23

1370 Words
Kehilangan adalah salah satu hal yang sulit diterima manusia. Kenyataan pahit yang membuat kita merasa masih memilikinya, tapi hanya sekedar ilusi yang semakin membuat kita jatuh lebih dalam. Kadang merelakannya adalah hal yang susah untuk dilakukan saat kebersamaanya telah melekat terlalu kuat. Nara pernah merasakannya. Disaat kedua orang tuanya dikabarkan meninggal dunia akibat kecelakaan yang membuatnya menjadi sebatang kara. Sepi dan hampa. Nara hampir gila. Hampir saja dirinya lenyap dari muka bumi ini. Jika sahabatnya tak datang. Mungkin Kinara Audi Pramesti hanya tinggal nama. Nara tak mau lagi. Ia tak mau lagi orang yang dirinya sayangi pergi meninggalkannya. Nara tak mau merasakan sakit, karena luka lamanya saja masih terasa sampai sekarang. Disinilah Nara, berdiri disebuah pintu kamar perawatan Dariel. Untuk mengucapkan nama anaknya saja, Nara merasakan sesak yang luar biasa. Kecelakaan yang baru saja ia alami seakan menari-nari di kepalanya. Andai saja Nara lebih cepat menyuruh Dariel memasang sabuk pengaman, mungkin sekarang bocah itu tengah bergelayut manja denganya atau masih setia cemberut karena rambut Nara yang berbeda dengan dirinya. Nara menyentuh gagang pintu yang terasa amat dingin di tangannya. Mengatur nafasnya yang memburu karena rasa sesal dan takut yang teramat dalam. "Jangan." Nara merasakan tangannya digenggam oleh seseorang. Prempuan itu menatap sesosok laki-laki dengan pakaian yang sangat berantakan. "Jangan pernah berani masuk kedalam kamar anakku!" ucapan dingin itu seolah menembus uluh hati Nara. Prempuan itu mendongak, menatap sepasang mata yang kini menatapnya sangat tajam. "Kenapa?" Nara baru bertemu Adrian, sebelumnya Nara harus menjalani perawatan karena kepalanya yang terbentur membuatnya tertidur beberapa lama. Dan kali ini, Nara ingin melihat kondisi Dariel. "Kenapa kau bilang?! Gaga-gara kau, anakku sekarang dalam kondisi kritis!" Adrian menghempaskan tangan Nara membuat prempuan itu terjatuh karena tubuhnya yang masih sangat lemah. Adrian menatap Nara dengan pandangan sulit diartikan, ada rasa iba saat melihat wanita yang masih menjadi isterinya itu terjatuh. Tapi, rasa sakitnya lebih besar saat melihat tubuh kecil Dariel dengan selang-selang yang menempel ditubuh ringkihnya. Nara bengkit dengan tertatih. "B-bagaimana kondisi, Iyel?" tanya Nara takut-takut. Ia menegakan tubuhnya dengan susah payah. "Karena kau anakku sekarang harus merasakan sakit!" Adrian mencengkram erat pundak Nara membuat wanita itu meringgis kesakitan. Belum lagi tatapan Adrian yang setajam pisau mampu membuat Nara menduduk dalam-dalam. Bersama setetes air matanya yang jatuh membasahi pipinya. Adrian semakin menguatkan cengkram tangan pada pundak Nara, membuat prempuan merasakan tajamnya kuku Adrian yang menancap pada pundaknya. "Ss-sakitt..." rintih Nara. Mukanya memelas meminta Adrian melepaskan cengkraman pada pundaknya. Adrian mendengus. "Sakit, huh?" tanya dengan seringai yang begitu mengerikan. "DARIEL HAMPIR SAJA MATI KARENA TINDAKAN BODOHMU NARA!" teriak Adrian kuat didepan wajah Nara. Prempuan itu tidak pernah melihat Adrian semarah ini, dan sekarang terjadi, karena dirinya. "Aadrian.. Aku sudah meminta Dariel untuk mengguna---" "Diam, Nara!" bentak Dariel. "Kau tahu, Nara? Aku pikir dengan menikahimu, Dariel bisa menjadi lebih bahagai. Tapi, apa?! Bahkan aku hampir saja kehilangannya!" nafas Adrian berderu kompak dengan air mata Nara yang terus mengalir. "Aku menyesal, Nara! Aku menyesal." "Apa maksudmu, Adrian? Jangan bila apa yang kau katakan waktu itu---" "Iya, aku membohingimu, Nara! Dan, aku kembali menarik janjiku padamu!" Kepala Nara dengan cepat mendongak, matanya menatap tak percaya pada apa yang barusan Adrian ucapkan. "Kau pembohong!" "Dan, kau pembunuh!" Nara membelalakan matanya saat Adrian mengucapkan kata-kata itu, lebih sakit dari perkataan Adrian sebelumnya. "Sekarang kau senang kan?" tanya Adrian dengan senyuman kecil. Senyuman yang membuat laki-laki itu lebih mengerikan. "Apa yang kamu katakan?" "Kau senang kan sekarang?!" tanya Adrian lagi sedikit menarik rambut Nara membuat wanita itu meringgis karena dipaksa mendongak. "DARIEL SEKARANG DALAM KONDISI KRITIS SEDANGKAN RAZKA BAIK-BAIK SAJA!" suara Adrian kembali bergema di lorong rumah sakit. Mukanya memerah, giginya berglematuk menahan amarah. "Bahkan anakmu yang tidak jelas asal-usulnya itu baik-baik saja, tanpa luka sedikitpun!" Plakk.... Tubuh Nara bergetar menahan amarah, tangannya mengantung di udara. Nara tak menyangka, laki-laki didepannya ini adalah suaminya. Suami yang tega menghina anaknya sendiri, yah, walaupun Razka bukan anak kandung Adrian. Nara tak pernah membeda-bedakan anaknya, ia menyangi keduanya dengan sama rata. Tidak ada yang dilebih-lebihkan ataupun anak mas. Sedangkan Adrian merasakan panas yang menjalar di pipinya. Ditatapannya tajam wanita yang berani-berani menamparnya. Adrian berkata betul kan? Razka adalah anak yang tak jelas asal-usulnya. Mungkin Ayahnya saja tidak tahu bahwa ia telah mendatangkan seorang bocah cilik. "Kau boleh berkata kasar padaku! Tapi, bukan anakku!" Nara menatap tajam Adrian membalikan tatapan tajam laki-laki itu. Ibu mana yang terima jika anaknya dicela, bahkan sekalipun orang yang mencela adalah orang yang di cintainya. Adrian mengusap wajahnya kasar, ditatapnya lagi Nara yang kini tengah menatapnya tajam dengan nafas terengah-engah. Muka wanita itu memerah tapi sama sekali tidak menyiratkan ketakutan. Ada rasa yang sangat sulit Adrian ungkapkan saat melontarkan kata-kata buruk mengenai Razka. Bocah yang paling bahagai saat memanggilnya 'Ayah'. Dan yang paling berteriak gembira saat Adrian melayangkan tubuhnya di udara. Dan lagi-lagi yang paling lebar tersenyum saat Adrian pulang. Tapi, lagi-lagi amarahnya membakar sisi kemanusian Adrian. Ia seakan melupakan bahwa hidupnya bertambah bahagia saat hadirnya Razka dalah kehidupannya. Anak itu bahkan rela bergadang menonton sepak bola karena tak tega membiarkan Adrian menonton televisi sendirian. Dan, sekarang. Hanya ada Dariel dan kesembuhannya yang ada didalam kepala Adrian. "Nara..." Adrian memegang pundak Nara dengan pelan saat wanita itu telah meredahkan emosinya. Nara mendongak, menatap wajah Adrian dengan air muka yang begitu lelah. "Ayo, kita mulai menjadi keluarga bahagai. Aku, kamu dan Dariel. Tanpa Razka." Nara mematung saat mendengar ucapan Adrian. Dadanya serasa dihimpit dua batu besar yang membuatnya sulit bernafas. "Kamu tahu bahwa Dariel sedang membutuhkanmu. Gunakanlah kesempatan ini untuk kamu menunjukan bahwa kamu menyangnginya. Jadilah ibu untuknya, seutuhnya. Tanpa ada seseorang lagi yang memanggilmu 'Bunda'...." "... Atau kita sudahi pernikahan ini." *** Seorang wanita menatap nanar pintu putih dihadapannya. Tangannya bergetar saat membuka pintu itu. Setelah pintu terbuka, wanita itu masuk kedalamnya. Sebuah ruangan perawatan yang diisikan seorang bocah laki-laki yang kini tengah tertidur pulas. Nara mendekat kearah ranjang Razka. Anak laki-laki itu nampak tertidur pulas, disampingnya ada sebuah buah apel yang hanya tersisa bagian tengahnya. Nara terkekeh, mengingat kebiasaan Razka yang selalu meningglkan bagian tengahnya karena buahnya telah habis. Padahal Nara bisa mengupasnya dan memuang bagian tengahnya. Prempuan itu mengelus pelan wajah tampan Razka yang mengingatkan pada Raya, ibu kandung Razka. Sahabatnya itu adalah orang yang mudah bergaul, asik dan membuat Nara nyaman bersamanya. Sama seperti Nara bersama Razka. Jika dilihat, Razka memang tidak memiliki luka-luka pada tubuhnya akibat kecelakaan itu. Berbanding terbalik dengan kondisi Dariel. Nara sempat melihat keadaan bocah cadelnya itu. Nara tersenyum getir, dia tidak menyangka tubuh kecil Dariel harus ditempel selang-selang untuk menopang hidupnya. "Hahh...." Nara menarik nafasnya dalam. Membuangnya, serta berharap beban yang kini ada pada dirinya ikut luruh bersama angin. "Enggh...." prempuan itu mengalihkan pandanganya pada Razka yang melenguh dan mengeliat seraya mengucek kedua matanya. Sampai nyawanya telah terkumpul, bocah ith menatap Nara dengan pandangan berbinar. "Bunda!" seru Razka seraya merentangkan kedua tangannya. Nara segara memeluk tubuh anaknya, mendudukan Razka dipangkuannya. Sedangkan anak itu membenamkan wajahnya diperut Nara. Nara mencium puncak kepala Razka. "Hemm, bau macem anak bunda," ujar Nara dengan bergaya menutup hidungnya. Bibir Razka mengerucut mendengar ejekan Nara. "Babang mandi ya?" tanya Nara yang langsung diangguki Razka dengan semangat. "Habis mandi kita pulang, ya Bun?" Razka menatap Nara dengan memelas. Anak-anak laki-laki itu sangat membosankan, padahal Razka belum 24 jam merasakan ranjang rumah sakit. Nara mengingat perkataan Dokter tadi, Razka sudah diperbolehkan pulang karena kondisinya sudah lebih baik. "Boleh," jawab Nara yang disambut pekikan luar biasa dari Razka. Sedetik kemudian, Razka terdiam mengingat sesuatu. "Iyel, gimana kabarnya, Bunda?" tanya Razka. Deg. Nara merasakan jantungnya berhenti berdetak mendengar pertanyaan Razka. Prempuan itu kembali mengingat perkataan terakhir Adrian. Apakah Nara sudah mengambil keputusan yang benar? Detik itu juga air mata Nara lolos membasahi pipinya. Ditatapnya Razka yang kini terlihat khawatir. Secepat kilat pula tubuh Razka telah berada dipelukan Nara. "Babang... Apapun yang terjadi nanti Bunda selalu sayang Babang." "Babang juga sayang, Bunda. Sayangnya banyak loh..." Nara terkekeh mendengar ucapan Razka. Prempuan itu takut tak bisa melihat senyuman Razka kembali. Jadi, ditatapannya lamat-lamat Razka yang sekarang tersenyuk lebar. Setelah Nara meredakan tangisnya. Prempuan itu mengecup semua sisi permukaan Razka membuat anak laki-laki terkekeh dengan tingkah Bundanya yang membuat wajahnya basah. "Bun, kita pulang ke rumah Ayah kan?" tanya Razka karena tidak mendepati Adrian. Nara mengeleng seraya tersenyum. "Emang kita mau pulang kemana?" "Babang akan punya rumah baru."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD