebersamaan mereka berdua.
Entah karena suasana yang seperti itu dua orang itu semakin tenggelam dengan perasaan mereka masing-masing. Yang tentunya perasaan yang berbeda.