Suasan taman nampak ramai dipenuhi anak-anak yang tengah bermain di hari Minggu. Sebagian ada yang ditamani keluarganya dan sebagain pergi sendiri. Taman ini cukup aman, karena berada disalah satu komplek perumahan sehingga aksesnya hanya bisa dilalui oleh penghuni komplek.
Dua orang anak laki-laki tampak duduk terdiam disebuah bangku. Bukan karena mereka malas untuk bermain, mereka kelelehan sehingga memilih mengistirahatkan tubuh mereka.
"Bang, hauss."
"Minumnya ada di sepeda. Iyel ambil gih," ucap Razka yang tengah menselonjorkan kakinya dibangku. Dariel mengangguk, lalu berjalan menuju tempat sepeda mereka terpakir.
"Sekalian ambil yang Babang, Yel." Dariel mengerucutkan bibirnya, tapi tetap mengambilkan botol minuman milik Razka.
Razka mengelap keringat dengan ujung bajunya. Untung saja saat ini Bundanya belum pulang dari acara membuat adik bayi untuk mereka. Itu sih, akal-akalan Adrian saja agar kedua anaknya tidak menganggunya berdua dengan Nara.
"Halo, adek manis!" sapa seorang laki-laki dewasa yang kini duduk disamping Razka. Bocah laki-laki itu mengerutkan keningnya saat pria itu dengan lancangnya duduk disampingnya.
"Aku gak manis. Aku itu ganteng." Razka akan menganti nama panggilannya menjadi 'aku' saat berada didekat orang asing. Baginya hanya keluargnya saja yang memanggilnya 'Babang'.
Pria itu terkekeh. Sedangkan Razka menatap sinis pria yang sok akrab itu. Tapi lama-kelamaan bocah itu mengerutkan keningnya saat menatap wajah pria itu. Itukan om-om yang mengaku sebagai Ayah kandungnya, pikir Razka.
Sampai saat ini Razka belum tahu apa arti Ayah kandung karena dia memang belum menceritakan pada siapapun.
"Om yang bilang aku itu anak kandung Om, kan?" tanya Razka sedangkan pria itu mengagguk cepat. "Iya, Om ini Ayah kandung kamu. Jadi mulai sekarang kamu panggil Ayah, oke?"
"Gak mau!" seru Razka. "Ayah aku itu cuman Ayah Adrian. Bukan Om!" pria itu mengeraskan rahangnya saat mendapat penolakan dari anak kecil. Giginya bergelamatuk saat mengingat apa yang ia lakukan dulu sedangkan matanya menatap nyalang pada Razka yang tengah ketakutan.
"Kamu harus mau! Saya Ayah kandung kamu. Jadi jangan membantah." pria itu mencengkram kuat tangan Razka. Bocah itu meringgis saat merasakan perih pada pergelangan tangannya.
Dariel yang baru saja mengambil botol minum yang berada dikeranjang sepeda mereka, mengerutkan keningnya saat melihat pria dewasa duduk disamping Razka. Wajah saudaranya pun nampak kesakitan.
"TOLONG! TOLONG! ADA YANG MAU CULIK BABANG!" pria itu melepaskan tangannya dan beralih pada seorang bocah yang berteriak. Diamatinya baik-baik wajah bule dari anak itu. Wajah itu ia akan ingat.
Pengunjung taman itu pun mulai berdatanagan kearah mereka. Sedangkan pria itu segera pergi dari sana sebelum berakhir menjadi bulan-bulanan warga.
Dariel segera menghampiri Razka. "Babang gak kenapa-kanapa kan? Gak bakal mati kayak kucing kita yang udah dikubur kan?" Razka memanyunkan bibirnya saat Dariel menyamakannya dengan kucing mereka yang tewas karena kakinya yang terlindas sepeda motor sehingga kehabisan darah.
"Gak, Yel. Babang kan kuat," sombong Razka membuat Dariel berlaga ingin muntah. "Udah siang kita pulang yok, Bang," ajak Dariel saat melihat matahari yang sudah hampir diatas kepala lagipula ia juga ketakutan jika Om-om itu kembali lagi.
"Lets go!"
Sesampai di rumah. Kedua bocah itu dikejutkan dengan seseorang wanita yang sangat mereka rindukan. Binar-binar mata mereka bermunculan dan senyum manis dimasing-masing bibir bocah itu terbit. Tanpa aba-aba lagi Dariel dan Razka segera memeluk Nara yang merentangkan tanganya menyambut anaknya.
"Bundaaa...."
Adrian yang melihat Nara telah dipeluk-peluk oleh anaknya hanya bisa menghela nafas pasrah. Dia merasa waktu liburannya sangat sedikit. Bahkan ia dan isterinya belum sepenuhnya mengujungi wisata yang ada ditempat mereka berbulan madu.
Adrian mengusap wajahnya gusar. Kenapa ia malah cemburu pada anaknya? Seharusnya ia bahagia karena Nara sangat peduli pada Dariel.
"Pernikahan ini hanya untuk anak-anak," guman Adrian. Ada rasa sesal dihatinya saat membohongi Nara, ia telah berjanji pada prempuan itu untuk mencoba jatuh cinta kepadanya. Tapi, Adrian bukanlah bocah kemarin sore yang tak tau apa-apa tentang cinta.
Ada seseorang yang penjadi penghalang untuk Adrian jatuh cinta pada Nara. Ia tahu, dia egois. Memamfaatkan Nara demi kebahagian anaknya. Namun, Adrian masih belum bisa melupakan masa lalunya.
"Maafkan aku, Nara."
***
Nara bukan kepalang paniknya saat mengetahui Razka hampir diculik jika bukan Dariel yang menceritakannya. Jantungnya seperti hampir copot saat Razka dengan santai mengatakan tidak apa-apa.
"Kalian berdua dengerin Bunda."
Untuk mencegah hal buruk terjadi lagi, Nara mengumpulkan kedua anaknya untuk diberi penjelasan jika sesuatu buruk terjadi lagi. Kedua bocah itu nampak santai mengabaikan Bundanya yang hampir jantungan.
"Pertama. Besok pulang sekolah kalian harus menunggu Bunda jemput didepan ruangan guru. Biar Bunda yang nanti bicara dengan guru kalian." Nara menghela nafas sejenak, lalu kembali menatap Dariel dan Razka yang tengah manggut-manggut.
"Okee, Bun."
"Kedua. Gak boleh bicara sama orang asing. Nerima apapun atau diajak pulang sama orang yang Babang sama Iyel gak kenal."
"Okee, Bun."
"Mengerti?" tanya Nara ragu pasalnya kedua bocah itu tampak asik memakan coklat yang menjadi oleh-oleh dari liburannya. Wajah keduanya juga tidak bisa dibilang baik, coklat telah berlumuran diwajah mereka karena terlalu semagat memakan coklat itu.
"Okee, Bun."
Nara menghela nafas pasrah. Mungkin mulai besok ia akan lebih ketat lagi menjaga kedua bocah ini. Untung saja, Adrian mengizinkan agar liburan mereka dipercepat. Dan yang lebih membahagiakanya lagi, Adrian ingin jatuh cinta kepada Nara.
Tanpa meminta pun, Nara akan membuat Adrian jatuh cinta kepadanya. Jika bisa Nara akan membuat Adrian cinta mati kepadanya dan tidak akan berpaling pada wanita lain.
"Bunda, kenapa senyum-senyum?"
"Kesembet entar, Bun."
Nara mengabaikan celotehan kedua anaknya, wanita itu mendekat kearah keduannya membuat Dariel dan Razka saling menatap. Sedetik kemudian kedua tubuh bocah itu telah berada dipelukan Nara. Dariel dan Razka terkikik geli saat Nara menciumi wajah mereka.
Alhasil wajah Nara yang semula bersih menjadi belepoton karena menciumi wajah anaknya. Momen ini yang menjadi hal sulit untuk Nara tinggalkan karena hidup Nara ada pada dua bocah ini.
"Bundaaaa, udahhh. Gelii, hahahah." Dariel berusaha untuk lepas dari pelukan Nara. Karena tubuhnya yang lebih langsing, akhirnya bocah cadel itu bisa terlepas dari pelukan Nara.
Tanpa memikirkan Razka, bocah itu segera turun keluar dari kamar untuk meminta lagi coklat pada Ayahnya. "Bundaa, Iyel udah pergii. Lepesinn, hahaha."
Nara melepaskan pelukannya lalu mengecup pipi Razka. Sedangkan bocah itu menyandarkan tubuhnya pada d**a Nara.
"Bundaa, Babang baru ingat."
"Apa?" tanya Nara mengelus rambut hitam Dariel.
"Om-om yang mau culik Babang tadi pagi, dia bilang kalo dia itu Ayah kandungnya Babang."
Deg.
Jantung Nara seperti berhenti berdetak saat bibir kecil Razka mengatakan itu. Hatinya mencelos ketakutan. Nara merasa, orang dari masa lalunya akan segera hadir.
Nara memperat pelukannya pada Razka. Ia tak akan memberikan Razka pada siapapun. Termasuk Ayah kandungnya.