19

1302 Words
Seorang laki-laki bertubuh tegap dilapisi dengan setelan jas mewah melanglahkan kakinya memasuki sebuah gedung tinggi dengan gagahnya. Semua manusia yang mengisi gedung itu menunduk hormat pada atasannya. Adrian memberikan tatapan tajam saat melewati karyawan-karyawannya. Ia memang terkenal dengan sifat dinginnya dan irit bicara. Sangat terbalik jika bersama anak-anaknya. Saat telah sampai diruangannya, Adrian menemukan seketarisnya yang tengah sibuk berdandan. "Anna," panggil Adrian. Prempuan berambut pirang itu gelagapan melihat sosok tinggi tegap dihadapannya. "Eh, selamat siang, Pak." Adrian mengeleng pelan melihat kelakuan sekretarisnya ini, andai wanita didepannya ini tidak memeliki kinerja yang bagus mungkin sudah lama Adrian tidak melihat wajah sekretarisnya ini. "Nanti siang Alex akan kesini. Suruh langsung temui saya dan jika nanti ada yang sedang mencari saya katakan saja saya sedang sibuk." "Baik, Pak." Adrian menganguk lalu membuka pintu ruangannya. Sedangkan Ana buru-buru kembali mengambil kaca yang berada dekat dengan monitornya. "Astagah! Alis gue belum lancip bener!" Sedangkan Adrian melangkahkan kakinya mendekat kearah jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan sibuk kota. Untung saja ruanganya terbuat dari kedap suara sehingga tidak mendengar suara bising dari kendaraan-kendaraan di jalan raya. Mata lalaki itu kearah luar jendela tapi pikirannya melalang bebas. Seakan hanya ada raganya yang berada diruangan ini sedangkan jiwa telah pergi menjauh. Sampai-sampai Adrian tidak merasakan ada seseorang yang telah duduk manis di sofa ruangannya. "Aduuhh! Adem bener, nih!" Secepat kilat Adrian menoleh keasal suara itu. Seorang pria dengan gaya urak-urakan tengah tertidur santai di sofa ruangannya. "Lo ngapain disini?" Pria itu terkekeh. "Numpang makan," ucap pria itu santai. Tanganya mengambil cemilan yang berada di toples kaca ruangan Adrian. Mulutnya tak berhenti mengunyah dengan nikmatnya mengabaikan Adria yang menatap tajam pria itu. "Alex!" "Apaan?" tanya mengabaikan muka berang Adrian. Tanganya beralih mengambil toples kedua yang menjadi incarannya. Adrian yang jengah dengan itu menggeser semua toples itu. "Pelit bener lo," ucapnya sambil mendengus. Adrian mengabaikannya. "Lo ngapain udah disini? Gue bilangkan jam makan siang." "Kenapa? Lo masih mau ngelamunin masa lalu lo yang gagal itu?" tanyanya. Adrian menatap tajam Alex. Giginya bergelamatuk sambil menenangkan emosinya yang tiba-tiba naik seketika. "Thats true. Lo gak bisa ngelupain masa lalu lo yang gagal itu? Sehingga lo minta bantuan sama gue untuk cari cewek itu lagi?" tanyanya lagi, makin membuat emosi Adrian melambung tinggi. Alex menatap jengah laki-laki yang berada dihadapannya ini, laki-laki yang tersandung dengan kenangan masa lalu. "Gue minta lo untuk cari tahu tentang dia. Bukan untuk ikut campur urusan gue!" ujar Adrian dingin. Tiba-tiba ruangan menjadi mencengkam kontras dengan ekspresi Alex yang nampak santai, tidak peduli dengan muka merah padam sahabatnya sejak kecilnya itu. Alex menghela nafas. Pria itu mengambil sesuatu dari balik jaket hitamnya. Sebuah amplop bewarna coklat dengan ukuran sendeng ia lemparkan tepat kearah Adrian. "Puas-puasin lo mandang dia." Adrian segera membukanya dengan tidak sabaran, Alex terkekeh melihat tingkah sahabatnya itu seperti kucing yang kelaparan. Ada perasaan tidak suka saat Alex saat Adrian begitu semangat membukannya. Oh, tidak! Alex bukan penyuka sesama jenis, jika tidak percaya tanyakan saja pada isteri dan kedua anaknya yang sedang berada di rumah. Ia hanya tidak suka Adrian kembali pada wanita yang membuatnya tanpa sadar mendekati jurang yang dalam. Adrian menatap tak percaya pada lembaran foto itu, emosinya berangsur turun saat melihat wajah wanita itu. Foto itu menampilkan seorang wanita yang sedang membersihkan sebuah meja kafe. Sudah jelas bagi Adrian bahwa wanita itu adalah pelayan yang bekerja disana. Itu wanitanya. "Gue rasa itu hukum karma buat dia, karena udah ninggalin lo." Adrian mengabaikan ucapanya Alex. Sekarang, diotaknya hanya ada prempuan yang sedang bekerja kerasa diluar sana. Adrian merasakan sesuatu yang membakar dirinya untuk segera bertemu dengan wanita ini. "Dimana dia?" tanya Adrian. "Buat apa lagi lo tanya alamat dia? Gue pikir lo cuman mau tau keadaannya," ucap Alex meneliti wajah Adria. "s**t! Jangan bilang lo mau balik sama dia?" tanya Alex tak percaya. "Dimana dia?" tanya Adrian lagi. Emosinya sudah kembali melonjak naik. Alex mengeluarkan sebuah kertas kecil dari sakunya. "Thanks Bro!!" seru Adrian senang. "Tenang aja, gue bakal ngandelin jasa lo lagi nanti," kata Adrian. Alex menatap tak percaya perubahan wajah Adrian yang nampak lebih berseri. "Gak perlu. Ini yang terakhir." Adrian mendongakan wajahnya menatap dengan berkerut saat Alex bangkit dari duduk. "Maksud lo?" tanyanya. "Persahabatan kita berakhir," kata Alex. "Sebagai orang asing. Gue cuman kasih saran. Setelah lo udah ketemu sama cewek itu dan dia mau nerima lo balik. Lo mau apaain isteri lo?" tanya Alex membuat tubuh Adrian membeku. Otaknya secara cepat memikirkan seorang wanita ceroboh dan keibuan. "Lo mau ninggalin dia? Demi wanita itu? Sinting lo!" "Lo harus ingat, wanita itu dengan mudahnya menyerahkan Dariel sama lo yang notabenenya ibu kandung Dariel. Sedangkn isteri lo yang gak ada sama sekali hubungan darah, menyanginya dengan tulus." Alex mengelengkan kepalanya saat melihat Adrian yang hanya terdiam. "Gue tau lo pintar. Pasti tau mana yang baik buat lo," ujarnya membuat Adrian cepat mendongak. "Gue pamit." Adrian terdiam kembali. Diotaknya kini berputar-putar kenangan manisnya dengan ibu kandung Dariel bergabung dengan kenangan dengan Nara, walaupun hanya sedikit tapi Adrian merasa begitu mengagumkan. *** "Nungguin anaknya, Buk?" "Iya, Buk." "Orang tua siapa ya?" tanya sesosok ibu-ibu lagi. Nara menghela nafas, menyesal juga telah bergabung dengan ibu-ibu yang sedang menjemput anaknya ini. Dan, ketahuilah sejak tadi sudah banyak dosa yang mereka perbuat karena mengunjingi orang-orang terkenal bahkan orang tua siswa lainnya. "Razkana, Buk." "Ohh, si bocah ganteng itu ya. Pantesan kasep ibunya cantik gini." Nara hanya memberikan senyum ala kadarnya saja, terhitung itu adalah pujian yang kesepuluhnya hari ini ia dapatkan. Sisanya ia dapatkan dari Dariel dan Razka yang meminta dibelikan es krim sepulang sekolah. Setelah agak lama, ibu-ibu itu kembali bergosip. Sebernarnya Nara tidak terlalu tertarik. Tapi saat ia medengar kata 'anak bule' kuping Nara langsung saja menyimak baik-baik. "Saya gak pernah melihat orangnya tuannya, Buk." "Iya, saya juga. Cuman beberapa kali melihat seorang wanita bahenol keluar dari mobil mewah terus menjemput anak bule itu." "Iya, padahal yang jemput itu gak ada wajah-wajah bulenya sama sekali." "Jangan-jangan itu anak hubungan gelap." Nara mengeser tubuhnya menjauh dari ibu-ibu itu. Sedikit menyesal karena telah mendengar gosip itu. Tapi, entah mengapa Nara penasaran dengan anak bule yang dibicarakan ibu-ibu itu. Lama Nara berpikir hingga sebuah suara melengking mengagetkannya dan juga ibu-ibu itu. "Bunda!" teriak Dariel kencang membuat Nara terkesiap dan segera merentangkan tangannya. Nara mencium kedua pipi Dariel setelah bocah itu mengeruraikan pelukannya. "Babang mana, Yel?" tanya Nara. Dariel langsung menjawab dengan menunjuk seorang bocah laki-laki dengan pakaian yang penuh dengan noda coklat yang Nara tahu itu adalah es krim. Dengan santainya Razka meminta kecupan pada Nara seperti Dariel tadi. Menghiraukan Nara yang kini menatap tajam anak itu. "Stop, Bunda. Ngomelnya dipending dulu, nanti di rumah boleh lanjut," ujar Razka saat Nara hendak mengomel. Nara mengelengkan kepalanya, lihat saja nanti saat anak itu setelah sampai di rumah Razka akan segara masuk kamar dan menutup pintunnya. Karena hari kian memanas, Nara segera mengandeng kedua tangan anaknya menuju mobilnya. "Buk Nara!" Nara membalikan tubuhnya karena merasa terpanggil oleh panggilan ibu-ibu itu. "Ada Buk?" tanya Nara. Pandangan mereka tertuju pada sesosok yang sedang megenggam lengan kiri Nara. "Itu anak Buk Nara?" tanya Ibu-ibu yang mengunakan hiasan menor di wajahnya. Nara segera mengalihkan pandangannya kekiri. Dariel. Tiba-tiba otak Nara teringat dengan pembicaraan ibu-ibu itu. Seketika emosi Nara mendidih saat melihat pandangan ibu-ibu itu yang seakan mencomooh Dariel. "Iya, Dariel memang anak saya. Dan, ibu-ibu tidak usah ikut campur dengan urusan kelurga saya. Jangan pernah membicarakan anak saya lagi. Lebih baik ibu memperhatikan anak ibu sendiri dari pada anak saya, lihat ana ibu ingusnya meleler kemana-mana." Nara segera bergegas meninggalkan ibu-ibu itu. Bukan karena telah puas dengan kata-katanya, malainkan takut jika dirinya dikeroyok ramai-ramai. Bisa habis badan Nara. Selama perjalanan menuju mobilnya yang berada diparkiran Nara kembali mengingat ucapan-ucapan ibu-ibu itu tadi. Siapa wanita bahenol yang sering menjemput Dariel? Nara yakin, jika wanita itu sering menjemput Dariel sebelum dirinya menikah dengan Adrian. Apa suaminya itu telah... "Kinaraa!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD