"Nggak, Mas. Kenapa emangnya? Kok, gitu ekspresinya?" tanyaku curiga.
"Em–emangnya aku gimana? Aku biasa saja, kok, Sayang," jawabnya gugup.
"Hmm."
Beberapa saat kemudian, Mas Rega menutup panggilan video itu karena ia bilang sedang sibuk. Baiklah, aku mengerti tugasnya sebagai seorang marketing.
***
Pukul setengah lima, aku sudah mendengar mobil Mas Rega berhenti di depan rumah. Dengan cepat aku membuka pagar untuk menyambutnya.
"Makasih, Sayang," katanya seraya melajukan mobil ke garasi kecil kami.
Aku hanya mengangguk dan tersenyum. Segera kuraih tasnya ketika ia sudah turun dan lekas mengajaknya masuk. Ternyata begini rasanya menyambut suami pulang kerja. Sungguh menyenangkan.
"Gimana, Mas, kerjanya?"
"Ya ... begitulah. Seperti biasa."
"Sudah teratasi masalahnya?"
"Sudah, kok."
Aku menatap Mas Rega yang tampak sayu. Mungkin ia terlalu lelah hari ini hingga terlihat lesu.
"Minum dulu, Mas!" ucapku seraya menyajikan secangkir teh hangat untuknya.
Ponsel yang ia letakkan di meja itu berdering. Seketika aku mengintipnya, tetapi Mas Rega mengambilnya dengan cepat dan menjauh dariku.
"Siapa, Mas?"
"Biasa. Teman di kantor."
Mas Rega tidak menjawab panggilan itu. Matanya sesekali melirikku. Sungguh aneh sikapnya.
"Pinjam HP-nya, dong, Mas!" kataku karena penasaran. Apa salahnya melihat isi ponsel suami sendiri.
"Jangan, ya! HP aku ya HP aku. HP kamu ya HP kamu. Walau sudah suami istri, tapi kita juga punya privasi," jelasnya yang membuatku tercengang.
"Haruskah ada privasi antara suami dan istri? Bukankah lebih baik jika saling terbuka? Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku, Mas?" tanyaku.
Mas Rega mengotak-atik ponselnya. Setelah itu, ia memberikannya kepadaku. "Jangan lama-lama, ya!"
"Nggak jadi, deh, Mas," kataku kecewa. Setelah diotak-atik saja berani menyerahkannya kepadaku. Sebelumnya tadi kenapa menolak? Pasti ada sesuatu yang ia sembunyikan.
"Katanya mau pinjam?"
"Nggak jadi, Mas."
"Kamu curiga sama aku? HP aku nggak ada apa-apanya, loh." Mas Rega menunjukkan ponsel dan membuka isi pesannya. Terlihat pesan dari beberapa teman prianya. Jelas saja tidak ada nama wanita, mungkin ia sudah menghapusnya.
"Lah, sudah dihapus. Aku mau lihat apanya coba?"
"Nggak ada yang aku hapus, Sayang. Aku cuma mengirim pesan sama teman aku yang telepon barusan," ucapnya seraya membuka isi pesan itu. Memang benar, sih. Mas Rega mengirim pesan kepada pria tersebut.
"Gimana? Masih curiga?" tanyanya.
"Nggak, Mas. Aku percaya sama kamu. Tolong jangan nodai kepercayaanku, ya!"
"Aku janji nggak akan mengecewakan kamu," ujarnya seraya mengusap kepalaku lembut.
"Mas, aku ingin tanya sesuatu, tapi jangan marah, ya!"
"Apa, Sayang?"
"Dari seluruh tempat di dunia ini, kenapa harus membeli rumah di dekat rumah Nadya? Dia itu, kan, mantan pacarnya Mas Rega."
Mas Rega mendadak melepaskan tangannya yang sedang mengusap kepalaku tadi. Dia berpaling tak lagi menatapku. "Kamu tahu dari mana kalau Nadya mantan pacarku?" tanyanya tanpa menatapku.
"Nadya yang cerita."
Mas Rega menghadap ke arahku dengan cepat dan mencengkeram kedua bahuku. "Nadya cerita apa saja sama kamu?" tanyanya panik.
"Kenapa, sih, Mas? Nadya nggak cerita apa-apa. Dia cuma cerita itu saja. Kenapa kamu panik begitu, Mas?"
"Ya ... jujur aku nggak suka kalau kamu nantinya berteman sama Nadya."
"Kenapa?"
"Nadya itu nggak baik."
"Masa,'? Kalau nggak suka aku berteman dengannya, kenapa kamu milih rumah yang justru dekat dengannya?"
"Kebetulan, Sayang. Aku milih di sini juga mempertimbangkan berbagai alasan. Selain dekat dengan pasar, stasiun, dan kantor aku, rumah ini juga dekat dengan tempat aku olahraga. Jadi, aku bisa lebih sering kumpul sama temen. Lagian, sebelum Nadya membeli rumah di sini, aku sudah jauh-jauh hari mengincar rumah ini. Waktu aku sudah membayarnya, ternyata Nadya ikut-ikutan beli di sini juga. Jujur, aku pun nggak tahu kalau dia bakal tinggal di sekitar sini." Mas Rega menuturkan panjang lebar.
"Serius cuma kebetulan? Serius Mas Rega nggak tahu kalau Nadya awalnya akan tinggal di sekitar sini?" tanyaku dengan menatapnya ragu.
"Serius, Sayang. Aku berani bersumpah. Jangan karena Nadya mantan pacar aku, kamu jadi mikir macam-macam! Kami sudah lama putusnya."
"Kenapa kamu nggak pernah cerita sama aku kalau kita bakal tetanggaan sama mantan pacar kamu, Mas?"
"Aku pikir itu akan mengundang masalah. Jadi, aku memilih diam. Lagi pula, aku dan Nadya sudah lama nggak komunikasi. Aku pikir kita akan berjauh-jauhan. Ternyata dia justru datang ke rumah ini. Kalau kamu diminta ke rumahnya, jangan pernah mau!"
"Hmm. Kenapa, Mas?"
"Nadya suka adu domba. Pokoknya jangan mau! Nurut sama aku, Sayang!"
"Hmm." Aku mengangguk dan semakin curiga.
"Aku mandi dulu, ya."
"Ya, Mas."
Aku mencoba percaya dengan penuturannya. Kebetulan atau Nadya yang sengaja mengikuti Mas Rega? Aku jadi curiga sama Nadya. Jika aku diam, aku tidak akan tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jika aku mencari tahu, maka aku harus siap melihat apapun nanti kenyataannya.
Memikirkan hal ini membuatku pusing. Baru juga menikah, sudah ada masa lalunya Mas Rega di sini. Aku harus pasang hati sekuat baja setiap hari. Terlebih lagi, melihat postur tubuh Nadya yang bahenol itu, mana masih muda dan cantik. Pria mana yang tidak tertarik dengannya? Rupanya aku harus mengawasi suamiku setiap detik.
***
Malam ini pasti Mas Rega menginginkan diriku. Aku sudah mempersiapkan tubuhku untuk malam yang begitu dinanti Mas Rega. Seluruh bagian tubuhku sudah wangi. Aku menggerai rambut coklat nan bergelombang ini. Aromanya menguar dengan sempurna. Wangi sekali. Pasti Mas Rega akan menyukainya.
"Mas!" tegurku ketika ia masuk ke kamar dengan wajah yang sedikit masam. Entah kenapa lagi dirinya. Seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Mas, lihat, deh!" Aku berdiri memperlihatkan gaun malam yang kukenakan. Aku memutar diri di hadapannya. "Kamu suka penampilan aku malam ini, Mas?"
"Suka. Kamu wangi banget."
Aku menatap Mas Rega lekat-lekat. Kutunjukkan senyum yang akan menghipnotisnya. Mas Rega memegang wajahku dengan kedua tangannya. "Kamu cantik banget, Sayang."
Senyumku kian mengembang ketika mendapat pujian darinya. Mas Rega menuntunku ke tempat tidur. Jantungku sudah berdetak sangat kencang. Mungkin ia merasakan dadaku berdebar-debar.
"Kamu sudah sangat cantik, tapi, maaf. Malam ini kita tunda dulu, ya?" katanya.
Keningku mengkerut mendengar ucapannya. "Kenapa, Mas? Bukankah ini yang diinginkan setiap pengantin baru?" tanyaku sedikit kecewa.
"Tentu saja, Sayang. Aku sangat ingin, tetapi aku sedang sangat lelah untuk saat ini. Kita bisa melakukannya di lain waktu."
"Apa kamu perlu sesuatu untuk memulihkan tenagamu?"
"Tidak, Sayang. Tidak usah. Aku hanya butuh istirahat yang cukup."
"Hmm ... ya sudahlah. Tak apa."
"Kamu marah, Sayang?"
"Nggak, Mas. Kalau emang kamu capek, nggak apa-apa. Kapan pun kamu mau, aku akan siap."
"Maafin aku, Sayang."
"Iya, Mas."
Rasanya aku ingin menangis, tetapi aku harus menahannya. Sia-sia sudah aku mempersiapkan diri seharian penuh demi melayaninya, tetapi ia justru tak ingin melakukannya malam ini. Sudahlah, tak mengapa. Lebih baik aku tidur saja.
Tengah malam aku terbangun. Kulihat jam digital di samping menunjukkan pukul 01.47.
"Loh, Mas Rega ke mana?" Aku terkejut ketika mendapatinya tak ada di sampingku. Hanya sebuah guling yang ia tutupi dengan selimut.
Aku mencarinya ke seluruh ruangan, tetapi tidak mendapatinya. Mobilnya masih terparkir rapi di garasi.
"Jangan-jangan ...." Pikiranku mulai tertuju kepada Nadya.