Aneh

873 Words
Venus ditarik Vulcan hingga sampai di rooftop sekolah. Venus terus saja menundukkan kepalanya karena takut dengan aura yang dikeluarkan Vulcan sekarang. Vulcan seakan mengeluarkan aura Psikopat yang siap membunuh manusia yang berada didepannya dan Venus berdiri tepat didepan Vulcan sekarang. "Kak maaf tadi Gue g-." "Kenapa pakek jaket?" Vulcan memotong perkataan Venus dengan nada dinginnya. Venus bingung mengapa Vulcan menanyakan jaketnya, bukannya dia ditarik kesini karena sudah membuat tangan Freya terkena kuah bakso. Sedangkan Vulcan masih menatap Venus datar. "Kenapa?" Tanya Vulcan lagi. "Anu...eeee..itu..gue.." "Jawab." Venus bingung harus menjawab apa. "Venus." Vulcan geram karena tak mendapat jawaban dari Venus. "Tadi...tadi anu... aku kedinginan kak" Vulcan tau Venus membohonginya. Siang ini matahari sangat terik jadi tak mungkin gadis itu kedinginan. "Tadi pagi minum apa?" Pertanyaan Vulcan membuat Venus terperangah. Untuk apa Vulcan bertanya hal yang tidak penting padanya. "Maksudnya?" Vulcan berdecak kesal, gadis didepannya sangat tidak bisa diajak kerja sama. Terlalu memutar jika menjawab pertanyaan. Vulcan langsung saja menarik lengan Venus dan menyikap jaketnya dan benar dugaan Vulcan dari tadi. Venus yang terkejut langsung saja menarik tangannya tapi gagal karena Vulcan mencengkramnya dengan erat. Vulcan menarik Venus kearah tempat duduk kayu panjang yang berada disana. Setelah mereka duduk Vulcan langsung mengeluarkan salep yang sama persis dengan salep yang diambil Phoebe di kotak pensil miliknya. Dengan perlahan Vulcan mengoleskan salep tersebut pada ruam yang sudah memudar. "Kak tadi udah diolesin kok sam-." "Diem." Vulcan melanjutkan kegiatannya. Tak hanya tangan tapi Vulcan juga berjongkok dan mengoleskan salep di ruam yang terdapat dikaki Venus. "Baru juga ditinggal sehari" gumam Vulcan yang terdengar jelas oleh Venus. Lagi-lagi Venus bingung dengan apa yang terjadi. Vulcan seharusnya membencinya sepenuh hati, bukan malah mengobatinya sekarang seakan menjadi kakak laki-laki yang baik. "Pulang." Venus menatap Vulcan dengan tatapan bingung. 'Kok sekarang gue disuruh pulang, aneh nih manusia' "Ga usah kak aku gap-." "Uks." Vulcan langsung menarik tangan Venus meninggalkan rooftop. Sementara Venus berdecak kesal melihat seonggok manusia yang diktaktor melebihi Kim Jong Un. Sesampainya di Uks, Venus melihat dua sejoli yang tengah berbincang mesra. Siapa lagi kalau bukan Eros dan Freya, Venus lupa kalau mereka juga berada di uks karena tangan Freya yang terkena kuah bakso. "Minta maaf." Venus mengerutkan keningnya. Venus pikir kakak pertamanya ini mengajaknya ke uks untuk menyuruhnya istirahat, tetapi ia salah. Mengingat kata-katanya pada Mars 'mengharap Vulcan khawatir sama saja mengaharapkan kiamat'. "Freya gue minta maaf ya gara-gara gue tangan lo sakit gitu." Ucap Venus bersungguh-sungguh. "Iya kak gapapa bukan salah kakak juga, kan bukan kakak yang numpahin kuahnya." Setelah itu hening melanda mereka. Venus bingung harus apa sekarang. "Kakak kenapa ke uks? kakak sakit ya?" "Ga kok, nih ditarik sama Vulcan kesini biar minta maaf sama lo?" Venus tak ingin berbohong sekarang. "Jadi lo ga ikhlas minta maafnya? mending ga usah." Jawab Eros tak suka. "Yeee gue ikhlas kok minta maafnya jangan sok tau lo." "Paling juga caper lagi nih anak." Terdengar sautan dari arah pintu dan benar saja teman-teman Eros masuk membawa piring berisi nasi goreng. 'Hah jadi laper gue kan, mana belom makan lagi.' Venus menatap nasi goreng tak lepas. "Bukan buat lo, jangan gr jadi manusia." Saut Leo sedikit menjauhkan piring tersebut dari Venus. "Yeee siapa juga yang mau, pd banget lo gila." Venus lapar wahai sahabat, tapi ia harus menahan agar gengsinya tidak turun. "Kak Venus laper? kita makan berdua aja gimana?" "Ga perlu, gue udah kenyang lahir batin." Maksudnya lapar lahir batin kan ya. "Gue pinjem Venus sebentar." Venus langsung ditarik Eros keluar uks. Perasaan Venus tak baik jika berdekatan dengan Eros seperti ini. Sekarang saja jantungnya seakan mau melompat keluar, dan entah kenapa ia sangat bahagia ditarik oleh Eros, padahal ia tau ajakan Eros tidak bermaksud baik. Sesampainya mereka di belakang gudang sekolah, tak ada satupun dari mereka membuka suara. Venus tentu saja tak bisa memulai percakapan ini, ia tengah sibuk menenagkan jantungnya dan menyembunyikan wajah yang kian memerah karena ditatap Eros intens sekarang. "Maksud lo apa?" Tanya Eros menghentikan kesunyian diantara mereka. "Hah apanya?" Venus tak paham. "Kata-kata lo dikantin maksudnya apa?" Tamatlah riwayat Venus sekarang. Ia tak tau harus menjawab apa, kalimat itu keluar tanpa diminta olehnya. "Lo bisu sekarang?, tadi di kantin bukannya lo teriak-teriak?." Eros terus saja menatap gadis yang tengah manutup wajahnya dengan rambut yang terurai. "Maaf gue ga maksud ngomong gitu, gue cuman emosi." Setidaknya sekarang Venus jujur bukan. "Ga maksud? lo ngatain adik lo busuk hati dan lo bilang itu ga maksud?" Venus benar-benar mati kutu sekarang, dirinya seakan berada diujung papan jalan menuju surga ya kalau ia masuk surga. "Maaf, gue emosi." "Terus lo mau apa habis ini?" Eros tak puas dengan jawaban Venus, Eros tau kalau Venus kasar pada adiknya tapi Eros tak pernah melihat Venus seperti tadi. Mengatai adiknya secara terang-terangan di kantin. "Gue ga bakal ganggu Freya lagi gue janji." Ucap Venus dengan suara pelan. "Bisa gue pegang janji lo?" Eros harap gadis didepannya sekarang mengatakan itu dengan sungguh-sungguh. Venus sudah tak tahan dengan degupan jantungnya. "Iya gue janji ga bakal ganggu Freya lagi, gue juga ga bakal ganggu lo lagi, gue belajar move on dari sekarang udah puaskan gue pergi." Venus langsung melarikan diri dari sana. Sementara Eros terdiam mendengar kalimat Venus. 'Belajar move on?' Maksud Venus apa? "Jadi selama ini dia suka sama gue?" Gumam Eros tak percaya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD