"Kinara..."
Kinara mengabaikan panggilan itu lagi, otaknya masih belum menerima sesosok laki-laki yang kini berada dihadapannya. Laki-laki yang sempat masuk kedalam hatinya dan lelaki itu juga yang meninggalkan hatinya dengan sesukanya.
"Maaf," ucap pria itu memandang rindu pada seorang wanita yang kini dihadapannya. Ada rasa kecewa saat wanita itu menatapnya dingin bagaikan orang asing.
"Untuk apa?" tanya Nara dengan suara senormal mungkin. Hatinya masih sakit melihat wajah lelaki itu lagi.
"Untuk semuanya."
"Sudah aku maafkan."
Selesai mengatakan itu, Nara mulai beranjak dari duduknya. Ia meninggalkan kedua anaknya di kedai es krim tanpa pengawasan. Tapi, Nara berpesan pada anaknya agar tidak kemana-mana. Dirinya hanya duduk dibagian luar kedai.
"Kinara, apa aku tidak memiliki kesempatan?" Chandra, nama lelaki itu. Ia ikut bangkit dari duduknya saat prempuan yang amat ia rindukan ingin meninggalkannya. Sesakit inikah hati Nara saat dirinya meninggalkan prempuan itu?
"Tidak ada dan tidak akan pernah terjadi," ucapnya tanpa melihat wajah penyesalan dari Chandra. Hatinya memang sepenuhnya sakit atas perlakuan laki-laki itu tapi cintanya bukan lagi milik Chandra.
"Sekalipun aku memberi tahumu bahwa aku adalah Ayah kandung Razka."
Gerekan Nara terhenti, tubuhnya menegang sejadinya saat Chandra mengucapkan kalimat itu. Ditatapnya pria itu, tidak ada kebohongan yang menjelaskan raut wajahnya.
"Aku yang menghamili Raya."
Plak..
"b******n kamu!" teriak Nara seraya menampar Chandra membuat penghuni kedai es krim itu mengalihkan pandangannya pada mereka. Bagikan disambar petir, fakta itu membuat Nara terguncang.
Tiba-tiba kilasan masa lalu kembali menyeruak didalam otaknya. Raya yang hamil seorang diri. Raya yang diusir oleh kedua orang tuannya. Raya yang mendapat gunjingan dari masyarakat. Raya yang tetap tabah saat mengandung Razka. Raya yang berjuang sendiri saat melahirkan Razka. Raya yang menutup matanya selama-lamanya, bahkan belum sempat melihat wajah anaknya.
"Tega kamu Chandra! Tega!" air matanya luruh seketika. Pria yang dulunya adalah kekasihnya dengan teganya menghamili sahabatnya sendiri tanpa pertanggung jawaban apapun.
"Maafkan aku Nara, aku khilaf," pipinya memang terasa panas dan juga sedikit perih. Tapi ia tahu, ini bukan apa-apan untuk membalaa perbuatannya. Chandra berusaha menenangkan Nara yang nampak terguncang akibat fakta yang selama ini ia tutup rapat-rapat.
"Bajiangan kamu! Aku menyesal telah menjadi kekasihmu! Apa salah Raya, hingga kau membuat hal sekeji itu padanya."
"Dan sekarang kau ingin mengambil Razka. Tidak akan pernah! Sekalipun kau adalah Ayah kandungnya."
Chandra menghela nafas. "Tidak, aku tidak akan mengambil Razka darimu." pria itu kini menuntun Nara untuk kembali duduk. Ada hal yang harus dijelaskannya.
"Ada yang harus aku beritahu kepadamu."
Nara membersihkan sisa air matanya. Sekalipun lelaki yang berada dihadapanya ini adalah Ayah kandung Razka. Ia tidak akan pernah membiarkan Razka pergi darinya.
Lain lagi dengan seorang pria yang kini termenung didalam mobil mewahnya. Lampu merah ia gunakan untuk memikirkan lagi ucapanya sahabatnya.
"Setelah lo udah ketemu sama cewek itu dan dia mau nerima lo balik. Lo mau apaain isteri lo?"
Adrian mecengkram kuat stir mobilnya. Sekarang ia berada didalam posisi yang sangat sulit dan membingungkan. Disatu sisi, seorang wanita dari masa lalunya tengah menantinya. Wanita yang dulunya memenuhi relung hati Adrian. Dan disisi yang lain, seorang wanita ceroboh nah keibuan telah berhasil membuat dirinya terpikat.
Kembali ia memikir hal ini. Hal yang membuat kepalanya ingin pecah. Pada hal ini bukanlah hal sulit, ia cuman harus menentukan siapa prempuan yang menemani masa depannya. Bahkan masalah perusahaan yang rumit sekalipun, Adrian bisa menyelesaikannya dengan mudah.
"Daddy, Iyel pengen Kak Nala jadi Mommy baru Iyel."
"s**t!" umpat Adrian. Ia seperti baru saja mendapat terjangan kuat membuat kenangan masa lalunya terhentakan begitu saja. Untuk apa lagi dirinya kembali kepada masa lalu sedangkan masa depan yang cerah telah terjamin didepan mata.
Lampu telah berubah warna menjadi hijau. Adrian segera mengemudikan mobilnya menuju suatu tempat. Biasanya saat ini anak-anaknya tengah menikmati semangkok es krim di kedai yang berada didekat sekolah mereka.
Saat sudah hampir sampai di kedai es krim itu, Adrian tiba-tiba menghentikan mobilnya didepan sebuah toko bunga. Lelaki itu membuka pintu mobilnya, selama pernikahannya dengan Nara. Ia tidak pernah sekalipun memberikan sesuatu pada Nara. Bahkan uang bulanan pun, Adrian yang lebih dulu memberi bukan Nara yang meminta.
"Mau cari apa, Mas?" tanya seorang penjaga toko bunga itu.
"Bunga."
Penjaga toko itu menggaruk kepalanya bingung. Iya-iyalah mau beli bunga, ini kan toko bunga buku toko kue. Ini yang salah pertanyaannya atau memang Mas-mas ini yang kurang fokus.
"Maksudnya, mau cari bunga seperti apa?"
"Matahari."
Entah mengapa Adrian menyebutkan nama bunga bewarna kuning itu. Menurut Adrian, Nara itu seperti bungan Matahari yang selalu cerah. Bahkan, Adrian tak pernah sekalipun melihat wajah lelah dari Nara.
Setelah bunganya telah dikemas menjadi buket bunga yang cantik. Adrian segera membawanya dan meletakan pada dashboard mobilnya. Adrian memacu mobilnya dengan semangat, ia tak sabar menantikan ekspresi Nara yang terkagum-kagum nantinya.
Karena jarak toko bunga itu dan kedai es krim tidak terlalu jauh. Adrian akhirnya sampai dengan mobilnya. Segera ia melangkahkan kakinya menuju kedai es krim. Digenggamnya buket bunga matahari itu dengan semangat.
Langkah kaki Adrian terhenti saat melihat seorang wanita yang tengah duduk dibangku yang berada diluar kedai. Adrian seakan mengenal prempuan itu dari tubuh bagian belakangnya karena posisinya yang memunggungi Adrian. Ciri-ciri bentuk tubuhnya sangat mirip.
Nara.
Iya, itu Nara. Dan, Adrian melihat isterinya bersama seseorang laki-laki. Ia tak mengenal laki-laki yang kini sedang duduk berberdua dengan Nara. Adrian juga tak melihat Dariel dan Razka, kemana anak-anaknya itu?
Adrian segera mengedarkan pandanganya keseluruh penjuru kedai. Dibalik jendala besar yang bening sehingga Adrian bisa meihat Dariel dan Razka yang tengah menikmati es krim tanpa pengawasan.
Adrian merasa dikhianati dua kali, Nara yang saat ini bersama seseorang laki-laki yang harusnya tak pantas ia lakukan karena statusnya yang kini telah menjadi isteri Adrian. Dan, sekarang Adrian melihat kedua anaknya berada disegerumbulan orang asing.
"Arghh! Nara." Adrian melempar bunga matahari itu kedalam tempat sampah yang berada disampingnya. Pikirannya kini tengah menabak-nebak sesuatu yang tengah dilakukan Nara. Tentu saja Adrian tak bodoh, dua orang dewasa berbeda kelamain tengah duduk bersama, untuk apa coba?
Adrian segera meninggalkan kedai es krim itu dengan memacu mobilnya dengan cepat. Mengabaikan cacian dan u*****n orang-orang karena menggunakan jalan raya seenaknya. Adrian melampiaskan kekesalnya, tanganya dengan kuat mencengkram stir mobilnya hingga kukunya memutih.
Adrian tak sadar membawa mobilnya menuju sesuatu tempat yang akan membuatnya mengenang masa lalu. Secarik kertas yang diberikan Alex membuatnya memberhentikan mobilnya disebuh kafe bergaya klasik. Disitu, didalam sana. Ada wanita yang dulunya menjadi masa lalu Adrian.
Kinara bisa selingkuh, kenapa dirinya tidak?