Aku tahu akibatnya memendam rasa, tapi, tetap saja menyakitkan.
"Dek bangun, udah malem nih makan dulu yuk," panggil Jasmine kepada anak gadisnya itu. Sejak Melody pulang dari sekolah dia belum sama sekali keluar dari kamar dan itu membuat Jasmine khawatir.
Orang yang dipanggilnya bukannya bangun, malah semakin menenggelamkan kepalanya dibantal. Hingga terdengar gedoran dipintunya, membuat dia terpaksa bangun dan beranjak kearah pintu kamarnya.
"Astaga dek, mukamu kok gitu banget," ujar Jasmine saat melihat wajah Melody yang menurutnya sangat berantakan. Matanya sembab, rambutnya berantakan dan itu membuat dia sangat khawatir.
Melody yang masih belum sadar sepenuhnya mengucek-ngucek matanya " Nggak apa-apa bun, cuman mimpi buruk aja tadi" kilahnya, yang dia yakin bundanya tak percaya begitu saja, dan benar saja sekarang bundanya itu menatapnya penuh curiga.
Jasmine tak percaya dengan omongan anaknya itu dan dia tahu karena apa anak gadisnya seperti ini, tapi harus diurungkan niatnya untuk memastikannya karena sudah waktunya makan malam, terlebih lagi anaknya itu belum makan sejak pulang sekolah "Ayok turun dek, semuanya udah nunggu dibawah" Melody mengangguk dan mengikuti langkah bundanya untuk menuju ruang makan mereka dibawah.
Langkahnya terhenti ketika melihat Alan yang sedang berbicara dengan Arya, abangnya. Kenapa sih dia harus kesini, bikin kesel. Mungkin kalau hari biasanya dia bakalan seneng banget, tapi untuk hari ini nggak bakal.
Alan yang sedang sibuk bicara dengan Arya tak sengaja menangkap sosok Melody dibawah tangga. Diangkatnya tangan dan menyapa Melody, tapi gadis itu seperti tak mengindahkan sapaannya. Melody berlalu dan mengambil tempat diseberangnya tanpa memandangnya sedikitpun.
"Hai Mel" Alan mencoba menyapa lagi siapa tahu gadis itu mau membalas sapaannya, tapi nihil bukannya membalas Melody malah asik bicara dengan Tante Jasmine.
"Mel, Alan nyapa itu loh, kok kamu nggak bales" Jasmine memperhatikan sikap Melody yang tidak seperti biasanya, dia seperti tidak menganggap Alan ada disana, dan membuat suatu perkiraan apa mereka bertengkar"
"Oh nggak denger Bun" Melody menjawab pertanyaan bundanya dengan ekspresi meyakinkan yang sukses membuat Alan melengos tak berdaya.
Alan, Arya, dan Ayah Melody hanya menarap gadis itu nanar, mereka tau apa yang menyebabkan gadis itu bersikap dingin kepada mereka bertiga. Memang salah mereka tidak mengangkat telpon Melody, dan membiarkan dia menunggu selama 1 jam, orang lain mungkin akan melakukan hal yang sama, tapi mogoknya Melody bisa membuat mereka frustasi. Terlebih lagi bagi kedua orang yang tengah menatap gadis itu Arya dan Alan, mereka sangat-sangat menyesal karena lebih memilih mengantarkan orang lain ketimbang gadis didepannya ini dan berharap Melody nggak tahu yang satu ini karena kalau tahu bisa-bisa gadis itu marah besar.
Melody bukannya nggak tau dia diperhatikan oleh cowok-cowok dirumah ini, tapi masa bodok lah dia masih ngambek gini, kan nggak lucu kalau bilang apaan sih liat-liat sambil nutup mukanya seperti yang sering dia lakukan. Untuk itu, sekarang Melody berusaha untuk tidak mengindahkan tatapan itu dan fokus dengan makanannya itu.
"Aku udah selesai Bun, makasi makanannya" Melody bangkit dari tempat duduknya berjalan menuju dapur, setelah selesai dengan urusannya gadis itu berbalik hendak masuk kedalam kamarnya saat seseorang memanggilnya.
"Mel, jangan diemin ayah dong. Ayah ada rapat tadi jadinya hpnya disilent" ucap Adit lirih, membuat istrinya tersenyum geli. Melody adalah kelemahan dari suaminya itu, kalau gadis itu marah sudah dipastikan Adit tidak bisa tidur tenang.
"Iya Ayah, Melody ngerti cuman kesel aja di tinggalan selama SATU jam disana" Melody sengaja menekankan kata satu jam agar cowok-cowok itu mengerti apa yang sekarang dia rasakan.
Adit bernafas lega dia tahu kalau anaknya sudah mau membalas ucapannya dia sudah tidak terlalu marah dan menghampiri anak gadisnya itu, menciumi puncak kepalanya dengan sayang "Maaf ya dek, besok-besok ayah cancel deh rapatnya biar buat kamu nggak marah lagi sama ayah."
"Idih ayah Lebay" ucapan itu sontak membuat semua orang disana tertawa "Aku mau tidur dulu ya yah, ngantuk"
"Kamu bukannya baru bangun dek? Kok masih ngantuk?" tanya Adit heran dengan sikap anaknya itu
"Nggak apa-apa yah cuman mau tidur aja" Melody berjalan menjauh kearah tangga hendak pergi kekamarnya, tapi suara ayahnya terdengar lagi membuat gadis itu berhenti sejenak.
"Nah kalau kamu tidur, Alan gimana dek? Kasian loh dia udah daritadi nungguin kamu?"
Melody menghirup nafas dalam mencoba menenangkan diri dan menghapus bayangan Alan dengan seorang gadis yang tadi sempat dia lihat "Suruh pulang aja yah" lalu melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda, tak menghiraukan ucapan ayah dan bundanya.
Dijatuhkan tubuhnya ke ranjang, matanya tertutup mencoba menahan sesak di dadanya. Pertanyaan kenapa Alan membohonginya. Dia tahu dia tak pantas untuk cemburu seperti itu pada Alan, tapi apa daya diri jika perasaan itu keluar sendiri. Bodoh memang.
Saat mata Melody mulai terpejam, terdengar pintunya di ketuk oleh seseorang, dan itu membuat Melody membuka matanya malas dan beranjak dari tempatnya berada.
"Lo mau ngapain?" Disenderkan tubuhnya dipintu dan menatap Alan dengan malas. Rasa kantuknya hilang seketika, saat melihat Alan yang kini sudah berdiri didepannya.
Alan menggaruk tengkuknya yang tak gatal, dia bingung mau jawab apa, hingga suara Melody kembali terdengar.
Melody memandang Alan tanpa minat "Kalau lo mau minta maaf sama gue, gue udah maafin lo. Jadi lebih baik lo pulang sekarang"setelah mengatakan itu Melody berbalik hendak menutup pintu, tapi Alan dengan cepat menahannya.
"Mel, gue minta maaf. Jangan kayak gini" Alan benar-benar merasa bersalah saat dia meninggalkan Melody sendiri. "Gue nggak tahu lo sampai nunggu 1 jam disana"
Melody tanpa sadar membuang nafas berat, dan berbalik lagi kearah cowok itu "Lo nggak salah apa-apa, Lan." Gue yang salah karena suka sama lo.
"Sumpah Mel, gue nggak maksud bikin lo nunggu. Tadi hp gue silent, jadi nggak denger lo nelpon. Terus kalau tentang masalah bbm, gue juga nggak tau kalau bbm lo kebaca sumpah Mel."
Melody mengangguk, dia tak seharusnya bersikap seperti ini. Karena dia hanya seorang sahabat untuk cowok itu "Iya gue ngerti" senyum tipis Melody berikan kepada Alan.
Alan yang melihat Melody mulai tersenyum, bernafas lega. "Lo nggak marah lagi kan?" ucapnya memastikan, dan pada saat Melody mengangguk senyum merekah dibibirnya.
"Nggak lah" bohongnya. Karena saat ini dia masih mengontrol kemarahan dan penasaranny untuk menanyakan siapa cewek yang digonceng oleh Alan tadi
"Syukur deh kalau gitu, lo mau temenin gue makan nggak di luar?" Melody mengangkat alisnya keatas heran "Gue masih laper. Gue nggak bisa kenyang gara-gara lo marah." lanjutnya.
Melody menggeleng-geleng kepala tak percaya "Lo traktir?" tanyanya yang langsung dibalas anggukan oleh cowok itu "Oke, gue ganti baju dulu. Lo tunggu dibawah aja"
Alan mengangguk dan berjalan meninggalkan kamar gadis itu, sedangkan Melody menatap Alan dengan pandangan sendu lalu berbalik menutup pintu kamarnya.
***
"Selamat datang mas mbak, mau pesan apa?" tanya seorang pelayan dengan senyum ramah sambil memberikan menu pada Alan dan Melody.
Setelah setengah jam mereka berputar-putar tak jelas, akhirnya mereka memutuskan untuk makan di restoran jepang tempat favorit Alan.
"Lo mau mesen apa Mel?"
Melody yang ditanya,hanya membolak balik menu yang ditangannya bingung. Sebenarnya, Melody tak terlalu menyukai makanan jepang, tapi dia tak pernah mengatakan itu pada cowok disampingnya.
"Hem gue teriyaki aja deh, terus minumnya es jeruk aja mas," ucap Melody. Beberapa kalipun dia membolak balik menu itu, ujung-ujungnya hanya itu saja yang dia pesan, dan itu membuat dia tersenyum geli karena tingkahnya sendiri.
Pelayan itu mengangguk tersenyum dan mencatat pesanannya lalu berbalik kearah Alan. "Masnya?"
"Kalau gue sashimi, shusi, dan shabushabu masing-masing satu, terus kalau minumnya sama kayak dia mas es jeruk"
Sekali lagi pelayan itu mengangguk, dan mulai membacakan ulang pesanan mereka. Setelah yakin tidak ada yang kurang, pelayan itupun meninggalkan meja Alan dan Melody.
"Lo nggak bosen-bosen apa makan teriyaki mulu kalau kesni" tanya Alan setelah pelayan itu sudah meninggalkan mereka. Dia heran karena setiap dia mengajak Melody selalu memasan yang sama, kalau andainya dia memesankan gadis itu makanan yang lain pasti dia tetep memesan makanan itu.
Melody mengadahkan kepalanya melihat kearah Alan "Kan lo tahu itu makanan favorit gue Lan" kilahnya. Ya. Favorit lo Mel, orang itu doang yang lo bisa makan batinnya.
"Coba aja yang lain, Mel. Nggak kalah kok sama makanan favorit lo"
"Terserah lo dah Lan" Melody pasrah, yang bisa dia harapkan sekarang adalah semoga perutnya tidak tiba-tiba sakit karena makanan itu.
Alan tersenyum dan menepuk-nepuk kepala Melody pelan "Bagus, lo nggak boleh terlalu milih-milih makanan, Mel."
Tanpa Alan sadari, sikap sederhana yang dia lakukan tadi selalu bisa berdampak bagi kesehatan jantung Melody. Jantungnya berdebar kencang, terlebih lagi ketika dia melihat wajah serius dari Alan, membuat jantungnya semakin menggila.
"Gue tau gue ganteng, tapi nggak usah sampe ngiler gitu ngeliatnya." Alan mendongakan kepalanya dan tersenyum miring ke arah Melody.
Melody gelagapan tak menyangka dia ketahuan memperhatikan cowok itu, tapi dengan cepat dia mengubah reaksi tubuhnya " Idih pd banget. Gue cuman penasaran aja lo ngapain sampe gue dicuekin" Bagus Melody, alasan yang bagus batinnya.
Alan terkekeh, baru saja dia hendak membalas ucapan Melody, seseorang memanggilnya dan itu membuat dia menoleh kearah suara itu "Ratih" ucapnya
Nama yang disebutkan oleh Alan itu sontak membuat tubuh Melody menegang, pelan-pelan dia mengikuti arah pandangan Alan dan menemukan seorang gadis cantik sedang berjalan kearah mereka.
Deg
Dia kembali pikirnya. Dialihkan pandangannya kearah Alan, dan seketika itu hatinya sakit saat senyum lebar terukir pada wajah cowok itu. Senyuman yang jarang dia berikan bahkan untuknya sekalipun. Melody tahu arti senyuman itu sangat tahu malah, dan itu membuat hatinya yang sudah sakit menjadi lebih sakit.
"Hai, Al lagi dinner ni ceritanya" ucap Ratih yang sudah berada dimeja mereka berdua
Iya kita berdua dinner kenapa lo marah ucap Melody yang sayangnya hanya bisa diutarakan dalam hati saja, karena kenyataannya Melody hanya bisa diam seribu bahasa.
" Hahah nggak lah Tih, gue sama Melody cuman makan biasa aja kok" elak Alan yang langsung membuat Melody seperti dipukul keras oleh palu yang sangat besar.
"Lo sendirian aja kesini Tih?"
Melody langsung menoleh ke arah Alan, dia tahu apa maksud dari pertanyaan itu. Dialihkan pandangannya ke Ratih, sambil berdoa semoga gadis itu nggak sendirian datang kemari. Tapi saat melihat Ratih mengangguk hancur sudah harapannya.
"Iya nih gue sendirian, lo tahu lah temen-temen gue sok sibuk semua." Ratih tertawa renyah, yang ditelinga terdengar seperti suara nenek lampir.
"Gabung sini aja deh, dari pada elo sendirian nggak jelas" ucapan Alan sukses membuat Melody melotot ke arahnya.
"Nggak ah, takut ganggu gue"
Alan tertawa lalu menggeleng "Ya nggak lah, bolehkan Mel?" Alan menoleh kearah Melody yang kini sudah sibuk, pura-pura sibuk tepatnya. Kalau gue bilang nggak, lo tetep nyuruh dia gabung disini kan Lan, lirihnya dalam hati. Melody menutup matanya sejenak, lalu menoleh kearah cowok itu.
"Terserah aja sih" ucap Melody.
Alan tersenyum dan menoleh kembali ke arah Ratih " Melody juga setuju, jadi nggak ada alasankan buat lo nolak" Ratih tersenyum mendengar itu, lalu duduk disamping Alan.
Andai Alan peka, nada yang digunakan gadis itu dalam menjawab menyiratkan ketidak sukaan atas pertanyaannya. Tapi apa daya, kalau memang cowok itu nggak peka, terlebih lagi Melody sadar bahwa dia tak punya hak untuk melarang gadis itu ikut bergabung disana.
Tepat saat Ratih duduk di samping Alan, makanan mereka pun datang. Tanpa buang-buang waktu, Melody langsung melahap teriyaki yang dipesannya.
Baru sebentar gadis itu datang dia sudah dilupakan oleh cowok itu, menyedihkan benar-benar menyedihkan. Selera makannya sudah hilang menguap entah kemana. Kalau tahu begini, dia lebih memilih tidur dirumah, dari pada harus menjadi obat nyamuk.
"Oh ya Al, ngomong-ngomong makasi banget lo tadi udah dianterin. Tadi lupa ngucapin soalnya lo udah keburu pergi." Alan langsung mengangguk begitu saja. Ia bahkan memberikan senyuman, seakan mengatakan kalau semua itu, tak masalah.
Melody yang mendengarnya tertegun, ternyata alasan Alan tidak mengangkat telponnya karena Ratih. Seharusnya dia sadar bahwa gadis yang dibonceng oleh Alan itu adalah Ratih, mantan kesayangan cowok itu.
Emang kamu siapa dia Mel? Cuman Sahabatnya aja, inget Sahabat ucap sebuah suara dalam dirinya. Seperti tertampar Melody tersenyum miris mengingat kenyataan itu
"Yaelah santai kali, kayak sama siapa aja. Mata lo kenapa?" Tanya Alan saat melihat Ratih mengucek-ngucek matanya
"Kelilipan" balas Ratih
Alan meraih tangan Ratih, menggenggamnya erat. "Nggak usah dikucek, ntar perih. Gue tiupin aja sini." Ditariknya lengan Ratih, dengan tangan yang bebas. Bibirnya ia letakkan sejajar dengan mata Ratih, dan meniupkan udara di sana, pelan.
Melody terbelalak tak percaya, niatnya dia ingin mengambil minum tapi dia malah disuguhi adegan seperti ini. Mata Melody sudah berkaca-kaca menyiratkan kesedihan. Bukan karena cowok itu membantu Ratih, tapi bagaimana sikap Alan kepada Ratih, tatapannya semuanya membuatnya dia sesak.
"Makasih Al" Alan mengangguk, lalu menjauhkan diri dari Ratih. Saat dia ingin melanjutkan makannya, pandangannya jatuh ke arah Melody yang sedang menunduk itu.
Pembicararn keduanya terus berlanjut, seakan tak memperdulikan keberadaan Melody diantara mereka, dan Melody benci itu. Benci ketika Alan tidak memperhatikannya bahkan seperti melupakannya
"Mel lo sakit?" tanya Alan pada saat pandangannya tak sengaja jatuh pada gadis didepannya itu. Dia heran, Melody yang biasanya selalu saja bicara kini mendadadak diam seribu bahasa
Bukannya menjawab, Melody menggelengkan kepalanya lalu berdiri "Gue balik duluan" tanpa menunggu balasan dari Alan, dia meraih tasnya dan melangkah kakinya cepat meninggalkan tempat itu. Tak dipedulikan tatapan orang-orang yang mengarah kearahnya, bahkan dia tak memperdulikan pelayan yang membukakan pintu dan mengucapkan terima kasih pada gadis itu. Dikepalanya hanya dipenuhi oleh keinginan untuk menangis sepuasnya.
Matanya sibuk mencari taksi, pada saat dia hendak mengulurkan tangannya, sebuah tangan menarik lengannya, membuat Melody berbalik kearah orang itu.
"Lo kenapa sih Mel?" Alan akhirnya bisa mengejar gadis itu. Dia kaget saat mendengar bahwa gadis itu, apalagi melihatnya langsung pergi begitu saja tanpa menunggu ucapan dari Alan.
Alan terhenyak saat melihat Melody memalingkan mukanya ke arah lain, "Mel, gue punya salah lagi ya?" digenggamnya erat tangan gadis itu.
Melody menutup matanya sejenak menahan air mata yang sejak tadi sudah ingin keluar, dibukanya kembali matanya dan menghadap ke arah cowok yang ada di depannya itu saat dia sudah bisa mengendalikan sedikit perasaanya
"Lo nggak salah Lan. Gue cuman ngantuk aja, jadi gue pingin cepet pulang" Bagus Mel, bagus terus aja bohong sampe lo nyesek sendiri.
"Lo bohong Mel." sanggah Alan. Dia sangat tahu bagaimana kebiasaan gadis itu kalau mengantuk, dan ini bukan salah satu dari kebiasaan itu. Ditatapnya tajam gadis itu, yang kini sudah menunduk.
"Gue nggak bohong" Melody mengadahkan kepalanya, menatap Alan dengan berani. "Gue ngantuk, capek. Jadi gue mau pulang sekarang"
"Terus kenapa lo nggak nungguin gue? Kenapa lo pergi gitu aja kalau lo emang nggak marah sama gue?" cecar Alan masih dengan suara tenangnya.
Melody sudah nggak sanggup lagi menahan sesak di dalam hatinya. Dengan terapska dia tersenyum. "Karena, lo pasti mau ngehabiskan waktu sama Ratih, gue nggak mau ngganggu lo," ujarnya lirih
Alan mendesah pelan, "Lo tahu dia itu kan..."
Gue tahu, dia orang yang lo sayang Lan. Makanya gue pergi karena gue nggak sanggup ngeliat kalian berdua sayangnya itu hanya diucapkan dalam hati, sedangkan yang keluar dari mulutnya, "Gue tahu Lan, makanya gue mau pulang duluan." Potong Melody dengan suara yang dia buat tenang menyingkirkan perasaan sakit yang dia rasakaan. Ia melambaikan tangannya sebelum memutar tubuhnya, dan pergi dari sana.
Pada saat pandangannya jatuh pada mobil berwarna biru, tanpa pikir panjang diulurkan tangannya membuat mobil itu berhenti, dan masuk ke dalam taksi itu tanpa memandang Alan terlebih dulu, yang sebelumnya mengatakan, Gue duluan kearah Alan.