21

1288 Words
Seorang laki-laki dengan setelan jas mewah masuk kedalam sebuah kafe. Semua perhatian pengunjung langsung tertuju pada dirinya, mereka juga melihat bahwa laki-laki itu juga mengendarai mobil mewah yang terpakir mencolok diantara mobil-mobil lainnya. "Eh, ada cowok tajir tuh," seru para pelayan yang sedang berkumpul. Mereka berbisik-bisik membuat seorang wanita dengan rambut blonde menghampirinya. "Ada apaan?" tanyanya. "Itu ada cowok tajir, ganteng lagi." "Boleh juga tuh. Mobilnya bagus gak? Kalo bagus mau gue dapetin," ucapnya percaya diri. Diantara pelayan-pelayan lain, wanita ini memiliki keunggulan yang paling mencolok. Tak jarang ia menggoda para penggunjung yang datang menggunakan mobil mewah. "Gue gak yakin lo bisa dapetin dia," sahut salah satu dari pelayan itu. Prempuan itu tesenyum pongah mengabaikan ucapan itu, ia akan membuktikan bahwa dirinya memang bisa medapatkan pria itu. Wanita itu segera bergerak melancarkan aksinya. Dengan tubuh yang molek ia melenggang-lenggang membuat penghuni kafe berdecak kagum dengan tubuh indahnya. "Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" tanya dengan senyum menggoda. Senyuman yang lebih cocok digunakan di club-club malam. "Natasha..." Mata wanita itu membulat. Dalam hitungan detik, wanita bernama Natasha itu langsung memeluk laki-laki yang tadi memanggil namannya. "Adrian..." Adrian membeku. Kenangan didalam otaknya seakan menari-nari didalam benaknya. Dielunya punggung wanita yang ia rindukan. "Hikss... Adrian. Kamu kemana saja? Aku terus-terusan mencari keberadaanmu." Tubuh Adrian menegang. Ia tidak menyangka, wanita yang dulunya menjadi kekasihnya dan melahirkan anaknya mencari keberadaannya. Setelah wanita itu sendiri yang meninggalkanya. Tapi, untuk apa? "Untuk apa kamu mencariku?" Natasha mengurai pelukannya. Dengan muka yang basah akibat tangisnya, perempuan berambut pirang itu menatap sendu wajah Adrian. "Aku menyesal. Aku.. Hiksss--" Adrian kembali membawa Natasha kedalam pelukannya. Dielusnya punggung Natasha yang bergetar menahan tangis. Setelah merasa cukup, Adrian melepas pelukannya. "Maafkan aku Adrian. Aku menyesal. Sebenarnya aku dipaksa untuk meniggalkanmu agar laki-laki itu tidak berbuat macam-macam denganmu." Adrian menggengam tangan Natasha. Giginya beglematuk saat mendengar alasan mengapa Natasha meninggalkannya. Andai saja, Adrian tahu masalah ini pasti ia akan membantu Natasha dan perempuan ini tidak akan meninggalkannya. Sedangkan Natasha perlahan menyungingkan seringai kecilnya. Kali ini ia akan benar-benar membuat seorang Adrian Maynard tunduk kepadanya, apapun caranya. Ia sudah tak sanggup hidup dengan keadaan seperti ini, menjadi pelayan kafe membuatnya menderita. "Maaf, Adrian. Seharunya aku tak pantas bertemu denganmu lagi," lirih Natasha membuat Adrian dengan cepat mendongakan kepalanya. Buru-buru Adrian menggenggam tangan Natasha. Prempuan itu menunjukan seringainya saat Adrian masuk kedalam perangkapnya. Sengaja ia mengatakan hal itu agar Adrian terpancing dan lihatlah laki-laki itu masih memiliki perasaan padanya. "Sudahlah, Nata. Aku sudah memaafkanmu." Natasha yang mendengar itu langsung menyungingkan senyum manisnya. Prempuan itu kembali duduk dan menggenggam tangan Adrian. Sedangkan pria itu kini terdiam. Pikirannya menjelajah, bagaiman jika Nara melihat semua ini? Apa yang akan Adrian ucapkan pada wanita itu. Memikirkan hal ini, membuat kepala Adrian seperti baru saja ditimpa puluhan ton membuatnya pusing. "Adrian, kamu masih suka Ice Coffe kan? Biasanya siang-siang seperti ini sewaktu kita kuliah, kamu akan memasan itu?" Adrian terdiam, matanya menatap senyum Natasha yang memebuatnya kembali mengingat kenanganya dengan prempuan ini sewaktu mereka kuliah. Canda, tawa, bahagia dan bebas. Jauh sebelum dirinya menjadi seorang Ayah. Dan, kini kegiatannya semasa kuliahnya dulu tidak lagi dapat ia nikmati. Mungkin, ini saatnya ia kembali pada dunia bebasnya. Bersama seseorang dalam masalalunya. *** "Aku titip Razka. Karena aku akan melanjutkan kuliahku di luar negeri." Nara kembali mengingat ucapan Chandra saat di kedai es krim tadi. Pria itu akan pergi malanjutkan kuliahnya dan berpesan agar menjaga Razka. Tanpa diminta pun, Nara akan selalu menjaga Razka. "Bunda... Ngantuk." Nara tersenyum saat melihat Dariel berjalan dengan sempoyongan kearahnya. Nara sengaja duduk di sofa ruang keluarga guna menunggu kedatangan Adrian. Padahal jam sudah menunjukan jam sembilan malam tapi Adrian belum juga pulang dari kantornya. "Kenapa belum bobok? Babang aja udah bobok," ujar Nara seraya mengangkat Dariel kedalam pangkuannya. Bocah itu segera memeluk Nara dan menyendarkan kepalanya di tubuh Nara. Nyaman. "Bunda gak ada. Iyel gak bisa bobok kalo gak ada Bunda..." ucapnya dengan mata sayu khas orang mengantuk. Nara tersenyum mendengar ucapan Dariel. "Kan udah ada Bunda. Sekarang bobok, ya." Nara mengelus pelan kepala Dariel agar bocah itu segera terlelap didalam pangkuannya. Tidak butuh waktu lama, Dariel telah terlelap pulas. Nara yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya saja, prempuan itu segera mengangakat tubuh Dariel kedalam kamar. Ia takut ketika bangun badan anaknya akan sakit-sakit karena tidak tidur dalam keadaan berbaring. Setelah menidurkan Dariel, Nara segera beranjak dari kamar anaknya menuju pintu rumah karena mendengar suara bell. Nara berpikir, suaminya itu sedang ada pekerjaan sehingga membuatnya harus lembur. Clekk... "Kok baru pulang?" tanya Nara saat melihat batang hidung Adrian muncul dihadapannya. "Lembur," ucapnya singkat membuat Nara mengurutkan keningnya. "Mangkanya, kamu itu seharusnya tidak memecat sekretaris handal dan hebat seperti aku. Kalo ada aku pasti langsung bles.. Bless... Bables." "Aku tidur deluan, Nara." Nara hanya bisa termenung saat melihat Adrian beranjak naik keatas menuju kamar mereka. Nara mencoba berpikiran positif, mungkin saat ini Adrian sedang ada masalah dengan pekerjaannya. Nara berharap besok pagi semuanya akan lebih baik lagi. Nara mendesah bingung. Nyatanya harapannya tidak berjalan dengan sesuai harapannya. Adrian masih saja berbicara dengan singkat saat ia menanyakan sarapan pria itu. Jadilah sekarang Nara hanya bisa menyediakan sarapan untuk kedua anaknya. "Babang sama Iyel, mau sarapan pake apa?" "Nasi goleng." "Roti isi daging." Nara tersenyum saat melihat kedua anaknya yang nampak begitu semangatnya saat ingin sarapan. Rasanya, energi Nara yang sudah habis kembali terisi dengan senyuman anaknnya. Perhatian Nara yang semulanya tertuju pada kedua anaknya langsung teralihkan kearah anak tangga. Adrian dengan setelah jas-nya yang selalu memukau nampak begitu gagah saat menuruni anak tangga. "Ayah!" Adrian masih sama, masih menyapa kedua anaknya dan mencium pipi Dariel dan Razka. Nara yang melihat itu semua hanya diam, apalagi saat tatapan mereka bertemu. Ada yang berbeda dari tatapan Adrian, menurut Nara. "Nara..." Prempuan itu terkesiap. "Eh, iya! Kamu mau sarapan pake apa? Nasi goreng atau roti isi daging?" tanya Nara beruntun seraya mengambil sarapan Adrian. Piring dan sendok Adrian telah siap di tangan Nara, tinggal tunggu pria itu mengatakan apa yang ingin di makan, Nara akan segara mengambilkannya. Adrian menghela nafas. "Aku ada pertemuan dengan klain. Mungkin, aku gak sarapan di rumah," ujar Adrian membuat binar di mata Nara lenyap, tak tersisa. "Oke. Hati-hati." Nara memaksakan senyumnya yang dibalas anggukan oleh Adrian. Setelah berpamitan pada kedua anaknya, laki-laki segera melangkahkan kakinya keluar dari rumah. Saat mendengar suara mobil,  Adrian telah pergi tanpa sarapan dan kecupan pada kening Nara. "Bunda... Babang mau susu." Nara menggeleng, ia tidak boleh berpikir macam-macam. Walaupun di otak Nara saat ini ada yang mengganjal. Jelas sekali, sewaktu Nara masih menjadi sekretaris pria itu. Adrian tak mau jika waktu pagi dan sarapannya digunakan untuk kepentingan kantor. "Bunda," panggil Dariel membuat Nara terkesiap. Buru-buru Nara menghilangkan itu semua dan kembali fokus pada anaknya. "Apa sayang?" Dariel menghentikan sarapannya, bibirnya mengerucut. "Bunda, kamalin ada temen Iyel yang bilang. Katanya, kenapa lambut Iyel sama Bunda gak sama? Katanya Bunda itu bukan Bunda Iyel kalena lambutnya beda." Nara mengerutkan keningnya. Sedikit aneh dengan pemikiran si teman Dariel itu. Walaupun Dariel bukan darah dangingnya, warna rambutnya beda, warna kulit beda. Nara tetap menyanyangi Dariel seperti anaknya. "Bunda tetap Bunda Iyel kok. Cuman warna rambut aja yang beda," ujar Nara pelan. "Iyel pengen lambut Bunda sama kayak yang punya Iyel!" serunya sambil menghentakan tangannya pada meja makan. Nara menghela nafas sabar saat Dariel turun dari kursinya dan berlari menuju kamarnya. Nara mengurut kepalanya pelan, sedikit pusing meladeni sikap anak dan ayah yang sama-sama membingungkan. "Bunda..." "Apa, Bang? Mau muka Bunda sama kayak Babang?" Tawa Razka tiba-tiba pecah saat mendengar nada kepasrahan dari Nara. Entah mengapa, ada sedikit rasa tidak suka saat Dariel mengabaikan Nara. "Gak lah. Babang kan udah tahu kalo Bunda itu sayang sama Babang. Jadi untuk apa harus samaa rambutnya. Kalo Bunda bisa lebih dari itu memberi kasih sayang untuk Babang."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD