Leo berjalan menuju rooftop dengan kembali membawa s**u stroberi yang Eros titipkan padanya tadi untuk Venus. Setelah sampai ia langsung kembali menyerahkan s**u itu ke Eros.
"Kenapa ga ketemu?"
"Bukan, dia ga mau." Alex dan Theo yang sedari tadi sibuk mencoret-coret dinding ikut mendengar percakapan Leo dan Eros.
"Ga mau?"
"Maunya lo kali yang ngasih." Ucap Theo.
"Kenapa lo ngasih dia?" Tanya Vulcan
"Gue beliin biar ga ngerebut jus Freya yang lo titip ke gue."
"Katanya mau jus juga biar adil ter-" Ucapan Leo dipotong oleh Alex.
"Dih udah dikasih juga maunya lebih, ga tau berterima kasih tuh adik lo."
"Siniin susunya gue yang kasih." Vulcan mengambil s**u itu dan meletakkanya di saku dalam jaketnya.
Vulcan melihat bungkus s**u kotak tersebut dan langsung paham mengapa Venus menolaknya.
"Tapi katanya alergi." Semua mata kecuali Vulcan menatap Leo tak percaya.
"Maksud lo?"
"Katanya dia tadi lo kalo mau ngasih yang lain jangan ada stroberinya dia alergi, gitu." Eros menatap Vulcan bertanya.
"Iya Venus alergi stroberi." Vulcan mengeluarkan kembali s**u itu dan meminumnya.
"Tapi gue liat dia minum jus stroberi terus sampe ngerampas punya Freya, bohong ya lo?" Theo menatap tak percaya.
Vulcan diam sejenak memikirkan jawaban yang tepat.
"Dia mau apa yang Freya dapet." Vulcan harap jawaban itu tak memunculkan masalah baru.
"Venus banget sih emang, irian sama Freya padahal adiknya sendiri, tapi emang kenapa sih Venus b-"
"Kenapa lo ga bilang?" Eros memotong ucapan Theo.
"Apa?"
"Venus alergi stroberi."
Vulcan tak tau harus menjawab apa.
"Lo juga biarin dia minum jusnya, kenapa?"
"Kenapa lo care?"
Sekarang Eros yang tak tau harus menjawab apa.
Sebenarnya mereka berdua sudah memiliki jawaban masing-masing, hanya saja mereka tak bisa menyampaikannya.
"Ehhh jawab dulu, kenapa Venus irian anaknya padahal kan gue liat lo, Mars , ama Freya anteng-anteng aja." Tanya Theo membuyarkan keheningan.
"Ga tau."
"Emang ya, pasti ada aja produk gagal diantara produk sukses."
"Lo?" Eros menatap Theo dengan sebelah alisnya terangkat.
"Enak aja gue."
"Iya lo lah siapa lagi, lemes mulut lo kayak mak gue kalau lagi ngegosip." Alex dan yang lain tertawa melupakan perbincangan tentang Venus sejenak.
"Vanoooo, gue yang bakal ngewakilin kelas ya nanti nyanyi?, boleh kan?" Venus memasang tampang memelasnya dihadapan sang ketua kelas.
"Wihhhh pas banget nus, semuanya udah keisi kecuali nyanyi, selamat anda diterima."
"Nus, nas, nus, nama gue a**s?, okeh deh kalo gitu byeee Vano."
Venus berjalan menuju kantin karena jam pelajaran sedang kosong, para guru sibuk rapat dengan anggota osis untuk acara yang diadakan 4 hari lagi.
Sampai dikantin Venus langsung menuju meja yang sudah ditempati Phoebe dan Ghea.
"Gimana masih bisa?" Tanya Phoebe.
"Bisa dong kan manusia bersuara merdu di kelas cuman Venus seorang."
"Idih gue juga enak suaranya, kalo kak Daniel sekolah sini mau deh gue nyanyi."
"Pd lo Ghe, udah ah mau mesen dulu gue." Venus beranjak memesan soto betawi tercinta. Saat kembali menghampiri meja, Venus melihat meja yang tadinya hanya berisi 2 orang kini penuh.
"Wahai penghuni kantin, kenapa tiba-tiba rame, ehhh ada kak Eros." Venus menatap Freya, seakan mengerti Freya langsung beranjak pindah.
"Ngapain pindah ?" Tanya Eros.
"Gapapa itu tempat duduknya kak Venus deket sama kak Phoebe."
"Yaampun Freya pinter."
Venus menatap Freya membenarkan, setelah ia duduk Venus tak memerdulikan orang sekitarnya lagi, ia memakan lahap soto betawinya hingga habis tak bersisa.
"Aduh gue lupa beli minum." Saat Venus ingin beranjak Eros meletakan jus apel kotak didepannya.
"Buat gue kan?, makasih." Venus dengan senang hati meminum jus tersebut.
"Ohh iya Ven, lo bakal nyanyi lagu apa aja?" Tanya Ghea.
"Tidur mulu kerja lo, makanya ga tau kan." Phoebe menarik hidung Ghea.
"Kak Venus nyanyi lagi ya?, Freya mau sih nyanyi tapi di kelas Freya suaranya banyak yang bagus."
"Tuh sadar." Ucap Venus asal.
"Iya kan suara kak Venus bagus, jadi iri Freya."
"Hmmm." Venus sebenarnya tak terlalu mendengarkan ucapan Freya karena ia sibuk menghapalkan lagu yang akan ia nyanyikan nanti dalam hati.
"Udah deh jangan banyak omong, brisik." Phoebe menatap tajam Freya.
Eros sedari tadi menatap Venus tak henti, dibenaknya masih terganggu dengan fakta bahwa Venus alergi stroberi. Eros baru sadar kalau ia tak mengetahui apa-apa tentang Venus gadis ini seakan membentengi dirinya.
Eros menyenggol bahu Venus membuat Venus mengalihkan perhatiannya pada Eros. Eros menarik tangan gadis itu menjauh keluar dari kantin sementara yang lainnya hanya menatap punggung mereka bingung.
"Temen lo mau bawa temen gue kemana?" Tanya Phoebe.
"Mana gue tau tanya aja sana sama temen gue." Jawab Alex.
"Ihh dia kan temen lo, lo lah yang nanya kalau dia temen gue baru gue yang nanya."
"Ehhh, mau temen gue kek, temen lo kek, temen siapa kek, lo tanya aja sana sendiri."
Phoebe diam kesal tak melanjutkan perkataannya.
"Kayaknya gue deja vu deh." Gumam Theo.
Di tribun lapangan indoor yang tengah sepi, Eros dan Venus duduk berdiam diri. Tak ada satu pun dari mereka yang membuka suara sejak tadi. Venus terus saja memainkan jarinya tak nyaman karna Eros yang terus saja menatapnya dengan intens.
"Apalagi yang gue ga tau dari lo?" Tanya Eros memecah kesunyian.
"Hah?, maksudnya?"
"Gue ga tau lo sama sekali."
"Lo amnesia?, lupa sama gue?" Venus sengaja memutar jawaban karna ia juga bingung harus merespon apa.
"Gue baru tau lo punya alergi."
"Terus?"
"Kenapa ga bilang?"
"Ga perlu."
Hening melanda mereka beberapa saat sebelum Eros kembali bersuara.
"Kenapa lo berubah?"
"Mabuk lo?, siapa yang berubah sih."
"Sikap lo berubah, sikap lo labil, akhir-akhir ini lo aneh."
"Apasih ga jelas banget." Venus berdiri ingin beranjak meninggalkan Eros tapi lelaki itu menahannya.
"Kenapa lo ga suka sama Freya?, Freya punya salah apa sama lo?" Venus memutar bola matanya.
"Masalah internal, lo ga perlu tau."
"Tapi Freya juga ga tau kenapa lo ga suka sama dia. Lo benci dia tanpa alasan."
Venus menarik napasnya panjang.
"Masalah gue lo ga perlu tau."
"Tapi kasihan Freya, dia dibenci tanpa alasan. kalo emang misalnya dia punya salah lo bilang seengaknya dia bisa minta maaf dan ngoreksi diri. kalo emang ga, lo ga harus benci dia tanpa alasan. Gue ga suka lo kasar ke dia." Eros memang mengucapkan itu dengan nada yang sangat amat santai tapi ucapan itu membuat emosi Venus tak santai.
"Diotak lo cuman ada Freya ya?, diotak semua orang cuman ada Freya, semua. Lo, Vulcan, mama, papa diotak kalian cuman ada Freya. Lo cuman mikirin Freya dan selamanya akan kayak gitu."
"Ven ga git-"
"Udah lah, lo narik gue kesini cuman buat bilang lo ga suka gue kasarin Freya?, lo punya otak ga?. Lo buang-buang waktu gue."
"Gue bingung, gue sebel, gue kesel bisa ga sih sehari aja orang-orang disekitar gue ga bahas Freya. Sehari aja."
Venus menatap Eros dengan tatapan kecewa.
Venus meninggalkan Eros yang menyesal dengan perkataannya sendiri.
'Kenapa sih gue harus nanya itu sekarang?'