22

1468 Words
Nara berulang kali melirik kearah bangku belakang. Tepat dimana kedua anaknya sedang duduk manis didalam mobil. Sedangkan dirinya hanya bisa mengemudikan mobil dengan keadaan kacau. Berulang kali prempuan itu memikirkan perkataan Dariel yang menginginkan warna rambut yang sama denganya. Belum lagi dengan sifat Adrian yang tiba-tiba berubah membuat Nara sedikit kebingungan. Nara sudah berusaha mengirimkan pesan dan beberapa kali ia menelponnya. Tapi, tidak satu pun pesan yang dibalas dan penggilanya semua ditolak. Nara kembali melirik bangku belakang. Dilihatnya kedua raut wajah anaknya yang berbeda, yang satu menatap bangunan di sepanjang jalan dengan dahi berkerut dan satunya lagi bermuka cemberut dengan pipi menggembung. Mobil bewarna hitam itu berhenti tepat didepan gerbang sekolah dasar. Nara memejamkan matanya sejenak, sebelum memberi penjelasan kepada anaknya. "Iyel berangkat..." Tepat saat Nara hendak memutar tubuhnya kearah belakang, Dariel telah lebih dulu membuka pintu mobil dan berlari masuk kedalam sekolah. Nara menatap Razka, anaknya yang satu itu hanya menghendikan bahunya. Lalu mendekat kearah Nara dan menjulurkan tangannya. Nara tersenyum lalu dengan cepat menyalami tangan Razka. "Udahkan salamnya Bang..." ujar Nara saat tangan Razka masih menjulur kearahnya. Razka mendesah. "Salamnya memang udah, tapi uang jajan Babang belum..." ujarnya membuat Nara terkekeh. Prempuan itu segera mengambil dompetnya lalu mengambil dua lembar uang pecahan. "Ini untuk Babang. Nah yang ini, tolong kasih sama Iyel, Bang." "Siap, Bunda Boss." Razka mendekat kearah Nara lalu mengecup pipi Bundanya itu sebelum keluar dari mobil dan berlari masuk kedalam sekolah. Tiba-tiba sebuah ide terlintas di otak Nara. Mungkin dengan makanan kesukaan Ayah dan anak itu, akan membuat suasana lebih baik. Dengan hati berharap Nara segera melajukan mobil kembali ke rumah untuk membuat makanan kesukaan mereka. *** "Bagaimana Pak Adrian, apakah kerjasama kita dapat dilanjutkan?" Adrian terkesiap saat mendengar suara dari kliennya. Semua pasang mata menatapnya bingung, tak biasanya seorang Adrian Maynard termenung didalam ruang rapat. "Ah, iya. Semuanya akan diurus sekretarisku." Adrian melirik Anna yang nampak mendengus dengan dengan ucapanya. Hey, berani sekali sekretarisnya itu mendengus didepannya. Awas saja nanti, ia akan membalasnya, gerutu Adrian. Adrian mengusap wajahnya gusar. Pasti ini akibat dari perutnya yang belum diisi pagi ini. Ah, mungkin saja. Atau laki-laki itu belum mencium wajah isterinya. Tidak. Tidak mungkin karena itu Adrian melamun di ruang rapat. Untuk pertama kalinya seorang Adrian berharap rapat ini segera selesai dan semua tamunya segera pergi dari kantornya. Dan, untungnya Dewi Fortuna tengah berpihak padannya. Rapat selesai dan setelah ia menyalami semuanya. Ia bergegas menuju ruangannya. Adrian segera duduk di kursi kebesarannya. Dihela nafasnya berat, berharap beban yang entah apa hilang didalam pikiranya. Adrian baru teringat, segera saja ia memanggil sekretaris tidak tahu dirinya itu. "Anna, segera keruanganku..." Tidak lama dari panggilan itu, sesosok wanita dengan tubuh seksi berjalan menuju kearah mejannya. "Apa?" tanya Anna yang sudah dihadapannya. Adrian mengerutkan keningnya, sejak kapan wanita ini berani menatapnya dengan berkacak pinggang. "Kau tahu, aku ini atasanmu. Dimana sopan santunmu?" "Huh, sombong! Jika saja kau bukan keturunan Maynard, aku yakin sekarang menjadi onggokan barang bekas dipinggir jalan." "Apa katamu? Barang bekas?" "Iya. Kau masih masu saja dengan Nata de coco itu. Apa kau lupa, wanita itu adalah wanita yang sembilan tahun lalu meninggalkanmu dan anaknya padamu. Jadi kau pantas disebut barang bekas, bisa diambil lalu dibuang kembali." Adrian terdiam mendengar ucapan Anna. Prempuan itu tiba-tiba tertawa. "Oh, sial. Entah mengapa aku suka sekali menyebutmu barang bekas." Anna kembali tertawa membuat Adrian mendengus kerenannya. "Anna berhanti tertawa atau kau akan aku nikahkan dengan Alex?!" "Oh, siht! Kau ingin menjadikan ku Palakor. Sayang sekali itu bukan keahlianku." Adrian menggelengkan kepalanya mendengar ucapan prempuan didepannya ini. Anna adalah teman dekatnya saat berada dibangku kuliah, bersama Alex tentunya. Saat berada di Indonesia, Adrian cukup sulit mencari sekretaris yang kompeten dan untunglah wanita ini mau menjadi sekretarisnya. "Jadi, dari mana kau tahu bahwa aku sudah bertemu dengan Natasha? Apa kau bertemu dengan Alex, huh?" Anna terdiam, sedikit glagapan mendengar pertanyaan dari Adrian. Hal itu membuat laki-laki didepannya ini menyunggingkan seringainya. "A-apa maksudmu? Adrian Maynard yang terhormat. Aku dan Alex sudah berakhir. Kita tidak akan bersatu lagi, walaupun dulu kami adalah satu," ujarnya dengan nada merendah saat mengucapkan kalimat terkakhir. Hubungan Alex dan Anna cukuplah sulit, restu dari orang tua Alex menjadi rintangan terbesar dalam kisah mereka. "Dan, sekarang! Aku hanya ingin memberi saran padamu. Memang, aku tidak datang saat pesta pernikahanmu, oh, itu juga karenamu menyuruhku menggantikanmu rapat penting di Singapura, yah, walaupun disana aku banyak jalan-jalan dan berbelanja... Oke, cukup. Aku hanya ingin menyampaikan, jangan sia-siakan isterimu. Aku sudah beberapa kali melihat foto-foto bahkan secara langsung bahwa isterimu itu menyangngi Dariel dengan tulus. "Ingat, Adrian. Merawat anak kandung saja, sudah banyak yang menyerah dan menelantarkan anaknya sendiri. Dan lihat isteri, padahal Dariel bukanlah anak kandungnya tapi ia tetap menyangingi Dariel seperti anak kandungnya sendiri. Bahkan ia tidak membeda-bedakan Dariel dengan anaknya sendiri. You know what I mean?" kali ini Adrian benar-benar terdiam dengan ucapan Anna. Prempuan yang jarang sekali menasehati tapi sekali memberi sarang langsung tertacap tepat sasaran. "Oke, aku lapar. Aku minta waktu tambahan karena telah memberimu masukan. Byeee!" Sebelum Anna benar-benar pergi dari balik pintu, Adrian masih mendengar teriakan menggelegar dari wanita itu. "GUNAKAN OTAK CERDASMU ADRIAM!" Pria itu mengusap wajahnya kasar, kembali ingatannya saat melihat Nara bersama laki-laki di kedai es krim itu membuat Adrian membanting sesuatu. Ting! Baru saja Adrian hendak membantig ponselnya karena terlalu emosi, tapi hal itu tidak terjadi karena melihat nama sang pengirim pesan. My Wife❤ Aku akan ke kantormu setelah menjemput anak-anak. Jangan makan siang dulu! Aku membawa makan siang untuk kita. Adrian kembali melirik ponselnya. Sejak kapan pula ia menamai kontak Nara dengan sebutan menggelikan itu. Ah, sudahlah. Sekarang apa yang akan Adrian jadikan alasan karena tidak menjawab dan membalas pesan Nara nanti. Mungkin alasana rapat lebih baik. Lagi pula, ia benar-benar rapatkan. Jadi dirinya tidak berbohong. Entah mengapa perasaan senang menjalar didalam hatinya saat Nara akan datang ke kantornya, sebegitu rindukah dirinya pada Adrian. Tok...tokk "Masuk!" Adrian membulatkan matanya saat melihat seorang prempuan dengan dress pendek dan ketat masuk kedalam ruangannya dengan senyuman cerah. "Adrian! Aku membawakan makan siang untukmu," ujarnya seraya mengancakan tiga kotak makanan berlebel junk food terkenal. "Untuk siapa saja itu?" ujar Adrian mengerutkan keningnya saat melihat jumlah kotak makanan yang Natasha bawa. "Jelas sekali. Untuk aku, kamu dan anak kita," ujar Natasha membuat muka Adrian memucat. Dariel? Anaknya dan Natasha. "Dimana dia? Aku ingin sekali bertemu dengannya." *** "Haii! Anak-anak Bunda yang ganteng!" seru Nara saat melihat Dariel dan Razka yang baru saja keluar dari gerbang sekolah. "Haloo, Bunda Boss yang cantik!" balas Razka dengan mengancungkan kedua jempolnya. Nara terkekeh lalu mengacak rambut Razka dan mengecup pipinya. Pandangan Nara beralih kearah Dariel yang masih saja memanyunkan bibirnya. Ada rasa kecewa saat melihat air wajah Dariel yang masih nampak kecewa, padahal Nara berharap Dariel akan membaik saat ia sudah berangkat sekolah. "Hari ini kita mau makan siang di kantor Ayah! Siapa yang mau?" "Babang! Babang mau!" seru Razka yang selalu antusias saat diajak ke kantor Adrian. "Iyel, maukan makan siang di kantor Ayah?" tanya Nara seraya mengecup pipi Dariel walaupun setelah itu dibersihkannya dengan tangannya. "Iya." Nara menghela nafas, mungkin sedikit usaha lagi Dariel akan kembali menjadi Dariel yang selalu menempel padanya. Saat hendak membuka pintu mobil, Razka berseru pada Nara. "Bunda, Babang mau duduk didepan? Boleh?" Nara ingin mengangguk tapi lamgsung disela oleh Dariel. "Gak! Iyel yang duduk didepan." Nara menatap khawatir pada Razka, tapi bocah itu malah menyunggingkan senyumnya pada Nara. Seraya menedipkan matanya, seolah berkata 'berhasil kan, Bun' dan hal itu membuat Nara terkekeh dengan sifat Dariel yang masih saja tidak mau mengalah saat berubut untuk duduk didepan. Dengan segera Nara menyuruh kedua anaknya masuk kedalam mobil karena cuaca yang semakin terik. Setelah masuk kedalam mobilnya, Nara segera melajukan mobilnya menuju kantor Adrian. Saat dalam perjalanan, Nara melirik kearah Dariel yang tidak mengenakan sabuk pengamannya. Hal itu membuat Nara berdecak karena kebisaaan bocah itu. "Iyel, sabuk pengamannya dipake." "Gak mau." "Lihat Babang aja pake sabuk pangaman. Nanti ada Pak Polisi loh." "Gak mau!" teriaknya. Nara menghela nafas. Pandanganya beralih kearah depan, bertepatan saat dirinya melihah sebuah mini bus dengan keadaan oleng menuju kearahnya. Nara membulatkan matanya saat melihat mini bus itu semakin kencang melaju kearahnya. Saat itu juga Nara membanting stirnya, membuat mobilnya tiba-tiba terpeleset dan menghantam pembatas jalan dengan sangat kuat. Brukkkk..... Pandangan Nara mengabur karena kepalanya terbentur stirnya dengan kuat, prempuan itu berusaha menggerakan kepalanya. Dibangku belakang, Nara bisa melihat Razka yang pingsan dengan sabuk pengaman yang menahan tubuhnya. Nara meringgis kepalanya sangat sakit, saat melihat kearah bangku sampingnya. Nara melihat darah sudah bercecaran di dashboard mobilnya, nafas Nara tercekat saat melihat Dariel yang tertunduk lemas dibangkunya. Nara berusaha mencoba menggerakan tubuhnya yang sangat sakit, pikiran buruk telah memenuhi otaknya. Saat Nara menegakan tubuh Dariel, Nara berteriak histeris melihat kondisi Dariel yang mengenaskan. Hingga matanya sendiri tak sunggup menahan terlalu lama dan pandanganya semakin mengabur sesaat kemudian menjadi hitam. Bertahan, Anakku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD