BAB 3

1347 Words
Suasana duka masih menyelimuti Istana Tessitura. Bagaimana tidak, tidur abadi yang dipilih oleh Morrigan Sie Amhlaibh menyisakan misteri bagi Fin selaku anaknya. Ia tak mengerti dengan keputusan Ayah kandungnya sendiri selain hanya bisa duduk termenung di atas tempat tidur di tengah - tengah ruangan yang kosong. Ya, ruangan itu adalah ruangan bekas tempat tidur Morrigan yang telah menjadi miliknya karena dirinya adalah seorang Raja sekarang. "Aku bahkan belum mengatakan jika aku siap menjadi Raja, Ayah. Apa aku bisa menjadi Raja yang bijak sepertimu?" gumam Fin sembari menatap foto Morrigan yang terletak di dinding kamar itu. Tok! Tok! Tok! Suara ketukan pintu yang nyaring dan berasal dari arah pintu kayu kamar itu membuyarkan Fin dari pandangannya. Tanpa menunggu jawaban dari Fin, rupanya pintu pun terbuka dan memunculkan sosok Maverick. Maverick tampak berjalan ke arahnya dan ikut duduk di samping Fin yang masih memandang ke arah foto besar Morrigan di dinding. "Ada apa?" tanya Fin tanpa menoleh. Maverick menoleh ke arah Fin kemudian meletakkan tangannya di atas bahu Fin. Namun sedetik kemudian Maverick kembali menarik tangannya, membuat Fin menoleh ke arahnya dengan wajah heran. "Maaf," ujar Maverick. "Maaf untuk apa?" tanya Fin. "Aku meletakkan tanganku di bahumu. Padahal kau seorang Raja sekarang." "Raja? Cih. Aku belum mengatakan kalau aku siap." "Tapi kau sudah menjadi seorang Raja setelah Ayahmu-" "Aku menolaknya," potong Fin. "Kenapa?" tanya Maverick. Fin beranjak dari duduknya dan menatap Maverick, "Aku sudah mengatakannya jika aku belum siap. Lagi pula, kenapa dia membuat keputusan seorang diri tanpa meminta persetujuan anaknya? Dia selalu melakukan itu. Persis juga seperti yang Ibuku lakukan, dia memilih meninggalkanku." Maverick menghela napasnya. "Mungkin kau berpikir demikian tapi jika ini keputusan Tuan Morrigan, bukankah dia berarti sudah memberikan kepercayaannya sepenuhnya kepadamu?" tanya Maverick. Fin menatap Maverick lekat namun tak memberikan tanggapan apapun. "Aku tidak peduli." Fin hendak meninggalkan Maverick namun dengan cepat Maverick tahan. "Tunggu," panggil Maverick hingga Fin kembali menoleh ke arahnya dengan wajah yang malas. "Kenapa? Aku sedang malas berdebat denganmu. Pergilah sebelum aku menyakitimu," ujar Fin. "Kau tidak akan bisa menyakitiku. Kau tahu kan kita ini imbang?" Fin menyunggingkan senyumannya, "Kau benar. Bahkan kau sering kali menang. Bagaimana jika kau yang menjadi Raja saja." Plak! Sebuah pukulan tangan Maverick mendarat persis di atas kepala Fin. "Apa yang kau lakukan kepada Rajamu?!" pekik Fin. Maverick tertawa keras mendengarnya, "Katanya kau menolak menjadi Raja?" "E - eh. I - itu. Pokoknya apa - apaan kau memukul kepalaku? Kau pikir sopan seperti itu?!" Maverick berdiri dan mendekati Fin. "Fin. Aku tahu kau sedih setengah mati atas kepergian Tuan Morrigan yang terlalu mendadak. Tetapi coba lihatlah sisi lainnya. Selama ribuan tahun kau berlatih di akademi elf, ia selalu memperhatikanmu. Setiap perkembanganmu dilaporkan langsung oleh Ayahku. Bahkan tak hanya itu saja, ketika ia memutuskan pergi, Tuan Morrigan sudah memikirkannya dengan matang," ujar Maverick. "Ya, kau benar. Tapi tetap saja dia tidak memikirkan perasaanku sama sekali," balas Fin. Maverick merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kalung yang merupakan potongan sebagian dari kristal berwarna biru. Tak lama kemudian, Fin juga merogoh sakunya dan mengeluarkan sebagian lain kristal itu. "Kau ingat batu ini?" tanya Maverick. "Ya, ini batu yang Ayahku berikan saat aku masuk ke akademi bersamamu. Aku selalu bertanya kemana sisi lainnya, tapi justru aku baru tahu sekarang jika sisi lainnya ada padamu," jawab Fin. Maverick mengulurkan tangannya dan memberikan kristal itu kepada Fin. "Kenapa kau berikan padaku?" tanya Fin. "Karena sudah waktunya." "Waktunya?" "Saat kita sama - sama masuk ke akademi, Tuan Morrigan memanggilku dan memberikan ini. Dia memintaku untuk memberikan ini ketika kau menjadi Raja nantinya." Tangan Fin mengambil potongan batu itu dari tangan Maverick dan menyatukannya. Tiba - tiba saja ruangan menjadi gelap dan sebuah cahaya muncul dari dalam kristal itu. Halo anakku, Fin. Morrigan secara tiba - tiba muncul dari dalam kristal itu dan membuat Fin serta Maverick menatap ke arah Morrigan. Anakku, Fin. Aku tahu kepergianku ini akan terasa mendadak dan terkesan tidak menghargai keputusanmu sebagai calon penerusku. Benar begitu bukan? Tetapi maksudku bukan itu. Aku mengatakan ini karena memang sudah waktunya. 5000 tahun yang lalu, Kakekmu alias Raja pertama dari bangsa High Elf dilanda dalam sebuah pilihan yang berat dan memutuskan untuk tidur abadi. Kemudian selama menjabat sebagai Raja dalam 5000 tahun terakhir, aku juga merenungkan perbuatanku. Akhirnya keputusanku berpuncak untuk ikut tidur abadi dan membersihkan urusanku sendiri. Aku harap keputusanku adalah keputusan yang tepat dan tidak akan aku sesali. Dan untuk Maverick, aku sudah meminta Atlas agar melatihnya menjadi ajudanmu. Menjadi satu - satunya orang yang bisa kau ajak ke dalam lubang kematian sekalipun. Dia akan selalu menemanimu dan mengarahkanmu ke jalan yang lebih baik. Aku mempercayakan ini setelah melihat perkembanganmu di akademi. Jangan bersedih lagi ya, anakku. Aku menyayangimu. Sebenarnya ini adalah kristal buatanku yang menyimpan memoriku sesaat. Dan sebentar lagi akan hancur setelah rekamanku berakhir. Terakhir dariku, aku ucapkan selamat kepada anakku Fin yang telah menjadi Raja. Kau hebat dan kau berbakat. Maafkan Ayahmu yang memiliki banyak kekurangan ini. Ayah mencintaimu. Tiba - tiba saja kristal biru itu retak setelah video itu berakhir dan akhirnya pecah dan hancur seketika tak bersisa. Fin terduduk di atas lantai dan tubuhnya ambruk seketika membuat Maverick tersentak. Dengan cepat Maverick menghampiri Fin. Rupanya Fin menitikan air mata sembari menggenggam tangannya. Pria itu terisak dan menatap Maverick. "Awas saja jika kau pergi dari sisiku selama aku menjadi Raja," gumam Fin. Maverick menaikkan sebelah alisnya dan kemudian Fin mendongakan kepalanya dan menatap Maverick. "Maverick, ayo kita sama - sama menjadi 2 pria elf yang tidak akan pernah terkalahkan dan paling kuat di Tessitura," ajak Fin. Sebuah senyuman terukir di bibir Maverick. Akhirnya Fin tersadar jika dirinya ditunjuk atas kepercayaan Morrigan sendiri. "Tentu, aku akan menemanimu menjadi Raja yang baik bagi seluruh kelompok bangsa elf," balas Maverick. ELF, adalah bangsa yang paling besar di Lacoste selain manusia. Bangsa manusia mungkin tidak tau dimana keberadaan bangsa elf berada karena mereka memutuskan untuk pergi dan menyingkir dari kehidupan manusia sejak runtuhnya Raja Noblesse terakhir yaitu Gerhard Khrysaor di tangan kekasih setengah manusia - vampirnya. Sejak saat itu elf membangun tembok besar dan menyembunyikan keberadaan mereka, menyelamatkan bangsa mereka sendiri dan hidup dalam kedamaian. Tapi nyatanya, tidak demikian. Bangsa elf sendiri terbagi menjadi 4 kelompok dimana kelompok pertama adalah bangsa HIGH ELF, yang berisikan makhluk elf dengan kekuatan sihir luar biasa di dalam tubuhnya. Kekuatan suci yang konon berasal langsung dari 7 batu kehidupan yang ada di Lacoste. Sehingga bangsa HIGH ELF lah yang ditunjuk menjadi pemimpin bagi keempat kelompok lainnya. Bangsa high elf biasanya hanya terdiri dari beberapa keluarga saja dan mereka adalah keturunan dari Raja langsung dan memiliki darah Raja high elf pertama yaitu Ezra. Kelompok ke - 2 adalah kelompok yang bisa dibilang paling menyimpang. Ya, mereka adalah bangsa Dark Elf. Mereka terobsesi pada kekuatan hitam dan berusaha ingin mengalahkan bangsa HIGH ELF. Tapi sayangnya tidak semudah itu.HIngga pada akhirnya bangsa dark elf ikut memisahkan diri dan tinggal di kawasan yang jauh dari bangsa high elf sendiri. Bangsa dark elf tidak begitu banyak, pengikutnya hanya bertambah 1 orang setiap 100 tahun yang menjadikan mereka sulit sekali terdeteksi. Bahkan gaya bangsa dark elf bisa dibilang mudah mengikuti penyamaran. Para high elf sering berpendapat jika sebenarnya bangsa dark elf hidup di antara masyarakat elf biasa. Lalu kelompok ke -3 adalah kelompok penjaga etnis bangsa elf. Dia bisa dibilang penjaga sekaligus pemberi keadilan yaitu blood elf. Mereka adalah elf dengan kemampuan kekuatan darah yang tersebar di setiap sudut penghujung daerah tempat tinggal seluruh bangsa elf. Kekuatan blood elf tentu saja seperti namanya, mampu mengubah apapun menjadi bentuk apapun sesuai kehendaknya. Bahkan tidak semua bangsa high elf bisa melakukan hal demikian. Kemudian yang terakhir adalah bangsa elf biasa. Mereka adalah masyrakat elf yang hidup dengan damai dan dikelilingi dengan 3 kekuatan luar biasa di sekitarnya. Meski begitu, bangsa elf biasa ini banyak yang diangkat oleh bangsa high elf sebagai orang kepercayaan mereka. Salah satunya seperti Atlas dan juga Maverick yang menjadi kepercayaan sekaligus tangan kanan keluarga bangsa High Elf. * * * * * Sekarang kita kembali kepada cerita . . . Mengenai 5000 tahun yang lalu. Tahun yang berat bagi Raja elf pertama dan bahkan sampai memutuskan untuk tidur dalam keabadian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD