03. Ini hanya tentang rasaku

4333 Words
Bahkan, kalau ada waktu untuk berbicara, aku memilih untuk mengungkapkan dengan satu kata. Pagi itu ada yang berbeda dari Melody, senyum terus mengembang dikedua sudut bibir gadis itu. Mungkin kalau orang lain mengira gadis itu gila, tapi bagi orang yang mengenal pasti ada yang terjadi pada gadis itu, seperti halnya orang tuanya yang menatap anak gadisnya itu dengan tatapan menyelidik. Melody yang masih tak merasa diperhatikan kedua orang tuanya masih asik memakan sarapan paginya hingga suara Ayahnya membuat dia mendongakan kepala. "Dek, kamu kenapa?" tanya Adi –Ayah Melody- yang akhirnya tak tahan juga melihat tingkah putrinya itu. "Emang aku kenapa yah, perasaan aku biasa aja, Yah. " Melody menoleh kearah ayahnya dengan pandangan heran lalu memperhatikan penampilannya perasaan nggak ada yang aneh deh, apa ada sesuatu gitu dimuka gue. Adi yang tahu bahwa anaknya bingung hanya tersenyum kecil, lalu memandang istrinya yang juga tersenyum geli melihat tingkah anaknya itu. "Kamu nggak sadar dek dari tadi senyum mulu. Hayo ada apa?" "Senyumkan ibadah Yah,masak iya kalau senyum harus ada alasan gitu" jawab Melody santai sambil meraih gelas air minumnya. "Yakin dek, bukannya gara-gara Alan" kali ini Jasmine –bundanya- yang bicara, melihat anak gadisnya yang menyembunyikan sesuatu terasa sangat lucu bagi dirinya. Byur minuman yang sudah hampir ditelannya tersembur keluar membuat orang tuannya khawatir dan geli secara bersamaan. "Uhhuuk Bun.. Uhuk ngomongin apa sih" Melody memukul dadanya pelan mencoba menghilangkan tersedaknya yang tiba-tiba muncul gara-gara ucapan bundanya itu. Adi dan Jasmine terkekeh melihat reaksi anaknya itu. Diserahkan air putih kearah Melody dan langsung diambil lalu ditegak habis oleh gadis itu. "Loh emang bunda ngomong apa? kan bunda cuman nanya aja dek. Iya kan yah" Jasmine menoleh kearah suaminya itu mencari dukungan, dan saat suaminya itu mengangguk senyuman puas terukir diwajah bundanya "Tuh kan ayah aja setuju. Atau jangan-jangan emang ada kaitannya sama Alan ya makanya kamu senyum terus" goda bundanya Melody dapat merasakan pipinya tiba-tiba memanas karena ucapannya itu. Melody benar-benar merutuki pipinya yang sensitif jika sudah menyangkut dengan Alan. Dan lihat gara-gara pipinya memerah, Bunda dan Ayahnya sudah menunjukan wajah yang akan menggoda dia. "Ih Bunda sama Ayah nyebelin," Melody bangkit dari tempat duduknya dan berlalu keluar rumah yang sebelumnya mencium kedua tangan orang tuanya. Adit dan Jasmine terkekeh geli melihat anaknya itu "Anak kamu tuh yah, nggak bisa digodain dikit langsung merah," celetuk Jasmine Adit mengangkat alisnya "Lah sama kayak kamu dulu kan Bun, pas aku godain kamu..." Ucapan Adit terpotong karena mendengar teriakan orang diluar siapa lagi kalau bukan putri kecilnya, membuat dia menghela nafas berat. Mau tak mau Adit bangkit dari bangkunya dan saat hendak mencium kening istrinya terdengar lagi suara putri kecilnya itu. "Ayah cepetan, Melody ntar telat" teriaknya membuat bundanya tertawa, "Tuh udah dipanggil, ntar kalau ngambek susah loh yah" "Iya-iya anak kamu satu itu nggak bisa liat ayahnya seneng" Adit mengecup sayang kening istrinya itu lalu berjalan keluar sebelum suara anak gadisnya kembali terdengar. **** Melody berjalan melewati lorong sekolahnya dengan santai sambil menyenandungkan lagu yang sedang didengarnya. Saking asik mendengarkan lagu, Melody tak sadar seseorang sejak tadi memanggilnya dan kini sudah berada disampingnya. Alan, orang yang memanggil Melody tadi menarik paksa earphone yang bergantung indah ditelinga Melody hingga gadis itu menoleh kearahnya. "Apaan sih Lan, ganggu aja siniin" ujar Melody ketus saat mengetahui orang yang menarik earphonenya adalah Alan. Melody mencoba meraih earphone itu kembali, tapi selalu gagal. Beberapa kali dia mencoba beberapa kali juga Alan menjauhkan earphone itu dan itu membuat dia kesal. Dihentakkannya kaki lalu berbalik meninggalkan cowok itu. Alan terkekeh pelan melihat gadis itu berbalik berjalan meninggalkannya, tapi kekehan itu berhenti saat merasa tatapan beberapa gadis memperhatikanya. Cowok itu berdehem sebentar lalu berjalan mengikuti Melody menuju kelas mereka. Melody memasuki kelas dengan wajah yang agak cemberut gara-gara siapa lagi kalau bukan karena Alan. Tapi tak bisa dipungkiri, setiap mengingat Alan, pasti dia juga mengingat apa yang terjadi kemarin dan itu membuat senyumnya mengembang seketika menghilangkan rasa kesal pada cowok itu. Melody menjatuhkan diri dibangku kesayangan setelah beberapa kali berhenti karena beberapa temannya memanggilnya, entah untuk menanyakan tugas, menyapa, ataupun menggodanya. Mengingatnya saja sudah membuat dia geli, emang aneh ya kalau gue bangun pagi batinnya. "Yaelah, lo gila ya senyum-senyum sendiri" celetuk seseorang yang Melody sudah hapal mati siapa pemiliknya tanpa harus menoleh kearah suaranya itu –Alan-. Melody mencoba untuk tak mengacuhkan Alan, dengan sok sibuk memainkan hpnya yang sebenarnya tidak ada yang penting disana. Alan menarik kursi disamping Melody yang sebelumnya sudah menaruh tas dibelakang meja itu. Pandanganya lurus kearah hp yang sedang dipegang oleh gadis itu, penasaran apa yang sedang di kerjakan Melody hingga gadis itu tak memperdulikan dia. Wajahnya perlahan mendekat mencoba untuk mengintip sedikit tapi tiba-tiba sebuah suara mengagetkan mereka berdua. "Ehem, bisa minggir nggak, kalau mau nyium orang cari ditempat lain gih" Sontak Melody yang mendengar itu menoleh kearah samping, matanya terbelalak kaget melihat wajah Alan yang sangat dekat dengan wajahnya dan itu membuat Melody refelek mendorong cowok itu hingga jatuh dari kursinya membuat cowok itu menatapnya dengan pandangan kesal "Lo apa-apain sih Mel, sakit tau" sewotnya sambil menepuk pantatnya yang lumayan sakit. Gimana nggak Melody mendorong dia dengan cukup kuat hingga terdengar suara brug. "Lo sih, ngapain muka lo deket banget sama gue." Jawab Melody tak kalah sewot dengan cowok. Sebenernya Melody kasian dengan Alan, pasti sakit banget tapi bodolah dia juga yang salah bikin kaget batinnya. Jantungnya berdebar kencang mengingat gimana wajah Alan dan dirinya yang sangat dekat. "Lo juga sih nyuekin gue, lo tau kan gue nggak suka dicuekin sama lo," kata Alan santai yang langsung berdampak pada kesehatan jantung Melody tentu tanpa sepengetahuan cowok itu. Alan tertawa setelah mengatakan itu, bahkan bibirnya tertarik sempurna. Ternyata ucapan Alan barusan bukan hanya didengar oleh Melody saja, juga didengar oleh teman-temannya, yang langsung memberikan sorakan yang berbeda-berbeda dan membuat dua orang itu mengalihkan pandanganya kearah teman mereka "Ceile Alan nggak mau dicuekin sama Melody" "Cie seorang Alan bisa melow juga cie." "Sini sama abang aja, kalau neng Melodynya nyuekin abang Alan" dan celetukan itu sukses membuat Alan melempar tatapan tajam kearah Aldo. Sedangkan Aldo yang ditatap seperti itu mengedipkan matanya sebelah yang membuat Alan bergidik ngeri.  "Jijik gue," seru Alan. "Makanya peka Lan peka biar nggak dicuekin mulu" Celetukan itu membuat Alan dan Melody saling pandang, tanpa dikomando kepala mereka berdua serentak menoleh kearah sumber suara dan menemukan Letta disana dengan senyum menggoda, ah tentunya senyuman itu diperuntukan buat sahabatnya tercinta Melody yang tengah menatapnya tajam seakan ingin memakannya hidup-hidup. Alan tersenyum miring dan menoleh kearah Melody " Gue selalu peka kok, iya kan Mel?" Ucapan Alan itu membuat Melody kaget dan mengangguk samar lalu menunduk, dia tak menyangka Alan menjawab seperti itu, dan membuat sebuah harapan didalam diri Melody bahwa Alan juga menyadari perasaannya. Senyum Alan mengembang "Tuhkan gue peka, masak iya gue nggak peka sama sahabat sendiri" Diusapnya lembut kepala Melody "Gue tahu kapan dia butuhin gue dan kapan dia sedih gue tahu itu ya kan Mel" lanjutnya pelan tapi masih bisa didengar oleh Letta dan Melody Seperti ada ribuan jarum masuk kedalam tubuhnya membuat Melody tersenyum getir saat mendengar ucapan Alan. Harapan yang sempat terlintas dalam benaknya hancur lebur sudah. Alan yang menyadari bahwa Melody tak memeberi reaksi menguncang pelan pundak gadis itu "Mel, Melody" "Ah iya iya Lan. Lo juga ngapain ngomong kayak gitu Let, lo kayak nggak tau dia aja, dia kan tahu kalau gue lagi kenapa-kenapa ataupun lagi pingin apa." Ucap Melody tatersenyum kearah dua orang itu. Lo terlalu naif Mel, terlalu naif buat jujur ke diri lo sendiri dia nggak bakalan pernah peka. batinya. "Udah deh kalian cepet duduk, udah masuk tuh" lanjutnya ketika mendengar bel masuk sudah berbunyi. Letta dan Alan mau tak mau mengiyakan ucapan Melody, daripada mereka berdua disuruh keluar oleh Pak Bambang yang tekenal killer disekolah batinnya. Dan tepat saat Letta dan Alan sudah duduk dibangku mereka, terdengar suara bariton khas guru itu, membuat keributan yang sempat terdengar menghilang tiba-tiba dan berubah menjadi kesunyian yang mungkin mengalahkan sunyinya kuburan. **** "Mel, Bang Arya kapan balik?" Melody yang sedang manikmati sotonya mendongak kearah Alan dan menghendikkan bahunya " Nggak tau, Bang Arya nggak pernah ngasik kabar kapan baliknya kesini udah betah kali disana. " Lalu melanjutkan makannya yang sempat tertunda tadi. Arya mengernyit heran kearah Melody saat mendengar balasan dari gadis itu yang sedikit ketus, "Lo kenapa Mel?" pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Alan tanpa bisa dicegah. Lagi lagi Melody harus menghentikan makannya dan mendongakan kepalanya kearah Alan dengan alis terangkat sebelah "emang gue kenapa?" "Nggak sih, cuman kayaknya lo agak badmood gitu kenapa?" Oh lo sadar gue badmood Lan, gue badmood aja lo sadar kenapa perasaan gue lo nggak pernah sadar ingin sekali dia mengatakan itu ke Alan, tapi apa daya bibir tak sanggup untuk mengatakannya, malahan yang keluar adalah "Gimana nggak badmood, kalian berdua narik-narik gue didepan anak murid lainnya, dikira gue nggak malu apa" sembur Melody dengan tangan melipat didepan dadanya membuat Letta dan Alan tergelak tertawa. Awalnya Melody enggan ikut mereka ke kantin karena dia masih gondok abis gara-gara ucapan Alan, tapi karena paksaan dan dorongan oleh dua orang yang menyebalkan akhirnya dia ikut serta. Mending kalau paksaan dan dorongan itu bersikap hal wajar ya seperti membujuk atau mentraktir itu mah masih bisa dipikir ulang, kalau tadi bah Melody langsung ditarik paksa oleh Alan dan Letta, udah diancam pula kalau nggak ikut "Kalau lo tetep nggak mau ikut, gue gendong lo sampe sana" ancam Alan, dan langusng ditolak mentah-mentah oleh Melody. Yang bikin tambah kesel lagi itu Alan ngomongnya didepan anak-anak lain, tahu dong gimana reaksinya. Ada yang ikut godain bilang, gendong aja lan, gedong¸ dan lebih parahnya dia ditatap oleh fans-fansnya Alan dengan pandangan membunuh, gimana nggak ngeri coba. Dan itu membuat dia berakhir disini di kantin belakan sekolah mereka. Kantin ini cukup bersih, terlebih lagi makanan yang cukup beragam dengan harga murah yang langsung diserbu oleh siswa-siswi sekolah itu. "Hahah lo juga sih diajak baik-baik nggak mau ya udah." Ujar Letta masih dengan tawa yang menghisi bibirnya. "Coba ya gue beneran gendong lo kesini, gimana ekspresi lo pasti lucu" sambung Alan dengan alis yang diturun naikan bergantian. Melody yang melihat itu ingin sekali melempar sendok dan garpu kearah dua orang didepannya ini. "Elo berdua bisa diem nggak" geram Melody yang langsung membuat dua orang itu kicep, takut. Pasalnya kalau seoarang Melody marah dia bisa mengalahkan banteng yang sedang mengamuk. "Oke oke pisss damai damai" Alan menunjukan membuat tanda "V" dengan dua jarinya, yang langsung diikuti oleh Letta Melody mendengus sebal, selera makanya hilang sudah kemana. Ditatapnya makanan itu tak selera, tapi mau nggak mau dia harus menghabiskan soto itu, karena mubazir kalau di buang-buang. Letta yang melihat Melody sudah tenang kembali bersuara " Ah ngomong-ngomong tentang abang lo Mel, orangnya kayak gimana?" Dia penasaran, baru kali ini dia mendengar Melody mempunyai seorang kakak, karena kalau dia main kerumah gadis itu yang bisa dilihat hanya orang tuanya dan beberpa pembatu disana "Ah abang gue, dia orangnya baik banget tapi sayangnya overprotective" jawabnya setelah menyelesaikan acara makannya yang sudah beberapa kali terganggu. "Kalau mau lebih jelasnya besok aja kalau itu orang udah balik" kekeh Melody saat melihat wajah Letta yang mulanya penasaran berganti menjadi kecewa. "Nggak seru. Bikin penasaran orang aja" "Bodo, yang penting bukan gue yang penasaran" ujar Melody sambil menghendikkan bahu, dan langsung tertawa saat Letta mencubit pingganganya *** "Cup, lempar bolanya. Jangan dieramin terus" teriak Radit yang sudah berada dibawah ring basket "Lo kira telur dieramin" balas Tyo sambil mengelap keringatnya dengan baju seragamnya yang kini sudah terbuka "Alah bawel banget sih kalian" Alan menatap teman-temannya itu kesal "Cup, elah lu mah lama amat megang bolanya. Sini lempar ke gue" Dan benar saja, Ucup melemparkan bola basket itu tepat dikepalanya "Sakit bego." Umpat Alan "Alah cuman kena bola basket aja ngeluh, cemen lu" balas Ucup santai sambil Kepala Alan berdenyut,"Sini lo Cup, gue jadiin tempe penyet" ancamnya sambil berjalan kearah Ucup "Segitu kangennya lo sama gue Lan, sampe nyuruh gue kesana" Semua yang ada disana tertawa mendengarnya, tak terkecuali Melody dan Letta yang sejak tadi menonton adegan konyol itu. Jam ke 5-6 kelas Melody kosong, sehingga daripada diam dikelas dan tidak tahu melakukan apa-apa mereka semua keluar, melakukan hal yang tidak membosan seperti saat ini. "Cape gue ketawa, Ucup emang paling bisa deh bales omongan orang" Melody menyeka air matanya yang keluar karena lelah tertawa. "Pacar lo tuh Let" ujarnya sambil menyenggol pundak Letta Letta mendelik kesal, tawanya hilang seketika "Sialan Lo, Man. Gue doain deh lo jodoh sama Ucup" "Amin, semoga lo jodoh sama Ucup" "Melody" geramnya. Melodya tertawa kecil. Sebenarnya tak ada yang salah dengan Ucup, cowok itu manis, pinter ya meski sikapnya sedikit bikin orang emosi seperti tadi, tapi Ucup orangnya baik banget. Eh bentar kok gue jadi mikirin si Ucup sih. "Becanda Letta, segitunya lo nggak mau jodoh sama Ucup. Hati-hati loh biasanya orang yang kayak gitu malah jodoh beneran" godanya lagi sambil menaik turunkan alisnya. "Cari mati lo ya" Letta mengepalkan tangannya pura-pura berniat untuk memukul sahabatnya itu "Yailah mbak, gue cuman becanda." Melody membuat tanda V dengan jemarinya. Letta terdiam, lalu mengeluarkan senyum yang mencurigakan di mata Melody "Ngomong-ngomong Alan cakep banget ya" pujinya "Cakep apanya. Sok cakep iya" Cibir Melody. Padahal dalam hatinya dia menyetujui ucapan Letta. Dia benar-benar menyukai Alan, apapun yang dimili oleh cowok itu bisa membuat sebuah debaran yang sudah sangat sering membuat dia kalang kabut. Kalau boleh dia jujur, dia tak menyangka bahwa Alan bisa tumbuh seperti sekarang ini. Tanpa sadar, pandangan Melody mengikuti setiap gerakan yang dilakukan oleh Alan, dari mengelap keringatnya yang menambah taraf kegantengan bagi Melody, atau mengacak rambutnya sendiri. Letta yang melihat Melody terpana, geleng-geleng kepala "Katanya nggak cakep, kok sampe ngiler gitu" celetuknya, membuat Melody tersentak kaget. "Apaan sih, siapa juga yang liatin Alan" elaknya "Eh gue mau perpustukaan dulu ya" ujarnya sambil bangkit. Dia harus cepet-cepet pergi dari sini sebelum Letta semakin menjadi-jadi. Letta mengibaskan tangannya "Alah bilang aja ngeles. Nggak usah ngeles juga percuma, keliatan banget lo kagum eh bukan suka banget sama Alan" "Siapa bilang?" Melody bersidekap menantang Letta "Gue kan tadi. Lo b***k ya" Melody berdecak lalu menghela nafas, berdebat sama Letta nggak bakal bisa menang "Serah, sebahagia elu aja Let. Udah deh, gue mau keperpus dulu sebelum pulang" "Elo serius mau keperpus, nggak salah denger kan gue?" Tanya Letta, dan Melody menganggukan kepalanya "Kepala lo nggak kebentur kan?" Kini gantian Melody yang memukul pundak sahabatnya itu "Sialan lo. Nggak lah, kepala gue nggak kebentur sama sekali. Emang salah gitu kalau gue ke perpus. Letta nyengir "Nggak s salah sih, cuman ya aneh aja" "Sialan. Lo mau ikut nggak?" Letta menggeleng cepat, "Nggak deh, gue mau disini aja. Lumayan dapat liat cogan" Melody memutar bola matanya malas, Letta masih aja kayak dulu "Ya udah deh, gue pergi dulu" "Nggak diajak Alannya?" "Berisik" Melody menggurutu, tapi dia langsung terkekeh kecil Kenapa orang lain bisa meliha dia menyukai Alan, tapi cowok itu tidak bisa. *** "Gue duluan ya, nggak apa-apakan?" tanya Alan saat cowok itu sudah selesai membereskan mejanya tepat setelah bel berbunyi. Melody dan Letta menoleh kearahnnya dengan pandangan bertanya, dan itu membuat Alan tersenyum kecil. Terkadang dia heran, mereka beda tapi kok sering ngeluarin ekspresi yang sama ya. "Ya udah hati-hati" ujar Melody cuek yang langsung melanjutkan acara memasukan buku yang tertunda. Letta juga hanya mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata, dan membuat Alan melongo. "Loh kenapa, katanya mau pergi?' kening Melody mengerut heran karena cowok itu masih ditempat yang semula. Alan yang ditatap Melody menggaruk tengkuknya yang tak gatal "Iya ini mau pergi, gue pergi ya awas jangan kangen" Diusap kepala Melody lembut lalu melangkahkan kakinya darisana. Melody mengerjapkan matanya, pandangannya masih mengikuti kemana Alan pergi. Jantungnya berdebar, tangannya menyentuh bekas dimana Alan mengusapnya tadi. Padahal perilaku tadi bukan pertama kali dilakukan Alan, tapi kenapa jantungnya terus menerus berdebar. Letta yang menoleh kearah Melody berdecak pelan, temannya ini benar-benar, "Jujur aja kenapa sih sama Alan Mel, daripada lo kayak gini." Melody menghembuskan pelan lalu menggeleng pelan, "Balik yuk" ajaknya lalu bangkit dari bangkunya. Letta hanya mendengus sebal selalu seperti ini kalau dia tanya kenapa Melody nggak pernah bilang sama Alan. Akhirnya dia bangkit juga dari sana dan mengikuti Melody keparkiran. "Lo yakin nggak apa-apa nungguin sendiri, udah siang nih" Letta melihat kearah jam tangannya sudah lewat setengah jam dari jam pulang sekolah. Sudah beberapa kali dia menawari tapi tetap saja jawabanya nggak, makasi Let. Melody tersenyum menenangkan "Iya nggak apa-apa, lo pulang duluan gih kasian tuh sopir lo nungguin dari tadi" ujarnya pelan. Letta menoleh kearah belakang dan benar Pak Asep terlihat menguap, mau tak mau dia mengakuinya akhirnya dia mau mengikuti ucapan Melody " Ya udah, gue balik duluan. Kalau lo ada apa-apa telpon gue atau Alan. Ck mana sih tu orang juga ditelpon nggak diangkat-angkat" omel Letta yang mau nggak mau membuat Melody tertawa, "Gue nggak apa-apa seriusan, lagi bentar juga dateng paling ayah lagi dijalan." Ujarnya mencoba menyakinkan Letta, padahal dia saja sebenarnya nggak yakin sama jawabannya, yang penting Letta pulang sekarang. "Ya udah gue balik deh, hati-hati ya" "Yang harusnya bilang hati-hati gue Let. Hati-hati ya" ucapnya geli sambil melambaikan tangannya. Letta mengangguk dan berjalan menjauh dari sana menuju tempat sopirnya berada. Sebelum dia masuk dia menoleh lalu melambaikan tangannya kearah Melody yang dibales lambaian juga dari gadis itu, barulah dia masuk kedalam mobilnya. Melody mendesah setelah Letta pergi dari sana. "Awas aja sampe dirumah gue mogok ngomong sama Ayah" gerutunya dengan terus sibuk mengotak atik hpnya. "Cewek sendirian aja" Melody yang masih sibuk dengan pikirannya tak mengindahkan suara itu, yang dipentingkan sekarang adalah kapan ayahnya jemput. "Sombong banget sih jadi gadis" Direbutnya hp yang sedang dipegang oleh Melody membuat gadis itu mendongak. Mulutnya terbuka ingin memaki cowok yang kurang ajarnya menarik hpnya, tapi saat melihat sosok didepannya itu dikatupkan kembali dan "Abang kapan balik" alih-alih memaki seperti niat awalnya, gadis itu memeluk erat cowok itu. Cowok itu – Arya- balik memeluk adik kesayangannya "Bukannya kamu tadi mau mukul abang dek?" tanyanya jail, membuat adiknya menggeleng. "Abang sok tau" Melody melepaskan pelukannya dan menatap abangnya dengan penuh rindu "Abang kok baru sekarang baru pulang?" "Iya kan kemarin sibuk skripsi dek" dielusnya kepala adiknya itu sayang. Dia benar-benar merindukan moment seperti ini besama Adiknya, apalagi saat Melody bermanja-manja padanya membuat dia semakin merindukan gadis didepannya ini. "Terus sekarang udah selesai?" tanyanya polos membuat Arya tertawa. "Udah dong dek makanya abang balik kesini. Balik yuk, bunda sama ayah udah nunggu dirumah" Arya menarik lengan Melody pelan, dan menggenggam tangan Adiknya hati-hati. Melody mengangguk dan mengikuti langkah abangnya itu. Orang yang tidak tahu mereka kakak adik, akan berpikiran bahwa mereka adalah sepasang keksasih. Seperti sekarang, meski disekolahnya sudah lumayan sepi tapi ada beberapa murid disana dan menatap mereka berdua dengan pandangan yang berbeda, ada yang iri, ada yang terpana melihat wajah kakaknya, dan ada lagi yang penasaran siapa cowok disampingnya. Melody yang sudah terbiasa dengan itu semakin memepetkan tubuhnya kearah Arya membuat orang yang sedang memperhatikan mereka semakin terbelalak. Arya yang tahu maksud dari Adiknya itupun terkekeh, dan mengganti genggaman menjadi pelukan erat hingga mereka sampai pada mobil yang dikendarai Arya barulah dia melepaskan pelukannya. "Silahkan tuan putri" ucapnya seraya membukakan pintu untuk Aditk tercintanya itu. Melody tersenyum dan melenggang masuk kedalam mobil Arya. Saat melihat Melody sudah duduk dengan aman didalam mobil Arya menutup pintu lalu memutari mobilnya dan menyalakan mesin mobil meninggalkan lingkungan sekolah Melody. Selama perjalanan Arya dan Melody tertawa, banyak hal yang mereka bicarakan. Salah satunya adalah Alan. Meski Arya itu jauh dari Melody tapi dia tetep memantau bagaimana kedaan Adiknya itu. "Apaan sih bang" balas Melody malas, saat Arya menanyakan bagaimana hubungannya dengan Alan. "Loh kok apaan dek, abang kan cuman nanyak aja" Arya melirik sebentar kearah Adiknya dan tersenyum penuh arti "atau udah ada peningkatan dari sahabat menjadi ehem pacar" "Abang ngomong apaan sih. Orang aku sama dia sahabat doang" ucapnya semakin lirih. Matanya tiba-tiba memanas saat mengatakan itu, dialihkan wajahnya menghadap keluar jendela. Gimana mau jadi pacar kak orangnya nggak peka batinnya. Arya menoleh kearah arah Adiknya sebentar dielusnya lagi kepala Adiknya itu lembut dengan tangan kirinya. Dia tahu sangat tahu malah apa yang dirasakan Melody " Mau makan ice cream dulu nggak dek, abang traktir" tawarnya saat Melody belum menoleh kearahnya. Ada dua hal yang bisa menjadi alasan saat Arya mengelus kepala Melody tapi gadis itu tidak menoleh, pertama dia sedang marah dengan Arya, kedua dia sedang menetupi kesedihannya. Dan Arya yakin alasan kedua lebih masuk akal untuk sekarang. Baru saja Arya ingin membuka mulut, Melody menoleh ke arahnya dan membuka suara. "Nggak ah bang, balik aja deh kasian abang pasti cape jemput Melody kesekolah. Kenapa nggak ayah aja sih, ayah nggak punya perasaan" cecar Melody dengan tampang cemberut. Mau tak mau Arya terkekeh, tapi jauh dalam hatinya dia tahu Melody tak ingin dia tahu apa yang Aditk kecilnya itu rasakan "Nggak boleh ngomong gitu dek, ayah bukannya nggak punya perasaan tapi sadis" candanya dengan mata yang masih fokus memperhartikan jalan. "Ih Abang mah lebih parah omongannya, tapi iya sih" Mereka berdua sama-sama tertawa, berharap ayah mereka tidak bersin-bersin karena omongan mereka. Sesampainya dirumah Melody turun dari mobil dan langsung masuk kedalam rumahnya, "Assalamualaikum, Bunda Melody pulang" teriaknya didalam rumah membuat dua orang tuanya langsung menghampiri gadis itu. "Kamu ya dek, pulang ya biasa aja nggak usah teriak gitu" Jasmine geleng-geleng kepala melihat tingkah laku Melody itu. Yang dibilangin malah cengengesan nggak jelas sambil melepaskan alas kakinya "Kan biar bunda tau kalau Melody udah pulang" elaknya yang membuat semua orang disana geleng-geleng kepala Termasuk Arya yang langsung mencubit pipi Melody saking gemasnya dan baru dilepaskan saat sang pemilik pipi mengaduh kesakitan. "Abang ih, baru pulang udah nyiksa adeknya kualat tau" sambil terus mengelus pipinya yang menjadi korban kakaknya itu. Bukannya marah Arya malah tertawa ngakak mendengarnya "Kualat darimananya dek, jadi pingin nyubit" "Udah nyubit tau bang, ih" sewot Melody dan langsung pergi dari sana menuju kamarnya dilantai atas. "Abang, kalau adek kamu ngambek bunda nggak tanggung jawab ya." ucap Bundanya yang langsung melenggang pergi menyiapkan makanan untuk keluarganya. Jasmine geleng-geleng kepala melihat tingkah dua anaknya itu, kalau salah satu pergi ada yang kangen tapi kalau udah kumpul semua ya kayak gitu ribut. "Nggak bakal Bun, Arya kan udah siapin hadiah spesial buat adek abang yang satu itu jadi dijamin nggak bakal ngambek deh" Arya menepuk dadanya bangga. "Eh ngomong-ngomong bang, kok tadi ayah dicuekin ya sama adekmu, kenapa?" Adi merasa bingung dengan sikap putri kecilnya itu, perasaan hari ini tidak melakukan kesalahan. Sejak tadi kata-kata yang keluar dari anak gadisnya itu hanya bunda ataupun abang, nggak ada satu kata ayah disana. Arya yang sedang asik mencomot makanan menoleh kearah ayahnya dan mengehendikan bahunya "nggak tau yah,eh bentar kayaknya gara-gara dia lama dijemput terus ayah nyuruh Arya jemput Melody disekolahnya, kalau nggak salah sih tadi adek bilang Ayah nggak punya perasaan." Setelah mengucapkan itu Arya melanjutkan mencomot makanannya mumpun bundanya sedang nggak memperhatikannya. Adi terdiam sejenak sebelum bicara lagi "Terus kamu nggak belain ayah gitu" tanyanya lagi Arya yang sudah selesai dari kegiatan comot mencomot langsung menghampiri ayahnya "Aku belain kok yah suer, malah aku bilang ayah itu bukannya nggak punya perasaan" jawabnya dengan tampang yang meyakinkan dan saat ayahnya mengangguk sambil tersenyum Arya melangkah pergi darisana, tapi baru beberapa langkah Arya kembali menoleh sambil mengucapkan satu kata yang membuat ayahnya kesal "Tapi sadis" setelah mengatakan itu Arya cepat-cepat masuk kekamarnya dan langsung menguncinya "Arya" teriaknya. Astaga benar-benar dah kedua anaknya itu kalau udah kumpul bisa bully ayahnya seperti ini. Jasmine yang mendengar teriakan suaminya itu langsung menghampirinya dengan pandangan penuh heran "Kenapa Yah?" Adi yang ditanya menunjuk arah kamar Arya bergantian dengan kamar Melody yang ada dilantai atas "Itu loh anakmu bun" Adi menceritakan apa yang dikatakan oleh Arya kepada istrinya berharap mendapat dukungan. "Oh gitu." "Kok cuman Oh gitu bun?" Adi heran dengan respon istrinya itu. "Loh emang kan, ayah emang sadis" setelah itu Jasmine kembali kedapur menyelesaikan memasaknya yang belum selesai. Aditt melongo mendengar reaksi istrinya itu. Astaga kenapa semua jadi ngebully gini pikirnya. Lalu bangkit darisana masuk kedalam kamarnya, lebih baik tidur daripada dibully gitu. *** Hari itu dipenuhi dengan canda tawa Arya dan Melody yang terus mengatakan Ayahnya tidak punya perasaan atau sadis dan membuat ayahnya itu kesal. Melihat itu Arya dan Melody langsung meminta maaf. "Lain kali kalau kamu ngomong gitu, ayah kirim kamu ke Belanda nggak ayah kasih pesangon biar beneran sadis" ucap Ayahnya yang membuat Arya kalang kabut. Sebenarnya Adi hanya becanda tapi biarlah sekali-kali ngerjain anaknya nggak apa-apa kan Jasmine yang tahu suaminya itu sedang becanda tak ambil pusing, dengan santainya dia mengupas apel dan memberikannya kepada Melody yang tengah menonton perdebatan antara Arya dan Ayahnya. "Udah lama ya dek, nggak denger perdebatan kayak gini" ujar Jasmine sambil memasukan potongan apel kedalam mulutnya "Iya Bun, udah lama banget. Melody seneng deh abang udah balik jadi ada yang disuruh nganter kemana-mana" balas Melody dengan cengiran polos membuat Jasmine tersnyum "Dasar" Jasmine menghadap kearah dua orang yang sedang melakukan pembicaraan yang tidak jelas kapan berhentinya "Kalian mau makan buahnya atau nggak?" Seperti sebuah ultimatum, dua orang itu menoleh dan langsung mengangguk mengambil buah yang sudah disiapkan oleh Jasmine. Melody terkekeh melihatnya, dirumah ini nggak ada yang lebih menyeramkan daripada bundanya sekali bundanya itu bicara dengan nada serius nggak ada yang berani membantahnya. Setelah makan malam, semua keluarga Melody sudah siap-siap untuk tidur termasuk dengan Melody sendiri. Saat gadis itu hendak mematikan lampu tidur terdengar suara ketukan pintu yang membuat dia harus mengurungkan niatnya dan berjalan untuk membuka pintu itu. "Loh abang ngapain?" tanyanya saat melihat orang yang mengetuk pintunya adalah Arya kakaknya. "Nggak ngapa-ngapain cuman mau bilang selamat tidur buat adek abang yang imut ini sama ngasih barang yang kamu titipin" ucapnya lembut sambil mengacak rambut Melody " Udah langsung tidur ya, nggak usah baca novel" lanjutnya lagi yang diiringi kecupan dikening Melody. Melody mengangguk, dia benar-benar kangen dengan hal seperti ini. Ah bahagianya abangnya sudah pulang. "Abang juga sleep well ya," Arya mengangguk dan pergi menuju kamarnya dibawah. Dan saat Arya sudah tidak terlihat lagi Melody menutup pintu berjalan menuju tempat tidur yang sebelumnya sudah mematikan lampu dikamarnya.. "Aku harap ada waktu di mana aku mengungkapkannya," gumam Melody sebelum menutup mata.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD