bc

Light Up The Darkness: Curse Of The Aerosworn

book_age12+
155
FOLLOW
1K
READ
curse
powerful
brave
tragedy
no-couple
serious
mage
male lead
another world
wild
like
intro-logo
Blurb

[ Lacoste Universe Series #2 ]

Di tengah kedamaian hidup bangsa elf, tiba-tiba saja muncul sebuah monster besar dan mengerikan yang menyerap seluruh energi sihir bangsa elf hingga kering sampai ke tulang. Tentu saja hal itu membuat Fin sebagai raja dari bangsa elf tidak bisa hanya berdiam diri menyaksikan kematian rakyatnya. Maverick yang menjabat sebagai pemimpin dari pasukan pemburu Vadazs akhirnya menawarkan diri untuk membasmi monster mengerikan itu.

Satu persatu monster yang dijuluki sebagai Netvor itu akhirnya berhasil ditaklukan. Namun nyatanya Netvor berkembang dengan cepat dan justru menyebar hingga ke beberapa kota. Demi mengisi kekosongan posisi Maverick yang juga sebagai penasihat pribadi raja, akhirnya Fin memutuskan untuk mengangkat Jerome sebagai penasihat pribadinya. Usai membantai Netvor, Maverick kembali dan merasakan sihir hitam menyelimuti istana Tessitura. Ia juga menyadari jika Fin berubah menjadi sosok raja yang bengis. Apa yang telah Jerome lakukan pada Fin? Siapakah sosok Jerome dan apa hubungan Jerome dengan para Netvor yang bermunculan secara misterius?

© 2021 by BIANINDY.

・cover source・

❥ Firda Graphic

☘ Lacoste Universe Trilogy ☘

#1 Unveil

#2 Light Up The Darkness

#3 The One's Halfpace

chap-preview
Free preview
[1] ELF Training Academy
Matthew Evan Frederick atau yang kerap disapa dengan nama Maverick, adalah seorang elf laki-laki yang ahli dalam menggunakan persenjataan. Meski pada umumnya elf dikenal memiliki kemampuan sihir yang cukup baik, namun sepertinya kemampuan itu tidak berkembang pada diri Maverick hingga ia menyandang status sebagai seorang pemburu dari bangsa elf. Maverick kini sibuk melatih dirinya di akademi pelatihan remaja elf bersama dengan temannya yang bernanma Fingolfin. Fin sendiri adalah keturunan dari raja elf, jadi sudah sangat jelas bahwa Fin akan menjadi raja selanjutnya bagi bangsa elf. Tring! Tring! Suara pedang terdengar saling beradu. Bulir keringat mengalir di pelipis Maverick dan Fin. Mereka sibuk untuk saling unjuk kemampuan walau sebenarnya Fin hanya berniat menggoda Maverick yang notabene adalah teman dekatnya sendiri. “Apa hanya segitu saja kemampuan pedangmu?” tanya Fin di sela-sela pertandingan pedang mereka atau lebih tepatnya latihan bertanding dengan menggunakan pedang asli. Maverick menyeringai, dalam sekali hentakan ia sukses meletakkan ujung mata pedangnya ke sudut leher Fin hingga akhirnya calon raja elf itu kalah telak dan memilih menjatuhkan pedangnya. “Aku tak terkalahkan, Fin,” jawab Maverick membanggakan dirinya. “Hahaha, kau memang yang terbaik Maverick,” sahut Fin. Maverick ikut menjatuhkan pedangnya ke tanah dan bersalaman dengan Fin. “Terima kasih sudah menemaniku latihan hari ini,” ujar Maverick. Fin mengeluarkan sihirnya dan membuat angin berhembus cukup kencang di sekitar mereka hingga anak rambut Maverick berantakana. “Jangan bilang kau sengaja melakukan itu?” tanya Maverick. Fin menyeringai dan menertawakan rambut Maverick yang berantakan. “Aku tidak menemanimu latihan, tetapi aku yang memintamu untuk menemaniku bermain hari ini, Maverick,” ujar Fin. Maverick terkekeh mendengar ucapan Fin lalu ia menganggukan kepalanya sebagai tanda persetujuan. Ia sangat tahu jika temannya itu cukup keras kepala dalam hal berargumen. Seorang elf laki-laki lain tampak berjalan perlahan mendekati Maverick dan juga Fin. Ia berusaha sebisa mungkin untuk menghampiri kedua elf yang baru saja selesai berlatih ilmu pedang, namun sepertinya langkahan kakinya diketahui oleh Maverick. Maverick memiliki pendengaran dan pengelihatan yang cukup tajam. Sekuat apapun elf lain berusaha menyembunyikan keberadaanya, tetap saja akan diketahui oleh Maverick. Syut! Sebuah bilah pisau kecil melayang ke hadapan laki-laki yang diam-diam mendekati Maverick dan Fin. Pisau kecil itu menancap tepat di sebuah pohon yang berada di hadapan laki-laki itu. Maverick menolehkan pandangannya dan menatap tajam ke arah dimana pisaunya menancap. “Ada apa?” tanya Fin pada Maverick setelah menyadari gerakan tiba-tiba Maverick yang cukup cepat untuk mengeluarkan dan bahkan melayangkan sebilah pisau kecil ke batang pohon hingga menancap dengan cukup keras. Maverick tak menghiraukan pertanyaan Fin. Sebaliknya, ia justru berjalan perlahan mendekati sumber suara yang ia dengar. Maverick menyingkirkan pepohonan yang menghalangi seorang elf yang sibuk bersembunyi di balik semak-semak. “Ayah?” ujar Maverick ketika menyadari sosok yang diam-diam berusaha mendekati dirinya dan juga Fin. “Instingmu itu benar-benar luar biasa sangat sensitif, Maverick,” ujar pria yang dipanggila sebagai Ayah oleh Maverick tadi. Fin menolehkan pandangannya pada Maverick dan memutuskan untuk berjalan menghampiri Maverick untuk melihat apa yang terjadi. “Oh, Tuan Atlas Frederick? Ada urusan apa kemari?” tanya Fin setelah melihat Atlas yang masih meringkuk di balik semak-semak yang disingkap oleh Maverick. “Bagaimana bisa kau melakukan hal itu pada Ayahmu, Maverick?” tanya Fin kepada Maverick. Maverick melepas singkapan tangannya pada semak-semak dan membuat Atlas harus berdiri. “Hanya sebuah kebetulan jika orang yang diam-diam mendekati kita adalah Ayahku. Bisa saja orang lain yang berusaha menyakiti kita,” jawab Maverick. “Tapi kan tidak perlu dengan melayangkan sebuah pisau?” ujar Fin berusaha menginterupsi Maverick. “Jika tidak ingin dilayangkan dengan pisau, tunjukkan dirimu dengan benar, Ayah. Kau sendiri bukan yang mengajariku untuk selalu waspada dalam kondisi apapun dan dimana pun aku berada,” ujar Maverick lalu melihat ke arah Atlas menunggu Ayahnya menyetujui ucapan yang baru saja dituturkan oleh Maverick. “Ya, kau benar, Nak. Kau memang sangat cerdas. Anggap saja beberapa saat yang lalu aku hanya mencoba melatih kepekaanmu terhadap sekitar. Padahal tadi aku sudah yakin kau sedang asik berbincang dengan Fin,” ujar Atlas lalu menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal. Atlas menggeser tubuhnya mendekati Maverick dan Fin. Lalu ia menundukan sedikit tubuhnya untuk memberi hormat pada Fin yang berdiri di hadapannya. “Maaf saya telah mengganggu waktu anda yang sedang berlatih dengan anak saya. Namun, saya menerima perintah mendesak dari Tuan Raja,” ujar Atlas. “Ayahku? Ada apa?” tanya Fin. “Beliau meminta anda untuk menyudahi pelatihan disini dan melanjutkan latihan di istana Tessitura.” “Tapi kan, masa pelatihanku masih ada 150 tahun lagi?” Atlas menghembuskan napasnya. “Benar, Tuan Fin. Tetapi, Ayah anda ingin anda menyelesaikan sisa waktu pelatihan anda di Tessitura,” ujar Atlas berusaha menjelaskan. “Baik, aku akan mengikuti apa perkataannya. Tetapi aku ingin Maverick selalu ada di sisiku,” ujar Fin memberi tawaran. “Tuan Morrigan sudah memberi perintah jika Maverick akan menjadi penasihat pribadi anda. Jadi baik Maverick maupun anda, akan diminta kembali ke Tessitura sekarang dan berlatih menjadi penerus raja selanjutnya,” ujar Atlas. Baik Maverick maupun Fin, mereka berdua sama-sama membelalakan matanya seakan tidak percaya denga napa yang mereka dengar. “Apa maksudmu, Ayah?” tanya Maverick berusaha memastikan jika apa yang ia dengar barusan bukan sebuah kesalahan yang diucapkan oleh Atlas. Atlas menjentikkan jarinya dan mengeluarkan dua gulungan surat dan diberikan kepada Fin dan juga Maverick yang langsung diambil oleh kedua elf berusia 3350 tahun itu. * * * * * Kepada dua anak tersayangku Fin dan Maverick, Dengan surat ini kuberikan pada kalian sebuah perintah untuk segera kembali ke Tessitura. Aku tahu jika masa pelatihan kalian masih tersisa 150 tahun lagi. Tapi, beberapa saat yang lalu aku baru saja menerima kabar jika seseorang yang memiliki hubungan darah denganku menghembuskan napas terakhirnya. Seperti yang kita ketahui, dalam garis keturunan seorang elf, jika satu ikatan darahnya mati, maka usia dari darahnya yang lain hanya tersisa paling lama 100 tahun lagi. Oleh karena itu, aku meminta kalian untuk kembali ke Tessitura dan melanjutkan pelatihan kalian di sini. Aku juga akan mengajarkan pada Fin untuk menjadi raja yang bijak bagi bangs akita. Semoga dengan adanya surat ini, kalian bisa memaklumi apa permintaan terakhirku. Dan sebagai penutup, kuberikan sebuah surat perintah agar Maverick bisa selalu berada di sisi Fin hingga akhir hidupnya. Aku sangat tahu, kalian berdua tumbuh bersama karena Atlas yang menjabat sebagai penasihatku selalu membawa Maverick ke Tessitura hingga pada akhirnya aku bisa merasakan kedekatan yang terjalin di antara kalian. Selamat pelatihan kalian di akademi 850 tahun terakhir, aku sudah memeriksa perkembangan kalian. Dan sepertinya aku bisa menerima keputusan akhirku dengan baik. Salamku, Morrigan Sie Amhlaibh. ***** Gulungan kertas yang telah dibaca oleh Fin dan Maverick langsung terbakar di udara begitu saja untuk menghilangkan jejak dan penyalahgunaan. Sorot mata Fin berubah, seolah hanya kekosongan dan kehampaan yang ada pada dirinya. Terlebih saat ia membaca kalimat jika hidup Morrigan hanya tersisa 100 tahun lagi. Mungkin 50 tahun terakhirnya akan dituntaskan tanpa Ayahnya. Hukum alam bagi bangsa elf memang kejam. Jika seseorang terlahir memiliki saudara kandung yang sedarah, maka seumur hidupnya akan selalu terikat dalam sebuah ikatan saudara, mungkin karena peraturan itu juga terkadang ada keluarga elf yang memutuskan hanya untuk memiliki satu anak saja, karena ketika satu saudaranya mati, maka saudaranya yang lain pun akan menyusul kematian hanya dalam jangka waktu 100 tahun. Ada pula yang menyebutkan jika sepasang elf hanya bisa melahirkan satu lingkar kehidupan yang besar, dan ketika pasangan itu melahirkan anak yang lain, maka lingkaran sebelumnya akan terbagi menjadi dua bagian atau dua kehidupan. Lingkaran kehidupan akan terus terbagi dan menjadi lebih kecil jika semakin banyak anak yang dilahirkan oleh pasangan elf, dan pada akhirnya lingkaran kehidupan itu disebut sebagai ELF Red Circle. Mungkin kehidupan Morrigan dan saudaranya pun terbagi dua. Dan batas dari usia Morrigan pun telah berakhir saat ia menerima kabar jika saudaranya telah mati. Fin pun tahu jika Ayahnya memiliki saudara lain di luar sana yang hidup di luar jangkauan Tessitura. Dan pad akhirnya Fin menerima berita kenyataan pahit itu. Kenyataan dimata kematian akan segera datang kepada Ayahnya. “Aku akan selalu berada di sisimu,” ujar Maverick lalu menepuk bahu Fin. Sudah sewajarnya bagi seorang elf bisa merasakan perasaan satu sama lain, terlebih Maverick yang sudah bersama dengan Fin selama hampir 2000 tahun. “Sebaiknya kita kembali ke Tessitura sekarang. Aku sudah mengirimkan surat untuk izin keluarnya kalian dari akademi ini,” ajak Atlas. Atlas menepuk bahu Maverick dan juga Fin. Mereka pun pergi menuju Tessitura dengan menggunakan bantuan sihir dari Atlas. * * * * * Istana Tessitura Atlas, Maverick dan juga Fin tiba di depan Istana Tessitura. Dua penjaga gerbang langsung membukakan gerbang besar istana untuk ketiga pria itu. Fin tak menghiraukan para pelayan istana yang menyapanya. Ia berjalan mendahului Maverick dan Atlas dan segera berlari menuju ruang istirahat Morrigan. Brak! Pintu kamar terbuka dengan cukup keras dan memperlihatkan sosok Fin di ambang pintu. “Ayah!” pekik Fin ketika melihat Morrigan yang sudah terbaring di atas ranjang. Morrigan menolehkan pandangannya ke ambang pintu. Sorot matanya tertuju pada Fin yang sedang berlari ke arahnya. “Usiaku bahkan belum menginjak 4000 tahun, Ayah. Aku belum pantas dan belum siap untuk menggantikanmu,” ujar Fin merengek pada Ayahnya. Jika di hadapan Ayahnya, mungkin Fin bisa dianggap sebagai anak laki-laki pada umumnya. Ia bisa merengek dan menunjulkan sifat kekanakan pada Ayahnya. Terlebih Ibunya sudah tiada sejak melahirkan Fin sekitar 3000 tahun yang lalu dan hanya pada Morrigan lah Fin bisa mencurahkan seluruh perasaanya. Maverick dan Atlas masuk ke dalam kamar Morrigan dan disambut dengan senyuman dari Morrigan yang masih terbaring di atas kasur serta Fin yang sudah menyembunyikan wajahnya di antara selimut. “Terima kasih sudah menjemput Fin untukku, Atlas,” ujar Morrigan. “Sudah menjadi tugasku, Tuan,” jawab Atlas. Maverick berjalan mendekati Fin dan mengusap bahu Fin yang masih terisak di atas selimut Morrigan. “Hei, cengeng! Mana ada calon raja yang terisak menangis sepertimu? Jika kau masih menangis, aku akan mengambil tahta milik Ayahmu darimu,” ujar Maverick berusaha menggoda Fin. Plak! Fin memukul paha Maverick dengan cukup keras, tapi sepertinya pukulan itu sama sekali tak membuat Maverick bergeming dari sisi Fin. “Maverick, tolong ajak Fin keluar lebih dulu. Ada hal penting yang akan kubicarakan dengan Atlas,” titah Morrigan. Maverick menganggukan kepalanya dan meraih lengan Fin. Awalnya Fin menolak ajakan Maverick namun setelah dibujuk oleh Morrigan, akhirnya Fin mau menuruti perkataan Ayahnya. “Aku tidak akan kemana-mana,” ujar Morrigan. Fin pun meninggalkan kamar Morrigan bersamaan dengan Maverick yang masih mengusap bahu Fin. Maverick berusaha menenangkan Fin meski ia tahu bahwa usahanya sia-sia. Setelah memastikan Maverick dan Fin keluar dari ruang kamar Morrigan. Morrigan menutup pintu kamar dan mengunci kamarnya dengan ilmu sihirnya. “Sudah cukup untuk menggunakan sihirmu, Morrigan. Semakin banyak kau gunakan sihirmu, maka akan semakin lemah dirimu,” ujar Atlas. Atlas berjalan mendekati sisi ranjang Morrigan dan duduk di tepi nya. “Apa Fin menanyakan dimana keberadaan saudaraku?” tanya Morrigan memulai pembicaraannya. “Tidak. Dia tidak menanyakan hal itu padaku,” jawab Atlas. “Mungkin sebaiknya dia tidak perlu mengetahui keberadaan Rodion beserta keluarganya. Kau tahu itu bukan?” “Aku sangat mengetahuinya.” Morrigan mengeluarkan sebuah kotak berwarna hitam dengan ukiran unik yang berada di balik bantalnya dan memberikannya pada Atlas. “Berikan ini pada Fin jika aku sudah tiada. Setidaknya ia akan terhibur dengan surat dariku saat ia naik ke tahtanya nanti. Dan aku ingin meminta padamu dan Maverick untuk selalu berada di sisi Fin apapun yang terjadi. Dia sebatang kara. Dia sudah kehilangan Ibunya dan pasti akan menjadi pukulan yang berat baginya saat aku telah tiada nanti,” ujar Morrigan. “Jangan khawatirkan itu, Morrigan. Khawatirkan saja dirimu terlebih dahulu. Aku dan Maverick pasti akan menjaga anakmu dengan baik.” Morrigan terkekeh mendengar ucapan Atlas, “Setidaknya aku bisa dengan tenang meninggalkan kehidupanku disini.” Atlas mengambil kotak yang diberikan oleh Morrigan dan menyimpan dalam sakunya. “Pastikan Maverick selalu berada di sisinya. Ajarkan Fin agar menjadi raja yang bijak dan menyayangi bangsa elf. Jangan seperti keluargaku yang hancur karena dark elf. Aku tidak ingin anakku mengetahui hal itu. Dan semoga, dengan adanya Maverick di sisi Fin, bisa membuat hari Fin selalu terisi dengan hal-hal baik.” “Tenang saja, Morrigan.” “Terima kasih banyak, Atlas. Kebaikanmu akan selalu kuhargai dan kukenang dengan baik.” Sejujurnya, Atlas pun merasakan kesedihan apa yang dirasakan oleh Fin. Namun dirinya tetap tegar di hadapan semua orang, walau sebenarnya ia pun merasakan sesak pada d**a nya. Bagaimana tidak, ia dan Morrigan sudah saling mengenal satu sampai lain hingga 9000 tahun lamanya. Dan kini, Atlas harus mengikhlaskan diri, untuk melepas kematian Morrigan.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Rebirth of The Queen

read
3.7K
bc

Rise from the Darkness

read
8.7K
bc

FATE ; Rebirth of the princess

read
36.0K
bc

Pulau Bertatahkan Hasrat

read
640.1K
bc

Marriage Aggreement

read
87.0K
bc

Life of An (Completed)

read
1.1M
bc

Scandal Para Ipar

read
708.0K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook