[2] The Fallen King

1363 Words
Suasana sedih menyelimuti seluruh istana Tessitura. Para bangsa elf yang berasal dari berbagai daerah dan kalangan pun berdatangan untuk menyampaikan duka terakhir sekaligus mengantarkan Morrigan ke tempat istirahatnya yang terakhir. Seluruh penjuru negeri diselimuti kabut dan juga hujan rintik. Sepertinya kesedihan tak hanya mendera bangsa elf, tetapi juga alam yang turut merasakan kesedihan mendalam atas kepergian Morrigan. Satu persatu elf yang hadir melemparkan bunga anyelir ke atas kolam yang berada di depan istana Tessitura. Sedangkan Fin dan Maverick hanya berdiri di balik jendela kaca istana dan melihat tumpukan bunga anyelir yang sudah memenuhi kolam itu. Atlas datang dari balik pintu dan berjalan menghampiri Maverick dan Fin yang masih termenung di depan jendela istana. “Sudahi kesedihanmu, Tuan. Sebaiknya anda kembali berlatih bersama dengan Maverick. 50 tahun lagi anda akan naik ke tahta anda dan mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh Ayah anda, Tuan,” ujar Atlas. Fin membalikkan badannya diikutin dengan Maverick. Dengan tatapan mata yang kosong, Fin berjalan melewati Atlas. “Serahkan saja padaku,” ujar Maverick seolah mengetahui apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Waktu 100 bahkan 200 tahun sepertinya hanya terasa sesaat saja bagi bangsa elf. Bahkan bagi Fin, rasanya seperti baru kemarin ia pulang ke Tessitura dan mulai berlatih di bawah pengawasan Morrigan. Kini, ia harus berdiri seorang diri dan harus melanjutkan perjalanannya sebagai seorang raja dari bangsa elf. Fin dan Maverick berjalan menuju sebuah ruangan gelap yang digunakan untuk kedua orang itu berlatih. Biasanya di lantai dua ruangan tersebut akan ada sosok Morrigan yang melihat keduanya berlatih. Entah itu berlatih dengan menggunakan sihir ataupun dengan persenjataan fisik. “Mungkin ucapanku tidak cukup menghiburmu, tapi ketahuilah jika kau akan menjadi satu-satunya orang yang pantas untuk memimpin para bangsa elf. Anggap saja kau dilahirkan untuk menjadi seorang raja,” ujar Maverick. Maverick bisa melihat Fin yang masih enggan bersuara. “Aku akan selalu percaya padamu, jika kau akan menjadi raja yang baik. Dan jadikan kepergian Ayahmu sebagai tolak ukur dirimu untuk menjadi lebih baik lagi,” sambung Maverick. Mata Fin menangkap sesuatu yang baru di ruangan itu, ia melihat sebuah bola yang terbuat dari kaca berwarna keunguan yang memancarkan sinar berwaran keemasan dengan cukup terang. “Apa itu?” tanya Fin membuka suaranya. Maverick bisa mendengar suara Fin yang terdengar sedikit serak dan kering. “Sebentar,” ujar Maverick lalu berjalan mendahului Fin dan menghampiri bola tersebut. Maverick tidak berani menyentuhnya, ia melihat sekeliling bola yang secara tiba-tiba saja berada di atas meja di tengah ruang latihan mereka. Maverick sedikit menyipitkan matanya dan akhirnya berhasil menemukan sebuah ukiran di atas permukaan bola itu. “Ini untukmu,” ujar Maverick setelah memastikan untuk siapa bola aneh itu ditujukan. “Dari?” tanya Fin. “Ayahmu,” jawab Maverick singkat. Fin bersemangat menghampiri bola ungu itu dan menyentuhnya. Tiba-tiba saja angin kencang menyapu dengan cukup kencang, dan anehnya hanya Fin yang bisa merasakan angin itu. Anak rambut Fin bahkan bergerak dan cukup membuat anak rambut Fin berantakan. Flush! Sinar cahaya berwarna keemasan itu menyerap masuk ke dalam tubuh Fin hingga rambutnya serentak berterbangan ke belakang. Tubuh Fin segera bereaksi, sedangkan Maverick bisa melihat cahaya keemasan itu seperti mengalir ke seluruh tubuh Fin dan berakhir di bola mata Fin hingga matanya Fin terlihat sedikit menyala. “Fin!” panggil Maverick berusaha menyadarkan Fin karena ia tak tahu apa yang terjadi pada temannya. Tatapan mata Fin berubah, aura nya terasa menjadi lebih kuat dari biasanya. Fin lantas meletakkan bola berwarna ungu yang cahayanya tampak sudah diserap oleh Fin. Fin menatap Maverick dan tersenyum, “Ayahku memberikan sisa kemampuan sihirnya padaku,” ujar Fin pada Maverick. Fin meringis, “Pria itu tahu jika aku pasti akan menolaknya jika ia memberikan sihirnya secara langsung padaku. Jadi ia memberikannya melalui bola bodoh ini,” sambung Fin sembari mengetuk-ngetuk permukaan bola itu. “Lalu? Kau sudah menerimanya?” tanya Maverick memastikan. “Tentu saja akan secara langsung diserap oleh tubuhku. Ya, mungkin sekarang aku akan bertambah kuat dan bisa mengalahkanmu,” cibir Fin. Maverick berdecak, “Cih! Kalau begitu kita coba saja.” Maverick meraih dua buah samurai dengan lapisan perak di atasnya menggunakan sihirnya. Ia lantas melemparkan satu samurai nya ke arah Fin dan segera ditangkap oleh Fin. Kedua pria itu meraih posisi mereka dan memulai latihan mereka dengan baik. Suasana yang semula terasa ramah, lama kelamaan berubah menjadi atmosfir yang menyeramkan. Benar apa yang baru saja diucapkan oleh Fin, kekuatan Fin seolah bertambah hingga 100 kali lipat. “Apa ini kekuatan dari seorang raja bangsa elf yang sebenarnya?” gumam Maverick di sela-sela latihan mereka. “Bagaimana rasanya? Aku sudah cukup kuat untuk mengalahkanmu bukan?” tanya Fin sembari tersenyum dan sibuk menangkis lalu menyerang Maverick dengan menggunakan samurai nya. “Sangat menantang,” jawab Maverick sembari menyeringai. Tring! Tring! Suara samurai terdengar beradu dengan cukup keras. Dan sudah hampir enam jam mereka beradu samurai. Sesekali Maverick berhasil menahan serangan dari Fin, dan begitu pula dengan Fin yang terkadang menahan dan menyerang Maverick secara bergantian.Hinga akhirnya… Sreeek! Sebuah senyuman kemenangan terukir jelas di wajah Fin. Ia baru saja berhasil merobek pakaian yang dikenakan oleh Maverick. Maverick membelalakan matanya dan menatap pakaiannya yang sudah robek cukup besar. Tubuhnya langsung jatuh ke lantai dan memberikan kesan terkejut dengan apa yang ia dapatkan barusan. Fin yang melihat Maverick sedikit terkejut lantas berhenti menyerang Maverick dan menatap temannya yang paling tak terkalahkan dalam hal bela diri, namun pada akhirnya bisa dikalahkan oleh Fin berkat bantuan kekuatan dari Morrigan. “Jika aku menusuknya terlalu jauh, mungkin kulitmu juga akan ikut robek,” ujar Fin. Fin mengembalikan samurai yang ia gunakan ke tempatnya semula dengan sihirnya. Lalu berjalan menghampiri Maverick yang masih terduduk di lantai. Fin menjulurkan tangannya dan disambut dengan senyuman Maverick. “Ku akui, kau mengalahkanku. Tapi lain kali, aku akan lebih berkonsentrasi lagi untuk mengalahkanmu, Fin,” ujar Maverick dan diiringi dengan tawaan antara keduanya. “Teruslah menjadi angkuh, Maverick. Dengan begitu aku bisa memberikan kepercayaan bahwa kau bisa melindungi dan menuntunku dengan baik.” Maverick tertawa mendengar penuturan Fin. Ia pun turut meletakkan kembali samurai miliknya dengan sihirnya. Peluh keringat terlihat dengan jelas mengalir di pelipis Maverick. Maverick melepas pakaian atasnya dan menampilkan otot tubuh yang tercetak dengan jelas. “Aku tidak bisa menggunakan pakaian itu lagi. Lagi pula itu sudah lusuh,” ujar Maverick sembari merobek habis pakaian berwarna cokelat yang kian menipis karena terlalu sering dipakai dan dicuci oleh Maverick. Tok! Tok! Suara ketukan pintu terdengar sampai menggema ke seluruh ruang latihan mereka. Dengan sihirnya, Fin membukakan pintu dan memperlihatkan sosok Atlas yang posisinya baru ingin mengetuk pintu lagi namun sudah dibuka dengan kekuatan sihir Fin. “Ah,” ujar Atlas yang sedikit terkejut. Atlas menarik lengannya yang masih dalam posisi ingin mengetuk pintu lalu berdehem dan menghampiri Fin. “Maaf saya mengintrupsi latihanmu sebentar, Tuan. Saya kemari ingin memberitahukan terkait kenaikan tahta anda,” ujar Atlas. “Silakan,” titah Fin mempersilakan Atlas untuk memberitahukan informasi yang ia bawa lebih lanjut. “Sepertinya anda akan naik tahta dalam waktu dekat. Para elf bangsawan tidak setuju jika anda naik tahta dalam waktu 50 tahun. Mereka ingin secepatnya, dan mungkin dalam waktu beberapa hari. Terlebih Ayah anda sudah meninggalkan pesan bahwa anda sudah menerima sihir dari Morrigan sesaat setelah Ayah anda mati,” sambung Atlas. Fin membuang napasnya kasar, “Hah, sangat menyulitkan,” gumam Fin. “Baiklah jika memang begitu perintahnya. Lagipula aku sudah cukup dewasa di mata bangsa elf, bukan?” tanya Fin. Maverick mendekatkan tubuhnya pada Fin dan menepuk bahu Fin. “Kau keren,” puji Maverick. Maverick bisa merasakan semangat yang membara pada diri Fin. Mungkin karena menerima kekuatan sihir yang diturunkan oleh Ayahnya tadi, atau berhasil karena mengalahkan Maverick. Meski hanya latihan, bagi Fin, mengalahkan Maverick adalah sesuatu yang luar biasa. Karena, Maverick sendiri memang sudah terkenal sebagai seorang elf yang tak terkalahkan dalam hal adu fisik. Kabar burung pun sering terdengar hingga ke telinga Fin, yang mengatakan bahwa Fin dan Maverick adalah partner elf terbaik sepanjang sejarah. Bagaimana tidak, Fin adalah calon raja bangsa elf yang memiliki kekuatan sihir dan pengguna sihir paling baik di antara bangsa elf yang lain, sedangkan Maverick sangat ahli dalam bela diri dan berburu binatang liar hingga akhirnya mereka berdua seringkali disebut sebagai Two Deadly Power. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD