1. MANTAN PACAR SUAMI
Setelah bertahun-tahun pacaran, akhirnya aku resmi menjadi istri Mas Rega. Selama tiga tahun ini kami berpacaran jarak jauh. Namun, kami bisa mempertahankan hingga jenjang pernikahan karena kami saling menjaga hati.
"Gimana? Kamu akan nyaman tinggal di sini?" tanyanya ketika aku sudah selesai menata barang-barang di rumah pribadinya.
"Pasti nyaman, Mas," jawabku seraya mengedarkan pandangan. Rumah ini begitu bersih dan rapi.
"Maaf, ya, jika tak seluas rumahmu."
"Ini sudah sangat bagus, Mas."
Mas Rega mengusap kepalaku dengan lembut dan berkata, "Tidurlah! Kamu pasti lelah setelah melakukan perjalanan jauh."
"Ayo, Mas!" Kugandeng Mas Rega masuk ke kamar.
"Kenapa dulu aku nggak kunjung nikahi kamu? Karena ini alasanku. Aku ingin punya sendiri dulu biar bisa tinggal berdua. Semua ini juga untuk kamu," ucapnya.
"Iya, Mas. Makasih, ya?"
Mas Rega mengecup keningku. Setelah aku berganti pakaian, aku langsung merebahkan tubuh di sampingnya.
"Malam ini enggak dulu, ya? Aku capek."
"Oh, iya, Mas. Nggak masalah, kok. Sini aku pijat!"
Aku mulai memijat tubuh kekar yang dibalut kaus putih itu. Perlahan, aku melihatnya mulai terpejam. Kuusap lembut wajahnya yang ditumbuhi oleh cambang.
"Beruntungnya aku memiliki suami tampan sepertinya," batinku seraya melanjutkan pijatan.
Selama tiga tahun berpacaran, tak pernah kudapati ia selingkuh. Walau banyak orang berkata tidak percaya jika pria tampan sepertinya tak mungkin setia, tetapi aku selalu mengabaikannya. Aku lebih percaya kepada Mas Rega.
***
"Pagi, Mas. Baru mau aku bangunin ternyata sudah bangun," ujarku kala mendapati Mas Rega berjalan menuju dapur.
"Pagi, Sayang. Iya, tadi aku raba-raba kasur, ternyata kamu nggak ada. Aku nyium aroma masakan juga. Kamu masak apa, sih?" Mas Rega mendekat dan melihat isi wajan.
"Ini, sayur sup dan ikan goreng."
"Enak, tuh. Aku lapar, nih." Mas Rega mengusap-usap perutnya.
"Tunggu, ya, Mas!"
Beberapa saat kemudian, aku menyajikan sarapan untuk suamiku. Senangnya bisa melakukan ini. Sesuai dengan apa yang aku bayangkan selama ini.
Di sela-sela kami yang sedang menikmati sarapan, ponsel Mas Rega berdering. "Makan dulu, Mas!" ucapku seraya menarik tangannya karena ia akan beranjak.
"Kalau lagi makan, nggak boleh ditinggal-tinggal," lanjutku.
Mas Rega menuruti ucapanku seraya tersenyum simpul. Dia kembali melanjutkan makannya dengan terburu-buru.
"Pelan-pelan saja, Mas!" ucapku.
Beberapa saat kemudian, ponsel Mas Rega berdering lagi. "Aku sudah kenyang, Sayang. Aku angkat telepon dulu," ucapnya sambil beranjak.
"Telepon dari siapa, ya? Apakah itu penting?" Aku bertanya-tanya, tetapi aku bersikap masa bodoh.
Saat sedang membersihkan dapur dan peralatan masak, Mas Rega menghampiriku dengan pakaian yang rapi. "Mau ke mana, Mas?" tanyaku.
"Aku ada urusan, Sayang. Kantor telepon katanya ada hal penting."
"Mendadak banget, Mas? Jadwal kamu libur seharusnya satu minggu, Mas. Ini masih empat hari," protesku yang sejujurnya masih berat ditinggal olehnya walau beberapa saat.
"Maaf, Sayang. Ini penting banget dan nggak bisa ditinggal. Kamu tolong mengerti, ya, Sayang."
Kubuang napas panjang dan mengangguk. "Hati-hati, Mas!" kataku seraya melihatnya berlalu.
"Mungkin benar ada masalah di bidang pemasarannya," gumamku yang berusaha positif.
Seharian di rumah sendiri sungguh membosankan. Seluruh ruangan sudah bersih dan rapi. Sedari tadi aku hanya bersantai seraya bermain ponsel. Aku berinisiatif untuk menghirup udara di luar rumah. Sebenarnya aku ingin berkenalan dengan tetangga di sini, tetapi Mas Rega memintaku memunggunya pulang.
Saat sedang mengamati tata letak taman di depan rumah, seorang wanita menegurku. Aku berjalan mendekatinya yang berdiri di depan pagar.
"Kamu Valen, ya?" tanya wanita berambut lurus sepinggul itu.
"Iya. Saya Valencia, istrinya Mas Rega," jawabku ramah.
"Saya tahu, kok. Kamu lagi apa?"
"Saya lagi lihat-lihat sekitar saja. Mari masuk!" ajakku kepadanya.
"Maaf, Mbak namanya siapa? Apa rumah Mbak di sekitar sini juga?"
"Saya Nadya. Rumah saya tiga rumah dari sini."
"Oh." Aku mengangguk-angguk. "Omong-omong, kenapa Mbak Nadya bisa tahu nama saya?" tanyaku penasaran.
"Panggil Nadya saja! Jangan pakai mbak!"
"Oh, oke. Nadya," kataku sambil tersenyum.
"Saya tahu kamu dari Mas Rega. Saya ini kenal Mas Rega sudah lama. Memangnya, kamu nggak tahu siapa saya?"
Aku menggeleng pelan. "Nggak tahu," kataku.
"Mungkin Mas Rega lupa cerita. Kalian LDR selama tiga tahun, ya?"
"Iya, betul. Memangnya kamu siapa, ya? Apa pernah ada hubungan dengan Mas Rega?" tanyaku tanpa sungkan.
Nadya terpaku menatapku. Mungkin bibirku ini terlalu ceplas-ceplos jika berbicara. "Saya salah bertanya, ya? Maaf," kataku sambil nyengir.
"Oh, enggak, kok. Saya Nadya, mantan pacar Mas Rega."
"Ha?" Aku terbelalak. Bisa-bisanya Mas Rega membeli rumah yang dekat dengan rumah mantan pacarnya.
"Jangan kaget begitu!" Nadya tertawa. "Saya ini cuma masa lalunya. Sekarang Mas Rega sudah punya kamu. Lagian, Mas Rega juga nggak cinta sama saya," lanjutnya.
"Astaga! Kenapa Mas Rega nggak pernah cerita sama aku sebelumnya." Aku bertanya-tanya dalam hati.
"Kamu cantik dan asyik. Pantas saja kalau Mas Rega berubah. Dia nggak seperti dulu."
"Maksudnya gimana?" tanyaku tak mengerti.
"Oh, em ... nggak. Maksud saya, Mas Rega itu dulu dingin dan cuek gitu. Semenjak ada kamu, sifatnya berubah," terangnya. Namun, aku masih tak percaya.
"Oh, gitu?" Aku pura-pura percaya dengan kata-katanya.
"Iya. Kalau gitu, saya permisi dulu, ya? Anak saya sudah menunggu." Nadya berdiri dari tempat duduknya.
"Anak?"
"Iya. Saya ini janda anak satu. Anak saya umur tiga tahun. Saya tunggu kamu di rumah, ya! Jangan sungkan-sungkan kalau mau main. Rumah saya cat warna ungu."
"Iya, Nadya. Nanti saya akan ke rumah kamu kalau Mas Rega sudah pulang."
"Oke."
Aku melihat Nadya berlalu. Hatiku masih bertanya-tanya. Ucapan Nadya benar-benar membuatku tidak tenang. Berubah? Setahuku Mas Rega memang asyik dan tidak cuek, tapi Nadya mengatakan jika ia cuek dan dingin.
Kuintip sedikit perempuan bertubuh bahenol itu. Dia memasuki rumah warna ungu dan menutup pintunya. Apa jangan-jangan dulu Mas Rega adalah seorang pemain wanita?
"Ish!" Aku menepis pikiran burukku. Mungkin Nadya hanya cemburu karena melihat mantan kekasihnya menikah. Bisa saja itu hanya akal-akalan Nadya supaya aku mencurigai suamiku sendiri.
Satu hal yang masih mengganggu pikiranku. Mas Rega memilih membeli rumah di dekat rumah Nadya. Seperti tidak ada tempat lain di dunia ini.
"Tidak, Valen. Plis, plis! Jangan mikir yang macam-macam, okay?" Aku berusaha menenangkan diriku sendiri.
Aku memasuki rumah dan mengambil ponsel. Iseng, aku mencoba menghubungi Mas Rega melalui panggilan video.
"Hai, Mas," sapaku.
"Hai, Sayang? Ada apa? Aku masih sibuk ini."
"Oh, masih sibuk, ya? Nggak ada apa-apa, sih. Aku cuma kangen saja. Oh, ya, tadi ada tetangga kita yang ke sini. Nanti malam kita disuruh ke rumahnya," kataku.
"Boleh, boleh. Siapa?"
"Nadya."
"Nadya?" Mas Rega mendelik. Ekspresinya menjadi aneh seketika.
"Iya, Mas. Kenapa kaget gitu?"
"Nggak, kok. Dia nggak cerita apa-apa sama kamu?" tanyanya dengan masih melotot menatapku. Aneh sekali melihat Mas Rega yang mendadak panik.