Aku tahu, kata itu akan terus mengikat hubungan ini. Tapi, rasanya masih sama; menyakitkan.
"Lo serius udah nggak apa-apa?" Alan menatap Melody khawatir. Memang sih wajah gadis itu sudah tidak terlalu pucat, tapi itu tidak bisa menghentikan rasa khawatir pada gadis itu. Terlebih lagi dia tahu, Melody punya penyakit tipes dan itu semakin membuat dia kahwatir.
"Astaga itu pertanyaan kalian yang udah beberapa kalinya sih. Gue udah baikan Alan, Letta." Melody lama-lama kesal, memang sampai saat ini dia masih merasakan kepalanya berdenyut tapi tak seperti tadi selama pelajaran. Dia masih ingat, selama pelajaran tadi dia menenggelamkan kepalanya ke lipatan tangannya, dan itu membuat dia beberapa kali ditegur oleh guru yang sedang mengajar.
"Nih buat lo, minum" tiba-tiba Arka datang dan menyerahkan minuman yang sengaja dibelinya untuk gadis itu. Membuat Alan, Letta, dan Melody langsung menatapnya dengan kening mengkerut.
Arka yang ditatap seperti itu mengangkat alisnya sebelah "Kenapa?" memang salah apa dia memberikan minuman sama orang yang sakit. Terkadang dia tak mengerti dengan mereka ini.
"Ah enggak kenapa-napa. Ini buat gue? Makasi ya" Melody mengambil minuman yang tadi disodorkan oleh Arka dan meneguknya pelan-pelan, yang dibalas oleh cowok itu dengan menaikkan bahunya.
"Lah tumben banget kalian akur. Biasanya kayak Tom & Jerry, ribut mulu" ledek Letta. Dia tak menyangka seorang Melody dan Arka yang biasanya ribut di setiap kesempatan, sekarang bisa berbicara baik-baik seperti sekarang ini.
Arka tertawa mendengarnya "Ya kali, gue ribut pas dianya sakit." Tanganya mencubit pipi Melody gemas, dan meninggalkan bekas merah di sana.
"Ih Arka sakit tahu. Lo ya, nggak bisa liat orang tenang dikit" Melody mengelus pipinya berulang-ulang.
Alan yang memperhatikan tingkah laku Melody, sekarang yakin bahwa gadis itu sudah baik-baik saja. Diusapnya pipi yang dicubit oleh Arka tadi membuat tubuh Melody menegang, seperti ada aliran masuk di dalam tubuhnya "Masih sakit"
Melody tak tahu harus bereaksi seperti apa, ketika Alan menyentuh pipinya. Dia berharap pipinya kali ini bisa diajak bekerja sama agar tidak mengeluarkan semburat merah disanna "Udah nggak kok" ujarnya lirih yang membuat Alan menjauhkan tangannya dari pipi Melody.
"Bagus deh" ucapnya lalu berbalik menatap Arka "Lo cuman beliin dia aja, kita berdua lo nggak beliin?"
Arka yang ditanya malah memberikan senyum misteriusnya "Kalian kan punya kaki sama tangan, ya digunain dong jangan manja"
"Sialan lo Ka. Terus, kenapa Melody kok lo beliin?." Kali ini Letta yang bertanya, melupakan kondisi sahabatnya itu. Gadis itu merasakan ada yang aneh saat melihat sikap Arka yang manis pada Melody. Apa jangan-jangan. Nggak-nggak, dengan cepat dia menggeleng menghapus dugaannya itu. Tapi kalau nggak, kenapa dia sangat manis pada sahabatnya.
Alan juga penasaran, dilipatnya tangannya ke depan d**a dan menunggu jawaban dari Arka. Alan mengernyit ketika melihat Arka tersenyum kecil di depannya, terlebih lagi saat mendengar jawaban cowok itu.
"Dia kan lagi sakit. Lagi pula..." Arka mengalihkan pandangan dari Letta dan Alan, ke arah Melody yang kini juga sedang melihat ke arahnya. "Gue harus perhatian kan sama orang yang gue suka"
Arka mengucapkannya dengan santai, tapi berdampak besar bagi ketiga orang itu. Alan melongo mendengarnya, Letta memandang Arka dan Melody bergantian ternyata pikirannya benar , sedangkan Melody dia tersedak minumannya
Arka yang melihat ekspresi ketiganya tersenyum puas, dia mendekatkan tanganya ke arah Melody, dan membersihkan air minum yang ada di bibir gadis itu membuat tubuh gadis itu menegang karena kaget.
Alan yang sudah sadar dari kagetnya, menepis tangan cowok itu dari bibir Melody dan menatapnya dingin "Lo jangan modus"
Arka menghendikkan bahunya cuek "Bukan modus tapi jujur sama perasaan" Alan mendengus mendengarnya dan berbalik menatap Melody.
"Muka lo merah, masih demam?" Alan menaruh telapak tangannya ke kening gadis itu "Nggak panas, lo kenapa?" tanyanya sambil menurunkan telapak tangannya dari kening gadis itu.
Melody menggeleng, dia tak tahu harus bereaksi seperti apa saat ini. Dia berharap ada hal yang bisa membaskannya atau minimal mengeluarkannya pada kondisi yang menurutnya sudah awkward sekali.
"Lo nggak ngerti banget sih Lan. Melody itu malu tau, gara-gara Arka ngungkapin perasaannya" Letta melirik ke arah Melody yang kini menunduk, dan itu semakin membuat Letta senang mengodanya.
Astaga, dia tak pernah membayangkan akan berada di situasi ini. Ingatkan Melody untuk membuat perhitungan pada Letta, dia benar-benar berharap ada seseorang yang membebaskannya dari kondisi in,
"Kak Melody"
Panggilan itu langsung membuat Melody mendongakan kepalanya, dan tersenyum senang akhirnya doanya terkabul. Dengan cepat dia melambaikan tangannya ke arah Sasa yang memanggilnya dan menyuruhnya untuk menghampirinya.
"Kenapa Sa?" tanya Melody langsung saat gadis itu sudah ada di depannya
"Kak, disuruh kak Adit buat keruang osis. Mau bahas pensi katanya " ujar Sasa langsung, gadis itu ingin sekali pergi dari sana secepatnya dia benar-benar malu diperhatikan oleh teman kakak kelasnya itu.
Melody mengangguk mengerti, dia akan berterima kasih kepada Sasa telah menyelamatkannya pada kondisi ini. Saat dia mau beranjak, tanganya dipegang oleh Alan, kening Melody mengkerut bingung karena itu "Kenapa Lan?"
"Lo masih sakit, izin aja sama Adit, dia pasti ngerti" Alan tak bisa membiarkan Melody yang masih sakit pergi ke rapat itu, digenggamnya tangan gadis itu erat. "Lo masih anget gini" komennya saat merasakan suhu tubuh Melody belum normal.
"Nggak Lan, gue nggak apa. Udah seger gini" Tolak Melody halus. Dia memang tak berbohong, tubuhnya sudah membaik, meski kepalanya beberapa kali berdenyut, tapi tidak mungkin dia melewatkan kesempatan emas buat pergi dari situasi seperti ini.
"Ya udah, kalau lo kenapa-napa telpon gue atau Letta." Alan menepuk kepala Melody pelan, lalu mengelusnya lembut "Dan nggak usah nelpon Arka" lanjutnya membuat Melody menoleh menatapnya heran.
"Hah? Gue nggak boleh nelpon Arka?" Alan langsung mengangguk. Melody merasa sikap Alan ini aneh, masak iya dia nggak boleh nelpon Arka. Apa jangan-jangan dia cemburu? Tanyanya dalam hati.
"Kenapa?" Bolehkah dia berharap cowok itu juga merasakan hal yang sama. Letta dan Arka pun penasaran dengan alasan cowok itu. "Kenapa lo nggak bolehin gue nelpon Arka?"
"Lo cemburu ya" celetuk Letta yang langsung mendapatkan perhatian tiga orang itu.
Alan berdecak, "Lo gila ya, masa iya gue cemburu sama sahabat gue sendiri." Jawab Alan sambil melingkarkan tangannya dipundak Melody "Gue itu cuman nggak mau Melody kenapa-napa. Tapi, kalau emang dia bisa jaga sahabat gue sih nggak masalah" lanjutnya santai
Alan tak tahu bahwa ucapannya tadi sudah menghancurkan harapan Melody. Dia harusnya sadar, nggak mungkin Alan mengatakan kalau dia cemburu pada Arka, ngapain juga cowok itu harus cemburu, dirinya kan hanya SAHABAT bagi cowok itu, nggak lebih.
Melody melepaskan rangkulan Alan dengan kasar, sambil bangkit dari sana "Gue pergi dulu, kalian nggak usah khawatir gue bisa jaga diri. Ayok Sa" Melody menggeret Sasa untuk meninggalkan tempat itu, air matanya sudah tak bisa ditampung lagi dan dia tidak mau Alan melihatnya. Apakah sulit untuk bisa menjadi orang yang special dalam hidup lo Al.
Ketiga orang itu memperthatikan Melody hingga gadis itu menghilang. Letta menoleh ke arah Alan yang masih melihat ke tempat Melody berada. Ada keinginan untuk membenturkan kepala cowok itu ketembok, agar dia bisa melihat bahwa Melody menyukainya bahkan lebih dari itu, gadis itu mencintainya bukan sebagai sahabat melainkan sebagai wanita terhadap laki-laki.
“Sepertinya, dia enggak akan pernah nganggep gue lebih dari sahabat.” Melody tertawa parau. Dan itu membuatnya semakin menyedihkan.
Letta menepuk pundak Melody, menyuruhnya untuk bersabar. “Nanti, dia bakal nyesel kok. Percaya sama gue.”
“Enggak. Enggak bakal dia nyesel.” Melody menatap tempat di mana Alan tadi berada. “Karena dia enggak pernah menyukai gue.”