Beberapa bulan kemudian . . .
Istana Tessitura
Kepemimpin Raja Ke - 2, Morrigan Sie Amblaibh
*
Setelah Ezra meminta Galnariel beserta Atlas untuk mengirimkan Rodion beserta keluarganya menuju Hellion, Ezra pun menghapus dan membersihkan segala peninggalan tentang Rodion, Esme dan juga anaknya. Tak lupa, Ezra bahkan menutup kamar Rodion dan tak membiarkan semua orang masuk ke dalam kamar itu.
Kamar itu dibiarkan terbengkalai dan bahkan termasuk Morrigan tidak diperkenankan masuk ke dalam ruangan itu.
Sedangkan kamar Morrigan yang sempat berantakan akibat ulah Rodion, Ezra minta untuk dibersihkan seperti sedia kala seolah tak pernah terjadi apapun di sana.
"Permisi, Tuan. Saya sudah selesai membersihkan kamar Tuan Morrigan seperti sedia kala," ujar salah seorang pelayan yang secara khusus diminta oleh Ezra untuk membersihkan kamar Morrigan.
Ezra yang semula sedang menatap matahari yang baru saja terbit langsung menoleh kepada pelayan itu, "Baiklah. Bagaimana dengan kamar yang satunya?" tanya Ezra.
"Sudah saya kunci, Tuan," balasnya.
Sebenarnya pelayan itu sedikit penasaran mengapa Ezra meminta kamar itu ditutup. Bahkan pelayan itu tidak diperbolehkan untuk membukanya dan bahkan tak boleh mengintip walau hanya 0,1 cm saja.
"Bagus. Buang saja kuncinya. Biarkan kamar itu tertutup untuk selamanya," ujar Ezra kemudian pergi dari sana.
Ezra melangkahkan kakinya menuju aula. Duduk di atas kursi tahta yang kini sudah menjadi milik Morrigan seutuhnya.
Sembari duduk Ezra memejamkan matanya dan merasakan keberadaan Rodion. Tiba - tiba saja Ezra merasakan kehadiran Rodion di dekatnya padahal ia sudah yakin menyingkirkan segala hal tentang Rodion agar tak ada lagi yang tersisa.
Ezra kembali terfokus dan perasaanya tidak pernah salah. Rodion berusaha kembali, dan kini kekuatan sihir hitamnya semakin besar. Tanpa menunggu waktu lama, Ezra segera berlarian ke arah taman belakang yang menjadi pusat dari Istana Tessitura.
Dengan kekuatan sihirnya ia membuat selubung pelindung yang menutupi Pulau Amadea agar tak membiarkan bangsa dark elf datang.
Saat Ezra merasa sudah menutup selubungnya, ia pun kembali menutup selubung tambahan di bagian sekitar Istana Tessitura.
"Kau tidak boleh kembali. Aku menolak kehadiranmu," gumam Ezra sembari membuat selubung itu dengan mengerahkan seluruh kekuatan sihirnya.
Peluh keringat pun keluar dan di saat Ezra hampir selesai membuat selubung, tiba - tiba ia merasa tubuhnya melemas. Itu karena kekuatan sihirnya yang digunakan dalam jumlah cukup banyak dan terus menerus dalam beberapa waktu terakhir. Bahkan Ezra menggunakannya dengan sering dan dalam jumlah yang sangat besar.
"Uhuk!" Ezra terbatuk dan seketika mengeluarkan sebuah darah hitam yang mengartikan tubuhnya sudah tak sanggup lagi bertahan.
* * * * *
Dari arah lain, Morrigan yang sedang terlelap tiba - tiba tersadar saat merasakan sebuah hawa aneh yang hendak menyentuh Pulau Amadea namun terhalang oleh sesuatu. Dengan cepat Morrigan terbangun dan mencari Ayahnya.
Di saat ia sedang berlari di koridor, Morrigan berpapasan dengan Atlas yang rupanya hendak menyusul Morrigan.
"Tuan!" pekik Atlas saat berpapasan dengan Morrigan di lorong menuju kamarnya.
"Ada apa? Apa yang terjadi? Hawa aneh apa ini?" tanya Morrigan.
"Sepertinya Tuan Ezra merasakan ada kekuatan sihir bangsa dark elf di Pulau Amadea. Tuan Ezra membuat selubung pelindung sihir dengan kekuatannya beberapa waktu lalu. Setelah selesai Tuan Ezra tak sadarkan diri," jawab Atlas.
Morrigan langsung tahu dari mana asal kekuatan sihir hitam itu, itu pasti Rodion yang berusaha kembali ke Istana Tessitura dan hendak membalaskan dendamnya setelah dipaksa dibuang di Hellion beberapa waktu yang lalu.
"Kita ke kamar Ayahku sekarang. Tolong panggilkan anakku juga di kamarnya," titah Morrigan kemudian pergi lebih dulu menuju kamar Ezra berada sedangkan Atlas pergi ke arah lain, lebih tepatnya ke arah kamar Fin berada.
Setibanya di depan kamar Ezra, Morrigan bisa melihat beberapa pelayan yang berdiri di depan kamar Ezra, seolah mereka tahu jika Ezra dalam keadaan sekarat akibat kehabisan sihirnya.
Brak !
Morrigan masuk ke dalam kamar dan membuka pintu kayu yang besar itu dengan sekuat tenaga. Kemudian berlari kecil ke arah Ezra yang sudah terbaring tak beradaya di atas tempat tidurnya. Tepat di sampingnya, Marie tampak memegangi tangan Ezra.
"Jang- Uhuk! Jangan berikan kekuatan sihirmu kepadaku, itu sia - sia saja. Hanya akan membuatmu tersiksa, Marie," ujar Ezra yang menolak pemberian kekuatan sihir dari Marie yang berusaha memulihkan sihir suaminya.
"Ayah!" Morrigan duduk di samping Ezra dan melihat wajah Ezra yang memucat.
"Morrigan, akhirnya kau datang. Seperti yang kau rasakan barusan, dia kembali," ujar Ezra.
Morrigan mengangguk, "Kenapa Ayah melakukannya sendiri? Kenapa tidak membangunkanku saja? Aku bisa melakukannya." ujar Morrigan.
Ezra mengusap tangan anaknya dan tersenyum, "Ini adalah tugasku untuk melindungi Tessitura, Nak. Aku menjadikanmu Raja untuk sebagai penerus pemimpin bangsa elf, bukan untuk menjadi pengawas. Sekarang aku sudah memasangkan selubung, selubung ini akan bertahan untuk waktu yang lama dan mungkin tidak akan membiarkan bangsa dark elf menembus Pulau Amadea," ujar Ezra di tengah kondisinya yang semakin melemah.
Hanya ada 2 cara bangsa elf mati, yang pertama karena kekuatan sihirnya habis dan kedua dengan memutuskan tidur abadi.
"Ayo kita ke Hutan Avalon untuk memulihkan kekuatanmu, Ayah," ajak Morrigan.
Ezra menolak, "Tidak, Morrigan. Ini sudah waktuku. Aku hidup sudah terlalu cukup lama. Ini sudah waktunya aku pergi," ujar Ezra.
"Tapi-"
"Aku ikut," potong Marie.
Morrigan menatap Marie yang tiba - tiba saja mengatakan ingin ikut dalam tidur abadi Ezra yang sebentar lagi menjemputnya.
"Morriga," panggil Ezra.
Morrigan pun mendekatkan telinganya ke arah mulut Ezra dan mendengar pesan terakhir Ayahnya.
"Jangan biarkan anakmu terjebak dalam sihir hitam bagaimana caranya. Ketika kamu menemukan anakmu yang memegang buku itu, segera singkirkan. Kemudian jika aku hitung dan jika tidak salah, buku itu akan selalu datang kepada calon penerus Raja yang usianya menginjak 5000 tahun. Maka dari itu, sebelum menginjak waktu itu, sebaiknya turunkan tahtamu kepada anakmu," ujar Ezra.
Morrigan menganggukan kepalanya.
"Aku akan melatihnya dan memperhatikannya lagi. Buku itu benar - benar berbahaya," ujar Morrigan.
"Benar sekali, Nak. Meski buku itu terletak di Hutan Lawson jauh di dalam Hellion sana, entah mengapa buku itu bisa muncul di hadapan siapapun bangsa elf yang menginginkan kekuatan gelap yang besar," balas Ezra.
Morrigan menganggukan kepalanya, "Aku janji. Aku berjanji kejadian yang sama tidak akan terulang dan Fin tidak akan terjatuh ke lubang yang sama."
"Baguslah, kini aku bisa tidur dengan tenang," balas Ezra.
Melihat Ezra yang hendak tertidur, Marie pun beranjak dan memeluk Morrigan, memberikan salam terakhirnya kepada Morrigan.
Sampai akhirnya Morrigan melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana tubuh Ezra dan Marie yang perlahan dimakan oleh cahaya dan pergi dengan pilihan mereka untuk meninggalkan dunia ini selamanya.
Morrigan menitikan air matanya tak kuasa menahan tangis. Hari yang tak pernah ia bayangkan kini datang ke hadapannya. Kini ia tinggal sendiri, bersama anaknya.
Memimpin bangsa elf dengan kekuatannya sendiri tanpa seorang panutan dan seorang Ayah yang akan menuntunnya.
"Aku berjanji. Aku berjanji akan menjadi Raja yang baik, persis seperti yang Ayah harapkan kepada Kak Rodion dahulu," ujar Morrigan saat teringat bagaimana Ezra yang mendambakan Rodion agar bisa menjadi Raja yang bijak.
Galnariel sang ajudan Raja pertama pun pergi, ia tinggal menunggu waktu untuk selanjutnya ikut pergi menyusul Ezra. Tugasnya sebagai ajudan kerajaan selesai, karena generasi selanjutnya akan dimulai dengan Morrigan yang kini menjadi pemimpinnya.