Kalau dekat bertengkar, kalau jauh mencari.
Sejak kepulangan Arya ke Indonesia, Melody selalu bermanja-manja dengan kakaknya itu. Kalau Melody ditegur oleh orang tuanya, gadis itu hanya menjawab Aku kan kangen sama abang yang mau nggak mau membuat dua orang tuanya menyerah. Seperti tadi pagi, gadis itu terus menerus menerus menggedor kamar kakaknya itu hingga kakaknya bangun dan mengantarkan dia kesekolahnya masih dengan muka bantal khas orang baru bangun.
Mengingat itu saja membuat Melody geli sendiri terlebih lagi melihat foto yang sempat diambil tadi membuat dia tak menyadari seseorang yang ada didepannya dan
Brug
Melody menabrak seseorang dan tubuhnya oleng kehilangan keseimbangan. Matanya reflek terpejam sudah siap untuk merasakan dinginnya lantai tentu dengan sedikit rasa sakit. Tapi sudah beberapa menit belum juga dirasakan tubuhnya jatuh dan itu membuat keningnya mengkerut heran, terlebih lagi dia mendengar suara deheman yang mau tak mau membuat dia membuka matanya.
Matanya terbelalak saat melihat seorang cowok yang wajahnya sangat dekat dengannya.
"Gue udah pegel megangin lo, jadi bisa bangun sekarang kan?" ucap cowok itu yang membuat Melody tersadar dan langsung bangkit dari pelukan cowok itu.
"Maaf gue nggak sengaja" ucap Melody menunduk malu merutuki dirinya sendiri. Pantas saja dia tak merasakan rasa sakit, cowok itu yang menahannya.
"Santai aja. Tapi lo berat juga ya tangan gue sampe pegel gini" ujarnya santai tanpa beban yang langsung membuat Melody terbelalak tak percaya
Malu yang sempat dia rasakan hilang sudah digantikan rasa kesal. Enak aja dia bilang gue berat, gini-gini berat gue ideal kali ucapnya dalam hati. Cowok ini nggak tau apa kalau kata "berat" itu bisa menyinggung perasaaat gadis.
Diangkat kepalanya dan menatap cowok yang tengah menatapnya itu "Heh mas, gue makasi banget lo udah nolongin gue tapi nggak usah ngatain gue berat juga kali" kesalnya.
Cowok itu mengangkat alisnya dan mengeluarkan senyuman yang dimata Melody entah kenapa sangat menjengkelkan "Gini ya mbak, gue punya nama dan itu bukan mas. Well kalau masalah berat" Matanya meneliti Melody dari atas sampai bawah " sepertinya lebih dari 50" lanjutnya
What, bener-bener cowok satu ini. Andai saja ini bukan disekolah sudah dia gepak mulutnya pikir Melody "Pertama Gue nggak tau nama lo. Kedua berat gue bukan segitu" geram Melody.
Cowok itu terkekeh mendengar ucapan Melody "Lo mau ngajak kenalan ya, bilang kek dari tadi gue Arka" diulurkan tangan kanannya kearah Melody yang langsung membuat gadis itu mendengus kesal
Ditatapnya uluran tangan cowok itu oleh Melody tanpa minat untuk menjabatnya "Gue nggak pernah ngajak lo kenalan" ucapnya sewot, lalu menghentakkan kakinya kesal dan meninggalkan Arka menuju kelasnya Paginya benar-benar menyebalkan batin Melody.
Arka yang melihat itu terkekeh geli masih dengan mengikuti gadis itu hingga berbelok "menarik" lalu melanjutkan keperluannya menuju kepala sekolah sebelum mamanya mengomel.
"Dasar cowok sableng" umpat Melody kesal sambil melempar tasnya kemejanya, membuat Letta dan Alan tersentak kaget
"Astaga Melody bisa nggak sih nggak usah asal lempar gitu bikin jantungan aja" Letta mengusap-usap dadanya mencoba untuk menetralkan detak jantungnya yang sempat berdetak lebih cepat gara-gara sahabatnya itu.
Melody yang merasa bersalahpun membentuk tanda "V" dengan jari telunjuk dan tengahnya tak lupa dengan cengiran diwajahnya "Ya maaf Let" lalu menjatuhkan tubuhnya disamping gadis itu
"Lo kenapa sih pagi-pagi udah keliatan bete gitu"
"Bukan keliatan tapi emang bete" sanggah Melody yang membuat Letta mengerutkan keningnya heran.
Mengingat cowok itu membuat Melody kepalanya mendidih karena kesal, ingin sekali dia melempar sepatunya langsung kearah wajah yang sangat menyebalkan itu. Seenaknya saja dia mengatakan Melody beratnya 50, cih bener-bener
"Emang kenapa?" kali ini bukan Letta yang bertanya tapi Alan yang berada dibelakang bangku dua gadis itu membuat Melody menoleh.
"Gara-gara cowok super nyebelin" balasnya masih dengan tampang cemberut, membuat Alan dan Letta semakin mendekatkan kearah gadis itu penasaran. " Udah nggak usah banyak tanyak, gue nggak kenal sama cowok itu kalau itu yang kalian mau tanya" lanjutnya saat melihat dua orang itu membuka mulutnya.
Mau tak mau Letta dan Alan mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih lanjut, karena mereka tau semakin mereka memaksa Melody mereka yang akan kena getahnya.
Tepat pada saat itu kepala sekolah mereka datang, dan membuat kelas yang sempat ribut menjadi hening seketika. Bu Nina –kepala sekolah- berdehem sejenak sebelum mulai berbicara "Anak-anak, disini ibu membawa teman baru untuk kalian" Bu Nina menoleh kearah pintu yang diikuti oleh siswa siswi disana kecuali Melody yang masih meredam kekesalanya. "Ayo Arka masuk"
Gadis-gadis didalam kelas tersebut mulai berkasak kusuk saat melihat Arka yang disebutkan oleh kepala sekolahnya itu melangkah masuk kedalam kelasnya. Beda dengan reaksi gadis, cowok-cowok tersebut mendengus kesal bukan karena Arka tapi karena kasak kusuk dari teman-teman gadisnya itu.
"Yaelah nggak usah pake bisik-bisik segala, percuma orangnya juga denger" sindir Teo membuat rata-rata gadis dikelasnya menoleh kearahnya dengan tatapan membunuh. Sedangkan cowok-cowok yang lain menahan tawa mereka.
"Semuanya tenang" Bu Nina mengedarkan pandangannya tajam yang langsung membuat siswi menoleh kembali kearah semula "Nah Arka silahkan perkenalkan diri kamu" ucapnya yang dibalas senyuman dan anggukan dari cowok yang bernama Arka itu
"Nama saya Arka Dwi Purnama, kalian bisa memanggil saya Arka" ucapnya dengan senyum tipis yang membuat para kaum hawa dikelas itu terpana.
Termasuk Letta yang terus menerus menyenggol lengan Melody yang akhirnya mendapatkan pelototan tajam dari sang sahabatnya itu.
"Apaan sih Let" sewot Melody yang sudah tak tahan dengan sikutan dari Letta itu. Letta menoleh dan memberikan kode kepada Melody untuk menoleh kedepan
"Cakep banget Mel" bisik Letta. Cakep siapa yang cakep pikirnya bingung, daritadi dia sibuk menunduk jadi dia tak tahu siapa yang dimaksud oleh Letta. Saking penasaran Melody akhirnya memalingkan wajahkan kedepan karena dia melihat yang fokus memperhatikan depan, matanya terbelalak tak percaya dia kan cowok menyebalkan itu.
Arka yang sedang mengedarkan pandangannya kaget saat melihat gadis yang tadi pagi menabraknya dengan pandangan tajam. Ah gue bakalan betah dikelas ini batinnya lalu memalingkan wajahnya.
"Ya sudah Arka kamu bisa duduk di bangku kosong sebelah sana" tunjuk Bu Nina kearah salah satu bangku yang berada dideretan Melody.
Arka mengangguk dan berjalan menuju bangku yang ditunjuk oleh kepala sekolahnya itu, tapi saat dia melewati meja Melody diliriknya sekilas gadis yang sedang membuang muka kearah lain. Arka terkekeh geli lalu melanjutkan langkahnya menuju bangku yang akan ditempati untuk beberapa waktu. Tanpa cowok itu sadar ada sepasang yang daritadi menatapnya tajam, menahan perasaan yang bergejolak didalam tubuhnya.
"Nah kalau begitu Ibu pamit dulu, jangan ribut guru kalian sebentar lagi datang" tegas Bu Nina yang langsung diiyakan oleh mereka semua, dan bernafas lega ketika kepala sekolahnya sudah berjalan keluar dari kelas itu. Tapi emang nasib sial dikelas itu, baru Bu Nina pergi, guru mereka datang mau tak mau mereka harus mengeluarkan buku dan bersiap untuk mendengarkan gurunya itu berceloteh panjang.
***
"Kantin yuk" ajak Alan pada dua gadis yang sedang mengobrol siapa lagi kalau bukan Melody dan Letta.
Kedua orang itu mengangguk menyanggupi, terlebih lagi Melody perutnya sudah berdemo untuk cepat-cepat diisi. Baru saja mereka hendak keluar sebuah suara menghentikan mereka, membuat mereka bertiga menoleh kebelakang, dan menemukan sosok anak baru disna.
"Gue boleh gabung nggak?" tanya Arka pada ketiga orang itu tentu dengan senyum tipis dibibirnya membuat semua gadis terpesona tentu nggak termasuk Melody. Gadis itu bahkan saat melihat Arka langsung membuang muka.
"Boleh kok boleh" Letta langsung menjawab dengan antusias membuat Melody langsung menoleh kearahnya
"Apaan, nggak-nggak gue males sama dia" tolaknya langsung, membuat Letta dan Aldo heran. Males banget samaan sama cowok super nyebelin itu, bisa darah tinggi gue batinnya.
Arka bukannya tersinggung malah tertawa, dan itu membuat beberapa gadis yang lewat didepan mereka menoleh kearahnya dengan pandangan suka "Masih marah sama yang tadi maaf deh maaf" ucapnya dengan senyum miring diwajahnya dan itu benar-benar membuat Melody jengkel. "Tapi beneran lo itu gendut"
Dan satu kata itu membuat Melody meledak karena kesal, ntah kenapa hari ini dia sensi saat ketemu cowok didepannya ini "Heh denger ya gue nggak seberat yang lo kira" geramnya lalu berjalan meninggalkan tiga orang dibelakangnya. Niat untuk makan hilang sudah, yang dia inginkan sekarang adalah mendinginkan kepalanya sebelum benar-benar meledak.
"Lo mau kemana Mel" teriak Letta saat melihat Melody berjalan menjauh tapi bukan kearah kantin yang seperti direncakan
Langkah Melody berhenti karena teriakan itu, dan mau tidak mau menolehkan kepalanya menghadap Letta "Mau ke perpus" teriaknya balik lalu melanjutkan langkahnya tak memperdulikan teriakan Letta lagi.
Melody mengedarkan pandangannya kearah buku-buku yang tertata rapi dalam rak-rak berwarna cokelat. Sudah 15 menit tapi dia belum juga mendapatkan buku untuk dibaca. Sebenarnya tadi dia mengatakan akan ke perpus asal bicara saja karena saking jengkelnya dengan Arka tapi sekarang dia benar-benar kejebak disini, dan dia benar-benar menyesal bukan hanya karena perutnya sudah mendemo-demo untuk diisi tapi juga karena dia sudah dipelototi oleh penjaga perpus. Dan itu membuat dia akhirnya mengambil buku secara acak dan memilih duduk dipojok perpustakaan.
Dibukanya lembar demi lembar buku itu tanpa minat, semakin dia lama membuka buku itu semakin kencang juga perutnya berbunyi, meski tak masuk akal tapi itulah yang terjadi. Akhirnya karena minat yang belum juga datang ditutupnya buku itu dan ditelungkupkan kepalanya keatas meja mencoba memejamkan sejenak dan berharap rasa laparnya menghilang.
Tapi baru saja dia memejamkan matanya dirasakan kursi disebelahnya bergeser membuat Melody menoleh kearah samping dan menemukan Alan yang sedang meatapnya dengan alis yang terangkat sebelah.
"Lo kalau mau tidur nggak usah disini juga kali dasar kebo" cibir Alan yang langsung duduk disamping gadis yang tengah menatapnya dengan puppy eyesnya " apa?"
"Lo bawa makanan nggak?" Melody memperhatikan Alan dari atas bawah berharap cowok itu membawa makan ya minimal roti gitu, tapi langsung mencelos saat pandangannya tak juga menemukan apa yang dicarinya.
Alan geleng-geleng kepala melihat kebiasaan Melody itu. Kebiasaan yang membuat dirinya khawatir, Alan tau kalau Melody sedang marah seperti tadi dia akan pergi ketempat yang jarang dia kunjungi melewatkan waktu makan hingga mag gadis itu kumat. Diraihnya roti yang sempat dia beli tadi, dari sakunya dan mengeluarkannya tepat di depan gadis itu.
"Nih makan, jangan jadiin kebiasaan deh. Kalau laper makan nggak usah ditahan kayak tadi." Omel Alan yang dibalas cengiran oleh Melody membuat dia mendesah dan mengacak rambut gadis itu gemas.
Ingin sekali Melody menghentikan waktu sejenak, menikmati kebersamaan mereka berdua saat ini. Lagi dan lagi jantungnya berdebar ketika Alan mengacak rambutnya, dipalingkannya muka kearah lain menyembunyikan pipinya yang memerah karena tingkah cowok yang sudah mencuri hatinya itu.
"Dasar Ambekan" Melody membiarkan saja apa yang diucapkan cowok itu, yang terpenting sekarang dia menghilangkan semburat merah dipipinya saat ini. Biarlah cowok itu mengira dia ngambek, saat ini dia belum siap untuk mengungkapkan perasaannya pada cowok disebelahnya itu. ada perasaan takut jika mengungkapkannya persahabatannya tak akan pernah sama lagi.
Alan menarik lengan Melody hingga tubuh itu berbalik menghadapnya lagi " Lo ambekan banget sih Mel, rambut lo nggak rusak kok" Alan merapikan rambut Melody dan menyampirkan beberapa helai rambut dibelakang telinga gadis itu "Nah selesai".
Melody yang menerima perilaku seperti itu dari Alan gugup setengah mati, tapi dia berusaha keras untuk menunjukkannya, "Gue nggak ngambek" tukasnya membuat Alan menatapnya dengan pandangan yang seakan mengatakan Masa' dan itu membuat dia memutar bola matanya malas.
Alan terkekeh dan bangkit darisana " Balik yuk udah mau bel" Ajaknya dengan tangan yang diulurkan kearah Melody, membantu gadis itu berdiri.
Melody mengangguk dan meraih uluran tangan Alan. Selang beberapa waktu mereka terdiam sibuk dengan pikirannya hingga sebuah suara membuat mereka berdua berhenti dan menoleh ke belakang.
"Kak Alan" panggil gadis berambut pendek itu. Pandangannya lurus kearah Alan, inget ya Lurus membuat Melody dongkol sendiri, apalagi dapat dilihatnya semburat merah di pipi gadis itu.
"Apa?" tanya Alan dingin yang membuat gadis itu bergerak salah tingkah ditempatnya berdiri. Bukan hanya gads itu Melody juga melongo tak percaya Alan bisa bicara dengan nada seperti itu.
"Ini buat kak Alan" diserahkan kota kecil berwarna merah ke arah Alan yang tengah menatapnya heran. Jantungnya berdebar kencang, menunggu respon dari kakak kelas yang terkenal ganteng itu.
Melody menyenggol Alan dan membuat cowok itu menoleh, diberikannya kode buat mengambil kotak yang disodorkan oleh gadis itu tapi emang Alan yang nggak peka dia hanya memberikan tampang datar kearah Melody dan membuat Melody ingin melemparnya sekarang juga.
"Alan" desis Melody membuat cowok itu cengengesan tak jelas dan langsung menoleh kearah gadis yang didepannya.
"Makasih ya,tapi lain kali nggak usah repot-repot" Alan mengambil kotak kecil itu membuat gadis itu wajahnya semakin memerah. "Nama lo siapa?" tanya Alan tiba-tiba yang membuat gadis itu kaget karena senang
Bukan hanya gadis itu yang kaget, melainkan Melody yang ada disampingnya juga ikut kaget. Jarang-jarang seorang Alan bersikap seperti pada orang yang baru dikenalnya. Apa jangan-jangan... nggak-nggak pasti cuman bersikap baik aja ya pasti batin Melody. Tapi semakin kuat dia menyakinkan diri sendiri semakin sesak dadanya membayangkan hal lain yang mungkin terjadi.
"Santi kak" Alan mengangguk mengerti dan mengangkat kotak itu "makasi sekali lagi ayok Mel" lalu menarik tangan Melody untuk mengikutinya kembali dari kelas.
"Ciee yang habis pacaran" ledek Letta saat pandangannya jatuh kearah Melody dan Alan yang baru masuk kelas. Alisnya naik turun menggoda dua orang itu.
"Oh mereka pacaran ya?" sambung Arka yang diangguki langsung oleh Letta "doain aja"
"Pacaran mbahmu" semprot Alan yang langsung ngeloyor ke bangkunya. Dibukannya kotak kecil yang diberikan oleh Santi tadi, dan menemukan sebuah jam tangan disana.
Tanpa Alan sadari kalimat yang diucapkan olehnya tadi membuat Melody sesak. Apakah mereka memang tak bisa mengubah status mereka batinnya. Perubahan ekspresi Melody ternyata dilihat oleh Arka dan Letta.
"Dari siapa Lan?" tanya Letta penasaran saat tak sengaja menoleh kebelakang dan melihat Alan sedang membuka sebuah kotak
"Dari fansnya dia" sahut Melody tiba-tiba, sambil membolak baliknya tanpa minat, ada rasa cemburu didalam dirinya ketika mengingat Alan menanyakan nama gadis tadi.
Letta mengernyit heran dengan nada balasan Melody tapi hanya sebentar karena sekarang kedua sudut bibirnya tertarik keatas "Kan bukan lo yang gue tanya, tapi Alan. Cemburu ya, ciee" Letta menoel-noel dagu Melody tak memperdulikan pelototan yang diberikan oleh gadis itu. "Lan, Melody cemburu tuh" lanjutnya sambil menunjuk-nunjuk Melody.
Alan menaikan alisnya satu lalu mengahadap kearah Melody lalu ikit menggoda gadis itu, membuat Melody semakin melotot kearah dua orang itu, dan pada saat pandangannya jatuh kearah Arka yang tertawa mukanya semakin kesal " Apa lo" bentak Melody membuat Arka langsung menghentikan tawanya
"Nggak apa-apa." Arka bangkit dari tempat duduknya beranjak ke bangkunya dibelakang sambil melanjutkan tawanya yang sempat dia hentikan tadi.
"Dasar menyebalkan" gerutu Melody dan membenarkan kembali posisi duduknya yang sebelumnya sudah mengomel kearah Alan dan Letta
****
Sudah lewat 1 jam dari jam pulang sekolahnya tapi Melody belum juga dijemput. Beberapa kali dia menghubungi nomor ayah dan abangnya tapi tak satupun yang mengangkatnya, membuat dia mendengus sebal dan berniat untuk mogok bicara sama ayah dan abangnya.
"Tau kayak gini, gue nebeng sama Letta tadi" gerutunya masih dengan mengotak-atik hpnya kesal. Letta, sahabatnya itu sudah pulang sejak setengah jam lalu dan gadis itu sudah menawarinya beberapa kali, yang dengan bodohnya dia tolak.
Alan? Jangan ditanya lagi, karena saat bel pulang sekolah dia sudah pergi entah kemana. Dan yang membuat dia kesal adalah cowok ini juga tidak mengangkat telponnya sama sekali. Bener-bener dah ya, 3 cowok yang dia kenal dalam hidupnya membuat dia kesal pada hari yang bersamaan.
Saat sibuk dengan pikiran dengan siapa dia akan pulang, terdengar klakson mobil yang membuat dia menoleh kearah suara itu. Tapi saat dia tahu siapa pemilik mobil itu, dia mendengus dan melanjutkan kesibukannya mencoba menghubungi tiga orang itu.
"Belum pulang?" Melody pura-pura tidak mendengar pertanyaan itu, yang dia lakukan malah semakin memfokuskan diri dengan hpnya.
Orang itu bukannya marah, malah sengaja duduk didekat gadis itu "Lo ngapain disini sendiri, ini udah .. 1 jam lebih loh dari bel pulang sekolah" Arka melihat jam tanganya lalu memerhatikan gadis itu kembali.
"Gue udah tau, dan bukan urusan lo juga kalau gue mau ngapain disini" ketusnya sekarang dia benar-benar dalam mood buruk, setelah telponnya nggak diangkat oleh 3 orang itu, bbmnya nggak dibales sama sekali padahal sudah di Read. Ok Fine, gue nggak bakalan mau angkat telpon dari mereka batinnya dan memasukkan hpnya kedalam tas.
Melody mengadahkan kepalanya dan kaget melihat Arka masih disana menatapnya "Lo ngapain masih disini?"
Arka tersenyum tipis tak tersinggung sama sekali dengan nada bicara gadis itu "Gue nungguin lo" ucapnya santai
Bukannya tersenyum manis, Melody malah mendengus sebal dan menatap tajam kearah Arka " Gue nggak nyuruh lo tungguin gue kan" Melody masih tak mengerti apa maunya cowok itu. Tanpa menatap Arka, Melody bangkit bersiap-siap untuk meninggalkan sekolahnya itu, baru dua langkah dia berjalan tangannya dipegang oleh seseorang yang Melody tahu siapa, Arka.
"Lo gue anter pulang aja gimana?" tawarnya ramah membuat Melody menghirup nafas pelan dan berbalik menghadap cowok itu.
"Nggak usah repot-repot " Ditarik tangannya dari genggaman Arka secara paksa " gue bisa pulang sendiri" dan berbalik hendak meninggalkan tempat itu
"Gue minta maaf masalah tadi pagi" suara Arka lagi-lagi memberhentikan langkah Melody " Sumpah gue nggak maksud buat lo marah, gue cuman becanda" lanjutnya lagi membuat Melody menoleh kearahnya.
"Tapi becandaan lo kelewatan tau nggak" Melody menatap Arka tajam, tapi tak ada nada ketus dari ucapannya dan itu membuat Arka semakin tersenyum.
"Iya gue ngerti maaf ya." Melody mengangguk, menerima permintaan maaf Arka. Jika dipikir-pikir dia juga salah karena sudah menabrak Arka tadi pagi.
"Oke kalau gitu, sebagai tanda pertemanan gue mengenalkan diri lagi. Gue Arka Dwi Purnama lo bisa manggil gue Arka, kalau lo?" diulurkan tangannya ke Melody, yang langsung disambut oleh gadis itu.
"Gue Melody Zahra Dermawan, lo bisa manggil gue Melody" ucapnya kali ini tanpa ada nada ketus didalamnya.
"Kalau gitu, biar permintaan maaf gue lebih afdol gimana lo gue anter pulang.?"
Melody berfikir sejenak sebelum menjawab "Boleh deh, ngirit ongkos" ucapnya dengan senyum yang pertama kali diberikan pada Arka.
Arka sempat terdiam beberapa menit saat melihat Melody memberikan senyuman untuknya pertama kalinya, tapi langsung membiasakn dirinya lagi "Silahkan princess" ujarnya yang langsung mendapatkan pukulan dari Melody.
Selama perjalanana mereka tertawa, Melody merasa Arka orang yang sangat asyik. Banyak hal yang mereka bicarakan entah dari yang tidak penting sampai yang penting. Manda sedikit merasa menyesal karena sudah membentak Arka.
Saat dipersimpangan jalan, pandangan Melody tak sengaja jatuh pada seseorang yang sangat dikenalnya. Ditajamkan matanya, deg orang itu Alan dan dia sedang menggonceng cewek. Lagi-lagi Melody merasa hatinya teriris-teriris, apalagi melihat tangan gadis itu melingkar dipinggang Alan membuat amarah Melody semakin memanas.
Oke sabar Mel sabar, siapa tahu itu kan hanya kenalan Alan, gumamnya dalam hati. Saat sudah tenang matanya lagi menemukan seorang yang benar-benar sudah dia hapal mati Arya abangnya dengan seorang cewek juga. Mata Melody memanas menahan tangis, dia nggak nyangka dua orang itu menelantarkannya dan memilih untuk menemani cewek lain, ok fine.