Aku bodoh; memberitahukanmu bahwa aku baik-baik saja, padahal sebaliknya.
Keesokan harinya. Melody masuk ke sekolah dengan tubuh lemas dan mata bengkak. Andai dia tak ada rapat hari ini, dia lebih memilih tidur dirumah seperti saran bundanya. Dengan sisa tenaga yang ada, Melody memaksa kakinya untuk melangkah menuju kelas. Tak diperdulikannya tatapan yang mengarah ke arahnya, yang diinginkan adalah istirahat di kelas sebelum rapat dimulai.
"Kalau sakit, diem aja dirumah. Ngapain masuk coba, nyusahin diri aja"
Langkah Melody berhenti, ketika mendengar ucapan yang terdengar sarkas itu. Ia melihat Arka berdiri tak jauh dari dirinya, menatapnya dengan datar. Diiringi dengan alis yang terangkat.
Arka sudah memperhatikan gadis itu dari dia turun dari mobil, dan dapat dia simpulkan bahwa gadis itu sedang tidak baik-baik saja. Arka melangkahkan kakinya mendekati gadis yang tengah menatapnya itu, dari sini dia bisa lihat wajah gadis itu sangat pucat. Tanpa bicara apa-apa Arka meraih tangan gadis itu, dan mengenggamnya erat.
"Gue pegangin biar lo nggak jatuh," ucapnya saat gadis itu hendak ingin protes. Berbanding dengan tatapannya, sikap Arka hangat.
Melody akhirnya mengangguk, dia nggak bisa memungkiri lagi, saat ini tubuhnya lemas dan sangat butuh pegangan. Andai saat ini yang memperhatikannya adalah Alan, pasti dia sangat senang.
Arka terus mengenggam tangan gadis itu erat, dan semakin erat ketika memasuki kelas mereka, membuat semua orang disana menatapnya penasaran. Terlebih lagi saat mereka melihat wajah Melody pucat, yang menambah rasa penasaran mereka.
"Astaga Mel, lo kenapa?" tanya Letta panik saat melihat kondisi Melody yang mengenaskan.
Gadis itu menggeleng pelan, lalu duduk di bangkunya dibantu oleh Arka, "Makasih," ucapnya dan dibalas hendikkan bahu oleh cowok itu lalu berlalu dari sana yang sebelumnya mengelus pelan kepala Melody
"Nggak mungkin lo nggak apa-apa, orang muka lo pucet gitu" sambung Letta saat Arka pergi dari sana. Letta benar-benar khawatir dengan kondisi Melody saat ini, apalagi melihat matanya bengkak yang bisa dipastikan bahwa gadis itu menangis semalaman.
Melody tertawa pelan, begini kalau punya sahabat yang tahu apa pun tentang dirinnya jadi sulit untuk menyembunyikan sesuatu " Gue cuman begadang tadi malam, jadinya kayak gini. Lo tahu kan gue nggak bisa begadang sama sekali" ucapnya dengan harapan bahwa Letta bertanya yang maca-macam. Tapi memang sifat Letta yang tidak akan melepaskannya sampai semua pertanyaan yang ada di kepalanya terjawab semua, dan itu membuat Melody pasrah meskipun badanya benar-benar lemas.
"Gue tahu lo bohong Mel. Pasti gara-gara Alan lagi kan, kenapa? Jangan harap gue mau ngelepasin lo, kalau lo nggak mau jawab jujur." Skakmat sudah, Melody tak tahu harus bagaimana lagi kalau Letta sudah berbicara seperti itu.
Mau tak mau dia harus menjelaskan meski tubuhnya sudah ingin diistirahatkan, dan pada kondisi seperti ini dia benar-benar menyesal masuk sekolah. Melody bergerak di tempat duduknya mencari posisi nyaman untuk bercerita, dan mulailah dia bercerita.
Melody menceritakan bagaimana sikap Alan kepadanya saat Ratih datang, tatapannya kepada gadis itu semua dia ceritakan tak ada yang disembunyikan oleh Melody. Letta yang mendengar cerita Melody, tak menyangka Alan benar-benar sangat tidak peka. Amarah Letta naik setiap melihat mata Melody berkaca-kaca.
"Gue udah nggak bisa biarin lagi Mel, ini udah kelewatan namanya. Kalau lo nggak mau ngomong ke dia biar gue yang ngomong!"
Disentuhnya lengan Letta, Melody menggeleng cepat. "Jangan, ini salah gue kok." Kalau saja gue enggak punya perasaan sama Alan, semuanya enggak bakal begini, lanjutnya dalam hati.
Letta mendengkus. "Iya gue tahu, itu salah lo yang enggak mau ngungkapin perasaan ke dia. Tapi, tetap aja sikapnya itu udah kelewatan."
"Siapa yang udah kelewatan?" tanya Alan tiba-tiba, membuat dua orang itu menoleh secara bersaamaan ke arahnya.
Melody langsung membekap mulut Letta, saat dia melihat gadis itu hendak membuka mulutnya. Kening Alan mengkerut saat melihat kejadian itu, dengan langkah santai dia menghampiri dua gadis itu yang kini sedang saling melotot satu sama lain.
"Siapa yang udah kelewatan?" tanyanya ulang, dan membuat perhatian kedua gadis itu kembali kearahnya. Ditatapnya kedua gadis itu bergantian, dan kaget ketika melihat wajah Melody yang pucat.
"Lo sakit Mel?" Alan menurunkan tubuhnya sedikit, hingga wajah mereka sejajar. Tangannya terulur memgang kening Melody hangat. "Pulang aja ya, gue anterin" lanjutnya.
Melody menggeleng dan tersenyum tipis pada cowok itu, dia nggak mau munafik untuk satu ini. Dia sangat senang Alan memperhatikannya meski itu sikap hal yang selalu dia dapatkan kalau sedang sakit seperti ini. Tapi, saat hatinya senang karena sikap Alan, kejadian tadi malam kembali terulang dalam benaknya yang langsung menghancurkan rasa bahagianya saat ini. Bahkan Alan tak meminta maaf dan itu membuat dia kembali merasakan sakit
Alan merasa heran karena melihat wajah Melody yang pucat dan tatapan yang sendu, "Kenapa? Toh nggak ada ujian, atau tugas kan? Pulang aja ya." Ada kekhawatiran yang terlihat jelas dari ekspresi Alan. Bahkan Alan ,hendak Alan menyentuh tangan Melody, tapi Letta langsung menepisnya dan membuat dua orang itu menoleh kearahnya
Letta mengangkat tangannya, "Ups sorry" ujarnya santai, dengan senyum yang tersungging pada wajahnya.
Melody yang melihat itu geleng-geleng kepala sendiri. Dia tahu Letta sengaja melakukan itu, benar-benar ciri seorang Letta kalau sedang kesal dengan orang. Kepalanya berdenyut lagi dan itu membuat Melody menelungkupkan kepalanya di atas meja.
"Pulang aja ya" tawar Alan lagi saat melihat Melody seperti itu. Kekesalannya pada Letta berubah menjadi kekhawatiran pada Melody, tapi keningnya mengkerut seperti ada yang baru dia ingat "Jangan bilang lo sakit gara-gara tadi malem?" tanyanya penuh selidik. Baru disadarinya gadis itu sakit setelah pergi dengannya, padahal tadi malam baik-baik saja.
Melody gelagapan mendengar pertanyaan Alan itu, ditatapnya Alan dengan rasa "Nggak kok, gue udah ngerasa nggak enak dari kemarin-kemarin sebelum lo ngajak pergi." bohongnya. Meskipun hatinya sering sakit oleh Alan, tapi sangat sulit untuk mengecewakannya. Tapi, saat pandanganya beralih kearah Letta, dia meringis karena sahabat itu sudah melotot tajam ke arahnya.
"Lo nggak bohong kan?" tanya Alan lagi. Cowok itu merasa ada yang tidak beres dengan Melodyy Ditatapnya sahabat kecilnya itu, biasanya kalau seperti ini Melody akan memalingkan wajahnya. Tapi nyatanya kali ini berbeda, gadis itu menatapnya balik membuat dia menyerah
"Ya udah. Tapi, lo jangan banyak tingkah ya, diem aja. Kalau butuh apa-apa bilang ke gue"
"Perhatian banget sih sama Melody. Suka ya?" Alan mendengus dan menoyor kepala Letta hingga kebelakang.
"Dia kan sahabat gue, jelas lah dia gue perhatiin. Nggak kayak elo, orang sakit kok dipelototin" jawab Alan santai.
Mungkin kalau orang lain yang dengar ucapan Alan biasa saja, tapi beda dengan Melody. Bagi Melody, ucapan Alan sebagai garis pembatas dalam hubungan mereka berdua, dan itu membuat dia kecewa dan sakit secara bersamaan. Sudah beberapa kali dia mencoba untuk mengacuhkannya, tapi percuma rasa sakit itu terus dirasakannya.
"Gue enggak apa-apa." Rasa sakit itu mulai menyebar ke semua penjuru tubuhnya. "Lo balik aja ke kelas. Gue ada Letta. Jadi tenang aja." Setelah itu, Melody menelungkupkan wajahnya ke lipatan tangannya. Menyembunyikan banyak hal.
Alan dan Letta memandang sahabatnya itu dengan ekspresi yang berbeda. Alan khawatir jika gadis itu semakin sakit, sedangkan Letta menatapnya dengan pandangan sendu, dia tahu apa yang dirasakan Melody pasti sakit ketika mendengar ucapan itu langsung dari orang yang dicintainya.